
...Menatap indahnya senyuman diwajahmu...
...Membuat ku terdiam dan terpaku...
...Mengerti akan hadirnya cinta terindah...
...Saat kau peluk mesra tubuhku...
...Banyak kata...
...Yang tak mampu ku ungkapkan...
...Kepada dirimu...
...Aku ingin engkau slalu...
...Hadir dan temani aku...
...Di setiap langkah...
...Yang meyakiniku...
...Kau tercipta untukku...
...Sepanjang hidupku...
...Aku ingin engkau slalu...
...Hadir dan temani aku...
...Di setiap langkah...
...Yang meyakiniku...
...Kau tercipta untukku...
...Meski waktu akan mampu...
...Memanggil seluruh ragaku...
...Ku ingin kau tau...
...Ku slalu milikmu...
...Yang mencintaimu...
...Sepanjang hidupku...
...🍀🍀🍀...
Mendengar pertanyaan ketus dari Naina, membuat Juna terperangah. Ada apa dengan gadis itu? Apa dia merasa insecure lagi? Juna sudah bisa menebak kekesalan ada di wajah tunangan nya itu. Dia tidak bisa menyembunyikan perasaan kesal dan sakit hatinya.
"Tentu saja aku harus ada disini, bukankah aku adalah tunangan kamu?" Juna bertanya balik kepada Naina
"Hmphhh" Naina memalingkan wajahnya.
"Kamu mau mencoba mengabadikan ku lagi ya? Angry cat, cara mu ini gak akan mempan.. aku tetap tidak akan pergi dari kamu" Juna tersenyum menatap ke arah Naina dengan penuh cinta.
"Apa yang orang itu katakan benar? Kamu punya masa depan yang cerah, kamu tampan, kamu kaya, kamu sehat. Kamu tidak akan cocok denganku Jun. Kamu bisa memilih wanita lain yang lebih baik daripada aku" Pada akhirnya jiwa insecure Naina kembali mencuat di dalam dirinya, Juna sudah menduga ini akan terjadi.
Dia juga tak bisa menyalahkan Naina, karena perasaan sakit di hati Naina tidak bisa Juna kendalikan. Saat ini hati Naina sedang terluka karena keadaan nya, ditambah lagi ada yang menghina nya seperti itu. Bertambah lah turun semangat Naina.
"Nai...aku harus bilang berapa kali sih supaya kamu percaya kalau aku serius sama kamu. Kita ini tercipta satu sama lain, kamu tercipta untukku dan aku tercipta untuk kamu. Kamu adalah jantung hatiku Nai, tidak ada wanita lain yang aku cintai selain kamu" jelas Juna sambil memakaikan kalung cincin pada leher Naina. Karena cincin itu sudah tidak kuat di jari Naina, makanya Naina membuat cincin itu menjadi kalung.
Deg!
Hati Naina berdebar-debar, ketika wajah Juna berdekatan dengannya dan hanya tinggal beberapa inci darinya untuk bersentuhan. Kedua pasang mata itu saling menatap satu sama lain.
Tatapan Juna yang tadinya pada mata Naina, kini mulai beralih pada bibir Naina.
"Junjun, ka-kamu mau apa?" tanya Naina keheranan melihat Juna menatap bibirnya. Naina curiga bahwa pria itu akan melakukan sesuatu padanya.
Apa Juna mau menciumku? Pikirnya dalam hati
Pria itu tersenyum menyeringai kemudian menghapus lipstick yang ada di bibir Naina dengan jarinya. "Juna!"
"Aku tau apa yang kamu pikirkan! Siapa juga yang mau mencium kamu, dasar bodoh!" Juna tertawa kecil, dia menyentil kepala Naina dengan jari telunjuk dan ibu jari nya secara bersamaan.
"Si-siapa yang mengira kamu ingin menciumku? Aku tidak berfikir begitu" Naina malu, dia memang berfikir kalau Juna akan mencium nya.
Haih.. rasanya aku ingin bersembunyi di dalam lubang. Naina memalingkan wajahnya sambil memegang dahinya yang belum lama disentil oleh Juna.
"Dalam kepalamu, dalam hatimu, aku tau semuanya. Aku hanya tidak tau dalaman mu" Juna tersenyum menggoda Naina, dia berusaha mencairkan suasana sebelum bicara serius dengannya.
"Juna! Kamu mesum ihh.." ucap Naina pada pria itu.
Juna melepaskan topi yang ada di kepala Naina, dia menghapus make up di wajah Naina dengan tisu basah. Kini wajah cantik nya terlihat alami " Naina kamu tuh cantik, tanpa make up ataupun semua ini...kamu akan selalu cantik" Juna berusaha menyemangati Naina untuk selalu percaya diri dengan keadaan nya.
"Cantik apanya? Aku tuh jelek, rambutku botak! Tuh, kamu lihat sendiri kan?" Naina menunjukkan rambut tengahnya yang sudah tidak ada di kepalanya. Dan sebentar lagi mungkin semua rambutnya akan rontok semua. Bagi seorang wanita, rambut adalah mahkota yang sangat berharap. Apalagi untuk Naina yang sangat menyukai rambut panjang nya, kini rambut panjang nya itu tinggal sedikit karena rontok.
Juna menggelengkan kepalanya, dia tidak menyerah untuk membuat Naina kembali percaya diri. Juna mengambil gunting yang ada di laci meja disana, dia langsung menggunting rambutnya di depan Naina dengan asal-asalan.
SRET
SRET
"Gak mau" Juna terus memotong rambutnya, dan rambut itu berjatuhan ke lantai.
"Jangan .. hentikan!!" Naina menatap Juna dengan berkaca-kaca, air mata itu bersiap untuk tumpah. Dia tau bagaimana rasanya kehilangan rambut dan dia tidak mau Juna merasakan hal yang sama dengannya.
"....."Juna tidak menggubris kata-kata Naina, dia terus memotong rambutnya hingga kepala bagian tengah nya sudah hampir botak.
"Stop Juna!! Sudah! Aku percaya, aku percaya kalau kamu hanya cinta sama aku! Aku percaya! Jangan potong rambutmu, jangan!" Naina menggeleng-gelengkan kepalanya, air itu akhirnya tumpah membasahi pipinya.
PRAK
Juna menyimpan gunting itu di meja, dia menghampiri Naina. Menyeka air mata Naina dengan jari-jari tangan nya yang berukuran cukup besar. Tangan lembut itu menyeka air mata Naina dengan penuh penyesalan.
Penyesalan karena telah membuat Naina menangis karena dirinya. "Maafkan aku Nai, aku tidak bermaksud membuat kamu menangis. Aku hanya ingin kamu tahu kalau aku mencintai kamu melebihi apapun di dunia ini" Juna membelai wajah Naina dengan kedua tangannya. Dia menatap gadis itu penuh kasih sayang.
Tatapan yang menyiratkan cinta dalam dan tidak sederhana. Sayangnya Juna pada tunangannya itu sudah melebihi segalanya di dunia ini.
"Iya aku tau, aku percaya.. aku percaya.. jadi jangan melakukan itu lagi Jun..hiks" Naina menangis tersedu-sedu.
"Nai.. kita nikah ya? Ayo kita nikah!" Juna memegang tangan Naina dengan lembut, meminta agar wanita itu mau menikah dengannya.
"Nikah?" Naina terperangah mendengar perkataan Juna tentang menikah. Disisi lain hatinya juga berdebar. Dia memang pernah membayangkan kalau dia akan menikah dengan Juna pada suatu hari nanti.
"Iya, mama sama papa kamu juga udah setuju. Aku sudah minta izin pada mereka agar kita segera menikah. Kita menikah ya Nai?" Juna menatap gadis itu dengan penuh harapan di matanya.
"Aku setuju saja, tapi kamu bagaimana?"
"Bagaimana apanya?"
"Kamu yang bagaimana, apakah kamu mau menikah sama aku?" tanya Naina yang tidak yakin dengan dirinya.
"Tentu saja aku sangat mau Nai! Dari dulu aku ingin menikah denganmu. Kenapa dengan pertanyaan mu ini? Kamu insecure lagi?" tanya Juna sambil tersenyum manis pada tunangan nya
"Eng-enggak kok, aku bertanya begini karena aku takut kamu menyesal. Aku kan sakit, aku tidak cantik seperti dulu, kamu juga harus banyak bersabar denganku"
"Aku tidak mau mendengar ocehan kamu lagi! Tapi aku bisa meyakinkan kamu, kalau aku siap menikah denganmu kapanpun itu!" Juna menutup bibir Naina dengan satu jari telunjuk nya, meminta Naina untuk berhenti bicara.
"Bagaimana kalau aku yang menolak mu?" tanya Naina menggoda pria itu
"Maka aku tidak punya pilihan lain selain memaksamu, atau aku akan melajang seumur hidup!" kata Juna penuh kesungguhan dan percaya diri.
"Haha.. Juna kamu tuh yah"
"Akhirnya kamu tertawa, padahal kamu sendiri yang menggodaku. Jadi gimana? Kamu mau menikah denganku kan?" tanya Juna sambil memegang tangan Naina dengan lembut.
"Seperti nya aku tidak bisa membiarkan kamu melajang seumur hidup" jawab Naina yang artinya setuju dengan lamaran Juna. Naina tersenyum manis pada pria itu.
"Benar, jangan biarkan aku melajang seumur hidup. Kamu harus hidup bersamaku, memiliki banyak anak, dan tua bersamaku" Juna memeluk tubuh gadis itu dengan lembut, seolah dia takut bahwa tubuh Naina akan kesakitan karena pelukan nya.
Ya Allah.. apa usiaku akan sampai pada hari itu? Kumohon pada MU, aku ingin hidup lebih lama bersama orang-orang yang aku sayang. Aku ingin bersama Juna sampai tua. Naina berdoa di dalam hatinya.
BRAK
"Biarkan saja dia melajang, biar dia jadi bujangan tua" ucap Ken yang tiba-tiba sudah ada di ambang pintu ruangan itu. Ken tersenyum pada Juna dan Naina.
Di sisi Ken, ada Bryan, Viona dan Alma. Tampaknya mereka mendengar apa yang di bicarakan Juna dan Naina di dalam sana. Viona dan Alma sama-sama tersenyum melihat ke arah JuNai.
Dengan cepat Naina mendorong Juna dari pelukan nya, dia terlihat malu ketahuan berpelukan dengan Juna di depan para orang tua.
"Ehem" Juna berdehem, dia merasakan malu yang sama dengan Naina.
"Mama akan segera menyiapkan tanggal yang bagus untuk pernikahan kalian, bagaimana kalau minggu depan?" usul Alma tentang tanggal pernikahan Naina dan Juna. Kedua pasangan muda itu hanya tersenyum dan diam menanggapinya.
"Minggu depan itu bukannya masuk bulan Agustus ya?" tanya Bryan pada istrinya
"Benar sayang, kita adakan pernikahan Juna dan Naina pada bulan Agustus saja. Tanggal 6 Agustus" jelas Alma sambil tersenyum pada suaminya
"6 Agustus? Itu kan tanggal ulang tahun Naina dan Kelvin" Bryan ingat dengan tanggal ulang tahun anak kembarnya itu.
"Iya, tanggal yang pas untuk pernikahan Juna dan Naina. Bertepatan juga dengan ulang tahun Naina" Alma tersenyum bahagia
"Itu adalah tanggal yang bagus, Naina Juna...gimana? Apa kalian setuju?" tanya Bryan sambil melirik kearah Juna dan Naina.
Juna dan Naina saling lirik satu sama lain, mereka juga terlihat bingung. "Gimana Nai? Aku sih gimana kamu aja" tanya Juna pada tunangan nya
"Minggu depan apa gak terlalu cepat ya?" gumam Naina bingung
Juna terperangah,"Kamu gak mau nikah Minggu depan?"
"Bukannya gak mau, tapi kalau aku nikah, aku gak jadi jomblo lagi" jawab Naina sambil tersenyum sendiri, wajahnya berseri-seri menampakkan kebahagiaan.
"Hahahaha.."Ken dan Viona tertawa mendengar ucapan Naina.
"Ya iyalah, setelah satu minggu pernikahan kalian.. kalian tidak jomblo lagi, kalian akan menjadi pasangan suami istri" kata Alma pada kedua anak itu. Akhirnya mereka sampai pada ucapan pernikahan, setelah berhasil mengukuhkan perasaan mereka satu sama lain.
"Suami istri? Aku dan Juna?" Naina menatap ke arah Juna
Aku akan menjadi suami seseorang? satu Minggu lagi?. Batin Juna bahagia
"Kalian tidak usah khawatir dengan persiapan pernikahan, mama akan mengurusnya" ucap Alma
"Tante juga akan ikut membantu" ucap Viona senang mendengar keponakan nya akan segara melangsungkan pernikahan.
...---***---...