Stuck In Love CEO

Stuck In Love CEO
Bab 96. Naina pulang



🍀🍀🍀


"Juna, siapa yang kecelakaan?" tanya Alma pada pria yang mengantar anaknya pulang itu. Alma menatap tajam ke arah Juna.


"Mama mertua..itu.."


Naina mengisyaratkan pada Juna untuk tidak melanjutkan kata-kata nya dengan cubitan di punggung Juna.


Ish.. sakit. ucap Juna dalam hatinya


"Mama!! assalamualaikum ma" Naina memeluk mama nya, lalu mencium tangan mama nya penuh hormat


"Juna, Naina, kalian tadi bilang soal kecelakaan? kecelakaan apa? siapa yang kecelakaan?" tanya Alma masih penasaran dengan siapa yang dibicarakan Juna dan Naina.


"Ah itu... Ma, aku lelah. Kita masuk ke dalam aja yuk, nanti kita jelaskan di dalam. Juna, kamu juga masuk ya" ajak Naina sambil menarik tangan Juna dan Alma, membawa dua orang itu masuk ke dalam rumah.


Alma dan Juna sudah duduk di sofa ruang tamu, sementara Naina izin pergi ke kamarnya untuk berganti baju. Disana juga ada Bryan, Kelvin dan Keira. Semua ada di rumah, karena hari itu adalah hari libur.


Keira dan Kelvin sedang berada di dapur, entah apa yang mereka buat disana sampai keduanya terdengar heboh dari dapur. Alma beranjak dari kursinya untuk melihat apa yang terjadi disana, kini hanya tinggal Juna dan Bryan yang ada di ruang tamu.


"Gimana perjalanan dan acaranya, lancar?" tanya Bryan sambil meletakkan koran yang sedang dibacanya ke meja.


"Alhamdulillah acaranya lancar papa mertua, Naina mendapatkan banyak tawaran dari para kolektor seni terkenal di sana" jelas Juna secara singkat dan senyuman di wajahnya


"Kamu serius? ya, aku tau Naina putriku memang hebat" Bryan tersenyum bangga pada putrinya.


"Iya papa mertua, makanya saya tidak bisa berpaling dari putri papa mertua"


"Kamu itu benar-benar ya.. kamu masih panggil aku papa mertua? aku ini belum tentu mau jadi papa mertua kamu" Bryan tersenyum sinis, dia berusaha meruntuhkan mental Juna.


Aku ingin lihat seberapa besar nyali mu untuk mendapatkan putri kesayangan ku.


Papa mertua ingin meruntuhkan mental ku, maaf papa mertua ku. Tapi papa bukan lawan ku, aku ini tebal muka. Tidak mempan oleh kata-kata.Juna tersenyum santai, dia seperti bisa menebak apa yang sedang dilakukan Bryan padanya.


"Haha, sebentar lagi juga papa mertua akan menerima saya. Naina kan cinta sama saya, dia juga sudah janji bahwa dia hanya akan menikah dengan saya" Juan tertawa santai dengan percaya dirinya


"Cih! kamu memang sangat percaya diri, mirip siapa kamu ini?"tanya Bryan ketus, dia mencoba menguji mental Juna sebagai menantu nya.


"Tentu saja saya mirip dengan papa dan mama saya" jawab Juna sambil tersenyum santai


"Hei! ngomong-ngomong kamu bisa main catur gak?" tanya Bryan pada Juna pendataan


"Catur?" Juna kaget mendengar kata catur


"Ada pertandingan catur sore ini di tempat saudara kembar ku. Kalau kamu mendapatkan juara 1-3, aku langsung kasih lampu hijau sama kamu. Gimana bisa, gak?" Bryan tersenyum menyeringai ke arah Juna


Mampus! kenapa harus catur? ini kesempatan bagus dapat lampu hijau dari papa mertua, tapi kenapa catur? mending suruh adu panco aja deh. Juna kebingungan dan dia termenung


Bagus, kayanya dia memang gak bisa main catur. batin Bryan saat melihat Juna termenung seperti kehilangan kepercayaan dirinya.


"Bisa papa mertua! saya akan ikutan nanti sore, papa mertua sama mama mertua juga harus ada disana ya" Juna tersenyum canggung, dia berusaha mempertahankan senyuman itu.


Tenang Jun, walau kamu tidak bisa main catur. Bilang aja bisa dulu, menang atau kalah urusan nya belakangan.


"Oh, jadi kamu bisa main catur juga? bagus lah.. aku tidak usah cemas memberikan lampu hijau untuk kamu nantinya. Itu kalau kamu berhasil" Bryan tersenyum meremehkan Juna


"Saya akan menang papa mertua, demi restu dari papa dan mama mertua, demi Naina. Tapi siapa lawan saya?" tanya Juna masih dengan senyuman santai di wajahnya.


"Pertama kamu akan melawan peserta lain dan melewati beberapa pertandingan. Tapi, jika kamu ingin cara cepat untuk menang, kamu bisa melawan satu orang" jelas Bryan


"Siapa orang itu pah?"


"Kelvin. Kalau kamu bisa mengalahkan dia, kamu akan langsung jadi menantu ku, aku juga akan langsung menerima lamaran mu"


Buset! lawan ku Kelvin? si genius cold man?! gak kira-kira deh si papa mertua, mana bisa aku melawan orang genius. Dia memang mau kasih lampu hijau atau lampu merah sih?. batin Juna terkejut mendengar lawannya adalah Kelvin. Genius dengan IQ 200, yang mungkin tidak bisa dia kalah kan.


Mau lawan anakku yang genius? mimpi kamu!.


Juna menyadari bahwa Bryan sengaja membuat Kelvin menjadi lawannya agar dia kesulitan untuk menang. Tapi bukan Arjuna Ardiwinata namanya kalau dia menyerah begitu saja, dulu dia yang mendapat ranking terakhir saja bisa mendapatkan ranking terbaik. Juna juga pasti bisa melakukan nya kali ini.


****


Naina masih berada di kamarnya, dia baru saja selesai berganti baju. Naina sudah mengagendakan pengobatan nya dengan dokter Haris, dokter yang pernah merawat nenek nya dulu. Dokter Haris memiliki seorang anak yang menjadi dokter spesialis kanker. Naina akan berobat pada anaknya itu.


"Huuhh.. semangat Naina! kamu pasti sembuh, kamu akan sembuh. Semua orang akan cemas kalau kamu sakit, Naina semangat!" Naina tersenyum semangat setelah di Maldives dia banyak menangis. Mungkin dengan tersenyum akan membantunya semangat. Hatinya memang baik-baik saja, tapi tubuhnya tidak.


Darah kembali mengucur dari hidungnya, kali ini dengan jumlah yang banyak. Lagi-lagi darah itu membasahi bajunya. "Padahal aku baru ganti baju, gimana kalau mama atau bi Asih menemukan nya?"


Tubuh Naina banyak mengalami pendarahan, dia berfikir mungkin ini salah satu gejala anemia yang disebutkan di internet dan dijelaskan Theo. "Ternyata aku benar-benar sakit" gumam Naina dengan senyuman pahit di wajahnya. Dia mengusap darah itu dan mengganti bajunya kembali.


Ketika dia sedang mengganti baju, seseorang mengetuk pintu kamar Naina. Segera Naina menyembunyikan baju berlumuran darah itu di bawah ranjang nya. Naina mengganti bajunya dengan cepat, memastikan bahwa tidak ada setetes pun darah di wajahnya


Sudah bersih! semoga aku tidak mimisan lagi dihadapan orang-orang.


tok, tok, tok


"Ah iya.. siapa?" tanya Naina pada orang yang mengetuk pintu kamarnya itu.


"Nai, ini aku" jawab Keira


"Oh kakak ipar ya? masuk aja kak, hehe" Naina duduk di sudut ranjang nya dan nyengir sendiri dengan panggilan untuk Keira.


KLAK


"Kakak ipar? apa-apaan itu? haha.." tanya Keira sambil tersenyum, lalu menghampiri Naina sambil membawa kue coklat di piring yang dia bawa.


"Lalu aku harus memanggilmu apa? kamu kan sebentar lagi akan menjadi kakak iparku, tentu aku harus memanggilmu begitu" Naina tersenyum cerah seperti biasanya


"Iya juga ya..hehe tapi geli juga mendengar kamu memanggilku begitu Nai, kita kan seumuran ya" Keira menyuapi Naina dengan kue coklat yang ada di piring itu.


"Hem...coklat.. enak banget, kalau aku memanggilmu Keira, kakak ku yang dingin itu mungkin akan membunuh ku" Naina tersenyum sambil mengunyah kue coklat itu.


"Itu benar, aku akan membunuh mu kalau kamu berani memanggil nya dengan sebutan nama" ucap Kelvin yang sudah berdiri di ambang pintu kamar itu.


"Kelvin?" Keira melihat ke arah tunangannya.


"Kakak? hai" sapa Naina pada kakak nya yang sudah tiga hari tidak bertemu itu.


...---***---...