Stuck In Love CEO

Stuck In Love CEO
Bab 63. Cari kesempatan



...πŸ€πŸ€πŸ€...


Naina terluka dengan sikap Nisha yang berubah dalam sekejap hanya karena seorang pria. Akhirnya ia menyalahkan dirinya sendiri dan memutuskan untuk menjauhi Theo.


"Apa aku gak salah denger Nai? kamu mau jauhi kak Theo?" tanya Keira terlihat tidak senang mendengar nya


"Iya, aku gak mau kehilangan mereka berdua. Mereka sahabat aku" Naina tampak bimbang, terlebih lagi saat melihat Nisha yang selalu kesal padanya.


"Ini gak adil buat kak Theo, Nai.. dia juga sahabat kita. Kalau kamu jauhi dia itu artinya kamu melepaskan ikatan persahabatan kamu dengannya. Lagian ini bukan salah kamu kok, si Nisha aja tuh yang pikiran nya sempit dan julid" gerutu Keira pada Naina, sekalian menasehati nya.


"Kak Theo dan aku mungkin bukan sahabat lagi Kei"


"Apa maksud kamu?" Keira tercekat mendengar perkataan Naina


"Hubungan kami udah gak bisa kaya dulu" jawab Naina sedih mengingat apa yang sudah terjadi sebelumnya.


Sejak kak Theo menyatakan perasaan nya padaku, seperti nya aku tidak bisa menganggapnya sebagai sahabat dekat ku lagi. Terlebih lagi saat aku tau Nisha menyukai Kak Theo, mana bisa aku diam saja. Meski kami sahabat, ada batasan tertentu dalam persahabatan wanita dan pria.


"Memangnya kenapa Nai? apa yang terjadi?" tanya Keira penasaran


"Kei, ayo pulang!" seru Kelvin yang tiba-tiba muncul entah dari mana, ia mengajak Keira pulang bersama.


Perhatian Kelvin beralih pada adiknya, ia melihat mata Naina berkaca-kaca seperti akan menangis. Wajahnya juga mulai memerah, terutama hidungnya.


"Hei, kamu kenapa Nai? kamu nangis?" tanya Kelvin sambil mengusap air mata di pipi adiknya itu.


"Aku gak papa kak" jawab Naina sambil memalingkan wajahnya dan menyingkir tangan kakak nya.


"Gak papa gimana, kamu nangis gitu! siapa yang gangguin kamu?! bilang sama aku!!" tanya Kelvin yang perhatian pada adik nya itu.


"....." Naina tidak menjawab, ia hanya diam.


"Naina gak papa Vin, dia cuma senang aja karena acara pemerannya berjalan lancar" Keira tersenyum pada Kelvin, ia tau Naina butuh waktu untuk sendirian.


Keira berhasil mengalihkan perhatian Kelvin dan mengajaknya pulang. Keira menenangkan Kelvin bahwa Naina baik-baik saja dan hanya lelah.


Kelvin dan Keira berada di dalam mobil, mereka berencana untuk jalan-jalan dulu sebelum mengantar Keira pulang.


"Tapi aku merasa kalau Naina sedang sedih Kei" ucap Kelvin yang peka terhadap perasaan saudara kembarnya itu


Memang ya saudara kembar, feeling nya kuat. batin Keira


"Tenang aja Vin, Naina gak papa. Dia cuma capek dan dia senang karena acara nya berjalan lancar"


Nisha keterlaluan, julid banget dia. Pikirannya sempit, bisa bisanya dia ngomong gak dipikirkan dulu. Nanti aku harus bicara sama dia dan menengahi mereka berdua. Kita udah sahabatan dari lama, masa cuma karena cowok semua nya harus putus. Keira berencana untuk membuat kedua sahabatnya kembali berbaikan seperti dulu


Sore itu Naina dan Caroline masih mengobrol tentang pameran galeri yang berjalan lancar. Semua tamu satu persatu sudah mulai pulang dari sana, hanya tinggal Theo dan Juna yang masih stay disana.


"Loh, kalian belum pulang?" tanya Naina pada kedua pria yang masih berdiri di depan salah satu lukisan terpajang di dinding.


"Aku masih lihat-lihat lukisan disini" jawab Theo sambil tersenyum manis di depan Naina


"Aku juga" jawab Juna mengikuti Theo


"Ngapain sih Lo ngikut ngikut?" tanya Theo dengan tatapan sinis nya pada Juna


"Kalian memang selalu kompak ya" Naina tersenyum melihat kekompakan Juna dan Theo.


Dia salah paham lagi, sama kaya dulu. batin Juna sambil menghela napas


Apa Naina gak lihat kalau aku sama si Juna itu sedang bersaing bukannya kompak? Batin Theo tak habis pikir, kepolosan Naina masih sama seperti dulu


"Maaf, tapi pamerannya udah mau tutup. Jadi mending kalian pulang aja deh" kata Naina pada kedua pria itu


"Kamu mau kemana Nai? mau pulang? aku antar ya" Juna mengajak Naina pulang bersama


"Sama aku aja Nai" ucap Theo mengajak


"Maaf, aku gak bisa pulang sama kalian berdua"kata Naina menolak ajakan Theo dan Juna


"Loh? kenapa?" tanya Juna dan Theo saling melirik satu sama lain


"Itu karena..."


Belum sempat menyelesaikan kata-kata nya, seorang pria tampan datang memanggil Naina, disebelahnya ada anak perempuan "Naina!!"


"Kak Naina!" seru anak perempuan itu sambil berlari dan memeluk Naina dengan penuh kerinduan.


"Eh.. kamu juga datang ya?" tanya Naina pada adik sepupunya, ia mengelus kepala anak perempuan itu dengan gemas.


Juna dan Theo melihat ke arah Ken dan anak perempuan yang lucu, plus cantik itu. Mereka penasaran dengan anak perempuan yang dibawa oleh Ken.


Anak cewek itu kayanya gak asing deh? siapa ya?. Batin Juna sambil melirik ke arah Sonya yang masih memeluk Naina


"Hai om" Theo mengambil start duluan, ia mencium tangan Ken dengan penuh hormat dan sopan


Hehe, Juna kamu gak akan bisa menang. Keluarga Naina pasti lebih dekat denganku. batin Theo sambil tersenyum puas melihat wajah Juna yang kesal


Sial! si Theo curi start duluan!. Juna kesal karena keduluan oleh Theo.


"Hai Theo, kamu disini juga" jawab Ken pada Theo


"Halo om, om masih ingat saya?" tanya Juna sambil mencium tangan Ken dengan sopan, ia memasang senyum ramahnya.


"Kamu.." Ken memicingkan matanya saat melihat Juna.


Sonya langsung berbinar-binar saat melihat Juna, ia menghampiri Juna lalu berjinjit dan mencium Juna dengan gemas.


CUP


"So-sonya!" Ken terkejut dengan tingkah putrinya yang tiba-tiba mencium pipi Juna


"PFut.." Theo dan Naina sama-sama menahan tawa melihat Juna yang membeku setelah di cium pipi ny oleh Sonya.


"Kakak tampan! udah lama ya gak ketemu hehe" Sonya nyengir. Anak perempuan yang akan memasuki usia remaja itu masih saja mengagumi Juna sampai sekarang.


"Kamu si kecil imut?" tanya Juna pada Sonya dengan wajah merahnya itu.


Naina ngetawain aku. Malunya.. aku sudah ternoda! pekik Juna dalam hati


"Iya kakak tampan!" kata Sonya sambil memeluk Juna dengan gemas


Ken langsung menarik anak gadisnya, ia cemburu melihat Sonya memeluk pria lain. Ken menatap Juna dengan kesal, padahal Juna tidak salah apa-apa.


"Sonya, kamu gak boleh kaya gitu dong!" ujar Ken kesal pada putrinya itu


"Papa jahat! papa gak ada manis manisnya kaya kakak tampan! huh! aku benci papa, aku mau main sama kakak tampan! aku mau jadi istrinya kakak tampan" ucap Sonya sambil menggandeng tangan Juna dengan centil. Juna terlihat risih dengan sikap Sonya padanya.


Emang sih dia cantik, tapi lebih cantikan Naina. Dia bocil. batin Juna


"Haha...kecil-kecil udah bucin dia" gumam Theo sambil tertawa melihat Juna yang terus ditempeli oleh Sonya


Mampus kamu Juna! batin Theo merasa senang


Pasti si Theo lagi ngeledek nih. batin Juna kesal melihat Theo menertawakan nya.


"Maaf tapi kakak tampan gak bisa nikah sama Sonya" kata Juna sambil melepaskan tangan Sonya dari nya pelan-pelan.


"Kenapa kak? apa Sonya gak cantik?"


"Kamu cantik, tapi kakak tampan mau nikahnya sama orang lain" ucap Juna sambil melirik ke arah Naina.


DEG!


"Siapa orang itu? apa dia lebih cantik dari ku?" tanya Sonya polos


"Tuh orangnya, dia adalah satu satunya wanita yang akan kakak nikahi" ucap Juna seraya menunjuk ke arah Naina, matanya menatap Naina dan bibirnya tersenyum pada Naina.


Juna apa apaan sih?! apa dia lagi bercanda ya? tapi kayanya dia gak kelihatan sedang bercanda. Naina bingung dengan ucapan Juna, masih ragu antara serius dan bercanda.


"Kak Naina?" Sonya menatap kaget ke arah Naina


Kak Bryan udah mau punya menantu. ucap Ken dalam hatinya


"Sonya, jangan di dengerin cowok ini. Dia ngomongnya emang suka sembarangan" ucap Theo kesal pada Juna yang dianggap nya bicara sembarangan


Naina sudah mulai lelah dengan perdebatan Juna dan Theo yang tiada akhir nya. Naina memutuskan untuk pergi bersama Ken dan Sonya.


Pada akhirnya Theo dan Juna harus gigit jari karena orang yang mereka bicarakan sudah pergi dari sana.


"Gara-gara Lo sih!" ucap Juna


"Ya gara-gara Lo, lah!" Theo tak mau disalahkan


Drett..


Drett..


🎢🎢🎢


Telpon Theo berdering, Theo segera mengangkat telpon nya itu. Rupanya telpon itu dari pihak rumah sakit dan melaporkan tentang pasien Theo yang kritis.


"Sibuk ya Lo? udah urus aja pasien Lo sana, jangan gangguin Naina sama gue" ucap Juna sambil tersenyum senang melihat Theo yang sibuk


"Lo juga kaya gak ada kerjaan aja" celetuk Theo pada Juna yang mengejeknya


"Hey man, gue bos nya! bebas!" kata Juna membanggakan dirinya sebagai Presdir perusahaan Ardiwinata.


Gimana nih, jadwalku di rumah sakit semakin padat. Bisa bisa si Juna cari kesempatan dan manfaatkan kesempatan untuk mendekati Naina. Theo terlihat bingung, sebagai dokter bedah di rumah sakit, pasiennya setiap hari selalu banyak.


Bagus, sibuk aja terus Theo. Aku akan memanfaatkan kesempatan ini. ucap Juna senang


Setelah melihat Theo pergi, Juna menelpon Ardi sambil senyum-senyum.


"Ardi"


"Ya pak?'


"Buat surat kontrak dengan Albry galeri, aku mau segera" ucap Juna memerintah pada sekretarisnya itu


"Baik pak"


"Ah ya, dan aku mau kamu atur study wisata para karyawan"


"Study wisata? maaf pak tapi itu masih lama" Ardi menginterupsi permintaan Juna yang dirasanya cukup aneh itu.


"Aku tidak mau tau, pokoknya atur study karyawan atau apa itu yang penting liburan. Dan aku mau Presdir Albry galeri juga datang!" teriak Juna pada sekretarisnya itu.


Tut..


"Ada apa dengan pak presdir? apa dia salah minum obat? apa dia ingin mengejar nona Ninaina lagi?" gumam Ardi yang heran dengan sikap Juna. Tidak bisa diprediksi dan kadang konyol, apalagi jika itu menyangkut Naina.


πŸ€πŸ€πŸ€


Di sebuah restoran mewah, terlihat seorang gadis cantik berambut panjang, memakai celana jeans dan sepatu kets sedang duduk di kursi salah satu restoran. Penampilan nya agak tomboy, tapi wajahnya ramah dan murah senyum.


Ia datang bersama dua orang pria, yang satu nya berjas putih dan yang satunya berjas hitam.


Kedua pria itu berada di tengah-tengah si wanita, mereka tampak memancarkan aura permusuhan satu sama lain.


Kenapa dia ada disini? kata si pria berjas putih sambil melirik pria berjas hitam


Kenapa dia ada disini?ganggu aja! gerutu pria berjas hitam sambil melirik sinis ke arah pria berjas dokter di depannya itu.


"Loh, kok malah tatap tatapan gitu? nanti kalau tatap tatapan kaya gitu terus kalian bisa jatuh cinta loh " gadis itu tersenyum ceria, menggoda kedua pria itu


Mereka akrab banget, sampai tatap tatapan kaya gitu. Gak salah deh, aku ngajakin kak Theo juga kesini.


"Nai, kenapa dia ada disini?" tanya pria berjas hitam itu tampak marah


"Kebetulan kak Theo menelpon ku dan dia belum makan malam juga, jadi aku ajak aja sekalian. Gak papa kan Jun?" tanya Naina pada pria berjas hitam itu dengan wajah polosnya


Sial! aku tidak bisa marah kalau ada Naina disini. Kenapa sih dia pakai ikut-ikutan segala? aku jadi tidak bisa berduaan dengan Naina. gerutu pria berjas hitam itu dalam hatinya.


Apa kamu pikir, aku akan membiarkan kamu berduaan sama Naina? jangan mimpi kamu Arjuna Ardiwinata!. batin Theo sambil melirik sinis pada pria yang ada di depannya itu


"Sudahlah tatap tatapan nya.. yuk pesan makan yuk, aku udah laper nih" ucap Naina


"Ya, ayo pesan makan Nai " jawab Theo dengan senyuman ramah di wajahnya


Seorang pelayan datang menghampiri mereka bertiga, berdiri dengan tegap, bersiap mencatat pesanan. Naina sedang melihat lihat daftar menu, ia tampak sedang berfikir.


"Mbak, ayam geprek nya satu ya!" kata Theo dan Juna bersamaan pada si pelayan itu.


" Ayam geprek? wah ada ayam geprek, aku kira di restoran ini tidak ada" kata Naina senang


Wah, Juna dan Theo makin kompak aja. batin Naina senang melihat kedua temannya itu terlihat akrab menurut perasaan nya sendiri, padahal tidak.


Theo dan Juna saling melemparkan senyuman sinis mereka.


"Jadi, ayam geprek nya berapa ya mbak, mas?" tanya si pelayan


"Saya mau satu mbak, Theo, Juna kalian pesan apa?" tanya Naina pada kedua pria yang makan malam bersamanya itu.


Setelah selesai makan malam bersama, Naina berniat untuk pulang karena hari sudah malam.


"Alhamdulillah.. kenyang nya, kalau gitu aku pamit pulang dulu ya guys"


"Aku anter Nai!" ucap Theo dan Juna lagi-lagi secara bersamaan.


Kenapa sih dia ngikut ngikut aja?. batin Theo dan Juna bersamaan.


"Ternyata kalian makin akrab aja ya, baguslah. Tapi, kalian gak usah nganterin aku pulang ya. Kalian gak takut dibunuh kakak ku? aku bisa pulang sendiri kok." ucap Naina sambil tersenyum santai dan menepuk bahu kedua temannya itu.


"Ini malam, bahaya wanita pulang sendirian " ucap Theo sambil menatap Naina dengan tatapan penuh perhatian


"Kali ini aku setuju sama dia, walaupun kamu cewek mandiri tapi tetap saja kamu seorang cewek. Pulang malam malam sendirian, akan berbahaya buat kamu " jelas Juna


"Aku beneran gak apa-ap.."


DUK


Tidak sengaja kakinya tersandung pinggiran kursi, dan membuatnya hampir terjatuh. Kedua tangan pria itu secara kompak meraih tubuh Naina agar tidak terjatuh.


GREP


" Hati-hati!" ujar Theo dan Juna secara bersamaan.


Begitulah Naina terjebak diantara dua pria yang menyukainya, namun ia tidak menyadari nya. Kedua pria yang terlihat akrab di luar itu sebenarnya bersaing dan bermusuhan.


...---***---...


Maaf untuk chapter ini kurang maksimal dan masih perlu revisiπŸ€§πŸ™ makasih buat dukungan kalian ya