
πππ
Dari waktu satu bulan dari pertunangan itu, kini pernikahan Keira dan Kelvin tinggal menghitung hari. 7 hari lagi adalah hari dimana mereka akan mengikat janji suci untuk selamanya, di depan semua orang, penghulu dan saksi, Kelvin dan Keira akan menikah.
Persiapan pernikahan sudah beres hampir 90 persen. Dari mulai catering, dekorasi pelaminan, gedung pernikahan, tema pernikahan, souvernir, fotografer dan semacam nya.
Bahkan sampai tujuh hari lagi pernikahan Keira dan Kelvin. Juna masih belum menemukan apa-apa soal dokter yang pernah merawat Naina di Maldives.
"Ini sudah hampir satu bulan, kenapa kamu belum bisa menemukan dokter itu? apa selama ini kamu hanya diam saja?" tanya Juna menatap Ardi dengan sinis
"Maaf pak, saya sudah mencoba beberapa kali menghubungi nya tapi katanya dokter itu sedang berlibur entah kemana"
"Kok rasanya dia seperti sedang bersembunyi ya? apa ini hanya perasaan ku saja?" gumam Juna masih curiga dengan keadaan Naina. Dia ingin memaksa Naina memeriksakan dirinya ke rumah sakit, namun Naina pasti akan marah dan merengek seperti waktu pertunangan mereka dulu.
"Saya juga berfikir begitu pak" jawab Ardi yang tidak berhasil menemukan keberadaan Dokter yang sempat memeriksa Naina.
"Ya sudah, kamu boleh keluar. Kerjakan tugas mu kembali" titah Juna para sekretaris nya itu. Juna masih berfikir.
"Baik pak" jawab Ardi patuh
Apa Bu Ninaina sakit serius sampai pak Presdir mencurigai nya seperti ini? ah ini tidak mungkin kan, pasti Bu Naina baik-baik saja. batin Ardi
Ardi keluar dari ruangan itu meninggalkan Juna di meja kerjanya. Juna masih termenung memikirkan Naina yang seperti menyembunyikan sesuatu dari dirinya. Tingkah Naina yang selalu gugup, bicara gagap tanpa sengaja dan selalu terlihat gelisah. Meski tidak ada tanda-tanda wajahnya yang pucat, mungkin itu karena akhir-akhir ini Naina selalu memakai make up dengan tebal, makanya tak terlihat.
"Naina lagi apa ya? apa aku telpon saja dia?" Juna mengambil ponselnya yang ada di meja, dalam waktu senggang itu Juna menghubungi Naina.
Di rumahnya, tepat di dalam kamar Naina. Terdengar ponsel berdering di atas ranjang berwarna merah muda itu. Naina sendiri sedang kesakitan dan berada di dalam kamar mandi, dia mengunci dirinya supaya tidak ada orang yang tau.
Drett..
Dreet..
π΅πΆπΆπΆ
"Uhh... Akhhh..." Tubuh Naina berkeringat, gadis itu merintih kesakitan seorang diri. Dia berhasil mengambil obat di kamarnya dengan berjalan terseok-seok ke arah laci meja riasnya. Wajahnya pucat, bibitnya berwarna putih, hidungnya mimisan lagi.
"Siapa yang menelpon??! urghhh.." rintih Naina yang mengabaikan panggilan di ponselnya dan menuju pada botol kecil berisi banyak obat.
Naina berhasil menggapai obat itu dan meminum nya dengan cepat. Gadis itu terbaring di lantai dengan lelah, wajahnya penuh keringat dingin. Bagian dalam tubuhnya terasa sakit.
"Hahhh.. haaaah... hari ini aku harus pergi ke butik, gaun pengantin rancangan ku untuk kakak ipar pasti sudah selesai..aku harus bisa pergi"
Aku pikir aku akan baik-baik saja setelah kemoterapi itu karena kemoterapi hanya menyuntikkan obat-obatan ke dalam tubuhku. Tapi.. ternyata ini sangat menyakitkan. Kalau begini caranya, bagaimana aku bisa pergi melihat kakak dan kakak iparku memakai baju pengantin mereka?
*Kemoterapi menggunakan obat-obatan kimia untuk membunuh sel kanker. Namun metode ini tidak mampu menghambat terjadinya perubahan mutasi genetik dalam sel dan racun/toksin dalam tubuh. Oleh karena itu, setelah pasien menjalani operasi dan kemoterapi, tumor tersebut kemudian akan tumbuh lagi dan bahkan berpindah ke area organ tubuh yang lain/metastasis.
Selain itu efek samping dari kemoterapi sangat besar dan dapat merusak fungsi kekebalan tubuh, sehingga tubuh pasien menjadi lemah. Banyak pasien baik-baik saja sebelum menjalani operasi dan kemoterapi, tetapi setelah operasi atau kemoterapi, tubuh menjadi semakin lemah, bahkan memperpendek usia pasien.
Rambutnya yang panjang mulai rontok, bahkan tubuhnya lebih lemas dari sebelumnya, terkadang Naina selalu nyeri di dada. Kepalanya berdenyut hebat setiap dia kambuh, pendarahan tidak dapat terhindarkan lagi. Mau dengan obat ataupun kemoterapi. Malah membuat kondisi nya memburuk. Kini pikiran negatif mulai bermunculan di kepalanya.
Apakah dia akan mati? apa dia bisa melawan kanker yang menggerogoti tubuhnya? saat dokter mengatakan kanker nya sudah menginjak stadium akhir. Harapan untuknya semakin tipis. Itu karena tubuh Naina tidak merespon dengan baik kemoterapi dan obat-obatan yang di masukkan kedalam tubuhnya. Mungkin jalan satu-satunya untuk dia bisa bertahan hidup lebih lama adalah donor tulang sumsum belakang. Tapi, jika begitu maka semua orang akan tau kalau dia sakit. Karena donor tulang sumsum belakang biasanya hanya bisa di lakukan oleh anggota keluarga, yaitu saudara sedarah. Namun jarang juga ada yang memiliki tulang sumsum yang cocok.
Naina berada dalam dilema yang besar, apalagi sebentar lagi adalah hari pernikahan kakak nya, hari bahagia saudara kembarnya yang sangat dia nantikan. Naina tidak mau menghancurkan senyuman mereka.
"Auuhhhhhh...." Naina masih merintih kesakitan bahkan setelah obat obatan itu di minumnya. Namun sakitnya mulai mereda tidak seperti sebelumnya.
Tok, tok,tok
"Nai!!"
"I-iya ma??" jawab Naina pada ibunya yang mengetuk pintu kamarnya. Tubuhnya gemetar hebat menahan sakit.
Sakit.. sakit sekali...nenek..tolong aku nek.. Naina menangis teringat sang nenek yang sudah lama tiada.
"Nai, kamu udah siap belum? kenapa kamu mengunci pintunya?" tanya Alma heran karena anaknya mengunci pintunya
Drett..
Dreet...
πΆπΆπΆ
Juna calling..
"Nai.. itu ponsel kamu bunyi terus dari tadi. Nai...sayang..." Alma mulai khawatir karena anak nya tak kunjung menjawabnya
"Aku gak papa ma, aku lagi kebelet ma.. nanti aku nyusul!" teriak Naina yang mencoba terlihat baik-baik saja di depan sang mama.
"Benaran nih kamu gak papa? kalau gitu buka pintunya dong" tanya Alma pada putrinya itu cemas.
"I..iyaa..maahh..maaf tapi aku gak bisa buka pintunya soalnya...aku masih belum berpakaian, aku habis mandi.." jawab Naina dengan sekuat tenaganya. Sesekali Naina menghela napas untuk mengendalikan dadanya yang sesak.
"Sayang, suara kamu gemetaran loh" Alma khawatir
"Ma, ayo katanya mau pergi ke butik?" tanya Kelvin sambil menepuk bahu mama nya.
"Ini karena aku kedinginan ma, cepet mama berangkat! kak Keira udah nunggu loh"
Kelvin berhasil mengalihkan perhatian Alma dari Naina. Beberapa menit kemudian, setelah rasa sakitnya berkurang Naina mulai merias dirinya dengan riasan wajah yang tebal. Dia tersenyum pahit memandang ke arah cermin. Wajahnya tampak kurus dan pucat.
"Naina bertahanlah tujuh hari lagi..kamu harus bertahan. Ya Allah tolong lah berikan aku waktu untuk bertahan tujuh hari lagi untuk memberitahukan pada semuanya. Aku tidak mau senyuman mereka menghilang" doanya pada sang maha kuasa. Dengan senyuman pahit di wajahnya.
...---***---...