Stuck In Love CEO

Stuck In Love CEO
Bab 147. Dokter tampan



...🍀🍀🍀...


Kelvin selesai memasak dan membuat eskrim untuk Keira dengan bahan seadanya yang terbatas. Seusai membuat makanan, dengan perhatian Keira mengusap keringat di wajah Kelvin.


"Kamu pasti capek ya, maaf ya sayang.. entah kenapa keinginan ku sulit di tolak," ucap Keira sambil mengusap keringat di kening suaminya.


"Gak apa-apa sayang. Ya sudah makan dulu nasi uduknya ya!" titah sang suami pada istrinya itu.


"Aku mau makan dulu eskrim nya," ucap Keira sambil menatap eskrim stoberi itu dengan tatapan nanar, seolah menggiurkan nya.


"Sayang, makan nasi uduknya dulu!" seru Kelvin tak mau dibantah.


"Hem ya udah deh, tapi makan nya sama kamu ya," ucapnya manja.


"Aku udah kenyang sayang," jawab Kelvin sambil duduk di samping Keira.


"Tapi dede nya mau aku suapin kamu," Keira tersenyum pada suaminya, seraya memohon.


"Oke kalau itu mau nya dede," jawab Kelvin setuju.


Keira menyuapi suaminya lebih dulu, kemudian wajah Kelvin tiba-tiba berubah menjadi pucat. Dia langsung memuntahkan makanan yang baru saja dia makan itu ke wastafel.


"Bwee.. gak enak banget!" seru Kelvin setelah memuntahkan nasi uduk yang dia makan, "Sayang, jangan dimakan nasi uduk nya!"


"Kenapa?"


"Gak enak," jawab nya cepat.


Keira hendak memasukkan nasi uduk itu ke dalam mulutnya, tapi Kelvin mencegah nya. Keira tetap memakan masakan suaminya. Nasi uduk yang agak gosong itu di makan dengan lahapnya oleh Keira.


"Kei, nanti kamu bisa sakit perut. Jangan dimakan!"


"Ini enak kok, anak kita juga kayanya suka," Keira memakan nasi uduk itu dengan lahap, meski Kelvin melarangnya untuk memakan nasi uduk itu.


"Ya ampun, Keira.." Kelvin tak habis pikir dengan wanita hamil itu.


Bahkan nasi uduk itu terasa sangat enak untuk Keira yang sangat menginginkan nya, Kelvin hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan sang istri.


Wanita hamil itu menghabiskan nya dalam beberapa menit, setelah nya dia beralih pada eskrim di dalam gelas lalu memakannya dengan semangat.


"Ya sudah, terserah apa yang kamu lakukan asal kamu bahagia," Kelvin tersenyum dan memandangi istrinya.


Kebahagiaan suami istri juga dirasakan oleh pasangan Juna dan Naina yang kini sedang berada di Singapura. Tujuan mereka kesana adalah untuk berobat dan sekalian bulan madu bersama.


Singapura...


Pagi itu Naina dan Juna mendatangi dokter Marcel yang di rekomendasikan oleh Firlan. Mereka berada di sebuah rumah sakit kanker terbaik disana.


"Sayang, kenapa?" tanya Juna sambil melihat ke arah istrinya yang menatap gedung rumah sakit itu.


"Aku gak apa-apa," jawab Naina dengan mata yang ragu.


Pengobatan itu, apa aku harus menjalani nya lagi? Apa sakitnya akan sama dengan kemoterapi? Atau malah lebih menyakitkan?


"Kalau kamu gak bisa, kita batalkan saja!" kata Juna tiba-tiba.


"Eh? Apa maksudnya? Aku gak apa-apa kok, yuk kita masuk," ucap Naina sambil menggenggam tangan suaminya.


"Kamu yakin Nai?"


"Ada kamu, jadi aku pasti sangat yakin!" kata Naina sambil tersenyum.


"Iya" jawab Juna dengan teguh menemani istrinya masuk ke dalam gedung rumah sakit.


Mereka sampai di lantai 2 gedung rumah sakit itu, Naina dan Juna melihat beberapa pasien kanker yang duduk di kursi roda, ada yang sedang bermain dan dalam proses penyembuhan.


"Juna, aku bisa sembuh kan?" tanya Naina sambil tersenyum pada suaminya.


"Tentu saja, kamu akan sembuh," jawab Juna


"Kita akan punya 3 sampai 5 anak, jadi aku harus sembuh dan sehat untuk mewujudkan nya," Naina tersenyum semangat.


Cekret..


Mereka masuk ke sebuah ruangan, di sanalah tempat dimana dokter Marcell berada.


"Dokter, saya membawa pasien yang sudah membuat janji temu dengan dokter," ucap seorang suster pada pria tampan berjas putih yang duduk di kursi.


"Okay, kamu bisa kembali," ucap Marcell pada suster itu.


"Baik dokter," jawab si suster sambil melangkah pergi dari sana.


Suster itu menutup pintu ruangan setelah Naina dan Juna masuk ke dalam sana.


"Selamat pagi dokter Marcell, "sapa Juna pada pria tampan bertitel dokter itu.


"Selamat siang..," Marcell beranjak dari tempat duduk nya untuk menyambut Juna dan berjabatan tangan dengan nya. "Naina?" Marcell terpana begitu melihat Naina ada di samping Juna.


"Kak Marcel? Jadi kamu?" Naina sama terkejutnya dengan Marcell, seperti nya mereka berdua sudah saling kenal.


Sang suami langsung cemberut begitu melihat istrinya bertatapan dengan pria lain di depannya. Juna bertanya-tanya ada apa dengan Naina dan Marcell?


Juna dan Naina duduk di kursi yang berhadapan dengan tempat duduk Marcell. Mereka pun berkenalan, Juna dan Marcell.


"Ternyata kak Marcell adalah dokter spesialis kanker," ucap Naina sambil tersenyum ramah pada wanita itu.


"Iya Nai, setelah pindah dari jurusan kesenian, aku mengambil jurusan kedokteran spesialis kanker," jelas Marcell dengan singkatnya.


"Oh gitu,"


"Maaf, jadi hubungan kalian ini.. maksudku dimana kalian saling kenal?" tanya Juna yang sedari tadi merasa diabaikan oleh pembicaraan istrinya dan pria lain, dan tidak dia mengerti.


"Jun, kak Marcell ini kakak kelas ku dulu. Dan dia keluar masuk jurusan seni dan kedokteran," Naina memperkenalkan Marcell kepada suaminya.


"Oh gitu, ya sudah kita mulai saja pembicaraan utamanya ya dok," ucap Juna yang ingin segera menyudahi pembicaraan Naina dan Marcell.


Naina memanggilnya kak Marcell?. Juna terlihat tidak suka dengan cara Naina memanggil Marcell dan bersikap ramah kepada dokter tampan itu.


"Baiklah, jadi siapa yang akan berobat?" tanya Marcell sambil memandang ke arah Juna dan Naina secara bergantian.


"Istri saya, dia mengidap kanker darah," jawab Juna.


Wajah hangat dan ramah Marcell tiba-tiba berubah menjadi wajah yang sedih dan serius. Ketika pasien yang akan dia tangani adalah Naina.


"Naina, kamu sakit?" tanya Marcell sambil menoleh ke arah wanita itu dengan cemas.


"Iyah, aku yang sakit," jawab Naina sambil menundukkan kepalanya.


"Baiklah, tidak apa-apa...aku akan mencoba yang terbaik untuk menyembuhkan kamu," ucap Marcell dengan kening berkerut, dia memandang Naina.


"Iya aku percaya sama kamu," jawab Naina.


Juna hanya diam saja, dia terlihat kesal melihat keakraban istrinya dan Marcell.


Marcell meminta pasangan suami istri itu untuk membaca jadwal tetapi dan pengobatan Naina. Naina harus rajin check up dan menghindari pekerjaan yang berat-berat. Juna mengerti hal itu dan dia akan menjaga Naina dengan baik.


Sepulang dari sana, Juna masih terus cemberut juga terlihat kesal. Naina mengajaknya makan siang bersama di rumah dan dia akan memasak untuk suaminya.


Sesampainya di rumah..


"Jun, kamu tunggu dulu ya...aku masak makan siang dulu ya," Naina tersenyum ramah pada suaminya.


"Hm," jawab nya singkat sambil melangkah pergi mendahului Naina.


"Gak apa-apa, aku mau ganti baju dulu ke kamar," ucap Juna cuek.


"Mau aku siapkan bajunya?"


"Gak perlu, kamu kan mau masak," jawab Juna sinis.


Naina menelan ludah, merasakan sikap suaminya yang terlihat emosi. Dia tidak tahu ada apa dengan suaminya itu. Akhirnya dia memutuskan untuk memasak makan siang, kemudian nanti dia akan bicara dengan suami nya.


Selesai memasak ayam goreng, sambal, mie goreng dan memasak nasi. Naina memanggil Juna untuk segera makan siang.


"Sayang, ayo makan siang bersama," ajak Naina pada suaminya yang sedang duduk di kursi kamar itu. Juna sedang menatap laptop dan mengetik sesuatu disana.


"Kamu duluan aja, aku masih ada kerjaan," ucap Juna tanpa menoleh ke arah Naina.


"Kerjaan nya simpan dulu beberapa menit, kita makan siang dulu!" Naina kesal, dia mengambil laptop Juna dan menyimpan nya di ranjang.


"Kamu tuh kenapa sih? Aku lagi kerja, Nai!" Juna membentak Naina, matanya agak melotot.


Perilaku Juna jelas-jelas berbeda dari tadi pagi, apa yang terjadi pada pria itu.


"Kamu tuh yang kenapa? Sepulang dari rumah sakit, kamu kelihatan kesal! Kamu juga bentak-bentak aku gak kaya biasanya!" Naina balik marah pada Juna. Dia bingung mengapa Juna marah dan apa yang membuat sikap Juna seperti itu.


"Aku biasa aja tuh," sangkal nya.


"Tidak, ada masalah sama kamu! Dan kamu gak bersikap biasa aja, ayo bilang ada apa? Kebiasaan deh kalau marah itu diem dan uring-uringan gak jelas!" Naina sudah tau sikap suaminya kalau sedang marah. Dari zaman SMA, kalau Juna sedang marah dia akan diam saja atau melampiaskan nya dengan sikap.


"Aku gak apa-apa!" seru Juna cuek sambil mengambil kembali laptop nya.


"Sini laptopnya!" seru Naina tak mau kalah.


Akhirnya mereka rebutan laptop dan berdebat di kamar itu. Rebutan laptop itu berakhir ketika Naina jatuh ke ranjang bersama Juna.


Tubuh Naina berada diatas tubuh suaminya, "Kamu kenapa sih? Apa aku ada berbuat salah?" tanya Naina sambil menatap suaminya dengan sedih.


"Kamu gak ada salah," jawab Juna yang mulai luluh dengan tatapan istrinya.


"Terus kenapa?" tanya wanita itu sembari menyenderkan tubuhnya pada dada bidang milik Juna, tangannya mengelus leher Juna dengan lembut.


"Nai.. jangan menggodaku, ayo keluar untuk makan siang," tubuh Juna bereaksi dengan sentuhan istrinya, terlebih lagi Naina masih menindih tubuhnya.


Kenapa Naina jadi pandai menggoda seperti ini ya?. Batin Juna merasa gugup, bagian bawah tubuhnya sudah mulai memanas.


"Aku gak mau makan siang sebelum kamu mengatakan padaku, kenapa kamu marah?"


"Aku tidak marah, dan juga kamu harus segera makan siang lalu minum obat," Juna mencoba mendorong tubuh Naina, tapi tangannya malah bergerak memeluk tubuh mungil itu.


Bukan ini yang mau ku lakukan? Kenapa aku malah memeluk Naina.. tubuhku kenapa tidak mendengarkan pikiran ku?!


"Makan siang ku tidak akan tenang, kalau suamiku masih marah padaku, ayo bilang kamu kenapa?" tanya Naina sambil mendaratkan bibirnya di leher Juna, mengecup pelan disana.


Cup


"Nai, kamu belajar menggoda seperti ini darimana?"


"Dari kamu, semalam kamu yang mengajariku. Kamu lupa ya? Aku kan orangnya cepat belajar," Naina menciumi leher suaminya, seraya menggodanya.


"Ahh.. Nai.. hentikan, geli..,"Juna menggelinjang kegelian.


"Ayo bilang, kamu kenapa marah sama aku? Kalau enggak, aku akan..."


Ucapan Naina terhenti ketika dia merasakan bagian bawah tubuh Juna yang mengeras. Apa dia sudah membangkitkan sesuatu yang sedang tidur?


"Jun-juna," Naina menatap Juna dengan tatapan panik bercampur cemas.


O..ow.. seperti nya aku sudah menyulut api.


Bruk!


Dengan cepat Juna membalikkan posisi tubuh nya, kini Juna yang berada di atas dan Naina berada dibawahnya.


"Juna..."


"Ninaina, kamu ini benar-benar ya.. kamu sudah membangunkan nya! Bagaimana kamu akan bertanggungjawab?"


"I-ini masih siang, kamu tidak akan melakukan nya kan?" ucap wanita itu dengan wajah polosnya.


"Huh! Ninaina, dengarkan aku baik-baik! Kamu dilarang tersenyum pada pria lain, apalagi menunjukkan wajah seperti ini. Paham, kamu?!!" Juna mengangkat dagu istrinya.


"Apa kamu cemburu pada kak Marcell?" tanya Naina menebak marahnya Juna karena Marcell.


"Cemburu?" tanya Juna sambil memalingkan mata nya dari Naina.


"Iya, kamu cemburu kan?" Naina tersenyum dan memberikan Juna ciuman lembut di pipi nya.


Cup


"Kalau cemburu kenapa? Gak boleh?" tanya Juna dengan mulut yang mengerucut.


"Aku senang kamu cemburu, tapi aku senang kamu marah. Cemburu tanda nya kamu cinta sama aku. Tapi sayang, aku dan kak Marcell hanya hubungan junior senior saja kok. Kami tidak punya hubungan apapun," Naina menjelaskannya pada Juna, supaya suaminya tidak salah paham.


"Benar tidak ada? Misalnya kamu pernah berpacaran dengan pria lain?" tanya Juna curiga.


"Juna, aku kan gak pacaran,"


"Kalau begitu kamu pernah naksir pria lain? Contohnya si dokter yang tidak lebih tampan dariku itu?" tanya Juna percaya diri.


"Haha.. kata siapa dia lebih tampan darimu?"


"Iya kan, dia itu tidak lebih tampan dariku!" kata Juna percaya diri.


"Tidak ada yang lebih tampan dari suamiku di dunia ini. Kamu jangan marah ya? Aku dan kak Marcell gak ada hubungan apa-apa,"


"Tapi aku merasa ada apa-apa dengannya," gumam Juna pelan.


"Juna kamu bilang apa sih?" tanya Naina tidak mendengar jelas ucapan Juna.


Naina memeluk Juna dengan erat, kemudian Juna mencium bibir istrinya. Setelah itu mereka berbaikan dan makan siang bersama.


Hati Juna masih tidak tenang membayangkan wajah Marcell saat menatap istrinya di rumah sakit. Seperti ada sesuatu di dalam matanya untuk Naina dan Juna merasa Marcell ada rasa pada Naina.


****


Di rumah sakit, Marcell baru saja akan pulang ke rumahnya..


"Akhirnya setelah sekian lama aku bisa pulang ke rumah juga," gumam Marcell sambil meregangkan tubuhnya.


"Selamat malam dokter,"


"Selamat malam hati-hati di jalan Dokter,"


Tidak suster tidak pasiennya, semua orang menyapa Marcell dengan ramah dan hangat. Semua orang sangat menyukai Marcell, selain tampan, dia juga ramah dan hangat pada semua orang


Marcell sampai di depan tempat parkir mobil, dia terlihat galau ketika masuk ke dalam mobilnya. "Naina sakit kanker? Ya Tuhan..," rupanya dia memikirkan Naina.


Ninaina, dia adalah gadis yang ceria cantik, memiliki banyak teman. Dia juga cerdas dan periang. Banyak teman-teman ku di kampus yang mengagumi dirinya, tapi tidak ada seorang pun yang bisa mencuri hatinya...


Bahkan temanku banyak yang tergila-gila padanya dan ingin menjadi kekasihnya, tapi...


......---****---......