
...🍂🍂🍂...
Alma tersenyum pada suaminya seolah memberikan sinyal persetujuan pada nya. Dengan hati-hati Bryan bertanya lagi pada Alma, benarkah istrinya itu bersedia memiliki bayi lagi tanpa ada paksaan apapun?
" Ya sayang, mari kita berikan adik untuk Naina dan Kelvin. Aku mau "
" Apa kamu tidak akan menyesal? kamu tidak takut lagi?" tanya Bryan
Alma mengangguk penuh keyakinan. Keduanya sama-sama meminta maaf atas sikap mereka sebelum nya. Tanpa mempertimbangkan perasaan satu sama lain, tanpa sadar mereka bertindak kekanakan.
Setelah menelan saliva nya cukup lama, Bryan menautkan bibirnya ke bibir Alma. Mengecupnya dengan lembut, tak lupa tangannya memeluk Alma.
" Kamu yakin?"
" Iya, kamu jangan bertanya lagi. Bukannya ini tujuan kita pergi berbulan madu. "
" Apa yang terjadi malam ini adalah tanggungjawab mu, kamu yang menggodaku" Bryan menggendong Alma. Dengan senang hati Alma setuju dengan perkataan Bryan.
Alma sudah terbaring di tengah ranjang, Bryan siap-siap menerkam nya. Hembusan napas keduanya semakin memburu dan panas, padahal mereka belum memulai apa-apa.
" aku akan mulai selembut.. mungkin " gumam Bryan sambil menatap istrinya dengan penuh cinta
Bryan memulai aksinya dengan memberikan ciuman ciuman lembut pada tubuh istrinya. Bibirnya tak ingin melewatkan satu pun bagian tubuh Alma yang tampak indah di matanya. Dilihat berkali-kali pun, Alma tetap bisa menggoda dirinya, ia tak pernah merasa bosan akan istrinya itu.
Tangan Bryan mulai menarik baju tipis milik Alma, melorotkan nya kebawah. Bibir Bryan yang panas mencium bagian atas tubuh Alma yang menyembul indah.
" Ah.. Ah.. " Alma memegang kepala Bryan dan membenamkan wajahnya di dalam dadanya. merasakan kenikmatan indah yang terjadi pada tubuhnya yang perlahan dan perlahan semakin lemas.
Bryan semakin asyik menikmati tubuh istrinya, mencium setiap sudut tubuh istrinya. Tak mau terlewat. Gairah Bryan semakin memuncak saat mendengar suara suara mesum meluncur dari bibir Alma.
Setelah selesai menuntaskan tugasnya di bagian atas tubuh istrinya, kini Bryan mulai kebagian bawah yang menjadi puncak segalanya.
" Tu-tunggu "
" Ada apa?" tanya Bryan sambil mendongakkan kepala nya pada Alma
" Ah, tidak apa-apa. Aku hanya malu " Alma menunduk malu
" Malu? kenapa? apa ini pertama kalinya kita melakukan ini?" Bryan tertawa sedikit, sembari menurunkan segitiga pengaman milik istrinya.
" I-itu, aku.. "
" Inilah yang membuatku yakin kalau aku tidak akan pernah bosan padamu, kelicikan mu ini " Bryan menatap Alma, tubuhnya berada di atas tubuh Alma.
" Kelicikan? aku licik apa?" tanya Alma polos
" Setiap kita melakukan ini kamu selalu memasang wajah polos, dan membuatku tergila-gila. " Bryan menanggalkan semua pakaian nya
Malam itu Bryan dan Alma melakukan nya lagi. Kali ini tidak sampai pagi dan hanya berlangsung selama 2 jam saja. Bryan tidak mau menyakiti tubuh wanita yang ia cintai, karena ia sempat mendengarkan nasihat Ian sahabatnya agar jangan terlalu sering melakukan hubungan. Apalagi setiap hari, itu tidak akan berakibat baik untuk Alma.
***
Pagi hari nya, Bryan dan Alma sama-sama bangun dari tidurnya mereka dengan segar bugar. Mereka kembali menghabiskan waktu mereka berbulan madu, dengan segudang rencana tempat-tempat yang ingin mereka kunjungi di Hawai.
Bryan dan Alma sama-sama berjemur dan duduk di kursi pinggir pantai. Terlihat beberapa bule yang ada disana, berpakaian sangat minim ( hanya memakai pakaian dalam saja ).
Perempuan bule itu menatap Bryan yang terlihat tampan seksi, Bryan tidak memakai baju atasan dan membiarkan tubuhnya terpapar sinar mentari pagi.
" wow, he's manly and Handsome " ucap seorang wanita berambut pirang, sambil menatap Bryan yang sedang rebahan di kursi
" Woah.. "
Alma terlihat kesal melihat gadis gadis bule yang menatap suaminya itu dengan tatapan mempesona. Ia tidak terima gadis lain melihat Bryan langsung beranjak dari kursinya.
Apa-apaan mereka menatap suamiku seperti itu? apa mereka tidak tau kalau ada istrinya disini?
" Sayang, kamu mau kemana?" tanya Bryan sambil membuka kacamata hitamnya, matanya mengarah kepada istrinya
Alma tidak bicara, ia mengambil kemeja Bryan dan menyuruh suaminya itu memakai nya.
" Aku sedang berjemur Al, masa kamu suruh aku pakai kemeja?" tanya Bryan
" Jadi kamu mau gadis-gadis itu melihat tubuhmu?" tanya Alma kesal
" Alma, kamu tidak usah cemaskan itu. Aku sudah biasa dengan tatapan tatapan seperti itu, bukan satu dua orang wanita saja yang begitu padaku. Abaikan saja " kata Bryan santai dan cuek
" Apa? jadi kau suka kalau mereka melihat tubuhmu?" suara Alma mulai meninggi
Bryan benar-benar menyebalkan, penyakit narsis nya kambuh lagi.
" Ya biarkan lah, kamu santai saja Al. Pria ini kan milikmu, lagian aku hanya melihatmu seorang " Bryan tersenyum pada istrinya, ia tak melirik ke arah wanita-wanita itu.
Para gadis itu masih tidak berhenti menatap Bryan. Padahal Alma sudah menunjukkan tatapan membakar pada gadis gadis bule itu.
Namun, gadis-gadis itu beranggapan kalau Alma adalah adik Bryan karena tubuhnya yang mungil dan wajahnya yang masih muda. Alma terlihat kesal, ia ingin melabrak gadis-gadis itu tapi ia malas melihat Bryan yang cuek-cuek saja.
Harusnya dia bilang kalau aku adalah istrinya biar mereka tidak melihatmu seperti itu. Tapi, kamu benar-benar menyebalkan. Ini kamu yang mulai ya Bryan.
Alma tersenyum licik, ia pun memiliki ide agar Bryan tidak cuek dan santai lagi, ia membuka blazer yang terpasang di tubuhnya. Terlihat lah baju tipis dan rok pendek yang dikenakan nya.
Dengan sengaja Alma berjalan menuju ke arah pesisir pantai, menikmati sinar mentari pagi.
" Alma, kamu mau kemana?" tanya Bryan
Ada apa dengannya?. gumam Bryan dalam hatinya, saat mendengar nada suara Alma yang terdengar aneh baginya. Bryan kembali tiduran dengan kacamata hitamnya dengan santai
Di sanalah ada beberapa pria bule yang tertarik dengan keeksotisan Alma, dan tubuh mungilnya.
" Hi girls, are you alone?" tanya seorang pria bule pada Alma.
" Hi girls, you are so beautiful "
" Oh Thanks you Verry much " Alma tersenyum menyeringai saat melihat Bryan yang tadinya sedang santai langsung kalap melihat Alma sedang di dekati oleh 3 pria bule.
Kena kamu Bryan
Bryan segera mengambil blazer milik Alma, wajahnya tampak kesal. " Apa apaan mereka itu? beraninya menggoda istriku ! cari mati "
Bryan berlari dan langsung menutupi tubuh istrinya dengan Blazer.
" stay away from my wife ! she's my wife." Bryan merangkul bahu Alma lalu mencium kening nya di depan ketiga pria bule itu, menunjukkan kepemilikan nya.
" Oh i'm sorry, we thought she was your sister, and not married " jawab salah seorang pria bule itu sambil tersenyum
Bryan tercengang mendengar nya, saat pria bule itu mengira kalau Alma adalah adiknya dan belum terlihat sudah menikah. Alma tersenyum melihat wajah suaminya yang seperti itu.
" berani ya kamu menggoda pria lain di depanku. Berpakaian tipis seperti itu di depan umum??" Bryan tersenyum tipis, dan menatap tajam istrinya.
" Aku tidak menggoda mereka, mereka yang menggodaku duluan. Ya, sama seperti gadis-gadis bule yang disana itu. Bukankah kamu juga sama kan? memamerkan tubuhmu di depan umum " Alma tidak mau kalah, ia masih kesal pada Bryan yang cuek
" Kamu kekanakan sekali, jadi kamu membalas ku?" tanya Bryan
" Kalau iya, kenapa? kamu mau apa?" tanya Alma kesal
Bryan menggendong Alma di bahunya, lalu ia menceburkan istrinya ke air pantai. Beruntung nya air nya dangkal karena hanya dipinggir pantai saja.
KYAA
" Bryan, kamu.. uhh asin " Alma merasa keasinan dengan air laut yang masuk ke mulutnya. Belum lagi bajunya sudah basah semua.
" Hukuman untukmu, karena sudah nakal." Bryan tersenyum
" Kamu juga harus dihukum "
GREP
Alma menarik tangan Bryan, dan mereka masuk ke dalam air pantai bersama-sama. Desiran ombak pantai menghiasi pagi mereka yang cerah. Menyapu keduanya yang sedang berada di air pantai.
ZRASHH
BYURR
" Uh, Almahyra kamu berani ya pada suami mu?" tanya Bryan sambil memercikan air ke arah Alma
CTAK
" Bryan, kamu itu ya ! " Alma membalas dengan memercikan air pantai ke arah Bryan. Mereka berdua sudah sama-sama basah kuyup.
Alma berlari karena takut Bryan akan menyerangnya lagi, mereka pun saling kejar-kejaran. Sisi kekanakan mereka berdua, kembali muncul.
Mereka tertawa dan tersenyum penuh kebahagiaan, tak lupa mereka mengabadikan momen kebersamaan bulan madu mereka di kamera ponsel milik Bryan. Tak lupa juga Bryan mengirimkan foto itu kepada Bu Delia yang selalu memberikan Bryan pesan untuk memberitahukan kabar mereka, ia sangat menantikan nya. Bu Delia tersenyum bahagia saat melihat foto-foto Bryan dan Alma yang sedang bulan madu di luar negeri.
Sore itu, Alma mengusulkan pada suaminya untuk berkemah di dekat pantai. Bryan pun setuju dan membangun tenda di dekat pantai. Dibantu juga oleh Alma. Di sanalah Alma menceritakan tentang kejanggalan nya dari sikap Bu Delia, pada Bryan suaminya.
🍂🍂🍂
Sudah 3 hari berlalu sejak Alma dan Bryan pergi bulan madu, selama itu pula Bu Delia lah yang mengasuh si kembar. Meskipun Laura ingin membantu, Bu Delia menolaknya, ia tidak mau membuat anaknya yang sedang fokus dalam persiapan pernikahan nya menjadi tidak fokus.
Kayla, Naina dan Kelvin pun jadi banyak menghabiskan waktu bersama nenek mereka.
***
Di Jakarta, rumah keluarga Aditama.
Bu Delia sudah menyiapkan sarapan pagi untuk semua orang yang ada di rumah itu. Hari itu ia berniat untuk mengajak ke tiga cucu nya jalan-jalan ke taman hiburan.
" Ma, apa mama yakin mau sendirian bawa anak-anak ke taman hiburan? biar aku juga temenin Mama ya " ucap Laura sambil mengoleskan selai coklat ke salah satu roti tawar
" Mama gak sendirian kok, Mama sama Bi Inah juga. Kamu fokus saja sama persiapan pernikahan kamu ya sayang " Bu Delia tersenyum cerah
Aku harus menebus semua dosa-dosa ku dimasa lalu pada anak-anak ku. Rumah tangga mereka hancur karena diriku, setidaknya disaat saat terakhir ku aku harus membuat mereka hidup bahagia. Aku harus memastikan nya.
" Ya sudah Ma "
Bukan hanya Alma yang merasakan ada yang aneh dengan Bu Delia, tapi Laura juga mulai merasakan nya. Beberapa hari ini Bu Delia terlihat banyak tersenyum dan mengerjakan semuanya sendiri, yang anehnya lagi Bu Delia ingin agar Laura dan Leon segera menikah. Hal ini begitu tiba-tiba.
Setelah selesai sarapan, Bu Delia pergi ke kamarnya dan masuk ke kamar mandi. Mulutnya memuntahkan banyak darah, dan hidungnya mimisan.
" Tidak, kumohon jangan sekarang. " gumam Bu Delia sambil mengusap sisa-sisa darah di mulutnya. Wanita paruh baya itu terlihat pucat, ia bercermin di kaca kamat mandi nya, menunjukkan wajah yang cemas.
...---***---...
Hai Readers! jangan lupa like dan komen nya. ,😊😊🤗