
Ken pun berlari pergi, dan disana lah terlihat beberapa anak buah Ken yang tadinya bersembunyi mulai bermunculan. Termasuk Han, orang kepercayaan Ken. Merek melaporkan kenapa Naina dan Kelvin menghilang.
" Bos maafkan kami, anak itu sangat cerdik dan lepas dari pengawasan kami " ucap Han melaporkan
" Tidak apa, aku tau putra sulung Bryan itu memang genius. Dia dan adiknya pasti akan baik-baik saja. Kalian cepatlah bergerak menuju ke tempat Bryan di sekap! kita harus cepat menyusul kedua anak itu! " ucap Ken pada anak buahnya yang bertato naga dan berperawakan menyeramkan itu.
" Baik bos!" ucap anak buah Ken serempak
" Saatnya kita membereskan pria tua itu " ucap Ken sambil memakai kembali topengnya. Inilah sosok Ken yang sebenarnya, ketua geng mafia terbesar di Singapura.
Aura Ken berubah saat memerintahkan anak buahnya untuk bergerak sesuai keinginan nya. Ken, Han dan ke 6 anggota geng nya segera pergi menuju ke tempat Bryan di sekap. Pria itu juga sudah menyiapkan pistol di dalam saku bajunya.
Kalau kamu sampai berani menyentuh kakak dan keponakan-keponakan ku, aku akan membunuhmu.
...***...
Laura menenangkan Alma yang syok setelah mengetahui kalau Naina dan Kelvin menghilang dari sekolah. Bersama Bu Asih, ia memapah Alma kembali masuk ke dalam rumah.
Bi Asih segera memberikan segelas air minum pada Alma yang tampak tidak baik.
GLUP
GLUP
Alma meminum air di dalam gelas dengan pelan-pelan, ia mengatur napasnya yang terengah-engah.
" Al, kamu tenang ya. Kamu percaya sama Ken, dia pasti bisa menyelamatkan Bryan, Naina dan Kelvin " ucap Laura
" Tetap saja aku cemas kak, bagaimana kalau terjadi sesuatu pada mereka sebelum Ken menemukan nya. Kak.. " Alma memeluk Laura dengan hati berdebar, wajah cemas, takut suami dan anak nya akan kenapa-napa.
Saat suasana sedang tenang, tiba-tiba saja beberapa orang tidak di kenal menyergap rumah itu berbekal senjata tajam di tangan mereka. Orang-orang mengenakan topeng hitam.
" Siapa kalian?!" teriak Laura pada orang-orang yang jumlahnya puluhan itu.
Orang-orang itu mengikat Alma, Laura, Bi Asih bahkan pak Joko satpam yang ada disana. Salah seorang dari mereka menelpon Wildan dan mengatakan bahwa semuanya beres!
...🍂🍂🍂...
Sementara itu Kelvin dan Naina berada di dalam bagasi mobil seseorang mencurigakan yang mengawasi mereka selama di sekolah. Dan Kelvin yakin kalau orang ini akan membawanya pada Bryan, maka dari itu Kelvin menyelinap masuk ke dalam bagasi mobil. Tapi Kelvin dalam masalah karena Naina juga ikut bersamanya.
" Nai, kenapa kamu ikut kesini?" bisik Kelvin pada adiknya itu
" Aku akan ikut kemana pun kakak pergi! bagaimana bisa aku biarkan kakak menangkap penjahat seorang diri " jawab Naina santai
" Ya Allah, Naina kamu masih bisa santai dalam situasi seperti ini? Nai, kamu bisa saja dalam bahaya! mereka bukanlah penjahat yang selalu kamu tonton dalam drama. Mereka penjahat sungguhan Nai " ucap Kelvin cemas
" Ya aku tau kok. Tapi bukan kakak saja yang mau menolong Papa, aku juga mau menolong Papa. Kenapa kalian selalu saja menyembunyikan semuanya dariku? apa karena aku bodoh dan tidak kompeten?" tanya Naina sedih." Setiap ada masalah, selalu aku yang tidak tau apa-apa! aku bahkan tidak tau kalau Papa yang di rumah bukan Papa ku yang sebenarnya " gerutu Naina kesal, karena ia baru tau kalau Ken bukanlah Papa nya.
Itu sih karena kamu tidak peka. kata Kelvin di dalam hatinya
" ya ampun, bukan begitu Nai. Kami cuma tidak ingin kamu terlibat dalam bahaya " ucap Kelvin
" Pokoknya aku mau ikut menyelamatkan Papa " kata Naina
" Oke baiklah, tapi kamu jangan keras kepala dan dengarkan perintahku. Kita akan menyelamatkan Papa bersama-sama ya " Kelvin pun tersenyum dan memegang tangan adiknya
" Nah gitu dong " Naina tersenyum, lalu tak sengaja kepala nya terantuk bagian atas bagasi mobil
DUG
" Aduh! "
" Sakit ya? tapi jangan berisik "
" Iya maaf kak. Tapi kakak yakin kalau orang ini yang menculik Papa dan bukannya Bodyguard yang dikirim papa?" tanya Naina penasaran
" Iya aku yakin, aku baru ingat setelah beberapa hari kalau aku membuatkan papa alat pelacak di kancing baju Papa. Dan orang ini pasti akan membawa kita pada Papa " ucap Kelvin sambil melihat jam tangan canggihnya, terlihat ada 2 titik koordinat di jam tangannya itu.
" Wah kakak, bagaimana kakak bisa membaca jam tangan ini? hanya berbentuk titik titik bulat saja " ucap Naina sambil tersenyum takjub melihat jam tangan milik kakak nya itu
" Ya ampun Nai, ini bukan jam biasa. Ini jam yang bisa melacak keberadaan Papa. Lihat nih, yang titik hitam di bawah ini adalah lokasi kita dan titik hitam diatas adalah posisi Papa " Kelvin menjelaskan kegunaan jam tangan canggih nya pada Naina.
" Benarkah kak? kakak benar-benar genius!" Naina memuji kakak nya
" Jadi kamu baru sadar?" tanya Kelvin sambil tersenyum percaya diri
" Cih, mulai lagi deh narsisnya" gumam Naina dengan mulut yang mengerucut
DUK
Suara mesin mobil berhenti, dan orang-orang yang ada di mobil itu seperti keluar dari mobil.
" Kak, seperti nya mobilnya berhenti deh. Lihat jam kakak! titik kita berhenti tepat di lokasi Papa " ujar Naina pada jam tangan kakak nya itu
" ternyata benar kalau mereka yang menculik Papa" ucap Kelvin sambil tersenyum menyeringai
" woah kakak senyum mu sangat menyeramkan, kamu seperti detektif Conan!" Naina memberikan jempolnya pada sang kakak
Disaat seperti ini bisa-bisa nya dia bersikap seperti itu. Dasar Ninaina! ucap Kelvin dalam hatinya
" Nai, kamu tunggu disini jangan kemana-mana. Aku akan menyelinap keluar dan mencari papa " ucap Kelvin pada adiknya itu
" Kakak, apa kakak lupa tadi Kakak bilang kalau kita akan selalu bersama!"
" Tapi bahaya Nai !"
" Kakak bilang kakak punya rencana cadangan? jadi aku bisa ikut "
" Ninaina.. kamu ini!!" seru Kelvin menahan kesal nya
" Aku ikut kakak " kata Naina tegas
" Kamu keras kepala ya seperti Mama!"
" Kakak juga narsis seperti Papa. Hmph!" Naina cemberut
Masih sempat-sempatnya dalam keadaan genting begitu si kembar bertengkar kecil. Akhirnya setelah keadaan aman, Kelvin dan Naina bergandengan tangan, menyelinap dari orang-orang dewasa yang sedang asyik bermain judi di depan gudang tua ditengah hutan itu. Mereka adalah anak buah Wildan.
Keuntungan seakan berpihak pada si kembar. Mereka berhasil menyelinap dengan mudah ke dalam ruangan.Namun langkah mereka terhenti saat melihat Wildan dan 3 anak buahnya yang masuk ke dalam ruangan sempit. Naina dan Kelvin pun yakin kalau Papa mereka ada di dalam ruangan yang dijaga ketat itu.
Si kembar bersembunyi di balik kardus kardus yang tertumpuk disana.
" Kak, Papa pasti ada disana " bisik Naina pada kakak nya
" Ya aku juga yakin " jawab Kelvin sambil melihat ke arah pintu kayu yang ada di depannya itu
" Lalu bagaimana caranya kita kesana?" tanya Naina
Tubuh mereka besar-besar. Menakutkan. Perhatian Naina tertuju pada si penjaga yang bertubuh besar
" Kita diam dulu disini sampai keadaan aman"
Om Leon, pak polisi semoga kalian cepat datang! aku sudah meninggalkan petunjuk dan mengulur waktu. ucap Kelvin di dalam hatinya, tangannya menggenggam tangan Naina.
...***...
Di dalam ruangan tempat Bryan di sekap..
Wildan menemuinya, dengan membawakan kertas ditangannya. Keadaan Bryan masih sama seperti sebelumnya, berantakan.
" Ada apa kamu menemui ku?" tanya Bryan dengan tatapan tajam nya pada Wildan
" Aku punya beberapa berita untukmu, ku pikir kamu akan suka berita dari om mu ini " Wildan tersenyum lalu menunjukkan sesuatu di ponselnya.
Terlihat foto Alma dan Laura yang sedang terikat di kursi dengan keadaan tidak sadarkan diri. Bryan tercengang melihatnya, matanya penuh emosi pada pria tua di depannya itu.
Alma? Kak Laura?
" Apa yang kamu lakukan pada istriku?! lepaskan dia!" teriak Bryan sambil berusaha membuka ikatan di tangannya, tubuhnya memberontak.
Ken, bukankah kamu bilang akan melindungi keluarga ku? lalu kenapa hal seperti ini bisa terjadi?apa kamu masih belum percaya padaku?
" Ya, ya itulah yang mau aku dengar darimu. Pasti kamu ingin istri dan kakak mu ini di lepaskan bukan? Dia akan baik-baik saja selama kamu menurut, Bryan "
" Apa yang om inginkan?" tanya Bryan
" Anak pintar, ternyata kamu tidak bodoh seperti saudara mu itu ya. Kamu cukup peka dan cukup bekerjasama. Tanda tangani ini dan istrimu juga kakak mu yang sedang hamil itu akan ku bebaskan " Wildan menunjukkan sebuah kertas ke hadapan Bryan
Kertas itu berisi sesuatu yang mengejutkan, bahwa semua aset kekayaan Aditama, dari mulai rumah, tanah, perusahaan, akan di alihkan kepada Wildan. Bryan tersenyum menyeringai, ternyata pada akhirnya yang diinginkan Wildan adalah aset keluarga Aditama.
Bagi Bryan tidak ada yang lebih berarti dari keluarga di dalam hidupnya, harta bisa dicari lagi. Tak masalah jika ia harus kehilangan segalanya.
" Tandatangani dulu, lalu aku tinggal menelpon anak buah ku untuk melepaskan mereka !" Wildan tidak mau kalah
BUK
BUK
Terdengar keributan di luar ruangan itu, Wildan segera pergi keluar dari luar ruangan untuk memeriksa apa yang terjadi. Ternyata anak buahnya sedang berkelahi.
" apa yang kalian lakukan dasar cecunguk bodoh?!" teriak Wildan pada anak buahnya
" Ini nih bos, dia yang mulai "
" Dia bos ! dia yang mulai ! dia kalah lalu memukul kepala ku dengan batu "
Saat Wildan sedang sibuk dengan keributan para anak buahnya, Naina dan Kelvin masuk ke dalam ruangan tempat Bryan di sekap.
Hati mereka senang bercampur sedih saat melihat Papa mereka terikat dengan wajah babak belur. Bryan terkejut melihat ada 2 pasang kaki bertubuh kecil menghampiri nya, sosok yang sangat ia kenal itu memakai baju seragam sekolah mereka.
Naina? Kelvin? mana mungkin mereka ada disini. Jam segini mereka pasti masih di sekolah.
" Sial! aku pasti bermimpi, saking kangen nya pada anak-anak ku. Aku sampai berhalusinasi " gumam Bryan tak mempercayai apa yang ia lihat, matanya terlihat sedih seperti akan menangis.
Kedua anak itu berlari dan langsung memeluk Bryan dengan penuh kerinduan. Bryan bisa merasakan sentuhan nyata dari kedua anak nya itu.
" Papa! ini benar-benar Papa.. Papa..." Naina menangis sambil memeluk papa nya erat-erat
" Nai, nanti dulu nangisnya. Kita harus melepaskan tali yang mengikat papa " ucap Kelvin datar dan menghancurkan suasana yang haru itu.
" Eh? kalian! kalian benar-benar ada disini? ini bukan mimpi?" tanya Bryan tak percaya
" Iya pa, kami kesini untuk menyelamatkan Papa " Naina segera menyeka air matanya, ia buru-buru mencari benda tajam di sekitar sana. Dan akhirnya ia menemukan pecahan kaca." Kakak, Papa, apa ini bisa dipakai untuk melepaskan talinya?" tanya Naina
" Bisa bisa "
Bryan segera melepaskan ikatan ditangannya dengan pecahan kaca yang ia dapatkan dari Naina. Tangannya sampai berdarah-darah terkena pecahan kaca itu.
" Kalian kenapa bisa ada disini? apa kalian tidak tahu bahaya? Kelvin, kenapa kamu ajak adik kamu kemari?" tanya Bryan cemas sambil memeluk Naina dan Kelvin
" Pah, jangan salahkan kakak. Aku yang mengikuti kakak kemari. Aku pengen nyelematin papa, aku kangen papa " ucap Naina sambil tersenyum
Tangan Papa berdarah, badan papa juga kurusan. Naina terlihat cemas melihat pergelangan tangan papa nya yang berdarah, dan badannya yang terasa kurus.
" Maafin aku pa, aku bawa Naina ke dalam bahaya " ucap Kelvin sambil menunduk
Bryan tersenyum dan menepuk kepala Kelvin, ia bangga pada anak anak nya yang sudah datang sejauh ini demi menyelamatkan nya. Ia juga berterimakasih pada Kelvin yang sudah menjaga Naina dengan baik.
" Tapi papa akan tetap hukum kalian berdua yang sudah berani bolos sekolah "
" Papa!" ucap Naina dan Kelvin kompak
" Papa kangen kalian " Bryan memeluk Kelvin dan Naina penuh kasih sayang.
Obrolan ayah dan kedua anaknya itu harus terputus saat suara langkah kaki perlahan mendekat ke arah ruangan itu. Bryan menyuruh Kelvin mengikat kembali tangannya dengan tali, tapi tidak dikencangkan ikatannya.
" Cepat kalian sembunyi dulu, jangan keluar sampai Papa suruh!" ujar Bryan pada kedua anaknya.
" Iya Pah " jawab Kelvin dan Naina patuh.
" Papa, jangan khawatir.. bantuan akan segera datang " ucap Kelvin menenangkan
" Papa percaya kamu nak, papa akan mengulur waktu " Bryan tersenyum dan menenangkan kedua anaknya.
Si kembar bersembunyi di balik kardus yang ada disana, dan tak jauh dari tempat Bryan duduk. Mereka memperhatikan apa yang terjadi diam-diam.
Wildan kembali masuk ke dalam ruangan itu, dan membawa kertas di tangannya. Wildan kembali memaksa Bryan untuk menandatangani kertas pemindahan kekuasaan itu. Si kembar tampak kesal melihat papa mereka di pukuli oleh Wildan.
Keterlaluan sekali si pak tua itu! dia memukuli papa!. Batin Naina dan Kelvin kesal
" Cepat! tanda tangan! kamu mau istri dan kakak mu yang sedang hamil kehilangan nyawanya?" tanya Wildan pada Bryan
" Aku tidak akan tandatangan sebelum kamu melepaskan mereka " Bryan tersenyum penuh percaya diri.
Beberapa detik kemudian, seseorang menendang pintu ruangan itu dengan kencang sampai rusak. Kelvin dan Naina terpana melihat pemandangan itu.
" Keren! Daebak " ucap Naina takjub pada pria yang menendang pintu
" Dia kuat sekali " gumam Kelvin terpesona pada sosok pria bertopeng itu.
BRAK
" Siapa itu?! " tanya Wildan marah, ia pun membalikkan badannya dan melihat Ken sudah menodongkan senjata api tepat ke kepala pria tua itu.
Disana juga anak buah Wildan dan anak buah Ken tampak berkelahi.
" Kamu datang juga akhirnya, Ken. Aku percaya kamu percaya padaku. "
" Aku sudah menemukan kebenaran nya, Bryan. Om Wildan tersayang, apakah kamu punya kata-kata terakhir?" tanya Ken sambil tersenyum menyeringai pada pria tua di depannya itu.
Wildan membeku, jantungnya berdebar kencang, apa ia sudah ketahuan? ia masih berusaha memasang wajah tenangnya. " K-ken, kenapa kamu lakukan ini? kenapa kamu mengkhianati om? om hanya membantu kamu untuk membalas dendam pada Bryan. Bagaimana bisa kamu melakukan ini pada orang yang sudah mengurus mu?! " Wildan tampak marah
Bryan pun menghentikan akting pura-pura terikat nya, ia berdiri tegap di depan Wildan. Saudara kembar itu mengepung Wildan, dan pria tua itu tampak kebingungan.
" Akui dosa dosa mu sekarang juga pria tua. Lalu kamu akan menghukum mu " Ken tersenyum menyeringai
Tamat sudah! dilihat dari wajahnya, Ken sudah mengetahui kebenaran tentang dirinya yang mengadu domba, memanfaatkan Ken untuk balas dendam, membunuh Fahri kakaknya sendiri, dan memisahkan Ken dari keluarga nya.
" Kamu tidak dengar apa yang dikatakan adikku?!!" teriak Bryan sambil mengambil pistol yang di lempar oleh Ken.
Kelvin dan Naina kaget mendengar papa mereka mengatakan pada pria bertopeng itu bahwa ia adalah adiknya.
Wildan berusaha mencari celah untuk kabur, tubuhnya gemetaran. Semua anak buahnya seperti nya sudah tertangkap oleh anak buah Ken. Wildan pun mengambil ponsel nya dan menelpon seseorang.
" Bunuh kedua wanita hamil itu.. " ucapnya pada seseorang di telpon. Bryan segera mengambil ponsel dari tangan Wildan dan melempar nya.
" Brengsek!" Bryan tidak bisa menahan emosinya, ia pun memukuli Wildan mati-matian.
Bahkan sampai membuat pria tua itu berdarah darah. " seperti nya membunuh mu tidak cukup! " teriak Bryan penuh amarah
Jika ada tempat yang lebih buruk dari neraka, seperti nya Bryan akan mengirim nya kesana.
" Bryan HENTIKAN! sudah cukup. Tenang saja, Alma dan Laura sudah aman !" teriak seorang pria yang muncul diikuti beberapa polisi di belakang nya.
Ini sudah berakhir untuk Wildan, borgol sudah terpasang di tangannya. Polisi sudah menangkapnya dengan bukti-bukti yang dikumpulkan oleh Leon dan Ken.
" Kalian bisa keluar " ucap Ken pada si kembar yang bersembunyi di balik kardus.
" Tidak apa Naina, Kelvin keluarlah " ucap Bryan pada kedua anaknya
Naina dan Kelvin keluar dari persembunyian mereka, kemudian menghampiri Bryan dan memeluk papa mereka.
" Ternyata kalian ada disini, apa kalian baik-baik saja ?" tanya Leon cemas
" Kami tidak apa-apa om " jawab Naina sambil tersenyum. Pandangan nya tertuju pada pria bertopeng di hadapan nya itu.
" Kenapa kamu melihatku begitu? apa kamu penasaran padaku ya, Naina?" tanya Ken sambil tersenyum
" Kok, om bisa tau namaku?" tanya Naina polos
Kelvin sama penasaran nya dengan Naina, siapa pria bertopeng yang tampak asing di depannya itu. Akhirnya Ken membuka topengnya, terlihat lah wajah tampannya yang mirip dengan Bryan itu, bibirnya tersenyum ramah pada si kembar.
" Kita kan pernah bertemu sebelumnya " jawab Ken
Si Kembar terpana melihat wajah Ken. Mereka seperti benar-benar melihat Papa mereka ada dua. Seperti pinang dibelah dua, yang sulit dibedakan dari wajah.
" Kembar.. Papa ada dua" gumam Naina takjub
" Ternyata benar, Papa ada dua. Gila! sama banget " gumam Kelvin tak percaya dengan apa yang dilihat nya
" Kakak, kita kembar tapi wajah kita gak sama ya?" tanya Naina polos
" Kita bukan kembar identik Nai " jawab Kelvin sambil tersenyum
Saat itulah Bryan langsung memperkenalkan Ken pada Leon dan kedua anaknya. Bahwa Ken adalah adiknya. Bryan dan Ken pun saling bermaafan, berpelukan, berjabatan tangan sebagai tanda rekonsiliasi di antara mereka.
...---***---...
Mau crazy up lagi? Jangan lupa like dan komen nya ya 😁❤️kasih gift bunga juga boleh kok
Makasih untuk yang kasih vote nya Minggu ini ya 😘