
...🍀🍀🍀...
Demi menjaga keselamatan Keira dan bayinya, Keira dijaga ketat oleh orang-orang suruhan Ken di rumah ibu mertua.
Di sisi lain, hal-hal baik mulai berdatangan, salah satu nya adalah keadaan Naina yang mulai membaik dan dia diperbolehkan untuk keluar dari rumah sakit.
"Selamat ya kamu sudah bisa keluar dari rumah sakit. Tapi kamu harus ingat, kamu tidak boleh lengah! Keadaan kamu masih dalam pemantauan, kamu hanya membaik bukannya sembuh.Jadi kamu harus menjaga diri kamu baik-baik, perhatikan makanan minuman yang boleh dan tidak boleh kamu konsumsi, jangan lelah, hindari stres, tidak melakukan olahraga berat," kata Firlan mengingatkan Naina untuk selalu berhati-hati dengan keadaan nya.
"Iya dokter! Siap!" jawab Naina sambil memberi hormat pada Firlan, dia tersenyum ceria.
"Kak Naina sini dong!" kata seorang anak perempuan. berpakaian seperti pasien. "Iya, kakak kesitu ya! Ma, dokter Firlan, aku kesana dulu ya" kata Naina sambil melangkah pergi menghampiri anak kecil itu.
Setelah itu Alma dan Firlan sedikit mengobrol tentang kondisi Naina. Alma sangat berterimakasih karena dokter Firlan banyak membantu Naina dalam penyembuhan nya terutama semangat.
"Terimakasih ya dok, selama ini dokter selalu merawat anak saya hingga keadaan nya bisa membaik"kata Alma pada Firlan sambil tersenyum.
"Ini sudah menjadi tugas saya Bu, lalu keadaan Naina membaik itu karena semangatnya untuk hidup dan sembuh sangat tinggi" Firlan menatap ke arah Naina yang sedang berbicara dengan anak-anak kecil disana sambil tersenyum.
"Pokoknya terimakasih banyak pada dokter Firlan, yang sudah sabar merawat Naina dan menyemangati nya. Saya sangat bahagia dan bersyukur karena anak saya bisa kembali tersenyum seperti itu"
"Sebenarnya ini karena calon suaminya, kalau bukan karena pak Arjuna yang pantang menyerah menyemangati Naina. Mungkin Naina akan semakin drop" kata Firlan memuji Juna di depan calon ibu mertuanya.
"Ya, dokter Firlan memang benar.. anak itu berperan sangat penting untuk kesembuhan dan semangat nya Naina. Saya bersyukur karena Allah mengirimkan pria sebaik Juna untuk anak saya" jelas Alma yang juga sangat respect dengan calon menantu laki-laki nya. Entah bagaimana jadinya Naina bila tidak ada Juna disampingnya.
Beberapa kali Juna menyelematkan nyawa Naina, saat koma, saat Naina mengalami sakit nya kemoterapi, ketika Naina kambuh, Juna tidak pernah mengeluh dan tetap sabar menghadapi Naina dalam keadaan apapun. Selain itu, Juna juga memberikan hal yang paling penting untuk pengobatan Naina dan hal itu bernama semangat.
"Tapi Bu Alma, jangan lengah.. karena Naina belum sembuh sepenuhnya"
"Saya tau dok, saya pernah mendengar referensi dari buku dan teman-teman saya, bahwa kanker darah itu sulit disembuhkan. Terimakasih dokter karena sudah mengingatkan saya" jelas Alma mengerti apa maksud kata-kata dokter Firlan.
Pembicaraan itu pun berakhir, saat Alma mengajak Naina pulang ke rumah. Naina terlihat sangat bahagia, karena akhirnya dia bisa keluar dari rumah sakit setelah hampir dua bulan dia berada disana.
Mereka berdua di jemput oleh Bryan yang baru saja pulang kerja.
"Alhamdulillah princess nya papa sudah bisa pulang" kata Bryan sambil mendekap anaknya dengan penuh kasih sayang.
"Papa apaan sih! Princess.. princess," gumam Naina sebal.
"Ya udah sayangnya papa aja ya" Bryan bahagia karena putrinya sudah bisa pulang ke rumah.
Naina, Alma dan Bryan masuk ke dalam mobil bersama-sama. Bryan menyetir mobilnya, sebelum pulang ke rumah Bryan, Alma dan Naina mampir dulu ke supermarket untuk membeli bahan makanan.
"Maaf ya sayang, mama lupa belanja bahan makanan"
"Iya gak apa-apa ma, kebetulan aku juga mau belanja sesuatu" kata Naina sambil tersenyum ceria
"Kalau kamu lelah, pulang aja bareng papa. Biarin mama kamu pulang sendiri aja" usul Bryan yang khawatir dengan kondisi tubuh anaknya.
"Iya sayang, mama gak apa-apa kok pulang sendiri. Naina pulang aja bareng papa" kata Alma sambil mendorong troli belanja.
Naina menggeleng, dia berkata bahwa ada barang yang ingin di belinya. Dan dia berjanji tidak akan lelah ataupun berjalan jauh di sekitar mall itu.
Akhirnya Alma dan Bryan setuju, dengan syarat kalau Naina tidak boleh jauh-jauh dari mereka berdua. Mereka pun belanja bersama, saat Alma sedang sibuk di tempat sayuran, Naina meminta izin pada mama dan papa nya untuk pergi ke tempat kosmetik sebentar.
"Ma, pa, Naina ke tempat kosmetik dulu ya"
"Tumben banget anak papa yang gak biasa nya dandan pergi ke tempat kosmetik" Bryan tersenyum heran.
"Hehe, aku mau beli sesuatu pa" Naina nyengir.
"Gak usah pa, tuh deket disitu kok..aku kan bukan bayi pa, yang harus ditemenin kemana-mana" gerutu Naina sebal karena papa nya begitu protektif.
"Kenapa sih kamu mencurigakan banget? Memangnya apa yang mau kamu beli sampai kamu gak mau ditemani sama papa?" tanya Bryan menatap curiga ke arah Naina.
"Aku mau beli barang pribadi!"
"Barang pribadi apa?" tanya Bryan polos.
Alma berbisik ke telinga suaminya, dia menjelaskan apa yang dimaksud dengan barang pribadi. Bryan hanya manggut-manggut, kemudian dia mengizinkan Naina untuk pergi sendiri ke tempat kosmetik.
Gadis itu berjalan ke tempat jual kosmetik disana, dan tempat itu tak jauh dari tempat Bryan dan Alma yang sedang belanja sayur dan buah.
Naina mengambil keranjang kecil untuk barang belanjaan nya, dia mencari-cari shampo dan kondisioner penumbuh rambut, karena persediaan kedua benda cair itu sudah habis. Naina memang sangat menyayangkan rambutnya yang botak, tapi dia berusaha menumbuhkan nya lagi walau sulit dengan berbagai cara. Kini kepala botaknya itu sudah ditutupi oleh topi rajut.
"Aku harus beli yang banyak, sama beli pembalut juga" kata Naina sambil tersenyum cerah, dia menyimpan shampoo dan conditioner itu ke dalam keranjang.
Tiba-tiba saat Naina berjalan, seseorang tak sengaja menabrak nya. Hingga Naina terjatuh ke lantai bersama belanjaan nya juga.
"Upss.. sorry, gak sengaja " kata seorang anak remaja pria padanya.
"Ini kan si nenek yang waktu itu guys?" tanya seorang pria pada kedua temannya, dia melihat Naina dengan tatapan mengejek.
Loh? Bukannya mereka yang pernah aku lihat di cafe nya Damar?. Naina mengenali anak-anak remaja itu sebagai anak-anak tidak sopan yang menghina nya.
"Nek, apa Lo masih botak?" tanya seorang pria mengejek Naina..
"Wah si nenek, sekarang wajahnya jadi fresh.. ternyata nenek cantik juga ya haha"
Bukannya membantu Naina, tiga orang anak remaja itu malah mengejek Naina. Naina mengabaikan orang-orang itu dan memunguti barang barang nya yang berserakan dilantai.
"Heh! Kita lagi ngomong sama Lo!" kata seorang anak remaja itu marah karena Naina mengabaikan nya.
"Dasar anak-anak gak sopan. Apa orang tua kalian gak pernah ngajarin kalian sopan santun ya?" Naina kesal dan mulai bicara, ia sadar bahwa diam tidak akan menyelesaikan segalanya. "Kayanya nilai akhlak kalian di sekolah itu jelek ya?"
"Apa?!"
"Heh nenek! Jaga omongan Lo baik-baik ya!" seorang pria melotot ke arah Naina.
"Kalian tuh yang jaga mulut kalian, jangan bodyshaming" kata Naina mengingatkan.
"Woah woah.. nantangin nih si nenek" Salah seorang pria tersenyum sinis.
"Kenapa? Kalian mau pukul perempuan? Pukul aja nih pukul!" seru Naina menantang ketiga anak remaja yang mengganggunya itu.
Salah seorang anak remaja itu dengan berani membuka topi yang menutupi kepala Naina dan melempar nya.
PLUK
Mereka menertawakan Naina yang kepalanya botak, orang-orang disana juga melihatnya. "Haha botak! cewek botak!!"
Naina mulai merasa tidak nyaman dengan tatapan orang-orang kepadanya. Beberapa saat kemudian, seorang pria datang dan memakaikan topi nya pada Naina.
"Kakak gak apa-apa?" tanya pria itu.
Naina menoleh ke arah pria itu. "Kamu?"
...---***---...