
...🍀🍀🍀...
Keira kebingungan mencari Naina di sekitar taman itu, tak lama kemudian dia bertemu dengan Juna yang ingin menjenguk Naina. Juna membawa bunga mawar pink kesukaan Naina sebelum dia pergi untuk perjalanan bisnis ke Australia.
"Keira? ngapain lo disini? bukannya Lo lagi jagain Naina?" tanya Juna heran melihat Keira yang bingung
"Iya tadinya aku sama Naina disini, tapi saat aku balik lagi dia udah gak ada...aduh kemana ya?" Keira bingung
"Apa??!" Juna terpana mendengar Naina hilang
Keira dan Juna berpencar mencari Naina ke setiap sudut rumah sakit sambil berlari-lari. Terakhir, mereka sampai pergi ke ruang CCTV.
"Nah, itu Naina!" tunjuk Keira pada salah satu video yang menunjukkan Naina baru keluar dari toilet wanita.
"Iya.. eh dia ke.." Juna melihat ke arah video itu, memerhatikan kemana Naina pergi setelahnya.
Naina sedang sendirian di dekat tangga yang menuju ke atap gedung. Disana sangat gelap dan tidak ada siapapun. Gadis itu menangis sendirian.
"Aku tau nangis gak ada gunanya, tapi aku pengen nangis..aku gak kuat lagi. Wajah aku jadi jelek, nanti aku jadi botak.. aku gak mau...hiks..hiks" Naina menangis dengan menutup semua wajahnya dengan tangan.
"Kenapa kamu takut botak? kenapa kamu berfikir kalau kamu jelek? siapa yang bilang begitu?" terlihat seorang pria yang jongkok di depan Naina, dia berpijak pada salah satu anak tangga disana.
"Hah? Juna, kenapa kamu ada disini?" tanya Naina yang tak berani melihat ke arah Juna, dia menyembunyikan wajahnya dengan kedua tangannya.
"Hey angry cat, kamu kenapa?" tanya Juna sambil mengambil kedua tangan Naina yang menutupi wajahnya.
"Jangan, jangan lihat aku.. kamu gak boleh lihat" Naina menarik tangannya, namun Juna memegang tangan itu dengan erat. "Jangan lihat!!!" teriak Naina marah
"Kamu kenapa Nai? ada apa?" tanya Juna dengan suara lembutnya.
"Aku jelek, kamu jangan lihat aku" Naina masih menangis meratapi nasibnya nanti.
Keira diam-diam melihat mereka berdua dari belakang. Dia tak mau menggangu Juna dan Naina. Keira merasa lega karena Naina sudah ditemukan setelah hampir setengah jam mereka mencari Naina.
"Kata siapa kamu jelek? kamu itu cantik Nai"
"Bohong...kamu bohong.. aku jelek gini dibilang cantik? terus nanti aku juga bakal botak, aku makin jelek"
Apa dia seperti ini karena melihat pasien kanker lainnya? apa itu wanita duduk di kursi roda yang ada di taman itu?
"Nai, mau penampilan kamu seperti apapun kamu tetap wanita tercantik di mataku" Juna membelai pipi Naina dengan lembut, namun wanita itu terus memalingkan wajah darinya
"Kamu jangan bicara omong kosong, sekarang aja aku udah jelek! jelek banget, aku kurus, tubuhku keriput, rambutku juga rontok, nanti aku bakalan botak. Apa kamu masih bisa bilang aku cantik? aku juga menjijikkan, aku selalu muntah muntah, bahkan aku juga pernah muntah di tangan kamu. Kamu pasti jijik kan sama aku? cuma kamu gak mau bilang?" tanya Naina menumpahkan semua yang ada di dalam hatinya.
Dia takut kalau nanti, semua orang akan jijik dengan penyakit yang dia derita dan lelah mengurus dirinya. Hal yang paling dia takutkan bahwa suatu hari nanti Juna akan meninggalkannya.
"Nai.. aku gak pernah berfikir kaya gitu, aku gak pernah jijik sama kamu. Enggak Nai, apa kamu menganggap perasaan ku sedangkal itu? Nai...mau seperti apapun kamu, aku tetap sayang sama kamu Nai.." Juna membelai rambut Naina, tak sengaja rambut rontoknya terjerat oleh jarinya. Juna terkejut dengan banyak rambut rontok milik Naina. Hati Juna sedih karena mungkin yang ditakutkan Naina akan segera terjadi.
Sebelum Naina melihat rambut nya yang rontok, Juna menyimpan rambut itu di saku jas nya dengan cepat.
"Sekarang kamu bisa ngomong kaya gini, tapi nanti mungkin kamu akan berubah pikiran. Juna, mendingan kamu putusin aku dan cari wanita lain saja!" saran Naina pada Juna untuk mencari wanita lain.
Juna terpana mendengar kata-kata Naina, gadis yang selalu tegar dan semangat itu kini berada di dalam titik terlemah nya karena dia lelah dengan semua nya dan mulai takut.
"Hey! hey! Ninaina kamu ngomong apa sih? huss.. jangan bicara sembarangan! you are my only one, Naina.. tidak ada wanita lain yang akan menjadi pasanganku, istriku, teman hidupku selain kamu" Juna berusaha meyakinkan Naina, bahwa dia akan menerima Naina seperti apapun dirinya.
"Tapi aku sakit, aku juga akan jelek, aku menjijikan, tubuhku akan keriput, aku bakalan botak! kamu bisa mencari wanita lain yang sehat dan tentunya lebih cantik dari aku, lebih baik segala-galanya dan bisa membahagiakan kamu, Jun"
"Nai dengerin aku ya, setiap orang pasti akan keriput dan jelek. Suatu saat nanti aku juga akan begitu" Juna berusaha menghibur Naina
"Hah! usahlah percuma aku ngomong sama kamu, kamu gak akan dengar"
"Tuh kan, kamu tidak percaya padaku?" Juna menyeka air mata Naina dengan jari-jari nya yang lembut
"Memang nyatanya aku jelek kan?" Naina menyilangkan tangannya di dada, dia belum berani menunjukkan wajahnya pada Juna.
Saking jeleknya wajahku sekarang, aku bahkan gak berani menatap Juna. Aku gak berani berdiri berada di bawah cahaya. batin Naina sedih
Tangan Juna meraih leher Naina, dia mendekatkan wajahnya pada wajah Naina. Memang fakta nya wajah Naina kusam dan kering, tapi Juna tidak peduli.
"Juna.. kamu mau apa?" tanya Naina bingung karena tangan Juna menyentuh lehernya
"Aku gak jijik Nai, ini buktinya kalau kamu tidak percaya" Juna menyentuh bibir Naina dengan bibirnya. Mengecup nya penuh cinta, kelembutan, tanpa ada rasa jijik.
"Hmph!!"
Keira malu sendiri melihat adegan itu, dia pun memutuskan untuk kembali ke lantai bawah. "Harusnya aku tidak melihat hal ini, aku jadi kangen Kelvin"
Naina mendorong Juna pelan-pelan, "Belum lama ini aku muntah, kenapa kamu malah menciumku? ini menjijikkan Jun" Naina menghapus basah di bibir Juna dengan tangannya, dia takut Juna akan jijik setelah berciuman dengan nya.
"Gak kok, aku gak jijik. Kan aku udah bilang, mau seperti apapun kamu.. aku akan tetap sama kamu, aku gak akan pernah ninggalin kamu meksipun kamu nyuruh aku pergi" Juna memegang tangan Naina dengan lembut
"Juna.. "
Kenapa Juna selalu membuat ku terharu? apa memang benar kata orang-orang kalau cinta Juna untukku sangat besar? batin Naina terharu dengan ketulusan cinta Juna padanya. Lagi-lagi air mata nya mengalir, kali ini karena rasa haru nya pada Juna
"Eh? kok kamu nangis lagi?" Juna menyeka air mata Naina sambil menatap gadis itu dengan tatapan sayang.
"Kamu sayang kan sama aku Jun?" tanya Naina sambil menangis sesegukan
"Nai, apa itu perlu ditanyakan lagi? aku sayang.. sayang banget sama kamu" Juna membelai pipi Naina
"Aku juga sayang kamu Jun" kata Naina tulus
Naina memeluk Juna dengan penuh cinta dan kasih. Juna juga membalas pelukan Naina. "Udah ya, semangat lagi. Aku akan selalu ada untuk kamu Nai, semua orang juga" Pria itu menghibur dan memberikan semangat untuk Naina.
Ya Allah... betapa beruntungnya aku memiliki Juna dan orang-orang yang mencintaiku, kenapa aku sangat tidak bersyukur? justru aku harus tambah kuat karena ada mereka di sisiku. batin Naina terharu
"Iyah aku akan semangat" kata Naina sambil menghentikan air matanya.
"Bagus! kamu kan mau sembuh, setelah sembuh ayo kita jalan-jalan ya" Juna tersenyum. Naina mengangguk setuju dan kembali semangat. "Yuk kita kembali ke ruang rawat ya"
"Iyah"
Juna menggandeng tangan Naina, mereka menuruni tangan dengan hati-hati. Saat sampai di depan lift, tiba-tiba saja Naina muntah darah lagi.
UHUK!
"Naina!" teriak Juna panik, dia memegang tubuh Naina
"Juna..." Naina menutup matanya, tubuhnya terkulai lemah tak sadarkan diri.
Kenapa harus sekarang?. batin Naina lemas
"Nai.. Naina!!" Juna menggendong gadis yang tidak sadarkan diri itu. Dia masuk ke dalam lift dan segera membawa Naina kembali ke kamar rawat nya.
Keira dan Theo yang sedang mengobrol disana melihat Juna menggendong Naina yang tidak sadarkan diri. "Juna, Naina kenapa?" tanya Keira cemas melihat adik iparnya
"Theo, tolong periksa dia!" seru Juna panik melihat Naina.
"Oke" jawab Theo sambil membuka pintu kamar ruang rawat Naina. Keira, Juna, dan Theo masuk ke dalam ruangan itu.
Dengan sigapnya Juna merebahkan tubuh Naina di ranjang. Wajah gadis itu terlihat sangat pucat, rambut panjangnya menjuntai ke bawah.
Theo memeriksa kondisi Naina, dia yakin bahwa ini adalah efek kemoterapi yang sedang dijalaninya. Melihat kondisi Naina, dia harus segera melakukan operasi pencangkokan sumsum tulang belakang.
"Jadi operasi harus segera dilakukan?" tanya Keira pada Theo
"Tapi Kelvin lagi ada di luar kota.. aku akan segera hubungi dia, juga kasih tau papa dan mama" kata Keira sambil mengambil ponsel di tas nya dan dia pergi keluar dari ruangan itu untuk menghubungi semua keluarga nya.
Juna dan Theo masih berada di dalam ruangan itu, dengan Naina yang masih terbaring lemah.
"Jun, Naina pasti sembuh" Theo menyemangati
"Hem, pasti. Tapi sumpah yo, gue gak tega lihat Naina terus tersiksa kaya gini. Kenapa bukan gue aja yang sakit? kenapa bukan gue aja yang mengalami semua ini? kalau penyakit nya bisa di pindahkan, gue rela demi Naina. Hati gue nyesek setiap lihat Naina kaya gini, sedangkan gue gak bisa berbuat apa-apa" Juna menangis tanpa suara, tangannya menggenggam tangan Naina yang terasa dingin. Matanya menatap wanita itu dengan sedih.
"Dengan lo ada disisinya dan jagain dia, itu udah lebih dari cukup untuk membuat dia semangat. Jadi jangan menyerah, lo kekuatan buat Naina" Theo memandang Naina dengan sedih, si peri cantik pemberani dan ceria yang dia kenal dari kecil itu kini tengah terbaring sakit parah. Tidak tau kapan akan sembuh, dan tidak tahu berapa lama dia akan bertahan dengan rasa sakit yang menyiksanya.
Theo ikut merasakan apa yang dirasakan oleh Juna, melihat orang yang dicintai menderita dan kesaksian di depannya, pasti sangat menyakitkan untuk Juna. Theo juga menyadari dari sikap Juna, kalau pria itu benar-benar serius pada Naina. Keputusan nya untuk menyerah pada Naina, adalah keputusan yang tepat.
Di luar ruangan itu, Keira baru saja selesai menghubungi Bryan dan Alma. Kini dia menghibur Kelvin, namun telpon nya tidak diangkat.
Tut... Tut... Tut...
"Berdering? tapi kok gak diangkat-angkat, dia kemana sih?" tanya Keira bingung pada Kelvin yang belum mengangkat telpon darinya.
Karena telpon dari suaminya yang tak kunjung mendapat jawaban, akhirnya Keira memutuskan untuk menelpon Farel, sekretaris nya yang mungkin sedang bersama Kelvin.
"Halo? ini siapa ya?" tanya Farel
"Halo pak Farel, ini saya Keira" jawab Keira
"Nyonya? ada perlu apa nyonya?" tanya Farel ramah
"Dimana suamiku? eh maksud saya pak Presdir? apa dia masih rapat?" tanya Keira
"Pak presdir.. dia.." Farel terlihat kebingungan, dia melihat Presdir nya sedang duduk di antara dua wanita cantik yang entah siapa.
"Ayolah pak, minum satu gelas saja! demi kerja sama kita" kata seorang pria gendut pada Kelvin
"Ma-maaf pak, saya tidak biasa minum" jawab Kelvin gelagapan
Kenapa para wanita ini terus mendekati ku?
"Ayolah pak! kalau tidak mau minum, tolong bawa salah satu gadis ini bersama bapak.. siapa tau bisa memuaskan bapak" kata pria gendut itu dengan seringai di wajahnya
Ini tidak benar.
"Maaf pak, seperti nya saya harus pergi" kata Kelvin kesal
"Loh? kok sudah mau pergi lagi? kita kan masih rapat"
"Ini bukan rapat dan saya tidak tau kalau rapat seperti ini, seperti nya saya harus pergi" Kelvin beranjak dari kursinya
Dua satu wanita itu memaksa Kelvin minum minuman itu. "Sayang.. minum saja sedikit ya"
GLUK
GLUK
Farel panik dan langsung menolong Presdir nya. "Pak.. anda tidak apa-apa?" tanya Farel cemas sambil menopang tubuh Kelvin.
Keira mendengarkan suara itu, dia terlihat kesal. "Suara wanita? hah! apa dia sedang rapat bersama seorang wanita? apa aku salah dengar? wanita itu memanggil sayang pada suamiku, kan?"
"Ini sudah keterlaluan! saya tidak bisa berbisnis dengan orang seperti anda!" kata Kelvin murka dan langsung membatalkan kerjasama nya dengan pria gendut itu
"Pak!! pak!! jangan begini dong pak!" pria gendut itu memohon pada Kelvin. Tapi Kelvin tidak mau lagi bekerjasama dengan orang seperti itu.
Aku pikir Presdir A-Tech akan sama seperti ayahnya dulu yang seorang playboy. Tapi ternyata dia berbeda.
Kelvin meminta Farel membawanya pergi dari tempat itu. Farel menyetir mobil karena Kelvin sudah terpengaruh oleh alkohol.
"Pak, apa anda baik-baik saja?" tanya Farel sambil menyetir mobil, dia melihat dari kaca depan kalau wajah Kelvin mulai memerah.
"Aku.. ughh... Farel cepat pulang ke rumah!" seru Kelvin menahan panas ditubuhnya.
"Ba-baik pak, oh ya pak tadi nyonya menelpon dan seperti nya ada hal penting yang ingin dibicarakan oleh beliau" kata Farel
"Istriku??!" Kelvin terperangah mendengar istrinya menelpon Farel. Kelvin tidak bertanya lebih lanjut karena kepalanya sangat pening dan tubuhnya juga panas. Dia tidak kuat lagi menahan itu.
Dalam 3 jam perjalanan, dari Bandung ke Jakarta, malam itu Kelvin sampai ke rumahnya. Rumah yang dia tempati bersama Keira berdua. Sekarang Kelvin dan Keira sudah tinggal di rumah yang terpisah dari Alma dan Bryan.
"Assalamualaikum sayang? apa kamu di rumah?" tanya Kelvin sambil jalan sempoyongan masuk ke dalam rumah, dengan dipapah oleh Farel
"Assalamualaikum nyonya.." ucap Farel yang takut melihat wajah Keira yang kesal
"Bagus ya, berangkat pagi pulang malam terus malah main sama wanita liar di luar sana" sindir Keira sambil beranjak dari tempat duduknya.
"Sa-sayang, aku bisa jelaskan.. Farel bantu aku jelaskan?" Kelvin melirik ke arah Farel dengan mata teleng nya.
"Nyonya, tadi pak presdir di paksa minum saat rapat. Bahkan bos Dae kontruksi itu juga membawa wanita untuk menemani Presdir, tapi Presdir menolaknya" Farel menjelaskan nya dengan cepat
"Oh begitu" jawab Keira dingin seolah tak peduli, dia menatap tajam suaminya yang tidak bisa menjaga diri itu.
Dingin sekali, lebih baik aku pulang saja. Farel ngeri melihat raut wajah Keira yang hampir sama dengan Kelvin saat sedang marah.
"Ka-kalau begitu saya pamit" kata Farel sambil merebahkan Kelvin di sofa.
Farel lari terbirit-birit bahkan sampai lupa mengucapkan salam, saking takutnya pada Keira.
"Kelvin?! hey! bangun! jangan kira kalau kamu seperti ini aku akan memaafkan kamu? apa wanita-wanita itu ada menyentuh kamu?" tanya Keira pada suaminya yang setengah sadar itu.
Tangan Kelvin menarik Keira, lalu memeluk istrinya itu. "Sayang, aku cinta banget sama kamu.. sayang.. aku kepanasan"
"Kalau kepanasan, mandi air dingin aja sana!" Keira beranjak bangun dari tubuh suaminya yang panas.
"Panas yang ini gak bisa diredakan oleh air dingin" Kelvin beranjak duduk, dalam keadaan tidak sadar dia tersenyum bodoh.
"Apa?" kening Keira berkerut melihat suaminya dengan heran
Apa dia benar-benar mabuk? berapa banyak dia minum alkohol?
"Kamu cantik Kei.. sangat cantik" Kelvin membelai rambut Keira. Kemudian dia membenamkan bibir nya pada bibir cantik milik Keira.
"Kelvin..hmphh!!"
"Haaah.. panas Kei, kamu harus bantu aku meredakan nya" Kelvin masih memiliki kekuatan untuk menggendong istrinya
"Kya!! Kelvin kamu mau ngapain?"
"Mau ngapain ya??" Kelvin tersenyum bodoh
"Baiklah, aku akan memarahi mu ketika kamu sudah sadar. Mari redakan dulu panas di tubuhmu itu" Keira terpaksa setuju dan melayani suaminya.
Kelvin tersenyum, dia membawa istrinya dengan buru-buru masuk ke dalam kamar lalu mengunci pintu kamar itu.
BRAK
CEKRET
...----***----...