Stuck In Love CEO

Stuck In Love CEO
Bab 106. Menjelang pernikahan



...🍀🍀🍀...


Tanpa mendengar jawaban Juna, seperti nya ekspresi Theo sudah menggambarkan bahwa Naina memang terkena kanker.


Theo yang sudah kenal Naina dari kecil, tau benar tentang Bu Delia yang mengidap penyakit yang sama dengannya. Theo syok mengetahui penyakit mematikan yang diidap oleh Naina.


"Jadi maksud Lo, ini mungkin penyakit turunan??" tanya Juna sambil melihat ke arah Theo.


"Seperti nya begitu jika benar bahwa Naina sakit kanker darah" jawab Theo sedih, "Kapan Lo tau tentang ini?"


"Beberapa menit yang lalu sebelum Lo tau, Theo" jawab Juna sambil memegang kepalanya, dia tampak frustasi.


Sial! rasanya kaki ku mati rasa. Juna lemas melihat Naina dari balik jendela, "Apa yang bisa kita lakukan untuk menyembuhkan nya?"


"Pertama-tama kita harus memberitahu keluarganya" ucap Theo berwajah yang galau, tak jauh berbeda dengan wajah Juna.


CEKRET


"Jangan.. jangan kasih tau keluarga ku" Naina membuka pintu kamarnya, dia melepas infus yang tertancap di tangannya. Akibatnya tangan nya berdarah. Kini wajah Naina terlihat kurus dan pucat tanpa make up di mukanya.


"Naina!" kedua pria tampan itu menghampiri Naina dengan wajah panik.


"Kak Theo, jangan kasih tau Mama papa sama kak Kelvin.. aku mohon..haahh.. haaah..." Naina menghela napas, tubuhnya roboh. Beruntungnya Juna menangkap tubuh Naina dengan kedua tangan kekarnya.


"Nai.." lirih Juna


"Naina, apa kamu sudah gila? mengapa kamu lepaskan selang infus itu?! kamu sedang sakit" tegur Theo pada gadis yang sedang sakit itu.


Juna mendudukkan Naina di kursi yang ada disana. Naina tidak bisa menebak eskpresi wajah tunangannya saat itu, mungkin marah, mungkin cemas dan mungkin saja sedih.


Sekali lagi Naina meminta Theo dan Juna merahasiakan penyakit nya sampai besok. Naina tidak mau usahanya yang menyembunyikan penyakit itu menjadi sia-sia. Naina bahkan sampai menangis memohon pada Theo dan Juna untuk merahasiakan nya. Kedua pria itu tidak tega melihat Naina menangis dan bersedih, belum lagi keadaan nya yang lemah bisa membuat kondisi Naina drop karena stress.


"Ya, oke.. aku janji akan merahasiakan ini, tapi kamu harus menjawab beberapa pertanyaan ku" ucap Theo pada Naina.


Juna tidak bicara sepatah kata pun, hanya wajah sedih yang tersirat pada dirinya. Perasaan nya bercampur aduk.


Mereka bertiga pindah ke ruangan Naina untuk bicara dengan leluasa. Naina berbaring di ranjang itu. Theo dibantu oleh suster kembali memasang selang infus itu.


"Katanya mau bertanya? tapi kenapa malah diam saja?" tanya Naina sambil menatap kedua pria yang duduk di kursi tak jauh dari tempatnya berbaring.


Theo dan Juna hanya diam saja melamun, entah apa yang mereka pikirkan. Hal itu membuat Naina sedih.


"Inilah sebabnya aku gak mau kasih tau tentang penyakit ku. Kalian saja sudah seperti ini, apalagi mama, papa dan kak Kelvin tau. Bisa bisa keadaan ku ini akan membuat mereka galau" Naina tersenyum pahit


"Pemikiran kamu itu salah Nai, justru mereka akan semakin sedih kalau mereka tau belakangan" jelas Theo tegas


"Aku setuju sama Theo, lebih baik kita memberitahu pada keluarga kamu" ucap Juna setuju


"Kalian sudah janji padaku agar tetap tutup mulut sampai besok!" Naina kesal


"Naina..kamu.." Juna menahan kesal nya pada Naina, dia gemas


Theo dan Juna tidak bisa berdebat dengan orang sakit, keadaan Naina akan semakin lemah kalau gadis itu terus marah-marah. Mereka berdua terpaksa sepakat merahasiakan penyakit Naina dari keluarga nya, dengan syarat Naina harus menjalani terapi radiasi disana. Bersama dengan dokter Firlan, anak dokter Haris yang bertitel spesialis kanker darah. Dan dialah yang selalu merawat Naina.


Ketika Naina berada di ruang terapi, Theo dan Juna menunggu gadis itu di luar ruangan terapi.


"Theo, Naina akan sembuh kan?"tanya Juna cemas


"Gue bukan tuhan yang bisa memprediksi sembuh atau tidak sembuh nya pasien" jawab Theo


"Jawab yang betul, gue serius nanya. Katanya kanker Naina sudah stadium tiga, itu sebulan yang lalu" ucap Juna


"Apa? sebulan yang lalu?? dan Lo baru tau sekarang? apa Lo benar-benar tunangannya??" tanya Theo marah


"Jangan ngakak gue debat! gue gak mau berantem sama Lo, gak ada mood. Jelasin aja sama gue, bagaimana cara agar Naina bisa sembuh? bagaimana supaya sel kanker di dalam tubuh Naina bisa terangkat sepenuhnya?" tanya Juna tak mau berbasa-basi, baginya kesembuhan Naina adalah yang terpenting sekarang


"Oke, gue juga bakal tahan debat sama Lo, karena gue pengen Naina sembuh" Theo juga malas berdebat


Pantas saja waktu itu Naina pernah tanya cara-cara menyembuhkan kanker. Ternyata, itu bukan untuk teman magangnya atau apalah itu. Namun itu untuk Naina sendiri.


"Jadi apa caranya??" tanya Juna tak sabar


"Mendengar penjelasan dari dokter Firlan, Naina sudah menjalani 3 pengobatan. Tapi sel kanker nya masih belum mati, malah menjalar semakin luas di tubuhnya. Kemoterapi juga sedang dijalankan oleh Naina, namun seperti nya tubuhnya kurang merespon dengan baik pengobatan itu. Jadi.. hanya tinggal satu satunya cara" jelas Theo tentang kondisi Naina


"Apa?" mata Juna menatap penasaran pada Theo


"Donor sumsum tulang belakang" jawab Theo


"Aku pernah mendengar itu. Jadi artinya keluarga Naina harus tau kan?" tanya Juna menebak


"Benar" jawab Theo singkat, "Tapi Naina tidak mau keluarga nya tahu"


"Kita berharap saja kalau sampai besok Naina akan baik-baik saja, setelah itu kita beritahu kebenaran nya" ucap Juna yang mengalah pada keras kepala Naina


"Lo harus menjaga dia, khususnya untuk besok, Lo jangan jauh jauh darinya" saran Theo


"Lo ngomong kaya gini, apa karena lo udah restuin gue sama Naina?" tanya Juna dengan senyuman jahilnya.


"Gue? ngerestuin Lo sama Naina?" tanya Theo pada dirinya sendiri dan juga pada Juna


"Ya kan? Lo pasti udah bahagia sama si Nisha, dia cewek baik. Jangan lo sia-sia kan dia, Theo..cinta sejati hanya datang sekali seumur hidup. Coba Lo buka hati sama dia.." ucap Juna yang melihat perjuangan Nisha selama ini pada Theo. Juna memberikan saran agar Theo tidak melepaskan Nisha.


Theo merenung sendiri, dia mulai memikirkan Nisha yang selama ini ada untuknya. Ada bersamanya dan menghibur nya di saat sedih. Nisha tak pernah lelah walaupun Theo selalu mengadukan kegalauan nya karena Naina.


Nisha, apa dia cinta sejati ku? apa seharusnya aku mencoba membuka hati untuknya? untuk hubungan ku dengan Nisha?


Setelah melewati terapi radiasi, dokter Firlan menjelaskan pada Juna dan Naina bahwa kondisi Naina tidak merespon dengan baik obat kemoterapi yang pertama. Karena itu dokter Firlan menyarankan ada dua cara lainnya, yang mungkin bisa menyelamatkan Naina.


Kemoterapi yang kedua atau donor tulang sumsum belakang adalah solusi terakhir nya. Namun, Naina harus segera mendapatkan donor tulang sumsum belakang itu secepatnya. Naina mengambil cara yang lain yaitu kemoterapi yang kedua. Saat itu juga dokter langsung menyuntikkan cairan kimia pada tubuh Naina.


Di depan rumah sakit..


"Nai, apa kamu merasa sakit?" tanya Juna cemas melihat Naina yang baru saja disuntik. Gadis itu sudah berganti baju dan memakai make up untuk menutupi wajah pucat nya. Juna selalu menunggunya dengan setia, tak hentinya pria itu mencemaskan Naina.


"Hanya disuntik saja, aku tidak sakit kok" jawab Naina sambil tersenyum seperti biasanya.


GREP


Tanpa tahu tempat, Juna memeluk Naina dengan erat dengan wajah sedih. "Juna.. kamu kenapa?"


"Nai, tidak boleh terjadi apa-apa sama kamu. Kamu harus hidup lama dan bahagia bersamaku, jika ada yang harus mati lebih dulu biarlah aku saja" Juna menangis, dia tidak mau kehilangan Naina. Jika Naina pergi dari nya, maka Juna akan sendirian. Hanya Naina lah teman hidup satu satunya dan yang Juna punya.


"Juna jangan bicara sembarangan, aku akan sembuh kok. Kita kan akan menikah dan hidup bahagia. Mana bisa aku meninggalkan kamu" Naina tersenyum, namun matanya mengalir. Dia balas memeluk Juna dengan eratnya.


"Nai, kalau sakit kamu harus bilang padaku ya? aku akan mengingatkan mu untuk selalu minum obat" Juna mencium kening Naina dengan penuh rasa sayang.


"Iya Juna, kalau sakit aku akan bilang sama kamu" ucap Naina menangis dalam diamnya.


Juna mengantar Naina pulang ke rumahnya dengan berat hati. Beratnya karena dia ingin selalu bersama Naina setiap waktu dan detiknya untuk menjaga Naina. Penjelasan dari dokter Firlan tentang kondisi Naina, membuatnya semakin sedih dan mencemaskan Naina. Dia takut kalau Naina akan kesakitan dan saat itu Juna tidak ada disampingnya.


"Jun, kamu gak akan lepasin tanganku?" tanya Naina pada pria yang masih menggenggam tangannya itu.


"Apa aku menginap saja disini ya?" tanya Juna pada Naina


"Juna, besok pagi kan kita bisa bertemu di tempat pernikahan kak Kelvin" ucap Naina sambil tersenyum dan melepaskan genggaman tangan Juna.


Juna pasti sangat syok dan mencemaskan ku.


"Aku takut Nai.. aku takut kamu kenapa-napa" Juna tak bisa menahan tangisnya, bukan nya menyemangati Naina dia malah ikut sedih. Juna menyesal karena tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. Ceria seperti biasanya dan selalu menghibur Naina, kali ini dia bahkan tidak bisa menghibur dirinya sendiri.


"Eh, kenapa Jun Jun ku malah nangis? aneh tau gak lihatnya? tenang saja Jun, aku akan sembuh.. kamu harus menyemangati aku, dan hibur aku seperti biasanya"


"Kamu benar Nai harusnya aku gak kaya gini, aku minta maaf" Juna masih menangis


"Aku yang minta maaf Jun, karena aku udah buat kamu menangis" Naina mengusap air mata Juna dengan kedua tangan lembutnya.


"Nai..." Juna menatap Naina dengan tatapan sedih


Kedua kaki Naina berjinjit, kedua tangan Naina menggapai leher Juna. Bibirnya mencium bibir Juna dengan lembut, kedua nya sama-sama menangis menikmati kecupan yang tidak diiringi dengan pagutan lidah itu.


"Haahhh.."


Tangan Juna memeluk Naina dengan erat, mereka saling menguatkan satu sama lain. Berharap kata dokter tentang usia pendek Naina itu tidak akan menjadi kenyataan.


"Nai, aku sayang kamu"


"Juna, aku juga" ucap Naina sambil tersenyum lembut


****


Keesokan harinya, tibalah dimana hari pernikahan Keira dan Kelvin akan dilangsungkan. Naina dan Alma sudah bersiap dengan baju seragaman yang mereka pakai, untuk pergi ke gedung yang akan menjadi tempat pernikahan Keira dan Kelvin.


Hari ini adalah hari bahagia kak Kelvin dan kak Keira, aku harus bisa melewati nya. Naina baru saja selesai berhias, dan melihat wajahnya sendiri di dalam cermin.


"Nai, sayang.. kita berangkat yuk" ajak Alma pada anaknya.


"Oke ma, aku udah siap kok" jawab Naina sambil tersenyum


Senyum Nai, senyum..


Semua keluarga Aditama menghadiri acara pernikahan itu. Leon, Laura dan kedua anak mereka juga datang dari luar negeri untuk menyaksikan pernikahan Kelvin. Sebelum acara pernikahan di mulai, para wanita dari keluarga Aditama mendatangi pengantin wanita yang sedang duduk menunggu dengan cemas dengan balutan kebaya berwarna putih.


"Apa disini kamar pengantinnya?" tanya seorang gadis yang terlihat seumuran dengan Naina membuka pintu berwarna coklat, ditutupi tirai putih. Gadis itu memiliki rambut berwarna merah, perawakan tinggi, kulit putih, di rambutnya ada kacamata berwarna hitam.


Keira melihat wanita itu dengan bingung, siapa kah gadis yang belum pernah dilihatnya ini?. Gadis itu melihat ke arah Keira dengan senyuman lebar di bibirnya.


"Hai, kamu pasti calon pengantin si gunung es itu. Aku pikir dia tidak akan pernah menikah seumur hidupnya, tapi ternyata dia mendapatkan jodohnya secepat ini. Sial! aku kesusul olehnya!" gerutu gadis itu mengarah pada Kelvin


"Maaf, kamu siapa ya?" tanya Keira pada wanita aneh itu.


Sebelum wanita itu menjawab pertanyaan nya, datanglah Laura, Viona, Sonya, Alma dan Naina ke ruangan itu. Diantara wajah wajah yang datang menghampiri nya, Keira bertanya-tanya soal Laura dan wanita cantik berambut merah.


"Kakak ipar, jangan salah paham. Wanita ini adalah adik sepupuku. Kayla ayo kenalkan dirimu, jangan buat kakak iparku salah paham" ucap Naina pada Kayla


"All right my sister Naina, dia juga kan akan menjadi kakak iparku. Halo kakak ipar, aku Kayla.. aku sepupu si gunung es Kak Kelvin dan pecinta drakor sama seperti kak Naina" Kayla tersenyum ceria, sifatnya tak jauh berbeda dengan Naina.


"Dasar si kamu ini! kakak ipar juga pecinta drakor tau"


"Woah benarkah kakak ipar? aku juga suka drakor. Kita bersahabat ya, ah tidak.. kita kakak adik saja ya, karena kita sefrekuensi" Kayla terlihat bahagia mendengar bahwa Keira juga sama seperti nya dan Naina penggemar drama Korea.


Keira tersenyum malu-malu berhadapan dengan sepupu Kelvin itu, "Nama ku Keira, salam kenal ya" ucap nya lembut


"Beruntungnya si gunung es itu ya, kakak iparku sangat cantik" puji Kayla pada Keira yang membuat calon pengantin itu tersipu malu.


"Tentu saja, kakak ku itu pintar dalam segala hal. Bahkan memilih wanita cantik dan baik, dia bisa melakukan nya" Naina membanggakan sang kakak


"Kamu benar Kay, Kelvin sungguh beruntung. Alma aku pikir kalau anak itu tidak akan menikah hehe" Laura tersenyum melihat ke arah Alma


"Iya tadinya aku khawatir dia akan kesulitan menikah, tapi dia kan berbeda dari papa nya. Aku percaya bahwa dia akan setia pada satu wanita saja di dalam hidupnya. Oh ya Keira, kenalkan ini Tante nya Kelvin dan Naina, kakak dari papa mertuamu" Alma hampir saja lupa memperkenalkan Laura pada Keira


Dengan sopan dan lemah lembut, Keira membeli salam pada Laura. Mereka semua meminta Keira agar menjaga Kelvin dengan baik. Berharap kedua orang itu akan saling menjaga selamanya.


"Mama gak usah cemas, saya akan berusaha menjadi istri yang baik untuk Kelvin. Saya akan menjaga Kelvin" ucap Keira sambil memegang tangan Alma


"Mama percaya kalau kalian akan langgeng selamanya" ucap Alma sambil tersenyum lalu memeluk Keira dengan perasaan haru bahagia.


Naina dan yang lainnya disana tersenyum bahagia menyambut akad nikah yang tinggal beberapa menit lagi. Tak lama kemudian, Bi Asih datang kesana dan memberitahukan bahwa akad nikah akan segera di mulai.


"Wah, sudah mau mulai. Ayo kakak ipar aku bantu bawa ekor gaunnya" ucap Kayla dengan senang hati.


"Makasih ya adik ipar"


Menikah dengan kamu adalah keberuntungan yang pernah terjadi dalam hidupku Vin. Aku bisa menjadi bagian dari dirimu, memiliki keluarga yang hangat dan baik.


"Ayo kita keluar" ucap Laura yang melangkah pergi keluar dari ruangan pengantin bersama Alma.


Deg, Deg


Naina merasakan jantungnya berdebar hebat, kepalanya berputar-putar. "Kay, maaf aku mau ke kamar mandi dulu"


"Loh? terus siapa yang bawa gaunnya?" tanya Kayla


"Aku aja." jawab seorang wanita yang baru saja sampai di sana


"Nisha, kamu datang??" tanya Keira dan Naina bahagia melihat sahabatnya itu


"Maaf ya aku telat, habis dari penerbangan aku langsung kesini" jawab Nisha dengan senyum cerahnya


"Bagus, karena ada Nisha.. aku mau ke kamar mandi dulu, Nisha tolong aku ya. Aku gak kuat kebelet" Naina tersenyum menahan rasa sakit kepalanya yang seperti ditusuk-tusuk itu.


"Oke Nai" jawab Nisha setuju


Setelah yakin Keira, Kayla dan Nisha sudah pergi. Naina berjalan menuju ke kamar mandi dengan sempoyongan, darah mengucur dari hidungnya.


"Ya Allah..aku mohon sebentar lagi saja" pinta Naina sambil mengusap darah di bawah hidungnya


...---***---...


Readers maafkan author update nya agak terlambat, author sedang kurang sehat 🤧🥰


jangan lupa like komen nya ya