Stuck In Love CEO

Stuck In Love CEO
Bab 131. Teror



...🍀🍀🍀...


Tubuh Keira berlumuran darah, berbau amis, entah darah apa yang disiramkan kepada tubuhnya itu. Keira syok sampai tidak bisa bicara, tubuhnya gemetar, matanya membulat kaget.


"Kei.. Keira kamu kenapa? Siapa yang melakukan ini?!" Kelvin melihat tubuh Keira berlumuran darah. Yang membuat Kelvin semakin cemas adalah Keira diam saja.


Kemudian wanita itu jatuh pingsan, Kelvin menangkup tubuh Keira, menahan istrinya agar tidak jatuh. "Kei! Keira!"


Bersamaan dengan itu, anak buah Ken yang diam-diam berjaga disana berhasil menangkap orang yang menyiramkan darah pada tubuh Keira.


"Pak Kelvin, kami sudah menangkap orangnya? Mau diapakan?" tanya Han, orang yang sudah bekerja lama dengan Ken. Bawahan Ken yang paling setia.


"Tahan dia! Aku akan mengurusnya nanti!" seru Kelvin sambil menatap pria itu dengan tajam. Dia ingin memukul pria itu sekarang juga, namun keadaan Keira tidak bisa menunggu.


Kelvin menggendong Keira masuk ke dalam rumah dan merebahkan nya di ranjang. Dengan lembutnya Kelvin membersihkan darah yang ada ditubuh Keira.


Setelah itu dia mencoba membangunkan Keira dengan mengoleskan minyak kayu putih pada hidung Keira dan kepalanya.


"Sayang.. bangun sayang...sayang kamu kenapa? Jangan buat aku cemas! Kei.. Keira.." Kelvin mencoba segala cara untuk membangun istrinya yang sedang hamil itu.


Sudah hampir dua puluh menit, Kelvin mencoba membangunkan istrinya. "Ini gak beres..urghh.." Kelvin mendesah melihat istrinya masih belum sadarkan diri. Akhirnya Kelvin memutuskan untuk membawa istrinya ke rumah sakit, dia takut kalau terjadi sesuatu pada Keira dan anak mereka yang masih ada di dalam kandungan.


Siang itu Kelvin sampai di rumah sakit, dia membawa Keira dengan panik ke ruang rawat yang di tuduhkan oleh salah satu suster disana. Keira mendapatkan perawatan dari dokter.


"Dok, bagaimana keadaan istri dan anak saya?" tanya Kelvin pada dokter yang baru saja memeriksa keadaan Keira.


"Bapak tenang saja, istri bapak hanya mengalami syok ringan dan sedikit kekurangan nutrisi. Bayi yang ada di dalam kandungan nya juga baik-baik saja, hanya..."


Kelvin terpana mendengar ucapan dokter yang terhenti di kata hanya.


"Hanya saja apa dok?" tanya Kelvin penasaran


"Kehamilan Bu Keira tergolong lemah, saya menyarankan agar Bu Keira bedrest di rumah saja dan jangan melakukan pekerjaan berat"


"Lemah? Apa mungkin ada sesuatu serius yang terjadi pada istri saya?" tanya Kelvin khawatir


"Tidak ada yang serius pak, hanya.. ketika saya memeriksa rahim Bu Keira, janin yang ada di dalam kandungan nya lah yang lemah" jelas dokter itu


"Astagfirullah.. lalu saya harus bagaimana dok?" tanya Kelvin cemas mengetahui kalau kandungan istrinya lemah.


"Seperti apa yang sudah saya sarankan barusan, lebih baik Bu Keira mengurangi aktivitas berat dan beristirahat di rumah, jangan sampai stress, jangan sampai lelah" saran dokter pada Kelvin mengenai kehamilan Keira. "Bapak tidak usah cemas, setelah infusnya habis. Bu Keira sudah bisa pulang dan beristirahat di rumah"


"Baik, terimakasih dok"


"Saya sudah resep kan vitamin, juga obat penguat kandungan, bapak bisa mengambilnya di tempat pengambilan obat di lantai 2" jelas dokter dengan senyum ramahnya


"Ya, terimakasih dokter" Kelvin tersenyum


Dokter itu keluar dari ruangan tempat Keira di rawat. Kelvin menemani istrinya yang belum sadarkan diri, dia mengelus kepala Keira dengan lembut penuh kasih sayang.


"Sebenarnya siapa orang yang sudah jahil pada Keira, aku harus segera menemuinya" Kelvin terlihat gusar, dia marah pada pria yang sudah menyiramkan darah pada tubuh Keira.


Kelvin bermaksud menemui anak buah Ken yang menangkap orang itu, namun saat dia melangkah pergi. Istrinya siuman, kemudian memegang tangan Kelvin.


"Sayang..."lirih Keira pada Kelvin


"Sayang, kamu udah bangun? Gimana? Ada yang sakit? Anak kita di dalam sana gak apa-apa kan?" tanya Kelvin seraya duduk di samping istrinya, dia menatap Keira dengan cemas.


"Aku gak apa-apa, tapi...darah..darah itu.." Keira teringat darah yang berlumuran ditubuhnya sebelum dia tidak sadarkan diri. Tiba-tiba bisa merasa mual-mual, perutnya seperti diremas-remas.


Uwekk.. UWEKKK!!


"Sayang, kamu mau muntah?" tanya Kelvin sambil mengambil kantong keresek untuk wadah muntah.


Benar saja, Keira muntah-muntah seperti morning sickness nya tadi pagi. Kelvin menepuk-nepuk punggung Keira dengan lembut. Ia seperti merasakan bagaimana penderitaan Keira yang akan menjadi seorang ibu. Melihat Keira seperti itu, Kelvin jadi teringat mama nya.


UWEKKK UWEKKK...


Jika Keira saja seperti ini, bagaimana dulu saat mama mengandung aku dan Naina tanpa ada papa disisinya?Apa mama juga mengalami hal yang sama dengan Keira? Kasihan sekali mama..


Tanpa jijik sedikitpun, Kelvin mengusap bekas muntah di sekitar mulut Keira. Dia membungkus bekas muntah itu lalu membuangnya ke tempat sampah.


"Sudah muntahnya?" tanya Kelvin sambil mengisi gelas kosong dengan air putih di dispenser yang ada disana.


Keira hanya mengangguk, dia kembali berbaring di ranjang itu. Tubuhnya terasa lemas karena terus muntah-muntah, tenaganya terkuras habis.


"Inilah sebabnya aku menyuruh kamu beristirahat di rumah. Dan dokter juga sudah bilang kamu harus istirahat total di rumah" kata Kelvin sambil menyerahkan segelas air minum kepada istrinya.


Keira meneguk pelan-pelan air yang ada di dalam gelas itu sampai habis. "Kenapa dokter menyuruhku beristirahat total di rumah? Apa terjadi sesuatu pada anak kita?" tanya Keira pada suaminya.


"Dokter bilang, kalau kandungan kamu tergolong lemah.. jadi kamu dan anak kita harus beristirahat sampai keadaan nya membaik" Kelvin memegang perut Keira dengan lembut.


"Hm...baiklah" jawab Keira menurut tidak seperti biasanya yang membantah.


"Jangan membantah lagi, ini demi anak kita juga. Aku tidak mau terjadi sesuatu pada anak pertama kita" kata Kelvin sambil tersenyum dan menatap istrinya.


"Iya baiklah aku mengerti, kalau demi anak kita tentu saja aku harus menurut. Tapi, di mana orang yang sudah menyiramkan darah kepadaku?" tanya Keira penasaran dengan orang iseng yang memencet bel rumah dan menyiram darah padanya.


"Sudahlah, kamu tidak usah pikirkan itu.. Aku yang akan mengurusnya kamu pikirkan saja kesehatan kamu dan anak kita. Kamu tidak boleh stress" kata Kelvin seraya menenangkan istrinya yang masih terlihat syok itu.


"Iya sayang"


"Kamu istirahat dulu ya, aku mau lihat ke kamar Naina dulu sebentar.. sekalian kasih tau Mama sama papa tentang keadaan kamu" ucap Kelvin sambil beranjak dari tempat duduknya


"Iya sayang" jawab Keira sambil tersenyum.


"Gak apa-apa kan aku tinggal kamu sebentar?" tanya Kelvin pada istrinya.


"Iya, aku juga tiba-tiba ngantuk nih pengen tidur'" kata Keira dengan mata yang mengantuk.


"Tidur ya, aku gak akan lama kok.. sayang nya papa, papa tinggal dulu ya" ucap Kelvin mengarah pada perut istrinya yang masih terlihat datar itu.


"Oke, papa hati hati ya" jawab Keira dengan suara kecilnya.


Cup


Kelvin mencium kening istrinya sebelum pergi, padahal ruang rawat Naina hanya melewati 3 ruangan saja dan tidak jauh dari sana. Tapi Kelvin tetap saja mesra pada istrinya dalam keadaan apapun.


Kelvin keluar dari ruangan itu, ada dua anak buah Ken yang berjaga di depan sana. Kelvin menjadi waspada semenjak kehadiran Clay.


Aku harus membereskan masalah Claysia, aku yakin dia yang melakukan semua ini. Pak Vincent, aku harus menanyakan ini padanya. Kelvin membatin, dia berjalan keluar dari ruang rawat istri nya dengan hati gelisah.


Dia pun sampai di depan kamar Naina, disana hanya ada Sonya dan Viona saja yang sedang beres-beres.


"Loh? Tante Viona? Sonya? Kalian ada disini?" tanya Kelvin pada Tante dan sepupunya.


"Kami kesini cuma mau beres-beres barang yang ketinggalan disini, besok Tante, Sonya, sama om kamu akan pergi ke Singapura" Viona menjelaskan rencana pergi bersama suami dan anaknya ke Singapura pada Kelvin.


"Ada apa Tante di Singapura?" tanya Kelvin penasaran


"Om kamu ada sedikit urusan disana, kami pergi lebih awal supaya bisa menghadiri acara pernikahan Naina nanti" Viona tersenyum sambil membawa beberapa barang-barang nya bersama Sonya.


"Oke Tante, hati-hati ya" Kelvin tersenyum seraya mendoakan perjalanan Tante, sepupu dan om nya ke Singapura.


"Iya vin.. tapi Vin, kamu bukannya lagi kerja? Kenapa kamu bisa ada disini jam segini?" tanya Viona yang heran melihat pakaian casual Kelvin.


"Keira sakit, tadi dia pingsan...dia lagi di rawat di kamar dekat lorong" jawab Kelvin


"Astaghfirullah! Lalu bagaimana keadaan Vin?" tanya Viona terkejut mendengar Keira masuk rumah sakit.


Viona dan Sonya memutuskan untuk menjenguk Keira lebih dulu sebelum mereka pergi ke luar negri.


Setelah infus Keira habis, wanita itu meminta pulang pada suaminya. Alma, Bryan dan Naina mengetahui kejadian yang menimpa Keira dari Kelvin, mereka merasa khawatir dan cemas dengan keadaan nya.


"Ma, mendingan kak Keira tinggal dulu di rumah sama kita. Kasihan kan kalau kak Kelvin lagi nggak ada di rumah dan kak Keira sendirian. Siapa yang akan jagain kak Keira?" Naina menyarankan agar Keira tinggal dulu di rumah bersama Alma, Bryan dan Naina.


"Iya, Naina benar tuh bagaimana kalau orang itu menyerang Keira saat kita atau Kelvin tidak ada!! Keira harus tinggal bersama kita di rumah kita" kata Bryan yang mencemaskan keselamatan menantunya.


"Mama setuju, Keira tinggal aja di rumah sama mama, Naina dan papa ya?" bujuk Alma pada menantu perempuan nya itu


"Vin, gimana?" Keira bertanya dulu pada suaminya, apakah dia setuju untuk tinggal kembali bersama kedua orang tuanya atau tidak.


"Ya, aku kan tidak bisa selalu ada untuk kamu setiap waktu. Ada kalanya Aku harus pergi bekerja dan kamu akan sendirian di rumah, Aku nggak mau kamu sendirian di rumah. Lebih aman kalau kamu tinggal sama Naina, papa dan Mama saja.Itu pun jika kamu bersedia?" saran Kelvin kepada istrinya dan memang lebih baik kalau wanita hamil itu tinggal di rumah keluarga besarnya agar lebih banyak yang menjaga.


"Iya sayang, aku sih nggak apa-apa" jawab Keira dengan senang hati setuju untuk tinggal di rumah mertuanya.


"Gak apa-apa ya Kei, sementara aja kok" Kelvin tersenyum seraya memegang bahu istrinya.


Sebelum masalah Claysia selesai, aku tidak bisa membiarkan istri dan anakku berada di dalam bahaya. Aku harus menyelesaikan ini sebelum acara pernikahan Naina dan Juna dilaksanakan. batin Kelvin yang sudah menyiapkan segudang rencana di dalam kepalanya untuk membasmi seseorang yang bernama Claysia.


***


Pada hari itu, Keira dan Kelvin langsung mengosongkan rumah mereka dan pergi ke rumah keluarga besar. Keira dan Kelvin membawa barang-barang penting mereka sebelum meninggalkan rumah itu.


Mereka selesai membawa barang-barang mereka dibantu oleh anak buah Ken. Dan mereka akan berangkat menuju ke rumah keluarga besar Aditama.


"Pak berhenti!" teriak Keira pada pak supir yang sedang menyetir itu.


"Ada apa?" tanya Kelvin sambil melihat ke arah istrinya yang panik.


"Aku lupa bawa pouch make up ku" jawab Keira


"Ya ampun, aku kira kenapa.. nanti saja bawanya. Atau kita bisa beli dijalan"


"Gak bisa! Aku harus bawa pouch make up itu, pokoknya harus yang itu"


"Sayang"


"Aku gak bisa pergi tanpa pouch itu, soalnya disana ada gantungan Kelvin pemberian kamu" Keira merengek pada suaminya


"Oke, pak berhenti dulu!" seru Kelvin pada sang supir.


Supir itu memberhentikan mobilnya di pinggir jalan. Keira dan Kelvin keluar dari mobil itu bersama, kemudian mereka berjalan kembali ke rumah.


"Sayang, biar aku yang masuk ke dalam rumah. Kamu tunggu disini aja.. aku gak akan lama" pesan Keira pada suaminya


"Ya, aku tunggu diluar. Kalau ada apa-apa teriak aja ya"


"Memangnya mau terjadi apa di dalam rumah? Aku masuk dulu ya sayang"


Keira buru-buru masuk ke dalam rumah setelah memencet password rumah itu. Dia berjalan menuju ke arah kamarnya, bermaksud untuk mengambil pouch make up nya. Disana ada gantungan kelinci yang diberikan Kelvin untuk pertama kalinya.


Ketika dia sudah mengambil pouch itu dan memasukkan nya ke dalam tas yang ia bawa. Keira mendengar ada suara gaduh dari kamar mandinya.


BRAK


BRUK


Prak


"Suara apa itu? Siapa disana?" tanya Keira setengah berteriak. Keira mulai deg degan dengan suara misterius itu.


Keira berjalan mendekat menuju ke kamar mandinya, dia membuka pintu kamar mandi itu dan...


Dia melihat seorang pria baru saja keluar dari jendela kamar mandi nya. "Kamu!! Hey! Siapa kamu?!!" teriak Keira sambil berlari mengejar pria itu.


Keira berhasil meraih baju pria itu, kemudian si pria itu mendorong Keira dengan keras. Beruntung nya Keira yang hampir jatuh, dia memegang wastafel untuk menahan tubuhnya. Keira menghela napas, dia memegang perutnya.


"Sayang.. maafin mama, kamu gak apa-apa kan?" tanya Keira pada janin kecil yang ada di perutnya.


Pria itu berhasil kabur. Keira berteriak memanggil Kelvin, kaki nya lemas dan kesulitan berdiri. "Kelvin!! Kelvin!!"


Kelvin dengan cepat berlari masuk ke dalam rumah dan menghampiri Keira di kamar mandi.


"Sayang! Orang-orang om Ken sedang mengejar pria itu. Kamu gak apa-apa?" tanya Kelvin sambil membantu Keira berdiri tegap.


Mereka melihat kamar mandi itu acak acakan, dan di cermin itu ada tulisan yang ditulis oleh darah.


Kamu dan bayimu akan mati!


Keira dan Kelvin melihat tulisan menyeramkan itu. Keira memeluk suaminya dengan cemas. Dan semenjak saat itu, mereka selalu diteror.


...---***---...