Stuck In Love CEO

Stuck In Love CEO
Bab 137. Meminta maaf



...🍀🍀🍀...


Ketiga teman Darren terkejut melihat Naina di dalam ruangan itu. Dia tak percaya bahwa gadis yang mereka hina dan ejek, adalah Ninaina Alisya Aditama yang berasal dari keluarga konglomerat kaya di Indonesia.


"Bro, bukan nya dia si nenek?" Bisik Agam pada Adrian.


"Dia itu dari keluarga Aditama? Adiknya si genius tersohor alumni di sekolah ini?" tanya Wisnu tak percaya.


"Kabar burung bilang kalau adiknya lagi sakit parah bahkan sempat koma. Tapi dia sakit apa ya?" Adrian menatap ke arah Naina yang sedang berdiri bersama Keira dan Bu Febby di depan ruangan itu.


"Dia emang keliatan sakit sih" Agam setuju dengan kata-kata Adrian.


"Itu gak penting sekarang! Yang penting gimana nasib perusahaan orang tua kita, kita sudah menyinggung anggota keluarga Aditama" bisik Wisnu cemas, karena perusahaan ayahnya berada di bawah naungan perusahaan Aditama.


"Kita harus minta maaf sama si nenek itu, maksudnya si kakak itu" kata Agam dengan penuh keyakinan.


"Iya, kita harus minta maaf" kata Adrian setuju.


Naina tersenyum sinis melihat ke arah tiga pria yang pernah menghina nya itu. Ketiga remaja itu langsung terkejut melihat senyuman Naina.


"Dia akan menjadi guru penilai untuk ujian praktek seni kali ini, sekalian memberi kalian pengetahuan tentang seni. Kepala sekolah sengaja mengundang Bu Ninaina menjadi mentor kalian khusus untuk hari ini" kata Bu Febby sambil memperkenalkan Naina pada anak muridnya.


CEKLET


Seorang siswa bertubuh tinggi dan berwajah tampan membuka pintu ruangan itu. Dengan cueknya dia berjalan tanpa menyapa gurunya atau bahkan menoleh pada orang-orang yang ada di depan ruang seni dan langsung duduk bersama teman-teman nya.


"Eh.. Darren.. kamu!" Bu Febby melotot melihat ke arah Darren, dia tampak kesal. Bu Febby menggeleng-gelengkan kepalanya.


Loh? Dia kan satu geng sama anak-anak itu. Naina mengenali Darren.


Ketika Darren duduk dan bergabung bersama teman-teman nya, dia langsung menunduk di meja seolah ingin tidur.


"Darren! Kamu gak sopan ya, tidur terus di dalam kelas!" Bu Febby menghampiri Darren dan langsung menjewer telinganya.


"Adududuh Bu.. sakit Bu" rintih Darren kesakitan.


Keira dan Naina tersenyum melihat pemandangan itu. Mereka teringat seseorang di masa lalu yang selalu tidur di dalam kelas.


"Nai, kayanya aku gak asing sama pemandangan ini" bisik Keira pada Naina.


"Iya, orang yang selalu tidur di kelas dia adalah.."Naina tersenyum sambil berfikir.


"Juna!" jawab Keira dan Naina bersamaan, lalu tertawa kecil.


Benar, jawabannya adalah Juna. Darren mengingatkan Juna disaat dia muda, Juna selalu tidur di dalam kelas di saat ada kesempatan dan cuek pada guru. Dalam keadaan seperti itu, Naina lah yang selalu mengingatkan Juna dan memarahinya untuk mendengarkan guru.


"Sakit Bu! Aduh si ibu jahat banget sama saya" keluh Darren yang baru habis di jewer oleh Bu Febby.


"Aduh, maaf ya Naina. Murid ibu yang satu ini memang ekstra" Bu Febby merasa tidak nyaman pada Naina karena Darren yang bersikap tidak sopan saat dia ada dikelas.


Darren tercengang dengan mulut menganga, begitu dia melihat Naina ada di depannya. Gadis yang sudah ditemuinya dua kali.


Loh? Kenapa dia ada disini?


"Santai aja Bu, bukankah dulu ibu juga spesialis murid-murid seperti ini?" Naina tertawa kecil.


"Iya kamu benar haha.. Juna dan geng nya, mereka bahkan lebih ekstra" Bu Febby teringat Juna and the geng dulu ketika mereka masih SMA, ingat kejadian dulu membuat Bu Febby tertawa. Menertawakan masa lalu, kenakalan Juna dan gengnya.


Bu Febby pun meninggalkan Naina dan Keira bersama anak muridnya yang akan melakukan ujian praktek.


"Guys, kenapa dia ada disini?" tanya Darren pada teman-teman nya, dia tidak tahu apa-apa tentang Naina.


"Dia guru penilai ujian praktek seni budaya" jawab Adrian


"Buat hari ini doang" timpal Agam


"Memangnya dia siapa sampai jadi guru penilai?"tanya Darren keheranan


"Ninaina Alisya Aditama" jawab Wisnu memberitahu pada Darren.


"Oh .. Ninaina.. ah? Apa?! Aditama?!" Teriak Darren terkejut mendengar nama Aditama disebut oleh temannya.


Aditama? Bukannya itu nama sahabat papa? Om Bryan?


"Ada apa? Apa kamu kesulitan melukis?" tanya Naina pada Darren.


"Enggak kok, Bu, eh kakak" jawab Darren gelagapan.


"Kalau begitu lanjutkan. Jika ada pertanyaan kamu bisa tanyakan pada saya" kata Naina sambil tersenyum ramah.


Ketiga teman Darren ketakutan dan berkeringat saat melihat Naina. Seolah Naina adalah hantu yang menyeramkan.


Dengan sengaja Naina mendekati ketiga orang yang gugup itu. "Ada apa? Apa kalian ada yang mau ditanyakan?" tanya Naina pada ketiga pria itu.


Sontak ketiga pria itu berlutut di depan Naina dengan kompak. Mereka meminta maaf pada Naina karena sudah menghina Naina tempo hari di restoran Damar dan di supermarket.


"Sudah, tidak apa-apa. Saya memaafkan kalian kali ini ,tapi tidak ada lain kali ya. Kalian harus sopan pada siapapun itu, tidak boleh body shaming lagi" Naina menasehati ketiga orang yang pernah mengejeknya itu.


"Makasih nenek, eh makasih kakak sudah memaafkan kami" kata Adrian sangat berterimakasih.


"Kakak baik sekali" kata Agam merasa lega.


"Kakak Ninaina baik sekali benar-benar seperti peri" kata Wisnu memuji.


"Sudah lah tidak apa-apa, lanjutkan saja melukisnya" Naina tidak mempermasalahkan pria pria yang sebelumnya mengejeknya itu.


"Sekali lagi terimakasih kakak Ninaina" kata Wisnu sambil tersenyum.


"Naina saja cukup" jawab Naina sambil tersenyum.


Senyuman Naina membuat ketiga pria itu langsung nge-fans padanya. Mereka sadar dibalik kepala botak itu, Naina memiliki wajah yang cantik. Mereka menyesali perbuatan mereka pada Naina dan berjanji untuk jangan melihat orang dari luar. Namun, tetap saja mereka penasaran dengan apa yang membuat Naina mencukur rambutnya.


Darren juga kagum pada Naina yang memaafkan teman-teman nya. Dia teringat kata-kata papanya, bahwa anak-anak dari keluarga Aditama adalah anak-anak yang luar biasa. Seperti nya Naina adalah salah satunya.


Ujian melukis pun selesai, Keira dan Naina hendak pulang siang itu. Mereka sudah dijemput oleh Kelvin yang mengajak makan siang bersama.


"Kakak, tunggu dulu! Kotak pensilku ketinggalan di dalam!" Naina baru ingat kalau ada satu tempat pensilnya tertinggal di dalam salah satu ruangan kelas.


"Bisa beli lagi kan?" tanya Kelvin pada adiknya.


"Gak bisa, disana ada obatku sama gantungan dari Juna!" kata Naina tegas


"Ya sudah, kita tunggu disini ya" kata Kelvin sambil tersenyum.


"Oke, bentar kok gak lama" Naina berlari terburu-buru masuk kembali ke area sekolah. Dia masuk ke dalam salah satu kelas, dia heran karena disana tidak ada kotak pensilnya.


"Aku sangat ceroboh, seharusnya aku tidak meninggalkannya dimana saja. Obatku juga ada disana" kata Naina bingung mencari-cari kotak pensilnya. Kepalanya sudah mulai berputar-putar dan pusing, hidungnya mimisan, napasnya sesak.


"Kamu cari ini?" suara seorang wanita tepat berada di belakang Naina. Wanita itu memegang kotak pensil Naina.


"Haahh...haahh.. "Napas Naina terengah-engah, dia melihat ke arah wanita yang mengambil kotak pensil miliknya itu. "Kamu? Kenapa kamu ada disini?" tanya Naina terkejut melihat Claysia ada disana.


"Kenapa ya? Menurutmu kenapa?" tanya Clay dengan tatapan nya yang menyeramkan.


"Kamu menguntit kak Keira kan?!" tanya Naina sambil berjalan mendekati Clay dengan suara napas terengah-engah.


"Ya tadinya aku memang menguntit dia, aku ingin mencelakai nya. Tapi dia terus diawasi oleh orang-orang menyeramkan itu, jadi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Gimana kalau mainnya sama kamu aja? Kamu kan bukan prioritas mereka" tanya Clay sambil tersenyum sinis.


"Kamu udah gila! Balikin kotak pensil ku!" teriak Naina sambil berjalan menghampiri Clay. Naina sudah lemah, dia jalan tertatih-tatih.


"Disini ada apa? Obat ya? Oh ya, katanya kamu sakit kanker ya? Kasihan.." Clay membuka kotak pensil milik Naina, dia melihat botol obat disana. "Kayanya bener deh kamu sakit"


"Balikin.. uhuk..uhuk.." Naina jatuh terduduk, mulutnya mengeluarkan darah.


Aku gak kuat lagi.. Naina meringkuk di dalam hatinya, tak kuasa menahan sakit ditubuhnya.


"Kamu mau obatnya dibalikin? Tapi kamu harus buat Kelvin sama istrinya pisah, gimana?"


"Kamu gila!! Clay, kamu benar-benar.."


"Pasti kamu gak mau ya? Ya udah deh.." Clay tersenyum licik, dia melempar obat itu keluar jendela ruang kelas yang kosong itu.


"Claysia!!"


...---***---...