
Ian mengetuk pintu dengan sopan meskipun itu ruang rawat rumah sakit, demi menghormati dua orang yang sedang bermesraan di dalam sana.
Tok, tok, tok
" Siapa itu?" tanya Bryan yang masih dalam posisi berpelukan dengan istrinya
" Wah wah, aku seperti orang yang sedang bertamu ke rumah kalian saja. Padahal ini ruangan umum loh. Siapa saja bisa masuk ke dalam sini " Ian tersenyum menggoda pasangan suami istri itu.
" Kamu menganggu saja deh " gerutu Bryan
" Ini bukan kamar pribadi mu!" ucap Ian sebal
" Aku bisa membelinya sekarang, berapa harganya?" Bryan tersenyum
" Ma-maaf ya dokter Ian " ucap Alma tak enak, sambil melepaskan pelukannya dari Bryan
" Eh, ngomong ngomong kenapa kamu bawa bunga?" tanya Bryan mengarah pada buket bunga matahari yang ada ditangan Ian.
" Oh ini bunga untuk Bu Alma " jawab Ian sambil menyerahkan nya pada Alma, namun Bryan langsung merebutnya dari tangan Ian.
GREP
" Wah beraninya kamu memberikan bunga pada istriku? ada maksud apa ini?" tanya Bryan sambil memegang bunga itu dan menatap bunga yang tidak bersalah itu.
" Tenang dulu bro! kamu terlalu curiga! ini bukan dariku, tapi dari Mike " jawab Ian sambil ketakutan melihat Bryan yang menatapnya tajam.
Lihatlah pria yang cemburu ini!
" Pak Mike? dia kemari?" tanya Alma
Pak Mike sudah banyak membantuku. Aku juga harus berterimakasih padanya.
" Iya barusan dia ada di depan, dan meminta ku menyerahkan bunga nya. Dia hanya bilang semoga Bu Alma cepat sembuh " jelas Ian
" Apa dia masih.." kata Bryan sedih
Apa Mike masih menyukai Alma? aku dengar dari Ken, selama aku di sekap dia lah yang selalu membantu Alma. Apa jangan-jangan Alma dan Mike sudah menjadi dekat?. Bryan merasakan ketidak nyamanan di dalam hatinya
" Tenanglah, dia bilang dia sudah menyerah. Dia hanya memberikan bunga sebagai tanda pertemanan yang murni. Jangan khawatir, " bisik Ian pada Bryan.
Bryan hentikanlah pikiran negatif mu. Bukankah sudah jelas wanita ini milik siapa? dia bahkan sudah melahirkan 3 anak milikmu.
" Bry, pak Mike sudah banyak membantuku selama kamu tidak ada. Aku rasa kita harus berterimakasih padanya " ucap Alma sambil memegang buket bunga matahari itu.
" Iya kita harus berterimakasih padanya. Tapi sekarang kamu harus memulihkan kondisi mu dulu " ucap Bryan sambil membelai lembut pipi Alma.
" Ehem ehem, bolehkah aku memeriksa Bu Alma sekarang?" tanya Ian sambil bersiap dengan stetoskop nya.
" Oh silahkan Ian " jawab Bryan sambil tersenyum
Ian memeriksa kondisi tubuh Alma dengan sangat hati-hati. Ian pun mendapatkan diagnosis laporan kesehatan Alma dari salah satu susternya, yang berkaitan dengan organ dalam.
" Maaf aku harus menyampaikan berita kurang menyenangkan untuk kalian berdua " ucap Ian sambil melihat kertas yang ada di depannya
" Ada apa Mike?" tanya Bryan
" Apa kalian ada rencana untuk memiliki anak lagi?" tanya Ian serius
Bryan dan Alma saling melirik kebingungan dengan jawaban apa yang akan mereka berikan pada Ian. Karena mereka belum kepikiran sampai kesana.
" Tidak! aku tidak berencana untuk memiliki anak lagi " ucap Bryan tegas
Cukup 3 anak saja, aku tidak mau melihat Alma kesakitan dan meregang nyawa lagi dalam proses persalinan nya. Itu sangat menyakitkan hatiku.
" Bryan? kamu serius?" tanya Alma yang terpana dengan jawaban Bryan
Kenapa ya Bryan bilang tidak mau punya anak lagi? padahal sebelumnya dia bilang ingin punya 4 anak?
" Kalau begitu tidak masalah aku menyampaikan berita ini. Jika kalian memang tidak berencana punya anak lagi, karena berita ini berkaitan dengan operasi " jelas Ian
" Operasi?" Bryan dan Alma kaget bersamaan
" Operasi apa Ian? Alma baik-baik saja kan?" tanya Bryan cemas
Ian tersenyum menenangkan sahabatnya itu, ia menjelaskan kondisi Alma yang mengharuskan nya melakukan operasi pengangkatan rahim. Akibat terjatuh dari tangga itu, dan saat mengalami pendarahan, dinding rahim Alma mengalami kerusakan parah dan jika dibiarkan dinding rahim yang rusak itu akan menimbulkan rasa sakit di tubuhnya. Setelah ia menjelaskan panjang lebar kondisi istrinya, Ian langsung memberikan surat persetujuan operasi.
Tanpa banyak bicara lagi, Bryan langsung setuju dan menandatangani surat operasi istrinya. Sementara Alma terlihat bingung, jika ia mengangkat rahimnya maka ia tidak akan bisa punya anak lagi.
Siang itu Bryan tetap stay di rumah sakit, ia menyuapi Alma dan meninggalkan semua pekerjaan nya pada Andre dan Ken. Ia sempat memarahi Ken karena Ken sudah mengacaukan perusahaan, maka dari itu Bryan memberikan titah pada Ken untuk menjadi Presdir sementara di kantor Aditama grup.
...***...
Tangan Bryan sibuk menyuapi istrinya dengan buah-buahan segar yang ada disana. Berharap agar istrinya cepat sembuh, apalagi hanya tinggal sebentar lagi Alma akan masuk ke dalam ruang operasi.
" Bryan kenapa kamu melakukan ini?" tanya Alma sambil mengunyah apel di mulutnya
" Melakukan apa?" tanya Bryan sambil memotong apel dengan pisau
" Kenapa kamu menandatangani persetujuan itu? " tanya Alma
" Pertanyaan kamu aneh Al, apa ada alasan aku tidak setuju? ini kan demi keselamatan mu juga " ucap Bryan sambil menyuapi istrinya " buka mulutmu "
Dengan patuh Alma membuka mulutnya dan mengunyah potongan apel itu.
" bukankah kamu ingin punya empat orang anak? jika aku melalukan operasi itu, tandanya aku tidak akan bisa punya anak lagi. Apa kamu tidak sedih?" tanya Alma bingung
" Hem, jadi ini yang membuatmu melamun sejak pagi. Al, dengarkan aku ya, aku tidak masalah kita tidak bisa memiliki anak lagi. Kita sudah punya tiga punya anak itu sudah cukup, ya meski aku sebelum nya bilang mau empat anak. Tapi aku tidak mau membahayakan nyawamu lagi, tidak untuk kesekian kalinya. Aku tidak mau melihatmu kesakitan dan tersiksa seperti kemarin. Cukup satu kali saja aku melihat mu seperti itu, aku tidak mau itu terjadi lagi sayang " ucap pria itu sambil membelai rambut Alma yang terurai panjang
Melihatmu seperti kemarin, adalah neraka bagiku. Aku tidak mau melihat neraka itu, jika kamu benar-benar pergi meninggalkan ku dan anak-anak. Aku benar-benar akan membunuh diriku sendiri karena pada saat itu aku mungkin sudah gila.
Bryan terlihat sangat sedih. Jadi karena itu dia langsung setuju untuk operasi ku. Dia khawatir dengan keselamatan ku.
Alma tersenyum lalu mencium pipi suaminya. Bryan kaget dengan tindakan istrinya itu.
" Aku baik-baik saja, aku tidak akan kemana-mana lagi " ucap Alma dengan senyuman cerah di wajahnya
" Al, ka-kamu.. ini di rumah sakit " Bryan memegang pipi nya yang baru saja di cium itu, wajahnya berubah merona
" Biasanya juga kamu tidak malu-malu, kenapa kamu malu-malu? harusnya aku yang malu "
" Iya yah? kenapa aku malu-malu? tidak peduli di manapun, bukankah aku selalu tidak tahu malu " Bryan duduk samping istrinya, ia tersenyum menggoda.
Lagi-lagi senyuman Cassanova. ucap Alma.di dalam hatinya
Bryan mendekatkan wajahnya pada wajah Alma, tangannya meraih bagian belakang leher istrinya.
" Al, bagaimana kalau kita sekalian saja lakukan disini?" tanya Bryan dengan senyuman Cassanova mautnya
" Ka-kamu! tidak tahu malu ya? ini di rumah sakit Bry!" ujar Alma yang refleks langsung mundur, sekarang giliran wajahnya yang memerah
" Aku tau ini di rumah sakit, dan aku memang orang yang tidak tahu malu " Bryan tersenyum tipis, menggoda istrinya. Pandangan Bryan mengarah pada bibir istrinya yang terlihat begitu menggoda seperti menunggu untuk disentuh.
Ketika jarak bibir itu hanya tinggal beberapa inci lagi untuk bertemu, seseorang membuka pintu secara tiba-tiba dan membuat pasutri itu terkejut.
" Papa! Mama!" kata Naina sambil membuka pintu, ia datang bersama Kelvin dan Andre.
BRUGH!!
Bryan terjatuh karena didorong oleh Alma. Si kembar kaget melihat Papa nya jatuh dengan bagian bokongnya yang terduduk.
" Aduh!" Bryan memegang bokongnya itu.
" Pak, anda baik-baik saja?" tanya Andre sambil membantu Bryan berdiri
" Papa gak apa-apa?" tanya Naina pada papanya itu, ia tampak cemas.
" Rasain, suruh siapa mesra-mesraan di rumah sakit " gumam Kelvin sebal
" PFut.. " Andre menahan tawanya, ia ingin menertawakan Bryan yang masih duduk di lantai.
Andre langsung menahan tawanya sekeras mungkin, ia memapah Bryan kembali berdiri.
Tidak heran, memang saudara kembar. Tempramen mereka kurang lebih sama. Ya walaupun sikap pak Ken lebih dingin dibandingkan pak Bryan. ucap Andre di dalam hatinya, ia membandingkan Ken dan Bryan.
" Sayang, maaf aku tidak sengaja " ucap Alma menyesal, lalu ia tersenyum pada suaminya.
Bryan tidak bisa marah setelah melihat wajah istri dan anak-anak nya, apalagi saat melihat sang istri tersenyum padanya. Hatinya terasa adem membuat kemarahannya mereda. Akhirnya Bryan bisa kembali melihat pemandangan indah dan hangat keluarga nya, Alma yang bersenda gurau dengan kedua anaknya itu.
Tidak ada yang lebih membahagiakan daripada melihat keluarga yang utuh dan saling menyayangi. Tidak ada yang bisa menggantikan semua itu.
1 jam kemudian, Alma melakukan operasi pengangkatan rahim nya di ruang operasi. Operasi yang dijalani nya berhasil. Dan setelah kondisi nya mulai membaik, ia bisa melihat dan menggendong anak bungsunya. Anggota keluarga baru di dalam keluarga kecil Bryan dan Alma.
...***...
.
.
Setelah beberapa hari di rumah sakit, akhirnya Alma dan bayinya bisa pulang ke rumah utama keluarga Aditama. Ia langsung disambut oleh Laura, Leon, Kayla dan Ken yang mengadakan pesta penyambutan untuk kehadiran anggota baru keluarga Aditama itu.
" Selamat ya Alma dan Bryan, atas kelahiran anak ketiga kalian " kata Laura senang
" Iya kakak, terimakasih penyambutan nya " Alma tersenyum cerah, begitu juga dengan Bryan dan si kembar.
Albry kecil masih berada di dalam gendongan Alma, bayi kecil itu kini sudah berada dalam keadaan stabil. Ya, meskipun tubuhnya kecil dan mungil. Semua orang berebutan ingin menggendong bayi kecil mungil itu.
Pesta penyambutan itu hanya diadakan oleh keluarga saja, namun berlangsung meriah. Ditengah kemeriahan itu, Mia datang membawa bayinya bersama suaminya Aldo.
" Assalamualaikum " ucap Mia sambil tersenyum cerah, ia berdiri di ambang pintu rumah keluarga Aditama
Leon dan Alma yang memiliki hubungan dekat dengan Mia merasa senang melihat Mia menemui mereka, apalagi kini wanita itu sudah menggendong bayi yang mungkin usianya lebih tua dari Albry kecil.
" Waalaikum salam, selamat datang Mi " Alma langsung menyambut sahabatnya dengan gembira, ia memeluk Mia.
Mia, suaminya dan bayi nya bergabung dalam pesta penyambutan Alma dan Albry kecil yang sudah pulang ke rumah. Ken yang baru kembali kesana juga ikut merasakan kehangatan keluarga yang sudah lama tidak pernah ia rasakan.
Ketika para pria sedang bermain dan membanggakan anak-anak mereka, para wanita sedang sibuk di dapur menyiapkan makanan. Mia, Laura, dan Alma mengobrol sedikit di dapur sambil melihat kebahagiaan para ayah yang sedang bercanda gurau dengan anak-anak mereka.
" Lihatlah, walaupun Albry ku sekarang tubuhnya kecil tapi nanti dia akan menjadi pria yang kuat dan tubuhnya juga akan besar dari putra mu pak Aldo " ucap Bryan sambil membanggakan anaknya yang baru berusia 7 hari itu.
" Hoho, tidak bisa pak Bryan seperti nya Alvin yang akan tumbuh lebih dulu. Alvin kan lahir lebih dulu " ucap Aldo sambil membanggakan anaknya yang sedang duduk bermain mainan bersama Kayla dan si kembar.
Para ayah sibuk membanggakan anak-anak mereka, dan berbicara tentang akan jadi apa anak-anak mereka ketika besar nanti.
" Pemandangan yang indah sekali " ucap Mia sambil melihat ke arah para Daddy tampan yang ada di ruang tamu, sedang bermain bersama anak-anak mereka.
" Benar, benar-benar indah " Laura tersenyum, lalu mengambil ponselnya. Mengabadikan momen para ayah tampan dengan ponselnya itu.
" Kakak nanti aku minta fotonya ya " kata Alma sambil menyajikan cemilan di nampan
" aku juga minta ya kak Laura " sahut Mia yang juga sedang sibuk menyajikan minuman berwarna oranye ke dalam gelas
" Oke siap! Oh ya Al, ada yang ingin aku katakan padamu. " ucap Laura dengan nada serius
" Ada apa kak?" tanya Alma, sambil meletakkan nampan di meja dapur.
" Aku minta maaf Al " Laura menunduk sedih
" Loh? kenapa kakak minta maaf? memangnya kakak salah apa?" tanya Alma tak mengerti
" Karena ku kamu harus melahirkan lebih awal dan kamu hampir kehilangan nyawa. Jika bukan karena menolongku, kamu tidak akan mengalami rasa sakit seperti itu " jelas Laura menyesal, merasa bersalah.
" Kakak, jangan minta maaf seperti itu. Ini bukan salah kakak, karena ini takdir nya bahwa aku memang harus melahirkan lebih awal. Kakak jangan merasa bersalah, lagian aku dan Albry juga baik-baik saja kan " Alma berusaha menenangkan kakak iparnya yang terlihat merasa bersalah itu.
Laura pun tersenyum dan memeluk Alma dengan penuh kasih sayang. " Terimakasih Al, kamu baik sekali "
" Tidak usah berterimakasih pada keluarga kak " ucap Alma tulus dari dalam lubuk hatinya
Mia tersenyum melihat pemandangan yang ada di depannya itu. Semua orang tampak bahagia, apakah ini akhir nya menuju ending?
Mia ingat sekali bagaimana sahabat nya itu menangis dan terluka seorang diri. Tapi sekarang, sahabatnya Alma menerima banyak cinta dari orang-orang yang ada di sekitar nya. Kebahagiaan besar menantinya setelah badai yang akhirnya usai itu. Melihat sahabatnya tersenyum bahagia, ia juga ikut bahagia.
Terkadang Alma sendiri juga merasa kalau hidupnya seperti dalam sinetron atau drama, berputar putar tapi tetap kembali ke arah yang sama. Salah paham, berpisah, terluka, pada akhirnya ia tetap kembali pada cintanya, pada jodohnya yaitu Bryan Alvaro Aditama sang cassanova yang telah bertaubat.
Syukurlah Al, kamu mendapatkan kebahagiaan mu. Sekarang aku tidak khawatir lagi, karena ada banyak orang yang mencintai mu. ucap Mia senang
***
" Ayo semuanya, cemilan sudah datang nih " ujar Alma pada semua orang yang ada di ruang tamu. Tangannya sibuk membawa cemilan di nampan.
Disisi lain ada Laura dan Mia yang juga membawakan beberapa gelas minuman dan cemilan lainnya. Mereka meletakkan nya di meja, cemilan itu segera diburu oleh Naina yang sangat menyukai makanan manis-manis.
" Nai, pelan-pelan dong makannya nanti tersedak loh. Kamu juga harus menyisakan nya untuk yang lain " kata Alma mengingatkan kepada anak bungsunya, ia tersenyum melihat anak-anak nya.
" Hehe iya Ma " jawab Naina sambil mengunyah kue coklat dengan lahap, hingga di sekitaran mulutnya belepotan oleh coklat.
Disisi lain Kayla juga asik memakan kue yang disajikan dengan lahap nya, sama seperti Naina.
" Tuh dengerin Mama, jangan banyak-banyak makan coklatnya. Nanti kamu gendut " kata Kelvin sambil tersenyum menyeringai
" gendut? aku tidak kepikiran sampai kesana tuh. Perasaan aku gak gendut deh " kata Naina santai
" Kamu gak nyadar ya? kamu gendut tau. Cewek gendut itu jelek " kata Kelvin dengan wajah datarnya
" APA?!" Naina kaget dan ia langsung memeriksa perut, tak lupa ia menyentuh pipi chubby nya.
Aku gendut? aku jelek?
Ken tersenyum melihat Naina, ia pun menggendong Naina dipangkuannya. Ken juga memberikan kue coklat yang banyak untuk Naina.
" Kamu tidak jelek sayang, tidak apa gendut. Gendut itu menggemaskan kok. Kakak Kelvin hanya iri padamu karena dia ingin makan coklatnya juga " bisik Ken pada Naina
" Yang benar om? aku gak jelek kan?" tanya Naina dengan wajah polosnya.
Kelvin melirik ke arah Ken dan Naina yang sedang berbisik bisik. Dengan tatapan nya yang mengatakan " apa yang mereka bicarakan? apa mereka ngomongin aku?"
Ken mencubit pipi chubby Naina dengan gemasnya. " Kamu cantik, pipi kamu yang chubby juga gemesin, kamu tidak jelek. Kamu boleh makan semua coklat dan manisan yang kamu inginkan. Om akan belikan semuanya "
Keponakan ku yang satu ini sangat gemoy!
" Kayla juga mau? om akan belikan juga buat kamu " tanya Ken pada keponakan nya yang satu lagi, yang sama imutnya dengan Naina.
" iya om! Kayla juga mau, cemilan Stoberi " jawab Kayla semangat
Kedua anak itu mendekati Ken dan duduk dipangkuan nya. Mereka berdua memeluk Ken dengan penuh kasih sayang.
" Wah! om Ken benar-benar baik, om Ken jadi Papa ku saja " Naina memeluk Ken dengan perasaan gembira, seolah sedang memeluk Papa nya sendiri.
Papa selalu melarangku makan manisan, tapi om Ken baik sekali dan tidak melarangku seperti kakak dan papa. ucap Naina dalam hatinya, baginya orang yang memberi makanan adalah orang baik. Begitu polosnya gadis kecil ini.
" Om Ken juga boleh jadi papaku " ucap Kayla mengikuti Naina.
Om Ken baik sekali, sedangkan Papa dan Mama selalu melarangku makan makanan yang manis di malam hari. Bertambah satu Papa juga kayanya bagus deh. ucap Kayla dalam hatinya
" Om Ken papa kita " kata Naina dan Kayla bersamaan
Disisi lain Bryan dan Leon menatap Ken dengan tatapan tajam, tatapannya mengatakan pada Ken " Lepaskan putriku! jangan rebut putriku! kau mati!
" PFut.. hahaha" Kelvin tertawa melihat semua pemandangan itu, ketika kedua Papa bucin menunjukkan wajah mereka yang kesal karena putri mereka sudah direbut oleh Ken.
Eh? apa salahku? kenapa mereka seperti mau membunuhku?. Ucap Ken merasakan tatapan tajam dari Bryan dan Leon, dan hawa panas dingin di sekitar nya membuat nya sedikit bergidik.
Para istri juga ikut tersenyum, tertawa melihat tingkah para papa yang bucin putrinya itu.
...---***---...