
...πππ...
Naina mendengar suara-suara yang memanggilnya. Suara yang terdengar familiar. Gadis itu bingung, dia terus berjalan namun dia tetap kembali ke tempat yang sama. Langkah Naina terhenti saat melihat tiga orang yang sudah tiada ada di depannya.
Seorang pria tua, wanita tua dan seorang anak kecil. Naina terkejut melihat sosok tiga orang itu.
"Naina, kenapa kamu ada disini nak?" tanya pak Farid pada Naina
Anehnya bibir Naina kaku saat akan menjawab pertanyaan pak Farid, sosok pria tua yang berpakaian putih itu. Dia adalah kakek Juna yang sudah lama tiada. Perlahan air mata Naina mulai mengalir melihat ketiga orang itu.
"Kakak, kenapa kakak ada disini?" tanya seorang anak kecil itu pada Naina dengan wajah polosnya.
Wajah yang selalu Naina rindukan, namun tidak pernah hadir lagi dalam mimpinya. "Albry..." lirih Naina memanggil adiknya
"Naina, kenapa kamu ada disini nak? disini bukan tempat kamu" tanya seorang wanita tua pada Naina. Wanita tua ini juga adalah sosok yang sangat Naina rindukan. Dia adalah Bu Delia, neneknya yang sudah tiada karena penyakit kanker yang merenggut nya.
Naina menangis lalu berlari memeluk ketiga orang itu dengan perasaan rindu bercampur sedih, "Kakek, nenek, Albry...aku rindu kalian..hiks"
"Kakak, kenapa kakak ada disini? kakak harusnya sama kak Kelvin, mama dan papa" kata Albry pada kakaknya itu
"Seperti nya kakak sudah tidak bisa bertemu lagi dengan mereka, makanya kakak kemari dan bertemu dengan kamu dek" Naina masih menangis melihat Albry, Bu Delia dan pak Farid.
"Tidak Nai, kamu masih bisa bertemu dengan mereka" kata Bu Delia pada cucunya sambil tersenyum
"Maksud nenek bagaimana? aku bisa bertemu lagi dengan papa, mama dan yang lainnya? tapi, aku kan sudah disini" Naina yakin bahwa dirinya tidak bisa bertemu lagi dengan papa, mama dan semua orang yang menyayanginya.
"Naina sayang, apa kamu gak dengar suara suara diatas sana?" tanya Bu Delia dengan suara lembutnya, sambil memegang tangan Naina.
"Aku dengar nek" jawab Naina dengan suara yang lemas
Bahkan suara suara itu masih memangil namanya, menyuarakan agar dia kembali dan bangun dari tidurnya.
"Kamu masih bisa kembali, berjuanglah melawan penyakit kamu Nai. Kamu tidak akan berakhir seperti nenek, kamu masih bisa selamat. Kembalilah sayang, kembalilah pada mereka yang mencintai kamu" ucap Bu Delia sambil tersenyum di wajah keriput nya itu. Senyuman cerah seolah memberikan semangat pada Naina.
"Tapi.. apakah aku bisa kembali? bagaimana caranya? jika aku kembali aku tidak akan bertemu lagi dengan kalian lagi"
"Kita akan bertemu lagi kak, tapi nanti dan tidak sekarang" Albry tersenyum pada kakak nya, dia meminta kakak perempuan nya pergi.
"Masih banyak orang yang menyayangi mu, nak. Kembalilah pada mereka, temui mereka" kata Pak Farid sambil tersenyum lembut
"Bagaimana bisa aku kembali kek? aku sudah disini dan aku tidak tahu jalan kembali" Naina bingung dengan apa yang terjadi pada dirinya sekarang lalu dimana dia berada saat ini. Dia hanya ingat bahwa dia sakit dan dia muntah darah lalu tidak sadarkan diri.
"Kamu akan kembali sayang, kamu akan kembali" Bu Delia membelai rambut Naina dengan lembut penuh kasih sayang, dia tersenyum melihat cucu perempuan nya sudah dewasa.
"Iya kakak, kakak harus kembali pada kak Kelvin , mama dan juga papa. Kehadiran kakak akan membuat mereka bahagia kak, kakak jangan menyerah!" Albry menyemangati kakak nya itu dengan senyuman cerah dibibir nya.
Naina menepuk kepala Albry, adik yang sangat dia rindukan. Air mata nya lagi-lagi mengalir, Naina berusaha menyekanya. Rindu nya sudah tidak bisa ditahan lagi. Jika memang dia harus kembali, maka dia ingin mengingat mimpi ini.
"Naina! bangun nak, kembalilah sayang..hikss.."
"Nai! kamu harus sadar! kalau tidak, aku akan mati sekarang juga! aku akan ikut denganmu!! aku tidak mau hidup lagi, aku tidak mau hidup dimana tidak ada kamu di dalamnya.."
Suara Alma dan Juna terdengar menggema di tempat Naina berada, Naina menoleh ke arah langit cerah itu. Tempat berwarna putih dan bercahaya, taman indah dengan banyak bunga.
"Kamu dengar kan? mereka memanggil kamu" Bu Delia meminta agar Naina segera pergi dari sana dan kembali pada orang-orang yang menyayangi nya.
"Nenek, kakek, Albry..." Naina menatap ketiga orang itu dengan bingung.
Ketiga orang itu juga menatap Naina, dengan diiringi senyuman lembut di bibir mereka.
"Pergilah nak, hidupmu tidak berhenti sampai disini. Kamu masih punya jalan yang panjang" kata pak Farid
Naina memeluk pak Farid, Albry dan neneknya seraya berpamitan pada ketiga orang tersayang nya itu. Naina menangis karena harus berpisah dengan Pak Farid, Bu Delia dan Albry.
"Kakak masih saja cengeng ya hehe" celetuk Albry pada kakak nya sambil nyengir
"Albry.. " lirih Naina
"Naina, kakek titip Juna ya.. tolong bahagia kan Juna, dia tidak punya siapa-siapa lagi selain kamu" pesan pak Farid pada Naina.
"Kamu pasti akan sehat sayang, nenek selalu mendoakan mu dari sini"
"Aku juga! Kakak pasti sembuh!" kata Albry ikut mendoakan kesembuhan kakaknya.
Naina hanya mengangguk dengan air mata yang membasahi pipinya.
Setelah itu Pak Farid, Albry dan Bu Delia melambaikan tangannya pada Naina lalu menghilang begitu saja dari pandangan Naina.
****-----------
Ruangan Naina..
Semua orang masih tampak histeris dengan kematian Naina. Sudah 30 menit berlalu, Naina masih terbujur kaku dan tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Dokter pun meminta agar para suster mencabut alat bantu yang ada di tubuh Naina.
Namun, Juna bersikeras menahan dokter dan suster suster yang berani menyentuh Naina. Dia bahkan sampai mengancam akan bunuh diri saat itu juga, jika suster berani mencabut alat bantu Naina. Di ruangan itu ada Alma, Bryan, Damar, Juna, Kelvin dan Keira.
Semua orang di luar sana juga masih berdoa untuk Naina. Berharap keajaiban akan datang kepada Naina, namun harapan mereka mulai berakhir di menit-menit terakhir.
"Gak mungkin, Naina pasti selamat!! Naina pasti selamat" kata Nisha sambil menangisi sahabat nya
GREP
Theo memeluk Nisha, mereka saling memberi kekuatan satu sama lain untuk menerima fakta kalau Naina sahabat mereka sudah meninggal dunia.
Juna memegang tangan Naina dengan erat, dia meminta agar Naina kembali. "Nai... please.. please.. akan ku lakukan apapun, aku janji aku akan menuruti semua permintaan kamu. Asalkan kamu kembali, please Nai.. please.. please...jangan kaya gini. Aku sayang kamu, aku cinta kamu"
Ya Allah aku mohon jangan ambil Naina dariku, dia adalah hidupku. Berikan Naina keajaiban, tolong ya Allah.. aku mohon pada Mu dengan sangat.. aku tidak mau satu satunya alasanku untuk hidup pergi dengan cepat. Aku janji kalau Naina siuman, aku akan menjadi pribadi yang lebih baik, aku akan membahagiakan Naina, jadi tolong jangan ambil dia.. Doa Juna pada yang kuasa agar keajaiban datang para Naina.
Juna menunduk, dia menangis sampai sesegukan. Tubuhnya sudah lemas bahkan hampir mati rasa karena gadis yang dia cintai dinyatakan tiada.
"HAH??!" Kepala Juna menengadah ke arah Naina.
Suara berat Naina mengagetkan semua orang yang berada di ruangan itu. Alangkah terkejut dan bahagia nya mereka mendengar suara Naina.
"Naina??Vin, Naina kembali!" seru Keira pada suaminya
"Naina??" Alma, Bryan, Kelvin menghentikan tangis mereka dan menghampiri Naina yang masih berbaring di ranjang.
"Naina!!" seru Juna menatap Naina dengan tatapan terpana. Juna memeluk Naina dengan penuh rasa syukur. "Alhamdulillah.. terimakasih ya Allah... terimakasih!! terimakasih kamu sudah kembali Nai"
Kedua mata Naina kembali terbuka, dia tersenyum pada semua orang disana. Semua terlihat sedih dimatanya, Naina bingung dengan apa yang terjadi.
"Ya Allah.. Alhamdulillah.. Alhamdulillah... putriku selamat" Alma memeluk anaknya dengan penuh rasa syukur.
Semua orang kenapa ya?. Naina bingung seperti tidak tau apa-apa yang terjadi pada dirinya. Juna langsung sujud syukur saat itu juga melihat tunangan nya kembali hidup.
Dokter Firlan yang terkejut karena Naina tiba-tiba bangun, dia langsung memeriksa kondisi Naina. Dokter Firlan meminta semua orang keluar dulu dari ruangan itu.
Semua orang menurut pada dokter Firlan, kemudian mereka pergi keluar dari ruangan itu dengan hati bahagia.
"Naina masih hidup Bro! Naina hidup lagi!!" Bagas yang bahagia memeluk temannya si Reza.
"Gue udah tau kalau Naina pasti akan bertahan!" kata Reza yakin, dia tersenyum lebar karena Naina hidup kembali.
"Jun, Lo udah tenang kan?" tanya Damar sambil menepuk bahu sahabatnya
"Iya, gue udah tenang.. padahal tadinya gue udah siap mau mati" Juna memegang kepalanya, dia bahagia karena Naina telah kembali hidup dan sadar dari komanya.
"Udah ah, jangan bilang mati-mati terus. Naina pasti bakalan baik-baik aja, dia kan kuat" kata Nando sambil tersenyum dan menyemangati sahabat nya itu.
Setelah itu teman-teman Juna pamit pulang lebih dulu untuk mengerjakan semua urusan mereka yang tertunda. Sementara dokter Firlan masih memeriksa kondisi Naina.
"Dokter.."
"Ada apa Bu Ninaina?" tanya Dokter Firlan sambil memasangkan infusan, lalu memasangkan alat bantu pernafasan di hidung Naina.
Keadaan nya masih sama, sel kanker dalam tubuhnya tidak berkurang. Seperti nya operasi tetap harus dilakukan. batin Dokter Firlan
"Dokter, kenapa semua orang menangis dan terlihat sedih? apa yang terjadi padaku?" tanya Naina dengan suara pelan, karena kondisi nya masih lemah
"Bu Naina jangan banyak bicara dulu ya dan pertanyaan mu ini biarkan keluarga mu nanti yang akan menjawab nya. Kamu tau Bu Naina, aku hampir menyuruh orang untuk memasukkan tunangan mu ke dalam rumah sakit jiwa, seperti nya dia sudah gila" Dokter Firlan tersenyum dan menceritakan cerita yang menghibur untuk menenangkan kondisi Naina. Bagi Naina yang penting adalah ketenangan dan semangat agar Naina cepat pulih lalu bisa dilakukan operasi.
"Juna? sudah gila? apa yang dia lakukan?" tanya Naina polos, dia ingin tau apa yang dilakukan Juna sehingga pria itu dipanggil gila.
Pelan-pelan Dokter Firlan menyuntikkan sesuatu ke tangan Naina, "Dia seperti nya menjadi gila karena dia sangat mencintai kamu, bagaimana bisa kamu mencintai orang seperti dia?"
Dokter Firlan tersenyum mengingat Juna yang mengancam bunuh diri karena Naina. Namun dari sikap Juna itu dokter Firlan menjadi sangat menghargai kegilaan Juna, keyakinan Juna terhadap Naina membuat dokter Firlan iri. Cinta Juna kepada Naina begitu kuat dan cinta itu bukanlah cinta yang sederhana.
"Dia memang mencintaiku, dok. Tapi dia tidak gila kok, dia waras.. ya walaupun kadang dia sedikit menyebalkan" Naina tersenyum ceria seperti biasanya, walau bibirnya masih terlihat pucat.
"Iya itu benar. Bu Naina, saya senang kamu kembali.. terimakasih" Dokter Firlan bersyukur karena Naina baik-baik saja.
"Kembali?" tanya Naina bingung
Kembali dari mana? memangnya aku habis darimana?
Setelah selesai memeriksa Naina, dokter Firlan keluar dari ruangan Naina. Semua orang menyambut dokter Firlan dan sangat menunggu apa yang akan dikatakan olehnya. Dokter muda itu menjelaskan kalau keadaan Naina masih belum stabil, sel kanker di dalam tubuhnya juga masih tetap sama, namun tidak kritis seperti sebelumnya.
"Kalau keadaan Naina sudah melewati masa kritis, kapan bisa di lakukan operasi nya dok?" tanya Kelvin pada dokter itu
"Kita tunggu sampai keadaan tubuh dan psikologis nya sudah mendukung untuk melakukan operasi pencangkokan sumsum tulang belakang itu. Untuk itu saya minta pada kalian semua, agar menyemangati Bu Naina. Jangan menceritakan hal yang akan membuatnya sedih, semangat sangat dibutuhkan untuk Bu Naina saat ini untuk kesehatan psikologis nya..dia juga harus berada dalam suasana tenang, tidak boleh syok dan tidak boleh stress" jelas dokter pada semua keluarga Naina yang ada disana.
"Baik dok" jawab Alma pada dokter itu, dia tersenyum lega karena anaknya sudah kembali hidup.
"Saya permisi dulu"
"Dok, apa kami bisa menemui Naina?" tanya Juna pada dokter Firlan sebelum dokter itu melangkah pergi
"Silahkan, tapi satu orang satu orang saja dulu ya. Seperti yang sebelum saya katakan, Bu Naina butuh ketenangan. Saya harap kamu tidak menggila lagi di dalam sana, karena kegilaan kamu bisa membuat Bu Naina kena serangan jantung" pesan dokter Firlan pada Juna, sambil tersenyum tipis.
"Pfutt.." Bryan dan Kelvin yang ada disana menahan tawa mendengar kata-kata dokter Firlan. Mereka menertawakan Juna yang sebelumnya mengancam bunuh diri dan mengancam dokter, juga suster yang akan membawa Naina ke ruang jenazah dengan histeris.
"A-Apa? dokter bilang saya apa? saya gila??" tanya Juna dengan bibir yang mengerucut, kening berkerut, dia kesal dengan kata-kata dokter.
Dokter Firlan melangkah pergi sambil tersenyum, tidak menggubris perkataan Juna apalagi menjawab pertanyaan nya.
"Setelah dipikir-pikir, seperti nya calon adik ipar ku memang gila" kata Kelvin setuju.
"Masih sempat-sempatnya di saat seperti ini, Lo ngejekin gue" gerutu Juna sebal
"Emang faktanya gitu kok" jawab Kelvin dengan gaya cueknya
"Jun, kamu masuk ke dalam lebih dulu dan temuin Naina. Kami mau pergi dulu ke mushala" ucap Alma pada calon menantunya itu. Alma beranggapan kalau Juna harus menemui Naina duluan karena kepercayaan Juna dan suara Juna lah, Naina bisa kembali dengan selamat.
"Saya boleh masuk duluan, ma?" tanya Juna tak percaya diperbolehkan masuk menjenguk Naina lebih dulu.
"Iyah. Kelvin, Keira kita pergi ke mushala dulu yuk" ajak Alma pada putra sulung dan menantunya.
"Makasih mama mertua, makasih papa mertua" kata Juna sambil tersenyum bahagia.
"Jun, titip Naina ya" pesan Bryan pada menantu laki-laki nya
Bryan, Kelvin, Keira dan Alma berjalan meninggalkan ruangan Naina untuk pergi ke mushala. Tinggal Juna saja yang berdiri di depan ruangan itu, Juna membuka pintu kamar Naina perlahan-lahan.
...---****---...
Mohon maaf readers! kemarin harusnya chapter ini di up, tapi author ketiduran dan lupa up nya karena lelah ππ kalau mau up lagi, boleh komen ya. Author udah siapkan tabungan chapterπ€