Stuck In Love CEO

Stuck In Love CEO
Bab 152. Sensitif!



🍂🍂🍂


Pertanyaan Nisha mengundang perasaan sangat tidak nyaman di hati Naina sahabatnya. Meski Nisha bertanya sambil tertawa, tapi tetap saja hati Naina sakit dengan pertanyaan Nisha yang terdengar sederhana itu. Juna melihat raut wajah pucat istrinya, sudah jelas Naina tidak bisa menjawab pertanyaan Nisha.


"Lo bilang apa barusan Nis?" tanya Juna dengan tatapan tajamnya pada Nisa.


"Ah..." Nisha sadar bahwa dia telah salah bicara, "Ma-maaf Jun,"


Ya Allah, tanpa sadar pertanyaan ku sudah menyentuh hal sensitif Juna dan Naina.


"Juna, apa-apaan Lo liatin istri gue sampai kata gitu? Cari mati Lo!" Theo menaikkan alisnya, dia kesal pada Juna yang menatap tajam istrinya.


"Hah! Coba nasehatin istri Lo kalau bicara tuh yang bener jangan bicara sembarangan dan jaga tuh mulut!" Juna emosi, bukan karena pertanyaan Nisha tapi karena wajah Naina yang di pucat dan matanya berkaca-kaca.


Theo naik darah, dia juga tidak percaya kalau "Nisha cuma tanya kapan kalian punya anak? Kenapa sih kalian sensitif banget? Lagian Nisha juga tanya baik-baik, kan?"


"Bukan masalah tanya baik-baik tapi masalahnya disini! Kalian gak bisa jaga hati orang!" Juna semakin emosi dengan ucapan Theo yang naik darah.


"Juna, udah Jun!" Naina memegang tangan suaminya, seraya menenangkan emosi Juna.


"Maafin aku Naina, aku gak bermaksud untuk menyinggung kalian berdua," Nisha menyesal karena sudah salah bicara. Dia meminta maaf pada pasangan suami istri itu.


"Biasa aja dong Lo! Emang faktanya kan kalau kalian belum punya anak, gak usah marah marah sama istri gue!" Theo emosi dan membentak Juna. Posisi mereka berada di luar ruangan Keira.


Perkataan kak Theo memang benar, tapi kenapa hatiku sakit? Kenapa aku tidak bisa mencegah rasa sakit ini?. Naina terpana mendengar ucapan Theo yang menyakiti hatinya.


Juna menarik kerah baju Theo, "Brengsek Lo! Bibir Lo kaya cewek tau gak!" Tangan Juna sudah bersiap memukul wajah pria itu.


"Juna hentikan! Juna! Ini rumah sakit Jun!" teriak Naina pada suaminya yang sudah terlanjur emosi. Naina berusaha melerai Juna yang sudah akan memukul Theo.


Buk!


Namun sudah terlambat, Juna terlanjur terbawa emosi dan memukul Theo disitu saat itu juga. Nisha dan Naina tak bisa menghentikan kedua orang yang berada di dalam emosi membara itu.


"Lo! Jaga omongan Lo!"


"Lo jangan sensitif dong!" Theo membalas pukulan Juna.


Bukannya meminta maaf, Theo malah semakin mengejek Juna dan Naina yang masih belum dikaruniai momongan.


BRAK


Pintu ruangan Keira terbuka lebar, Kelvin dan Ken sudah berdiri disana dengan wajah marah. Mereka memisahkan Juna dan Theo yang saling adu tinju.


"Kalian kenapa sih kekanak-kanakan banget!" Ujar Kelvin emosi melihat kedua pria dewasa yang sudah mulai babak belur itu.


"Ada masalah apa? Theo? Juna?!" Tanya Ken kepada Theo dan Juna.


Theo dan Juna terdiam tidak menjawab pertanyaan Ken. Theo memilih untuk pergi dari sana bersama Nisha.


"Nish, ayo pulang!" seru Theo sambil menggandeng tangan istrinya.


"Juna, Naina, sekali lagi aku minta maaf ya kalau kata-kata ku menyakiti hati kalian," Nisha menatap Naina dengan penuh rasa bersalah.


Naina tidak menjawab, dia masih sakit hati dengan pertanyaan dan perkataan Theo. Walau memang ucapan mereka itu adalah fakta. Kelvin dan Ken menatap ke arah Naina yang sudah akan menangis. Disisi lain Juna terlihat marah, di wajahnya ada sedikit lebam akibat pukulan Theo.


"Nai, Jun, ada apa?" tanya Kelvin pada kedua orang itu.


"Gak ada apa-apa kok kak," jawab Naina sambil tersenyum pahit.


"Tapi kan ini hari Sabtu, Jun?"Tanya Naina heran.


"Aku lupa aku ada urusan di kantor sama Ardi," jawab Juna dengan nada kesal.


Juna pasti ingin sendirian.. dia kesal padaku.


"Iya, tapi aku obati dulu luka kamu ya.." kata Naina perhatian.


"Gak usah, ini cuma luka kecil. Aku pergi dulu!" Juna pergi begitu saja dengan wajah kesalnya.


Naina, Ken, dan Kelvin melihat kepergian Juna dengan bingung. Apa yang terjadi pada mereka hingga kedua orang itu bisa berkelahi?Kenapa pula Naina terlihat sedih? Lalu kenapa Nisha meminta maaf pada Naina dan Juna?


"Nai, kamu gak akan nyusul dia?"tanya Kelvin yang melihat Naina membiarkan Juna pergi begitu saja.


"Apa kalian bertengkar?" tanya Ken pada Naina cemas.


Naina hanya menggeleng-geleng, dia menatap suaminya dengan sedih. Naina tak bisa menahan lagi air matanya. Dia akhirnya menangis di depan om dan kakaknya.


"Nai! Kamu kenapa? Apa si Juna berbuat macam-macam sama kamu?" tanya Ken curiga pada Juna. Dia menatap Naina dengan penuh kasih sayang.


"Ma-maaf...bilang sama kak Keira, aku pamit duluan. Nanti aku datang lagi, hiks," Naina menangis dan pergi begitu saja dari sana.


"Eh Nai! Nai!" teriak Kelvin pada adiknya yang sudah berlari jauh.


Ken dan Kelvin melihat wanita yang menangis itu dengan heran. Ada apa dengan Naina sebenarnya? Masalah apa yang membuat Naina menangis?


"Om, Naina kenapa ya?"tanya Kelvin


"Om juga gak tau. Om akan susul dia," jawab Ken cemas pada keponakan nya itu.


"Iya om,"


Ken menyusul Naina. Wanita itu ternyata pergi ke taman belakang rumah sakit yang sepi dan jarang dikunjungi orang. Naina menangis terisak-isak, teringat kepedihan nya.


"Kenapa Allah memberikan cobaan sebesar ini? Kenapa kejam padaku? Apa salahku? Kenapa.. kenapa...penyakit kanker, sekarang aku kesulitan memiliki seorang anak! Apa dosaku sebenarnya? Kenapa aku yang harus menderita? Kenapa aku yang selalu begini? hiks...hiks..,aku bukan istri yang sempurna. Aku tidak bisa memberikan suamiku kebahagiaan,"


Ken mendengar semua ucapan Naina. Dia merasa sedih dengan penderitaan yang dialami Naina selama ini. Ken mendekati Naina dan menyodorkan sapu tangan putih kepadanya.


"Nai..,"


"Om Ken?" Naina mendongakkan kepalanya dan menyapa om nya.


"Om gak bisa berkata untuk menghibur kamu, karena om gak tau gimana rasanya jadi kamu. Tapi, om harap kamu tetap kuat!"


"Om Ken..." Naina semakin menangis, dia memeluk om nya dan menangis di dekapan nya.


"Gak apa-apa, kalau kamu mau nangis.. nangis aja, tumpahkan semua kesedihan kamu. Om pinjamkan bahu om untuk kamu," Ken mengusap usap punggung Naina seraya menenangkannya.


Dia kasihan pada keponakan nya itu yang selalu diberikan ujian bertubi-tubi oleh yang maha kuasa. Ujian yang belum berhenti dari mulai penyakit kanker, sampai masalah keturunan.


Ken bahkan pernah memukuli orang yang membicarakan hal buruk tentang Naina tanpa sepengetahuan siapapun. Orang-orang yang mengejek Naina, mengatakan bahwa dia adalah anak pembawa sial dan Juna sangat tidak beruntung menikah dengan Naina.


Kasihan sekali keponakan ku ini, aku benar-benar tidak bisa berbuat banyak untuknya. Hanya doa yang bisa ku panjatkan. Semoga kamu segera bahagia.


...---***---...