
Akhirnya Ken mengerti arti tatapan kakak dan kakak iparnya itu padanya, dengan berat hati Ken menyerahkan dua gadis kecil imut itu kepada papa mereka.
Namun, kedua gadis kecil imut itu terus mendekat pada Ken seperti prangko yang menempel pada surat.
" Maaf kan aku kakak, kakak ipar. Tapi ini bukan mau ku ya?" Ken tersenyum, ia lepas tangan melihat dua gadis kecil itu duduk dipangkuan nya dan tidak mau lepas.
Yah setidaknya aku sudah berusaha, bukan salahku kalau mereka yang terus menempel padaku.
" Nai sini sama Papa nak, nanti papa belikan coklat yang banyak. Sama perusahaan coklat nya sekalian " Bryan tersenyum membujuk putrinya
" Kay, sini sama papa Leon yuk. Nanti Papa belikan kamu kue stoberi yang banyak " Leon juga ikut membujuk Kayla yang duduk anteng dipangkuan Ken
" Gak mau! kita mau sama om Ken " jawab Kayla dan Naina kompak
Leon dan Bryan tersentak kaget dengan penolakan anak gadis mereka. Bagaimana bisa Ken yang masih baru
" Ken seperti nya kamu sudah bosan hidup " Bryan menyiapkan tangannya seolah ingin memukul, tapi wajahnya menunjukkan senyuman yang menakutkan seperti akan menerkam pria yang mencuri anak gadis nya itu.
" Kakak, bukankah kamu terlalu kejam? ini hanya masalah sepele saja haha " Ken tertawa santai
" Bagaimana aku diam saja ketika putri kecilku di rebut olehmu?" tanya Bryan sedih " Sayang, lihatlah dia.. dia sudah merebut gadis kecilku " Bryan mengadu pada Alma
" Haha.. " Alma hanya tertawa menanggapi suaminya yang tampak sedih itu.
Tanpa sadar Ken ikut tersenyum saat melihat kakak iparnya yang tertawa itu. Ia baru sadar, sejak ia menyamar jadi Bryan. Ia tak pernah melihat Alma tersenyum atau tertawa padanya seperti itu.
Kenapa Ken melihat Alma seperti itu?. Batin Bryan tak tenang
...***...
Sore itu..
Setelah pesta penyambutan pulangnya Alma dan Albry selesai, Mia, Aldo dan anak mereka berpamitan untuk pulang pada tuan rumah. Mereka tampak menikmati suasana hangat di rumah keluarga Aditama.
Laura, Alma, Bi Asih, Kayla dan Naina bergotong royong untuk membereskan yang kotor di dalam rumah. Kayla dan Naina mencuci piring di bantu bi Asih, Laura dan Alma membersihkan meja ruang tamu. Sementara para pria sedang mengobrol di teras sambil meminum kopi yang hangat.
" Sayang sekali aku tidak bisa melanjutkan obrolan kita, aku harus kembali ke kantor " ucap Leon setelah menerima telpon dari kantornya
" Ya tidak apa Leon, pergilah " kata Bryan
" Woah.. kamu masih belum bisa memanggilku kakak ipar? kamu masih harus belajar dari Ken ,Bryan. Dia juga sudah memanggilku kakak ipar " Leon tersenyum sambil menepuk bahu Bryan.
Leon pun pergi dari teras, tak lupa ia berpamitan pada Laura untuk kembali ke kantor. Akhirnya hanya Ken dan Bryan yang berdua saja di teras.
" Oh ya Ken, apa ada wanita yang kamu suka?" tanya Bryan sambil menatap saudara kembarnya itu
" PRUTT!!!" Ken seperti kaget mendengar pertanyaan kakak nya itu, dan langsung menyemburkan kopi yang sedang di minum nya. " Kenapa kakak tanya begitu?' tanya nya terkejut
" Bukankah ini sudah usia yang pas untuk menikah? aku saja sudah punya 3 anak. Ken, aku tau selama ini hidupmu di dedikasikan untuk balas dendam oleh om Wildan, tapi sekarang semua sudah selesai. Kamu adalah pemilik hidupmu sendiri. " jelas Bryan pada saudara kembarnya itu
" Entahlah, aku belum berfikir untuk menikah dan berkeluarga " jawab Ken ragu
Sebenarnya aku ingin menikah dan berkeluarga. Tapi, aku rasa itu akan sulit dengan posisiku sebagai ketua black dragon. Siapa yang mau menikah dengan ketua mafia?
" Bagaimana dengan Olivia Sierra?" tanya Bryan
" Kenapa jadi membahas dia? aku tidak ada apa-apa padanya. Dia hanya ku jadikan alat untuk balas dendam saja. " jelas Ken
" Benarkah? Alma bilang kalau sudah mencumbunya? mana mungkin kamu tidak suka? hey Ken, kamu harus jadi pria yang bertanggungjawab " ucap Bryan menasehati
" Aku tidak mencumbunya! itu hanya pura-pura saja. Saat itu aku hanya bermaksud membuat kakak ipar terluka, sumpah demi tuhan aku tidak menyentuhnya kecuali memeluk. "
" Oh jadi itu hanya akting?" tanya Bryan
" Benar sekali, lagipula aku belum punya seseorang yang ku sukai " jawab Ken
" Umurmu sudah pas untuk menikah, 36 tahun cocok lah. Apa kamu mau ku kenalkan beberapa wanita single?" tanya Bryan pada saudara nya itu
" Maksudmu wanita itu adalah para model yang bekerja di perusahaan mu kan? aku tidak mau, mereka tidak terlihat seperti wanita baik-baik " ucap Ken tak senang.
Sebelumnya ia sudah menyelidiki tentang Bryan dan wanita wanita yang di kenal nya seperti apa. Kebanyakan dari mereka adalah wanita yang memamerkan bentuk tubuh mereka dan dekat banyak pria. Wanita seperti itu bukanlah tipe Ken, ia tak mau wanita yang diajak main-main.
" Aku pikir kamu suka wanita seksi seperti mereka, kalau begitu kamu mau wanita seperti apa?" tanya Bryan
" Kalau untuk diajak menikah, tentu saja aku mau wanita baik-baik dan keibuan " jawab Ken serius
" Wah sayang sekali Ken, stok wanita baik-baik di bumi ini hanya tinggal sedikit. Hanya kak Laura dan istriku saja wanita baik-baik yang ada di sekitarku, ah tambah Naina dan Kayla juga " jelas Bryan sambil tersenyum, membanggakan wanita wanita dalam keluarganya.
" Kalau begitu bagaimana kalau istrimu saja?" tanya Ken tanpa senyuman sedikit pun.
" Ken, kamu tidak bercanda kan?" tanya Bryan serius
DEG!
Ken langsung erdiam mendengar pertanyaan saudara kembarnya yang menusuk. Sedangkan Bryan sangat menanti jawaban dari Ken.
" Om Ken, Om Bryan! Tante Alma bilang kalian harus segera kebawah, ada om Ian dan om Mike datang " kata Kayla pada kedua om nya itu.
Entah kenapa aku merasa bersyukur, Kayla datang di saat seperti ini. Aku keceplosan bicara pada kak Bryan.
" Ah iya, kami akan menyusul " Bryan menatap tajam Ken, ada kecurigaan yang mengganjal di hatinya
Aku belum mendapatkan jawaban dari Ken, mana bisa aku pergi.
" Sebaiknya kita pergi sekarang kak, tidak baik membuat tamu menunggu " ucap Ken seolah ingin menyudahi pembicaraan nya dan Bryan.
" Kayla kamu pergi saja duluan, om mau bicara sama om Ken dulu. Bilang pada Tante Alma untuk menunggu sebentar " kata Bryan pada Kayla.
" Oh begitu ya, ya sudah deh aku bilangin dulu sama Tante Alma dan Mama "
Gadis kecil itu pun pergi meninggalkan teras lantai dua dan pergi ke lantai satu. Ia segera memberitahukan pada Alma kalau kedua pamannya itu sedang mengobrol hal penting dan disuruh menunggu sebentar.
Bukannya sebentar, tapi 10 menit sudah berlalu kedua pria itu belum turun juga dari lantai dua.
" Pak Mike, Dokter Ian, Bu Vera maaf ya membuat kalian menunggu. " kata Alma merasa tak enak pada Ian, istri nya dan Mike yang sudah menunggu Bryan juga Ken.
Bryan dan Ken sedang apa sih? mereka ngobrol apaan sampai membuat tamu menunggu. gerutu Alma dalam hatinya
" Iya gak papa kok santai aja Bu Alma, Theo juga masih asyik main sama Naina, Kayla dan Kelvin. Salah kami juga sih karena kami terlambat " jawab Vera, istri Ian. Wanita itu tersenyum ramah dan hangat. Sikap ramah nya sama seperti Theo.
" Silahkan kalian makan dulu cemilan nya ya " ucap Laura kepada para tamunya itu dengan wajah yang ramah
Owa.. OWAA..
Terdengar suara tangisan dari kamar bayi.
" Wah seperti nya pemeran utamanya sudah bangun " ucap Mike pada Alma setelah mendengar suara Albry kecil yang menangis
Alma terlihat sangat bahagia bersama Bryan. Syukurlah, sejak awal aku memang seharusnya tidak masuk ke dalam hubungan merah. Sekarang aku jadi malu pada diriku sendiri yang pernah menyukai istri orang.
" iya, sebentar ya. Kak Laura, tolong panggilkan Bryan dan Ken ya. Mereka lama sekali, aku mau ke kamar Albry dulu " ucap Alma pada Laura sebelum ia pergi menghampiri anaknya yang ada di kamar dan menangis kencang.
Laura pun naik ke lantai atas, ia melihat kedua adiknya dari balik pintu yang sedikit terbuka. Wajah mereka berdua tampak tegang tidak seperti biasanya.
Sampai-sampai Laura penasaran apa yang sedang dibicarakan oleh kedua adiknya itu. Saat Laura akan memanggil Bryan dan Ken, langkah nya terhenti ketika mendengar suara Bryan yang meninggi pada Ken.
" Sekarang saja kamu bilang hanya suka padanya, lalu nanti kamu akan bilang cinta padanya!" teriak Bryan marah
" Kenapa kamu berlebihan begitu? aku bukan menyukai Alma dalam konteks yang seperti itu. " Ken mencoba menjelaskan
Ken suka pada Alma?. Batin Laura terkejut
" Alma? kamu bahkan memanggil kakak ipar mu dengan namanya?" tanya Bryan marah
" Ya ya aku minta maaf, aku keceplosan.. maksudku kakak ipar "jawab Ken. " Pokonya aku hanya menyukai nya sebatas teman saja, ya begitulah "
Aku tidak bermaksud berkata begitu tadi, kenapa urusannya jadi panjang begini. batin Ken
" Ken kamu yang benar bicara nya dong! serius!" ujar Bryan tegas
" Kakak ku tersayang, tenanglah. Aku tidak mungkin menyukai kakak ipar ku sendiri dalam konteks cinta. Dia bukan tipeku, tipeku itu wanita yang manis dan lemah lembut bukan wanita garang seperti dia " jelas Ken santai
" Apa kamu sedang mengejek Alma ku? wanita garang? dia itu lemah lembut dan sangat manis! " kata Bryan marah, merasa istrinya di ejek oleh kembarannya.
" Ya pokoknya intinya begitu deh, aku tidak suka istrimu kak. Kamu jangan cemas " kata Ken
" Lalu tadi kamu bilang apa? kamu bilang ingin istriku?" tanya Bryan
" Tadi aku hanya bercanda "
Aku memang menyukai nya, tapi bukan cinta. Kenapa Bryan curigaan sekali?
" Benar, hanya bercanda kan?" tanya Bryan lagi
Sudah lebih dari 5 kali Bryan menanyakan hal yang sama pada Ken. Hal itu karena ia takut kalau Ken menyukai Alma, ia tidak mau ada pria lain lagi yang menyukai istrinya apalagi adiknya sendiri. Ken sudah mulai kesal dengan kakak nya itu, ia pun melangkah pergi meninggalkan Bryan sendiri.
Ken berbicara dengan Han dan beberapa anak buahnya yang berjaga di depan rumah.
" Bos, salah satu anak buah kita melaporkan kalau geng red snake menyerang markas " bisik Han pada Ken
" Mereka cari mati rupanya, cecunguk itu tidak henti-hentinya membuat masalah. " Ken mengepalkan tangannya, senyumnya tampak menakutkan
" Apa kita habisi saja mereka bos?" tanya Han
Hiyy.. boss selalu tampak menyeramkan.
" Habisi? kamu tidak ingat moto dari komunitas kita? hidup lebih buruk daripada kematian, kita akan buat mereka seperti itu. Mari pergi " Ken bersiap siap dan menggunakan jaket hitamnya
Diam-diam Theo, Kayla dan Naina mengintip Ken yang pergi dengan anak buahnya. Aura yang mereka pancarkan sangat misterius dan keren.
" Naina, kamu benar. Om kamu keren banget " kata Theo
" Iya kan? kerjaannya nangkap dan bunuh cecunguk " Naina tersenyum polos
" Tapi kok aku gak yakin kerjaannya berkaitan dengan cecunguk? " gumam Theo pelan
Dia kaya anggota geng gitu.
" Kakak, bilang apa?" tanya Naina yang tak mendengar jelas apa yang dikatakan oleh Theo
"Gak papa Nai " jawab Theo sambil nyengir
Gak papa lah, asal Naina bahagia. Terserahlah dia mau bilang nangkap atau bunuh cecunguk juga.
Theo terus melihat Naina, tak hentinya ia tersenyum. Matanya seperti tenggelam dalam pesona gadis kecil yang polos itu, saat Naina melihat ke arahnya. Hati Theo seolah di serang oleh sesuatu yang kuat, membuatnya terpana. Rupanya di usianya yang masih kecil Theo sudah terpesona pada Naina.
Kayla yang melihat pemandangan itu hanya tersenyum, ia bisa merasakan kalau Theo menyukai Naina. Namun seperti nya Naina tidak memiliki perasaan seperti itu.
" Aduh " terdengar suara seorang wanita dari depan gerbang rumah keluarga Aditama.
" Hati-hati, kamu hampir jatuh " Ken menangkap tubuh wanita itu, mereka terlihat berpelukan.
Cantik juga. ucap Ken sambil tersenyum melihat wanita yang berada di dalam pelukan nya itu.
Pak Bryan? tapi kok rasanya dia berbeda dari pak Bryan. Aduh kalau Bu Alma lihat aku dan pak Bryan dan posisi seperti ini, Bu Alma bisa salah paham. ucap wanita itu dalam hatinya sambil menatap Ken
Kayla dan Naina sangat bersemangat melihat pemandangan di depan mereka. Mereka seperti melihat drama Korea di depan mata mereka secara langsung. Theo tidak mengerti apa yang seru dari melihat wanita dan pria berpelukan.
"Wah ini seru sekali " kata Kayla dengan mata berbinar-binar
"Akhirnya om Ken terlibat dalam kasus percintaan juga dan bukannya cecunguk saja " ucap Naina semangat
Haha, aku tidak mengerti dengan kedua gadis kecil ini. Aku iyakan saja deh mereka. batin Theo kebingungan
**
Wanita itu adalah Viona, sekretaris Alma. Viona yang akan berjalan masuk ke dalam rumah Alma terjatuh saat menabrak Ken yang akan pergi dari rumah itu dan secara tidak sengaja berada dalam pelukan nya.
" Maaf pak Bryan " ucap Viona merasa tidak enak hati, ia segera mendorong Ken yang dianggap nya sebagai Bryan. Kemudian Viona memunguti berkas-berkas yang berserakan jatuh di lantai.
DEG, DEG, DEG
Kok aku deg degan gini ya di depan pak Bryan? gila!. Viona memaki dirinya dalam hati
Ken berinisiatif membantu memunguti dokumen-dokumen itu. " Lain kali jalan lihat-lihat ya, fokus ke depan " kata Ken mengingatkan
" Viona, kamu sudah datang?" sambut Alma pada sekretarisnya itu
" Iya Bu, selamat sore " sapa Viona dengan sopan
Alma tersenyum, ia menghampiri Viona dan Ken. Sekalian saja ia mengenalkan Ken dan Viona, dengan tujuan menjodohkan mereka.
" Kenapa saya perlu berkenalan dengan pak Bryan? saya kan sudah kenal pak Bryan, Bu " tanya Viona bingung
"Viona, yang ada di depan kamu ini bukan suamiku Bryan. Tapi kembaran nya, Kenan. " jawab Alma
" Kembaran?" Viona terkejut, melihat wajah Ken yang mirip dengan Bryan hampir tidak ada bedanya.
Pantas saja dari tadi Viona merasa ada yang berbeda dari pria yang berada di depannya itu. Viona pun berkenalan dengan Ken, mereka melewati sesi perkenalan dengan baik. Mata mereka menunjukkan ada ketertarikan disana.
Alma menangkap sinyal ketertarikan itu sebagai sebuah pertanda, mungkin Viona adalah jodoh untuk adik iparnya.
🍂🍂🍂
Malam pun tiba , Mike, Ian, istrinya dan Theo berpamitan untuk pulang pada semua anggota keluarga Aditama.
" Kami pamit dulu ya semuanya, makasih untuk jamuan nya " ucap Ian sambil tersenyum
" Makasih udah datang ya, Ian, Mike dan Bu Vera " kata Bryan ramah
" Makasih juga hadiahnya untuk Albry " ucap Alma
" Sama-sama, semoga Bu Alma dan keluarga sehat selalu ya " kata Vera mendoakan dengan setulus hatinya.
" Terimakasih Bu Vera "
Disisi lain, Theo yang niatnya akan berpamitan tampak enggan tidak mau berpisah dari Naina. Anak kecil itu terlihat sedih karena ia masih mau bersama dengan Naina.
" Mau ngapain kamu disini terus? Mama sama Papa kamu kan mau pergi. Cepat sana pergi !" ujar Kelvin dengan wajah dinginnya
"Kakak gak boleh gitu dong sama sahabat ku, kak Theo maafin kak Kelvin ya " ucap Naina sambil tersenyum
Theo terpana, wajahnya memerah melihat senyuman Naina. Ia tidak berkedip, dan menatap terpesona pada gadis kecil yang ada di depannya itu.
" Berhenti melihat adikku seperti itu! cepat pulang sana !" Kelvin mendorong-dorong Theo agar segera pergi dari rumahnya
" I-iya aku mau pergi kok, sebentar. Aku punya sesuatu untuk Naina dan Kayla " Theo tersenyum dan merogoh saku celananya. Lalu ia membuka apa yang ada di dalam sakunya, ada 1 bungkus permen stoberi dan permen coklat yang sudah ia siapkan untuk Naina dan Kayla.
Kedua gadis kecil itu menerima permen pemberian dari Theo dengan senang hati. Mereka langsung mengambilnya dan berterimakasih pada Theo.
" Cih, tebar pesona saja " gumam Kelvin tak suka
" Bilang aja kakak iri, kan, karena tidak dapat permen dari kak Theo?" tanya Naina menuduh
" Iri? ngapain aku iri?" tanya Kelvin sebal
"Kelvin mau permennya juga, nih aku ada satu lagi tapi permennya rasa buah " ucap Theo ramah
" Siapa yang mau permen dari kamu?!" Kelvin terlihat kesal
Aku sudah peringatkan dia agar jangan mendekati Naina, tapi dia bandel sekali!
Kenapa ya Kelvin selalu marah padaku? apa karena aku dekat-dekat dengan Naina? ah aku tau.. Theo terperangah, ia terpikirkan sesuatu yang tak terduga tentang Kelvin.
Theo berbisik pada Kelvin, mengatakan pada pria itu agar tidak khawatir karena ia tidak akan merebut kasih sayang Naina dari kakak nya. Malah Theo mengatakan bahwa ia akan menjaga Naina sama seperti Kelvin menjaganya. Theo mengatakan seolah Kelvin iri padanya.
" Kamu sudah gila ya? maksud ku bukan begitu! aku tidak iri padamu bodoh " gerutu Kelvin kesal
"Sudahlah, aku tau kok. Kamu tenang saja." Theo tersenyum tenang, menepuk bahu Kelvin.
Kelvin hanya menatap Theo dengan tajam.
...***...
Setelah semua tamu pulang, semua orang di rumah itu pergi ke kamar mereka untuk beristirahat. Hari itu Alma, Bryan, Albry dan si kembar menginap di rumah utama keluarga Aditama karena hari sudah malam. Tidak baik membawa bayi bepergian tengah malam.
Alma sibuk menggendong Albry yang sedang menangis karena ingin menyusu. Mendengar anaknya tak kunjung berhenti menangis, membuat Bryan panik dan cemas.
" Sayang, ada apa? kenapa Albry menangis?" tanya Bryan yang baru saja keluar dari kamar mandi, tubuhnya masih memakai piyama handuk.
" Owaakk.. owaakkk" bayi mungil itu menangis
" Cup cup sayang, jangan menangis ya. Bi Inah sedang membuat susu formula nya. Bry, air susu ku tiba-tiba saja tidak keluar, aku tidak tau kenapa. "
" Daripada membuat susu formula, bagaimana kalau aku bantu kamu mengeluarkan air susu nya?" tanya Bryan yang memiliki ide di kepalanya
" Bagaimana caranya?" tanya Alma
" Kemarilah " ucap Bryan pada istrinya, pria itu tersenyum seolah memikirkan sesuatu yang aneh
" Apa?"
Kenapa aku takut melihat senyuman nya itu ya? dia tidak memikirkan hal yang aneh-aneh kan?
Alma mendekat ke arah Bryan. Kemudian Bryan menarik tubuh Alma ke pangkuan nya lalu membuka kancing kemeja yang dipakai istrinya dengan perlahan lahan. Tatapan nya mengarah pada dada milik wanita itu.
...--***--...