
...🍀🍀🍀...
"Bryan?" Alma melihat ke arah suaminya yang membawa buket besar mawar ungu ditangannya. Pria itu menatap Alma dengan lembut dan rasa bersalah.
"Juna?" tanya Naina terkejut melihat Juna yang berdiri di samping papa nya sambil memegang setangkai bunga dan sekotak coklat di tangannya.
"Naina" panggil Juna pada Naina.
"Sayang.." ucap Bryan pada istrinya dengan merasa bersalah. Menatap istrinya dengan berkaca-kaca.
Kedua wanita itu yang tadinya mood nya kembali setelah bersenang-senang, tiba-tiba badmood lagi setelah melihat kedua pria yang menyebalkan ada di depan mereka. Alma-Bryan, Naina dan Juna pun bicara secara terpisah. Alma Bryan berbicara di dalam kamar mereka, sementara Juna dan Naina berbicara di taman belakang rumah.
"Ngapain kamu kesini?" tanya Naina yang masih ngambek pada Juna
"Gue.. gue mau minta maaf sama Lo."ucap Juna sambil menundukkan kepalanya.
"Buat apa?" tanya Naina dengan nada kesal
"Sikap gue tadi siang, itu salah. Gue gak seharusnya marah-marah sama Lo" jelas Juna dengan rasa bersalah di wajahnya
"Terus?"
"Ya, gue mau minta maaf. Maaf!" Juna memberikan setangkai bunga mawar kuning pada Naina dan sekotak kue coklat. Naina tidak langsung menerimanya.
"Kamu kira, aku akan maafin kamu kalau kamu ngasih aku bunga dan coklat?" tanya Naina sambil melihat ke arah Juna dengan tajam
"Bukan gitu maksud gue.. beneran deh sumpah gue gak maksud buat marah-marah sama Lo"
"Terus kenapa kamu marah?" tanya Naina sambil menyilangkan tangannya di dada
"Gue badmood bukannya marah!" sangkal Juna bahwa ia tidak marah tapi badmood
"Tapi kamu marah sama aku, kamu bentak-bentak aku! aku juga gak tau salahku apa, kamu bentak-bentak aku gitu aja!" kemarahan Naina mulai meledak
"Iya oke, gue emang marah-marah sama Lo. Tapi itu karena gue lagi badmood, bukan karena gue marah sama Lo." Juna menjelaskan bahwa ia tidak marah pada Naina
"Apa kalau lagi badmood kamu suka melampiaskan kemarahan kamu sama orang lain?" tanya Naina mulai serius
"I-itu.. e-enggak kok.." jawab Juna yang menciut nyalinya saat melihat gadis itu menatapnya dengan kesal. Seperti nya permintaan maaf Juna tidak akan semudah itu.
"Mau kamu melampiaskan amarah kamu sama orang lain atau enggak, aku gak peduli. Karena aku gak suka kalau ada orang yang marah-marah gak jelas sama aku" jelas Naina tegas
Mode galak Naina on lagi.
"Gak ada lain kali Nai, maafin gue Nai. Please.."Juna mengatupkan kedua tangannya seraya memohon pada Naina untuk memaafkannya. Hatinya sungguh tidak nyaman kalau Naina marah padanya dan tidak mau memaafkannya.
"Udah mau magrib, lebih baik kamu pulang. Rumah kamu kan jauh dari sini." kata Naina dengan nada yang ketus pada Juna.
Permintaan maaf Juna berakhir dengan terusir nya dia dari rumah Naina. Juna berkata bahwa ia akan datang lagi nanti untuk menemui Naina, tapi gadis itu hanya menjawab" bodoh amat!"
Disisi lain ada Bryan yang juga sedang membujuk istrinya untuk memaafkannya. Alma sedang memasak makan malam di dapur. Semenjak Bryan pulang, Alma terus saja cemberut.
"Sayang.. kita makan malam di luar yuk!" ajak Bryan pada istrinya yang sedang memotong motong bumbu di atas meja
Tak, tak, tak
Tidak ada suara yang keluar dari mulut Alma, hanya ada suara pisau yang sedang memotong bumbu.
Alma masih marah. Melihat wajah istrinya yang masih cemberut, Bryan mendekati Alma yang sedang memotong bumbu.
"Sayang..aku mau jelasin kalau.."Bryan yang akan memeluk Alma, merasa sedih karena Alma menghindar darinya. Bryan tidak menyerah, ia terus menganggu Alma yang memasak agar istrinya bicara dan bukan diam saja.
Diamnya Alma membuat Bryan semakin merasa tidak nyaman pada istrinya."Sayang, aku bantu ya" bujuk Bryan sambil membawakan makanan ke meja makan.
"Kamu ngapain sih? gangguin terus aku! aku lagi masak!" teriak Alma kesal pada suaminya yang terus menganggu nya
"KYAA!! Bryan kamu mau ngapain??" Alma berteriak kaget karena suaminya tiba-tiba menggendong nya ke atas meja dapur.
"Sayang, aku mau jelasin sama kamu apa yang terjadi di kantor. Kamu dengarkan baik-baik ya" Bryan menatap istrinya, tangannya melingkar di tubuh Alma dan memegangi nya.
"Kamu....Bryan bagaimana kalau anak-anak lihat?!! lepaskan aku dan turunkan aku!" seru Alma pada suaminya yang menggenggam tubuhnya dengan erat, tak mau melepaskan dirinya. Matanya melirik kesana kemari, takutnya ada Naina atau Kelvin yang melihatnya
"Tidak mau! aku mau kamu dengarkan penjelasan ku dulu, lalu kamu harus memaafkan ku" Bryan tersenyum pada istrinya
"Kenapa sih kamu selalu memaksa dan seenaknya?!!" Alma terlihat kesal pada suaminya.
"Kalau tidak begini, kamu gak akan mau dengerin aku" Bryan memonyongkan bibirnya dengan manja
"Kamu seperti anak kecil, turunkan aku Bryan!" ujar Alma sambil berusaha mencoba untuk turun dari meja dan dari genggaman suaminya. Bryan malah memegangnya semakin erat.
"Wajah kamu saat marah memang cantik, tapi lebih cantik lagi kalau kamu tersenyum" Bryan mengeluarkan kata-kata manisnya untuk membujuk Alma yang masih marah.
"Kamu playboy! jangan pikir aku akan memaafkan kamu hanya karena ada permen manis di dalam mulutmu!" seru Alma kesal
"Sayang.. aku tidak pernah mengkhianati mu, wanita-wanita itulah yang mendekatiku. Kamu bisa tanyakan pada Andre, maaf aku memang salah karena tidak jujur padamu tentang wanita-wanita itu. Aku hanya tidak mau kamu marah" jelas Bryan penuh kesungguhan
"Aku tau kamu setia, tapi aku tetap saja bisa marah dan cemburu kalau ada wanita lain yang mendekatimu. Tapi aku lega karena kau tahu apa kesalahanmu, ketidakjujuran dan ketidakterbukaan dirimu padaku. Kamu tau kan ini bisa membuat salah paham? mengapa kamu tidak mengatakannya padaku?" tanya Alma.
Bryan terdiam, ia merasa bersalah mendengar kata-kata istrinya.
"Bry, aku sedang bertanya padamu" ucap Alma pada suaminya
"Ya, ya...aku minta maaf karena aku tidak bicara. Aku takut kamu akan begini kalau aku bicara tentang wanita-wanita itu" gumam Bryan menyesali ketidakjujuran nya pada Alma.
"Kamu salah, justru aku akan marah kalau kamu gak bilang apa-apa padaku. Aku istrimu, aku berhak tau apa yang terjadi pada suamiku. kalau aku yang didekati pria lain dan kamu tidak tau, apa kamu akan marah?" tanya Alma
"Tentu saja, aku malah akan menyingkirkan bajingan yang mendekati istriku!" Bryan langsung marah memikirkan kalau istrinya akan di dekati oleh pria lain.
"Ya benar, begitulah maksudku. Kalau kamu mengatakan tentang wanita-wanita itu, maka aku juga akan menyingkirkan mereka dari mu. Jadi kamu harus jujur!! " kata Alma penuh percaya diri
"Sayang.. apa ini artinya kamu memaafkan aku?" tanya Bryan sambil menatap istrinya dengan mata yang berbinar-binar
"Tergantung penampilan mu malam ini" jawab Alma dengan wajahnya yang tersipu malu.
Bryan langsung mengerti dengan kode yang dimaksud oleh Alma. Bryan langsung menangkup tubuh Alma dalam gendongannya. Tangan Alma melingkar di leher Bryan, menggapainya. Wanita itu tersenyum pada suaminya.
"Aku siap melayani mu Ratu ku" kata Bryan dengan senyum lebar di bibirnya
"Kalau soal ini saja, kamu sangat cepat tanggap. Huh dasar!" seru Alma pada suaminya.
"Tentu saja, aku harus menunjukkan ketulusan ku meminta maaf dengan sangat baik kan?" tanya Bryan pada istrinya, menggodanya.
"Semakin tua kamu semakin genit saja!" Alma mencubit hidung suaminya dengan gemas.
"Kamu kan yang mengajaknya lebih dulu. Kalau begitu ayo kita mulai saja" Bryan tersenyum dan sangat bersemangat
"Tu-tunggu, makan malamnya bagaimana? anak-anak?" tanya Alma kebingungan
"Kita makan malam yang itu nanti saja, makan malam yang ini dulu saja. Soal anak-anak, kita ke lantai atas saja biar tidak ada yang dengar" Bryan tersenyum genit pada istrinya itu.
Alma tersenyum malu, ia meminta suaminya untuk segera membawanya ke lantai atas sebelum anak-anak melihat mereka.
Tak lama setelah itu, terdengar lah suara teriakan Alma yang keras dari lantai atas.
...---***----...
Mau up lagi? komen dan kasih like nya ya🤗🤗😘