
Pov: Junai, Theo Nisha
...πππ...
Dag
Dig
Dug
Begitulah hati Juna saat ini, ketika mendapatkan pelukan dari Naina. Juna merasa dunia yang ada di sekitarnya menjadi bunga bunga, seakan akan ia memenangkan balapan motor. Bahkan mungkin rasanya lebih dari itu. Juna, mengelus punggung Naina dengan lembut seraya menghiburnya yang sedang menangis.
"Nai.. kenapa Lo nangis? telpon dari siapa yang buat Lo nangis? sini gue gibas orangnya!" seru Juna yang berusaha menghibur Naina
Gak papa Nai, peluk saja aku yang lama. Sumpah deh gak papa.. Ya ampun.
Naina langsung melepaskan pelukannya dan memukul bahu Juna, wajahnya tampak kesal."Jahat kamu ya! kamu mau ngapain orang yang buat aku nangis, hah?" tanya Naina
"Gue akan gibas orangnya yang udah buat Lo nangis" jawab Juna percaya diri
BUK
BUK
Naina memukul kepala Juna dengan buku, Juna meringis kesakitan." Aduh.. aduh kok gue malah dipukul sih? salah gue apa?" tanya Juna tak paham
"Kamu mau pukul orang yang menelpon ku? mati saja kamu! itu mama ku, dasar cowok preman!"
"Haha, sorry cewek gila...gue gak tau" Juna tertawa
"Kamu tuh dasar!"
"Terus kenapa Lo nangis?" tanya Juna dengan nada bicara yang lembut
"Mama bilang kalau Risya mau di hukum penjara seumur hidup" jawab Naina menunduk sedih
"Terus Lo sedih karena si Risya itu? dia udah nyelakain Lo, Lo masih aja sedih buat dia. Sayang banget air mata Lo" Juna menyeka pipi Naina yang basah dengan kedua tangannya.
Kedua mata Naina melihat ke arah Juna yang sedang menghibur dan menyeka air matanya. Naina berfokus pada mata Juna.
"Gak disangka kalau cowok preman, punya bulu mata yang panjang juga ya, lentik dan bagus!" Naina tersenyum melihat bulu mata Juna yang lebat dan lentik
"A-apaan sih Lo?" Juna menghentikan aktivitas nya menyeka pipi Naina yang basah. Wajahnya jadi memerah karena malu.
Kamu jago banget Nai, buat aku baper.
Juna memberikan tisu pada Naina dan menyuruh gadis itu mengelap ingus, juga air matanya."Lap tuh air mata sama ingus Lo. Lain kali Lo gak boleh nangis lagi, jelek tau gak"
Jangan nangis lagi Nai, aku tidak suka kamu menangis.
"Huh.. memangnya kamu ganteng? seenaknya ngatain orang jelek!" Naina membuang ingus di hidungnya dengan tisu. Kemudian Naina melihat baju seragam Juna yang basah akibat perbuatannya. "Aduh, gimana ini? baju kamu basah Jun, disitu ada ingus sama air mata" Naina panik
"Udah santai aja, gak papa" Juna hanya tersenyum santai. "Lo jangan nangis lagi ya, kalau ada yang gangguin Lo. Harus bilang sama gue"
"Kamu kaya kak Kelvin, dia selalu bilang gitu juga sama aku. Thanks ya Juna, gimana kalau kamu jadi kakak ku aja?"
"Apa? gak! ogah gue jadi kakak Lo, gue gak mau punya adik kaya Lo! udah gila, jelek kalau lagi nangis, galak juga" gerutu Juna
Aku gak mau jadi kakak kamu atau teman kamu Nai, tapi aku mau lebih dari itu. Aku bingung harus bilang nya gimana, karena kamu nya gak peka.
"Loh, kok malah ngeledek sih?" Naina sebal, ia mulai kesal pada Juna
"Itu memang fakta nya" jawab Juna tak mau kalah
Naina berdiri dari kursinya, ia meninggalkan Juna di perpustakaan dengan kesal. Juna menyusulnya dan membujuknya agar tidak marah, ada beberapa mata yang melihat mereka disana. Mereka seperti melihat pasangan yang sedang marahan.
"Hey, jangan marah dong? Lo tambah jelek kalau marah" bujuk Juna sambil tersenyum pada Naina yang berjalan cepatlah di depannya
"Bodo ah! gak peduli" Naina cemberut dan terus berjalan cepat menyusul Juna
"Jangan marah dong, gue beliin eskrim ya. Aha! gimana kalau cake coklat, stoberi? seblak?" Juna membujuk
"Kamu pikir aku anak kecil apa?" tanya Naina makin kesal
"Jangan cemberut dong. Gue harus ngapain biar Lo gak marah lagi?" tanya Juna menyerah
"Kalau kamu masuk rangking 50 besar dalam ujian kenaikan kelas, aku akan maafin kamu" jawab Naina menantang
"A-Apa?! hey itu susah! masuk rangking seratus besar aja susah, apalagi lima puluh besar. Kagak bisa yang lain apa?" Juna menawar
"Hm.. Hm.. gak bisa Jun, masuk rangking 50 besar atau aku akan tetap marah sama kamu" kata Naina
Semoga ini bisa memotivasi kamu Jun, agar kamu bisa semakin rajin belajar.
"Tapi itu susah.."
"Pokoknya aku gak akan bicara sama kamu, sampai hasil ujian kenaikan kelas keluar" kata Naina tegas
"Woah.. jangan gitu dong." bujuk Juna merengek
"Dalam satu minggu ini, sepulang sekolah kamu harus belajar di perpus bareng Damar dan Keira." kata Naina tegas
"Aku gak ngelarang kamu kumpul sama mereka, aku cuma mau kamu menyempatkan waktu kamu untuk belajar sepulang sekolah" jelas Naina
"Oke deh, tapi kalau gue masuk lima puluh besar nanti. Lo harus ngabulin permintaan gue"
"Kamu ada permintaan apa?" tanya Naina sambil menatap Juna serius
"Kalau bilang nya sekarang, jadi gak surprise dong." Juna tersenyum tipis
"Iya, aku akan mengabulkan keinginan kamu" jawab Naina sambil tersenyum
"Janji ya, jangan ingkar?" tanya Juna
"Iya janji, Juna kamu semangat ya" ucap Naina
Senyuman Naina menenangkan hati Juna, seperti ada taman bunga di hati Juna. Kini Juna yakin kalau ia bisa jantungan kalau di dekat Naina.
"Oke, gue akan berusaha. Gue pasti bakal masuk 50 besar" kata Juna semangat
Kalau aku masuk lima puluh besar, kamu tidak boleh lari lagi Nai. Kamu harus melihatku, kamu harus siap-siap.
"Harus! tidak ada yang tidak mungkin. Kamu pasti bisa! " Naina tersenyum menyemangati Juna.
Theo dan Nisha yang sama-sama baru saja selesai belajar di kelasnya, melihat Naina dan Juna yang terlihat dekat. Theo merenung, wajahnya terlihat sedih, hatinya jelas merasakan cemburu. Theo jadi berfikir yang bukan-bukan, ia mulai berandai-andai kalau saja ia tidak naik kelas dan satu kelas dengan Naina. Mungkin saja Naina dan Juna tidak akan sedekat itu kalau ada Theo di dekatnya.
Dari belakang Theo, ada Nisha yang menatap Theo dengan sedih.
Kenapa kamu selalu melihat Naina kak? apa kamu tidak bisa melihatku?. Batin Nisha sedih
"Hai kak Theo!" sapa Nisha sambil tersenyum ramah
"Eh, Nisha?" tanya Theo
"Kakak mau pulang ya?" tanya Nisha
"Iya " jawab Theo sambil melihat ke arah Naina dan Juna yang sedang berjalan di lorong
"Kalau kakak gak ada acara, kita makan siang bareng yuk" ajak Nisha
"Hem.. iya "
"Beneran? kakak mau makan siang sama aku?" tanya Nisha dengan mata yang berbinar-binar
Kalau Nisha ngajak makan bareng, berarti aku ada alasan buat ngajak Naina makan bareng juga. batin Theo
"Iya, kamu sekalian ajak Naina juga ya" jawab Theo
Nisha langsung pucat begitu mendengar nama Naina disebut oleh Theo. Nisha kecewa, lalu ia mengatakan bahwa makan siang nya batal saja. Dari SD sampai saat ini, Nisha mengagumi Theo. Namun, Nisha juga tau selama ini Theo hanya melihat Naina.
Di satu sisi aku sangat bersyukur.. karena Naina tidak menyadari perasaan kakak dan tidak peka. Bagaimana kakak melihat Naina, sangat terlihat jelas olehku? kalau kak Theo sangat menyukai Naina. Di sisi lain aku ingin memanfaatkan situasi ini untuk menyatakan perasaanku pada kak Theo, tapi aku takut hubungan pertemanan kita akan rusak.
Theo dan Nisha sebenarnya dalam posisi yang sama, mereka sama-sama menyimpan cinta mereka dalam hati untuk waktu yang cukup lama. Hanya melihat diam-diam orang yang mereka sukai tanpa berani menyatakan. Theo pada Naina, begitu pula dengan perasaan Nisha pada Theo.
Dan sebuah lagu mewakili perasaan mereka..
πΆπΆ
Mungkin ini memang jalan takdirku
Mengagumi tanpa di cintai
Tak mengapa bagiku asal kau pun bahagia
Dalam hidupmu, dalam hidupmu
telah lama ku pendam perasaan itu
Menunggu hatimu menyambut diriku
Tak mengapa bagiku cintai mu pun adalah
Bahagia untukku, bahagia untukku
Ku ingin kau tahu diriku di sini menanti dirimu
Meski ku tunggu hingga ujung waktuku
Dan berharap rasa ini kan abadi untuk selamanya
Dan ijinkan aku memeluk dirimu kali ini saja
Tuk ucapkan selamat tinggal untuk selamanya
Dan biarkan rasa ini bahagia untuk sekejap saja
πΆπΆπΆ
...---***---...