
...πππ...
Juna pergi dengan kesedihan dan kekesalannya karena tidak bisa masuk rangking lima puluh besar. Lalu ia pun tersadar bahwa tanpa sengaja ia sudah melampiaskan kekesalannya pada Naina.
"Juna bodoh! kenapa Lo malah marah-marah sama Naina? bego banget!" seru Juna yang baru sadar akan kesalahannya.
Juna kembali ke tempat nangkring nya dan teman-teman nya tadi. Teman-teman nya masih ada disana.
"Oy Jun! Lo balik lagi?"tanya Reza melirik ke arah Juna yang berlari lari ke arah teman-teman nya.
"Si Naina mana?" tanya Juna dengan wajah yang mengkhawatirkan.
"Dia udah cabut, dia marah tuh. Lagian kenapa sih Lo marah-marah gak jelas?" tanya Nando keheranan
"Iya ini salah gue" jawab Juna sambil cemberut lalu melangkah pergi dengan buru-buru untuk menyusul Naina.
Langkahnya tertahan oleh Damar yang menarik bajunya."Woy! mar, apa apaan Lo? gue mau nyusul si Angry cat!"
"Ini hadiah dari Naina, dia marah karena hadiahnya Lo rusakin " Damar menyerahkan kotak berbentuk persegi panjang itu kepada Juna.
"Gue yang ngerusakin?" tanya Juna sambil melihat isi kotak itu karena penasaran dengan isinya dan apa yang ia rusak. Bolpoin yang ada di dalamnya sudah terbelah menjadi dua, Juna semakin merasa bersalah pada Naina.
"Lo sih keterlaluan, wajar ya kalau si Naina marah beneran sama Lo. Cepet Lo kejar dia, minta maaf sana!" seru Bagas mengingatkan
Juna langsung berlari untuk menyusul Naina, ia ingin segera minta maaf kepada gadis itu. Berharap semoga Naina masih ada di lingkungan sekolah.
Nai maafin aku.
πππ
Di kantor Navin desain..
Alma baru saja menyelesaikan rapatnya dengan salah satu kliennya. Alma sedang membereskan beberapa dokumen di meja nya. Di atas meja itu terpampang foto Albry, Naina dan Kelvin dengan view di pantai.
"Albry sayang.. kamu baik-baik aja kan di surga sana? Albry mama kangen kamu nak.. Namun, Allah lebih sayang kamu nak." Alma menangis teringat anak bungsunya yang sudah tiada. Hati nya sakit melihat foto Albry yang tersenyum lebar dan ceria.
Niat Alma bekerja adalah agar ia tidak terlalu memikirkan Albry yang sudah tiada. Namun, sesekali Alma masih merasakan sakit dihatinya dan kerinduan pada anaknya itu.
Dreet... Drett...
πΆπΆ
Ponsel nya berdering di meja kerja nya. Alma segera mengangkat telpon nya." Halo Assalamualaikum"
"Waalaikum salam sayang, kamu udah makan siang belum?" tanya Bryan pada istrinya.
"Kurasa belum" jawab Alma ragu-ragu
"Loh? kenapa jawabnya gitu?" tanya Bryan cemas
"Aku rasa aku belum makan siang, aku baru saja beres rapat" jawab Alma
"Kita makan siang bareng ya" ajak Bryan pada istrinya
Ada apa sama Alma? suaranya terdengar lemas, apa dia menangis lagi? dia pasti ingat Albry. batin Bryan cemas mendengar suara istrinya yang lemas tak semangat. Seringkali di rumah, Bryan melihat istrinya menangis tengah malam di kamar Albry yang sekarang sudah kosong. Bryan cemas melihat kondisi istrinya itu.
"Kamu gak sibuk?" tanya Alma
"Kalau untuk kamu, aku gak mungkin sibuk dong" jawab Bryan sambil tersenyum
"Bry, aku serius!" seru Alma pada suaminya
"Ya ya, aku memang sibuk tapi aku ada waktu kok untuk makan siang" ucap Bryan
"Ya sudah, mau makan dimana?" tanya Alma
Alma tercengang mendengar sebuah suara yang tidak menyenangkan saat ia sedang menelpon suaminya. Suara seorang wanita terdengar disana.
"Sayang, aku datang!!" ucap Wanita itu genit
"Ngapain kamu kesini?!" tanya Bryan pada wanita cantik dan seksi itu. Bryan bahkan lupa kalau telpon nya masih tersambung dengan istrinya.
"Siapa itu Bryan?!" tanya Alma kesal
"Sa-sayang itu bukan siapa-siapa.."
"Dasar Cassanova sialan!" umpat Alma kesal pada suaminya.
Tut... Tut...tut..
"Sayang? Alma sayang??!!" teriak Bryan pada ponselnya itu
Telpon pun di putuskan secara sepihak oleh Alma. Bryan tampak panik karena teleponnya diputus begitu saja, terlebih lagi saat salah satu mantan pacarnya datang ke kantornya.
Dia pasti salah paham kan? Alma.. tidak!! batin Bryan panik
"Sayang, udah lama banget ya kita gak ketemu. Sayang, gimana kalau kita senang-senang.." ajak Milena sambil duduk di samping Bryan dengan tidak tahu malu
"Pergi kamu dari sini! mau mati ya kamu! pergi!! Andre, usir dia!!" teriak Bryan pada wanita yang pernah menjadi salah satu cinta satu malam nya itu.
"Ma-maaf pak, saya tidak sempat menghentikannya karena saya baru saja dari kamar mandi" Andre terlihat resah, menciut nyalinya melihat kemarahan Bryan.
Andre dan satpam disana mengusir Milena dari kantor itu. Bryan heran, kenapa masih saja ada wanita-wanita yang datang ke kantornya untuk mengajaknya bermain. Padahal Bryan sudah mempublikasikan hubungan nya dengan Alma yang dunia, menunjukkan cinta nya pasti istri dan anaknya. Tapi, masih saja ada wanita masa lalunya yang datang ke kantornya.
"Sial! Alma pasti marah! Andre ini semua gara gara kamu!" Bryan menyalahkan Andre yanh tidak menahan wanita itu masuk ke dalam kantornya.
"Kenapa jadi salah saya, Presdir?" tanya Andre keheranan
"Pokoknya ini semua salah kamu! aku akan pergi membujuk istriku, kamu urus jadwalku! atur ulang!" kata Bryan dengan suara yang berteriak-teriak.
Bryan pergi begitu saja meninggalkan Andre yang tampak kebingungan dengan semua jadwal padat Bryan.
"Pak! jangan pergi pak! aduh si bapak ini! pak! ada dua rapat lagi yang harus anda hadiri pak!" Andre terlihat kelimpungan karena harus menghubungi pihak pihak yang terkait dengan pembatalan jadwal presdir nya itu.
Beratnya hidup sebagai sekretaris dengan gaji tinggi. Kapan aku pensiun?
πππ
"Gawat, Alma pasti benar-benar marah" gumam Bryan ketakutan dengan istrinya yang marah.
Alma sendiri pergi dalam perjalanan menjemput Naina di sekolahnya. Karena pak Jeffry izin setengah hari untuk membawa istrinya ke rumah sakit.
Naina menunggu mama nya di halte bus dengan wajah yang cemberut. Ia masih marah pada Juna yang marah-marah tidak jelas padanya.
"Memangnya aku salah apa? aku cuma memberi nya selamat dan memberinya hadiah. Kenapa dia marah-marah dan membentak ku seperti itu? bikin kesal saja! Mama juga.. kenapa lama banget sih?" gerutu Naina yang sedang badmood itu
BRUM
CKITT
Juna dan motornya berhenti tepat di depan Naina yang sedang berdiri di halte bus. Juna langsung membuka helmnya dan turun dari motornya.
"Nai, Lo masih disini? syukurlah.. gue mau bicara sama Lo " Juna menatap Naina yang masih cemberut dengan wajah kesalnya.
Dia marah. Juna panik melihat wajah Naina yang dingin tidak seperti biasanya
"Bicara apa?" tanya Naina dingin
"Nai gue mau bilang kalau..."Juna ingin menjelaskan pada Naina alasan ia marah dan ingin minta maaf. Tapi..
Tit Tiittt!!!
Kata-kata Juna terpotong saat Alma membunyikan klakson mobilnya."Nai, ayo sayang!"
"Iya ma" jawab Naina sambil tersenyum melihat mamanya membuka kaca mobil
"Nai gue belum selesai bicara! Nai.." Juna melihat Naina masuk ke dalam mobil Alma di kursi depan. Wajahnya masih ditekuk, bibirnya masih mengerucut.
"Eh, kamu mau pulang sama Juna?" tanya Alma bingung melihat ke arah Juna dan Naina yang terlihat sedang bertengkar.
"Aku pulang sama Mama! ayo jalan ma!" seru Naina
Kenapa ya? apa Naina bertengkar sama Juna? kenapa para pria selalu menyebalkan?. Alma jadi teringat dengan suaminya, ia juga sedang ngambek pada suaminya.
"Juna, Tante duluan ya" kata Alma sambil tersenyum pada Juna dan bersiap menyalakan mobilnya.
"Iya Tante" jawab Juna dengan suara yang sedih.
Aku harus bawah sesuatu untuk minta maaf sama Naina. Dia pasti marah banget sampai dia mengabaikan aku seperti ini.
Alma dan Naina pun pergi menaiki mobil menuju pulang ke rumah. Kedua wanita itu sama sama sedang dalam keadaan bad mood.
"Kamu kenapa sama Juna, Nai?" tanya Alma yang langsung tau kalau anaknya itu sedang ada masalah dengan temannya.
"Kenapa semua pria sangat menyebalkan Ma? aku sebel sama Juna, sama kak Kelvin juga!"
"Kamu kesel kenapa sayang? sama kakak kamu juga??" tanya Alma penasaran apa yang sudah membuat wajah imut anak gadis nya itu menjadi muram.
"Iya ma.. kan gini ya.."
Naina pun curhat pada ibunya, menceritakan apa yang sudah terjadi di sekolah. Termasuk Kelvin yang meninggalkan nya sendirian dengan para gadis fans nya lalu pergi bersama pacarnya, Keira. Naina menumpahkan semya kekesalannya dengan curhat kepada mama nya.
Mereka berdua makan siang di sebuah restoran dan memakan banyak cemilan.
"Kalau menurut Mama sih, Juna itu lagi badmood gak masuk ranking lima puluh besar itu. Makanya dia marah-marah gak jelas" Alma memberi pendapat
"Tapi dia kan gak usah marah-marah sama aku juga Ma!" kata Naina yang tetap tidak terima kalau Juna membentaknya. Naina marah-marah sambil makan semua cemilan yang ada di meja itu.
"Ya udah udah, kamu jangan cemberut gitu dong. Nanti cantiknya ilang loh.." Alma tersenyum sambil melihat anaknya itu
"Mama juga dari tadi aku perhatiin mama cemberut sama kaya aku. Ayo mama, bilang ada apa?" tanya Naina sambil menatap tajam mama nya yang sedang menyeruput minuman lewat sedotan.
"Mama gak papa kok" jawab Alma santai
"Mama jangan bohong, aku tau loh ma?" goda Naina pada Alma yang cemberut
"Mama gak papa Nai" jawab Alma malas
"Mama berantem sama papa ya?" tanya Naina yakin
"Ya, mama emang gak bisa bohong sama kamu. Mama memang ada sedikit masalah sama papa kamu, tapi gak papa kok"' Alma tersenyum santai
Bryan, apa kamu masih suka membawa wanita lain ke kantor mu tanpa sepengetahuan ku? Apa kamu kembali ke tabiat lamamu?. Batin Alma resah
"Cowok memang nyebelin ya ma!" gerutu Naina sambil menghabiskan makanan di meja itu dengan lahap
Walau dalam keadaan marah sekalipun, Naina tetap mengabiskan makanannya dengan lahap. Malah nafsu makannya lebih besar saat marah.
Naina mengajak ibunya nonton film ke bioskop sebelum pulang ke rumah, mereka juga pergi karaokean di mall. Setelah asyik bersenang-senang dan mencurahkan kegalauan mereka, sore itu ibu dan anak itu berada di dalam mobil menuju perjalanan pulang. Mereka tidak mempedulikan telpon yang masuk ke ponsel mereka dan mematikannya agar tidak diganggu.
"Huhh..rasanya lega sekali kan ma? kita bisa mencurahkan semua kekesalan kita dengan menyanyi!!" Naina merasa lega karena kekesalannya tercurahkan dengan jalan-jalan bersama mama nya.
"Kamu bukan menyanyi Nai tapi berteriak" Alma tersenyum mengingat saat ditempat karaoke tadi, Naina berteriak-teriak.
Hatiku jadi lega, aku harus jalan-jalan sekali-kali berduaan dengan Naina lagi nanti.
"Hehe.. iya ma" jawab Naina sambil tersenyum ceria pada mamanya.
Syukurlah Naina( mama) udah bisa senyum lagi. batin Naina dan Alma merasa lega setelah melihat satu sama lain.
Mereka pun sampai di depan rumah, Alma segera memarkirkan mobil nya ke dalam garasi. Saat Alma dan Naina keluar dari mobil ada dua pria yang sedang menunggu kedatangan mereka dengan sebuket bunga dan setangkai bunga di tangan mereka.
Kedua pria itu menatap Naina dan Alma dengan wajah yang penuh rasa bersalah.
...---***---...
Mohon maaf readers! up nya agak telatπ€π€π₯° lagi stuck dan agak badmood nih.
Kasih semangat dong author nya, kasih bunga atau vote gitu? komen dan like nya jangan lupa mampir juga yaπ₯°π₯°π€