Stuck In Love CEO

Stuck In Love CEO
Bab 69. Isi daya



Pov Junai


...Jujur saja ku tak mampu...


...Hilangkan wajahmu di hatiku...


...Meski malam mengganggu...


...Hilangkan senyummu di mataku...


...Kusadari aku cinta padamu...


...Meski ku bukan yang pertama di hatimu...


...Tapi cintaku terbaik untukmu...


...Meski ku bukan bintang di langit...


...Tapi cintaku yang terbaik...


🍀🍀🍀


.


Pagi itu menjadi pagi yang sangat cerah untuk pasangan Juna dan Naina. Mereka sedang dimabuk asmara, ciuman manis yang terjadi tadi malam telah menjelaskan semua perasaan mereka. Dan membuat Naina menyadari perasaan nya pada Juna.


Tingkah Naina yang malu-malu, memalingkan mata setiap Juna menatapnya, menjadi tanda bahwa Juna bukan temannya lagi tapi lebih dari itu.


Beberapa menit kemudian mereka sampai di depan galeri Albry, galeri lukis milik Naina. Keduanya sama-sama turun dari mobil.


"Nai.." Juna memberikan setangkai bunga mawar merah pada Naina, Naina mengambil bunga mawar merah yang menandakan sebuah hubungan cinta itu dengan hati yang berdebar.


"Kapan kamu membeli ini? aku tidak lihat bunga mawar nya ada di dalam mobil" Naina bingung, karena sebelumnya ia tidak melihat bunga itu ada di dalam mobil Juna.


"Aku kan bisa sulap, kamu gak tau ya?" Juna tersenyum lebar dan memulai candaan nya seperti biasa.


"Kamu masih bisa bercanda ya" Naina tersenyum manis


Semalam itu benar-benar nyata, Juna mencium bibir dan keningku.


Juna menghela napas lega, melihat senyuman manis akhirnya terukir di bibir cantik Naina "Akhirnya kamu tersenyum juga, daritadi kamu diam saja.. hari ku akan menjadi indah jika sudah melihat senyuman mu"


"Kamu gombal deh, Jun" Naina tersenyum malu, matanya mengarah pada bunga mawar yang dipegangnya itu.


"Kenapa setiap aku mengatakan isi hatiku selalu saja kamu menganggapnya gombalan? aku serius Ninaina" Juna menatap wanita di depannya itu dengan penuh cinta. "Nai, sini lihat aku! tatap mataku!" titah Juna pada Naina yang terus memalingkan mata darinya.


Naina gemesin banget. Juna tersenyum melihat Naina yang malu-malu itu, tidak seperti biasanya selalu berdebat dengannya. Juna jadi ingat saat mereka berada di zaman SMA dulu.


"Juna, kamu apa-apaan sih. Udah ah, berangkat kerja sana! kamu bisa terlambat" ucap nya sambil melangkahkan kaki masuk ke dalam gedung galerinya.


GREP


Juna memegang tangan Naina, seraya menahannya. Naina masih malu-malu, ia tak mau menunjukkan wajahnya yang memerah di depan Juna.


"Ada apa Juna?"


"Aku mau melihat wajah mu dulu Nai, biar aku semakin semangat kerja"


"Kenapa harus melihat wajahku dulu? memangnya aku ini pil penambah semangat untukmu?" Naina akhirnya melihat ke arah Juna dengan mata polos dan wajah yang yang berseri-seri.


Gila! benar-benar gila, aku ingin menikah sekarang juga. Setiap hari, setiap bangun tidur, jika melihat wajah Naina, aku pasti akan sangat bahagia.


"Iya, kamu penambah semangat ku. Jangan nunduk terus gitu, aku mau lihat wajah kamu" Juna menaikkan dagu Naina dengan tangannya, Juna berani membelai pipi Naina.


Tubuh Naina gemetar mendapat sentuhan yang tidak biasa dari Juna, bukan gemetar karena takut. Tapi gemetar karena berdebar hatinya.


"Juna.." Naina semakin malu dibuatnya.


"Aku gak perlu bertanya lagi kan tentang pernikahan. Aku anggap kamu setuju denganku, benar??" tanya Juna dengan suara nya yang serius.


Mulut Naina tertutup rapat, namun bibirnya tersenyum dan kepalanya mengangguk memberikan jawaban untuk Juna.


Kenapa Juna sangat tampan ketika dia sedang serius begini? kenapa juga aku malu karena Juna? dulu aku tidak seperti ini padanya. Suara Juna, benar-benar membuat aku berdebar. Ternyata aku sesuka ini pada nya.


Terlihat senyuman bahagia di bibir Juna, kemudian ia berjalan mendekati Naina. "Juna, kamu mau apa?"


Apa dia mau mencium ku lagi?. Naina sudah memikirkan yang tidak-tidak saat Juna berjalan mendekati nya, dan semakin mendekat.


"Sebentar saja Nai, maaf.. aku tidak tahan" pria itu memohon maaf untuk apa yang akan ia lakukan pada Naina.


"Tidak tahan? Juna, kamu jangan macam-macam ya!" Naina memicingkan kedua bola matanya.


Juna gak akan ngapa-ngapain aku di tempat umum kan?. batinnya waspada


Kedua tangan kekar Juna mendekap Naina dengan lembut dan erat. Naina terkejut dengan pelukan yang tiba-tiba itu.


"Angry cat, peluk aku" pintanya manja


Ya Tuhan... aku sangat bahagia. Jangan biarkan kebahagiaan ini berlalu.. wanita termanis, makhluk imut dan tercantik ciptaan-MU ini sudah menerima perasaan ku. Perasaan ku yang terpendam sejak lama dan tidak pudar oleh waktu. Cinta pertamaku.. Ninaina.


"A-apa? Juna lepasin aku, nanti ada yang lihat? kenapa kamu selalu melakukan nya di tempat umum?!" Naina celingukan kesana kemari, ia takut kalau ada yang melihatnya berpelukan dengan Juna.


"Jadi, kamu mau melakukan nya kalau ditempat yang tertutup?" goda Juna pada Naina


"Junjun! dasar cowok preman nyebelin" gerutu Naina sebal pada Pria yang memeluknya semakin erat itu, padahal hatinya sangat bahagia dan melayang seolah terbang.


"Dasar cewek gila! peluk aku dulu, baru aku akan melepaskan mu" ancam Juna setengah menggoda Naina.


"Cowok preman, kamu lagi mengancam ku?!" tanya Naina kesal


"Totet!! salah! aku sedang menggoda mu" Di saat romantis seperti itu, masih sempat-sempatnya Juna membuat candaan. Naina tertawa mendengar ucapan Juna itu.


"PFut..haha"


"Cepat.. balas pelukanku.. kamu kamu tidak mau balas, aku akan mencium kamu"


"Juna!!" seru Naina sambil menahan tawa dengan tingkah Juna yang tidak banyak berubah dari zaman SMA.


"Aku hitung ya.. satu.. dua..ti..


Saat hitungan ketiga, dengan cepat Naina membalas pelukan Juna. Ia mendekap Juna dengan lembut penuh perasaan.


GREP


Juna tersenyum penuh kemenangan mendapatkan pelukan dari gadis yang sangat ia cintai itu. "Nah gini dong.."


"Kamu nakal Jun" Naina menyembunyikan wajah malu nya di dalam dekapan hangat Juna.


Juna, kamu buat hati aku melayang-layang.


"Hehe biarin, yang penting aku sayang kamu" Juna nyengir dan memeluk Naina semakin erat.


"Udah, lepasin aku! kamu bisa telat ke kantor, Jun.." Naina baru sadar ternyata jam ditangannya sudah menunjukkan pukul setengah 9 pagi.


"Telat sekali kali gak papa kan" jawab Juna santai


Naina langsung mendorong Juna pelan-pelan, gadis itu kembali mengomel pada Juna. Mengatakan bahwa pekerjaan itu sangat penting untuk masa depan, jadi Juna tidak boleh menyamakan pekerjaan seperti sekolah yang bisa bolos sesuka hatinya.


"Oke oke, dasar cerewet! aku akan pergi bekerja, aku perlu mencari nafkah untuk istri dan anakku nanti. Siap istriku, aku akan berangkat!" Juna memberi hormat pada Naina


"Hem.. kamu tuh ya" Naina malu sendiri melihat Juna yang seperti itu, ia menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum manis.


Juna memeluk Naina sekali lagi. "Isi daya selesai! hari ini aku pasti akan semangat!" Juna mengepalkan tangannya dengan semangat.


"Iya, semangat ya. Kamu tidak boleh terlambat atau bolos bekerja" Naina mengingatkan Juna.


Ya Tuhan..aku tidak ingin berpisah dengannya.. haah.. Juna menghela napas, sebenarnya ia tak mau berpisah dengan Naina barang sedetikpun.


"Aku pasti semangat! jangan lupa balas pesan dan angkat telpon dariku ya" Juna mengingatkan


"Iya.. iya cowok preman"


"Huh, angry cat!"


Juna masuk ke dalam mobilnya dan pergi ke kantornya walau ia sudah terlambat datang. Naina melihat kepergian Juna sambil senyum-senyum sendiri, ia mencium bunga mawar pemberian Juna untuk pertama kalinya.


Apa aku benar-benar akan menikah dengan Juna? aku mencintai Juna dan ciuman pertama ku adalah dengannya. Jadi, aku akan menikah dengannya kan? lalu bagaimana dengan hubungan kakak dan Keira? apa mereka sudah ketahap ini juga?


****


Di kantor A-Tech..


Kelvin berangkat kerja tanpa menjemput Keira, tampaknya pria itu masih marah dengan Keira karena selalu membuat perasaan nya gamang. Ketidakjelasan Keira membuat Kelvin terluka.


Saat sedang lewat di koridor kantor, Keira melihat Kelvin sedang berjalan bersampingan bersama Sherly sambil tersenyum-senyum tidak seperti biasanya.


Kelvin? kenapa dia bersama Sherly? apa dia tidak mau menjemput ku karena pergi bersama Sherly? batin Keira yang kesal melihat Sherly dan Kelvin jalan bersama keluar dari mobil.


Keira menatap tajam ke arah Kelvin, Kelvin sendiri melihat ke arah Keira. Namun tatapan nya terlihat dingin pada Keira.


"Ayo Bu Sherly, kita bicarakan di kantor ku saja" ajak Kelvin pada Sherly, namun tatapan nya mengarah pada Keira dan memperhatikan raut wajah pacarnya itu.


Awas saja kamu Juna, kalau cara ini tidak berhasil. Aku akan membunuh mu!


"Iya ayo Kelvin" jawab Sherly sambil tersenyum genit pada Kelvin.


Kelvin dan Sherly naik ke dalam lift bersama Farel di belakang mereka. Sementara Keira menatap pacarnya dan wanita lain dengan wajah yang sedih bercampur kesal.


...---***---...