
Setelah selesai berolahraga, Naina kembali ke hotel karena hari sudah mulai gelap. Juna, Caroline dan Ardi terlihat di depan hotel itu, mereka terlihat seperti sedang mencari-cari sesuatu.
Mereka lagi cari apa? kenapa celingukan begitu ya?. Naina bingung melihat kedua orang yang terlihat rusuh itu.
"Nai!" Juna memeluk Naina dengan perasaan lega, wajah cemas nya masih terlihat jelas.
Naina mendorong tubuh Juna pelan-pelan menjauh darinya, gadis itu masih marah dan kesal pada Juna. "Apaan sih?" tanya nya sinis
"Aku pikir kamu pergi ke Jakarta sendirian! kamu kemana aja sih? kamu suka ya buat aku khawatir kaya gini? kamu gak apa-apa Nai?" tanya Juna sambil menatap Naina dengan khawatir.
"Aku cuma pergi olahraga aja sebentar, kamu rusuh banget sih" jawab Naina malas dengan tatapan sinis nya.
Naina berjalan melewati Juna, tidak peduli wajah pria itu mau seperti apa di depannya. Naina mengacuhkannya. Caroline menghampiri Naina dan terlihat cemas juga pada bosnya yang pergi tanpa bilang-bilang lebih dulu. Juna melihat nya pergi, dengan sedih.
"Bu Naina! saya, pak Ardi dan pak Presdir sangat mencemaskan ibu. Ibu pergi tanpa bicara dan di telpon juga tidak diangkat-angkat" oceh Caroline dengan cemasnya
"Maafkan aku ya, aku gak bawa hp" jawab Naina memohon maaf pada Caroline
"Pak Presdir sampai menyuruh orang untuk mencari Bu Naina ke bandara. Bahkan dia juga sudah mengusir wanita itu dari pulau ini" Caroline memberitahu tentang Citra yang sudah dibawa pergi jauh dari sana.
"Wanita? siapa?" tanya Naina sambil melangkahkan kaki nya masuk ke dalam lift.
"Wanita gila yang mencium dan memelukku pak presdir di bandara. Dia langsung menyingkirkan wanita itu jauh-jauh, seperti nya memang pak Presdir sudah tidak ada hubungan apapun dengan wanita itu, Bu..." Caroline menjelaskan situasi nya dengan jujur pada Naina tanpa ada yang ditambahkan ke dalam nya.
"Oh gitu ya? tapi sayang sekali, aku sudah terlanjur kesal" ucap Naina sambil menekan tombol lift.
Namun saat lift nya akan tertutup, Juna menahan pintu lift dan menari tubuh Naina keluar dari sana. Ardi masuk ke dalam lift dan naik ke lantai atas bersama Carol.
"Ardi! kamu dibebaskan tugaskan hari ini!" seru Juna pada Ardi yang berada di dalam lift
"Terimakasih pak" Ardi tersenyum sebelum pintu lift itu tertutup rapat.
Lift itu pun melaju ke lantai atas, Naina dan Juna masih ada di lantai bawah.
"Apa apaan sih kamu?!" Naina menepis tangan Juna dengan kesal
"Nai, aku benar-benar tidak nyaman dengan keadaan seperti ini. Kita bicara dulu yuk sebentar, please.." Juna memohon dan mengatupkan kedua tangannya di depan Naina. Hati Juna tidak nyaman melihat Naina kesal padanya. Dia merasa bersalah karena sudah bicara sembarangan pada Naina.
Pokoknya hari ini aku harus menyelesaikan semuanya.
Dia pasti akan terus seperti ini kalau aku mengabaikan nya. Naina menghela napas melihat Juna
"Oke, ayo kita bicara" Naina setuju
"Ya sudah kalau gitu ayo!" seru Juna semangat mendengar kata setuju dari Naina
"Tapi nanti malam aja ya, aku mau istirahat.. aku lelah" ucap Naina sambil tersenyum pahit, dia merasa kepalanya sangat pusing setelah berolah dan banyak mimisan tadi.
"Nai, kamu sakit? muka kamu pucat banget Nai. Kita periksa ke dokter yuk? atau aku panggil dokter kesini ya?" ucap Juna sembari membelai pipi Naina dengan lembut, dia melihat wajah Naina yang pucat.
"Gak usah Jun, aku cuma butuh istirahat aja. Aku mau ke kamarku dulu. Kita ketemu nanti malam ya" Naina tersenyum tipis, gadis itu meninggalkan Juna lebih dulu.
"Nai, aku antar ke kamar ya"
"Gak perlu Jun.. auchh..."Naina memegang kepalanya yang pusing
"Aku bantu kamu jalan sampai ke kamar"ucap Juna sambil memapah gadis itu.
Naina kenapa ya akhir-akhir dia sering sakit? apa dia benaran gak papa?
"Gak usah" ucap Naina menolak
Juna menekan tombol lift, hanya mereka berdua yang ada di dalam lift itu
"Juna.. gak usah digendong" ucap gadis itu dengan bibir cemberutnya.
"Udah diem aja, jangan gerak-gerak. Nanti kamu jatuh, kamu kan berat"'
"Kalau berat, yasudah turunin aja aku!" Naina menatap kesal pada Juna.
"Dasar ambekan! gitu aja ngambek" gumam Juna
"Apa? kamu mau bilang kalau aku sensitif lagi?" tanya Naina kesal
"Udah ah udah, jangan bahas itu lagi. Aku antar kamu ke kamar mu dulu" ucap Juna sambil melihat cemas pada Naina.
"Kamu jangan kepedean ya! aku mau digendong sama kamu bukan karena aku mau tapi karena terpaksa. Tubuhku lemas dan lelah, jadi kamu cuma jadi tukang kuli panggul doang!" ucap nya dengan bibir yang mengerucut
"Iya, aku rela kok jadi tukang kuli panggul seumur hidup kalau itu untuk kamu" Juna tersenyum pada Naina.
"Jangan senyum kaya gitu! aku masih marah!"bentaknya pada Juna marah
"Oke.. oke, aku tau kamu masih marah" Juna menyerah, dengan senang hati dia menerima kemarahan Naina yang memang sudah seharusnya dia dapatkan.
Sesampainya di kamar Naina. Gadis itu berbaring di ranjang nya dengan napas yang terengah-engah karena lelah. Padahal Naina sama sekali tidak berjalan dari lift sampai ke kamarnya, karena dia digendong oleh Juna, tapi Naina merasa lelah.
"Nai! kok namun kamu berdarah? kamu kenapa?" tanya Juna yang baru ngeh melihat baju olahraga yang dipakai Naina berlumuran darah.
"Gak papa Jun, tadi aku cuma mimisan"
"Mimisan sebanyak ini? gak bisa, aku akan panggil dokter" ucap Juna panik sambil memegang ponselnya, dia berniat menelpon dokter pribadi keluarga nya yang juga ikut dalam perjalanan bisnis itu. "Halo.."
"Jun, gak usah. Aku gak apa-apa, nanti aku akan periksa ke dokter setelah pameran selesai" ucap Naina sambil mengambil ponsel Juna dan mematikan sambungan telpon nya.
"Pameran nya kita batalkan saja, aku gak mau kamu datang ke pameran dalam kondisi seperti ini"
"Jun, jangan seenaknya gitu dong. Aku sudah susah payah menyiapkan pameran ini. Masa di batalkan begitu saja? pamerannya kan cuman sehari, udah deh kamu jangan berlebihan kaya gitu!" Naina emosi, dia menaikkan suaranya. Tambah lagi dia masih kesal pada Juna, perihal wanita yang bernama Citra.
Jun sabar Jun, kamu yang sudah membuat emosinya seperti ini. Lebih baik aku turutin dia. Juna mengerti, dia tidak berkomentar apa-apa lagi.
"Nanti malam kita bicara, kamu istirahat saja Nai. Kalau ada apa-apa kamu bisa telpon aku, atau kamu bisa datang ke kamarku yang ada di sebelah. Ah, kalau kamu mau.. aku bisa meruntuhkan tembok penghalang kamar kita supaya kamu bisa melihatku terus" jelas Juna sedikit bercanda untuk mencairkan suasana diantara mereka berdua.
"Kamu! masih sempat-sempatnya kamu narsis disaat seperti ini! dasar cowok preman!" Naina melempar bantal, tepat ke wajah Juna.
"Walaupun aku seperti ini, tapi kamu cinta kan?" tanya Juna dengan senyuman menggoda nya.
"Jun-jun si cowok preman gila! keluar sekarang!!" teriak Naina kesal
"Oke oke, ibu negara jangan marah ya. Aku keluar. Kamu istirahat ya" Juna melangkah pergi, namun dia kembali berbalik dan mendaratkan ciuman pada kening Naina.
CUP
"Ka-kamu!!" teriak Naina marah lagi
"Aku pergi!" Juna langsung berlari keluar dari kamar itu. Dia meninggalkan Naina yang berbaring di ranjangnya.
"Ya Allah, aku pasti baik-baik saja kan?" gumam Naina pada dirinya sendiri.
Juna sendiri masih belum pergi, dia bersandar di pintu kamar Naina. Juna melihat ke arah kamar Naina dengan mata yang cemas. Apa benaran kamu hanya kelelahan saja? kenapa hatiku tidak tenang?
...---***---...