
...***...
Seakan tau hal buruk akan terjadi, Bryan yang sedang rapat di kantornya tiba-tiba terlihat tidak fokus. Setelah selesai rapat, Bryan ingin segera menghubungi Alma dan anak-anak nya.
"Pak, apa bapak tidak enak badan?" tangan Andre, sekretaris yang sudah setia menemani nya selama bertahun-tahun itu.
"Aku baik-baik saja Andre" jawab Bryan
Perasaan aneh apa ini? dari tadi seperti ada yang mengganjal hatiku.
Andre memberikan sebotol air minum pada Presdir nya yang terlihat resah itu. Bryan meneguk air di dalam botol itu.
"Bapak terlihat tidak baik, dan saat rapat tadi bapak tidak fokus" kata Andre cemas
"Aku tidak tau apa yang terjadi, aku yakin kalau tubuhku baik-baik saja, tapi perasaan ku sangat tidak enak. " kata Bryan resah
Bryan memeriksa ponselnya yang ada di saku jas nya, ia tidak mendapatkan pesan atau telpon dari anak-anak maupun istri nya.
"Alma dan Albry pasti sudah pulang kan? Naina dan Kelvin juga jam segini pasti sudah ada di rumah. Ya.. mereka baik-baik saja, tapi.." gumam Bryan resah.
Bryan memutuskan untuk menelpon Alma, tapi tidak ada jawaban. Bryan pun menelpon anak sulungnya.
"Halo pah"
"Vin, kamu udah di rumah?" tanya Bryan
"Aku masih di sekolah pa, bentar lagi pulang" jawab Kelvin sambil melihat jam ditangannya yang menunjukkan pukul 14.30 siang. Kelvin sedang berada di perpustakaan bersama Theo.
"Oh ya deh kalau gitu"
"Ada apa pah?"
Kenapa suara Papa terdengar tidak baik?
"Kalau kamu sudah pulang dan udah ketemu sama Mama kamu dan Albry, bilang pada Mama untuk menelpon papa ya" kata Bryan
"Iya Pa " jawab Kelvin
Beberapa saat kemudian setelah panggilan itu di putus, pak Jeffry menelpon Bryan. "Pak Jeffry? ada apa?"
Entah apa yang didengar oleh Bryan dari pak Jeffry, pria itu langsung syok, tercengang, sampai menjatuhkan ponselnya ke lantai. Andre juga cemas melihatnya.
Albry..
"Ada apa pak?" tanya Andre sambil mengambilkan ponsel Bryan yang terjatuh
"Andre, batalkan semua jadwal ku hari ini!" ujar Bryan sambil menenangkan dirinya yang syok.
"Baik pak"
"Kamu, pergilah ke kantor polisi pusat sekarang! orang yang sudah menabrak anakku harus menanggung akibatnya!" seru Bryan yang wajahnya kesal bercampur sedih.
"Ba-baik pak" jawab Andre patuh
Siapa yang tertabrak? apa si kembar atau tuan muda kecil Albry?
Bryan menyetir sendiri pergi menuju ke rumah sakit. Wajahnya terlihat resah, dalam hati ia terus berdoa agar Alma dan Albry baik-baik saja dan tidak ada hal yang buruk terjadi pada mereka berdua.
...****...
Sementara itu Naina dan teman-teman nya baru selesai melakukan tugas kelompok bersama. Naina mengantarkan teman-teman nya sampai ke depan rumah.
"Damar, tolong anterin Keira sampai ke rumahnya ya" kata Naina pada Damar
"Tenang aja" kata Damar yang sudah menaiki motornya
"Padahal gak usah, aku bisa pulang naik angkot atau bus." kata Keira
"Udah diantar sama Damar aja, Kei.. keselamatan terjamin." Naina tersenyum ceria
"Santai aja Kei, kebetulan gue juga lagi free." kata Damar sambil memakaikan Keira helm.
"Ya udah thanks deg sebelumnya" Keira tersenyum dan naik ke motor Damar, jok bagian belakang nya.
Keira cantik juga ya kalau senyum. batin Damar terpana
Damar dan Keira pergi lebih dulu dari rumah Naina, sementara Juna masih mencari-cari helm nya yang hilang di rumah Naina. Naina juga bantu mencarinya, entah bagaimana ceritanya dan bagaimana caranya, helm itu ada di dekat kolam ikat yang ada di halaman belakang rumah Naina.
"Haha, kok bisa ada disini ya?" Naina tertawa
"Ini pasti si Damar yang ngerjain gue. Ya udah gue cabut ya" ucap Juna sambil memakai helm nya.
"Oke deh, aku antar sampai depan ya" kata Naina menawarkan diri
"Boleh" jawab Juna sambil tersenyum, mereka jalan berdua menuju ke luar rumah.
"Nah gitu dong senyum, kan kelihatan nya bagus"
"Memangnya gue gak pernah senyum?"
"Kayanya senyuman kamu langka, makanya jarang kamu tunjukkin"
"Langka? senyum ya senyum aja" kata Juna jaim
Gila! kenapa aku berdebar-debar gini?
"Senyum kamu memiliki dua lesung pipi, itu kan langka." Naina tersenyum
Senyum si Naina cantik banget. Astaghfirullah! inget Jun, wanita itu racun dunia. Gila gila gila!. Juna merutuki dirinya di dalam hati, tampaknya ia sudah terpesona oleh Naina.
"Jangan bilang gitu ah, udah gue mau cabut" kata Juna sambil naik ke motornya.
"Oke, hati-hati ya cowok preman" Naina tertawa kecil
"Hah Lo mulai lagi! cewek gila!" Juna tersenyum tipis, terlihat satu lesung pipinya yang menawan.
"Oh ya, jaket kamu nanti aku kembalikan nya ya kalau udah dicuci"
Ternyata Juna orangnya baik juga ya walaupun penampilan nya kaya preman.
"Santai aja " Juna bersiap menstater motornya, ia masih melihat ke arah Naina yang berdiri tepat disampingnya.
" Besok kamu ke sekolah kan? awas ya jangan bolos ,besok kan ada persentasi"
"Oke, gue gak akan bolos" Juna tersenyum ramah pada wanita yang selalu disebut nya sebagai gadis gila itu.
Mulai sekarang kayanya aku bakal rajin ke sekolah.
Dreet... drett...
Ponsel Naina berbunyi di saku celananya, ia segera mengangkat telponnya. " Ya, pak Jeffry?....... Rumah sakit?!!!"
Entah apa yang dibicarakan pak Jeffry pada Naina melalui telpon, beberapa detik kemudian, Naina jatuh terduduk, ia terlihat syok.
BRUK
Juna yang melihat Naina seperti itu langsung turun dari motornya, dan menghampiri Naina dengan cemas.
"Hey Lo kenapa? cewek gila!" tanya Juna cemas
"Antar aku.. Jun, antar aku please.... hiks"
Naina meraih tangan Juna dan memegangnya dengan erat, tanpa sadar air matanya mengalir. Juna tak paham ada apa dengan Naina yang tiba-tiba syok dan menangis setelah menerima panggilan telpon dari seseorang.
"Oke, Lo tenang dulu.. jangan nangis, gue antar Lo" tangan Juna mengusap air mata di pipi Naina
Juna membantu Naina berdiri, lalu Juna memakaikan helm ke kepala Naina. Dengan cepat Naina dan Juna naik ke motor, melaju dengan kecepatan tinggi. Naina masih menangis, ia memeluk Juna untuk berpegangan padanya.
Juna cemas melihat Naina yang menangisi, ia baru pertama kali melihat Naina yang ceria sedang menangis di belakang nya.
"Cepetan Jun! ke rumah sakit kota.. huuu..."
Albry, Mama semoga kalian gak kenapa-napa. Please..
GREP
Air mata nya sampai basah mengenai baju seragam ku, sebenarnya siapa yang ada di rumah sakit. Apa keluarga nya?. Melihat Naina yang menangis, perasaan Juna juga jadi tidak tenang.
Beberapa menit kemudian, Juna berhasil mengantarkan Naina dengan selamat sampai ke depan rumah sakit. Dengan buru-buru Naina melepas helmnya, Naina panik dan langsung pergi begitu saja meninggalkan Juna di parkiran.
Juna ingin menyusul Naina, tapi sebuah telpon dari seseorang membuatnya harus pergi dari sana secepat nya. Dengan terpaksa Juna meninggalkan Naina di rumah sakit.
Hosh..
Hosh..
Hosh..
Naina berlari menuju ruang UGD, napasnya mulai terengah-engah. Tak peduli akan lelah, gadis itu masih menangis, di sepanjang perjalanan ia berdoa agar ibu dan adiknya baik-baik saja.
Kemudian di depan ruang UGD, ia melihat ibunya dengan baju dan tangan yang berlumuran darah sedang menangis histeris berada di pelukan Bryan, ayahnya.
"Enggak!! Albry mau pulang sama aku.. Bry, Albry gak akan kenapa-napa kan? iya kan?" tanya Alma sambil berurai air mata dan memeluk suaminya.
"Iya sayang, Albry gak akan kenapa-napa. Kamu tenang ya.."
"Pa, Ma.." ucap Naina pada ayah dan ibunya. " Mamah kenapa baju Mama banyak darahnya, mama gak papa kan?" tanya Naina cemas
"Ini bukan darah Mama kamu, ini darahnya Albry" jawab Bryan yang berusaha tenang, ia memeluk Alma yang terlihat histeris
Naina terperangah mendengar jawaban Papa nya itu, darah sebanyak itu yang ada di baju Alma adalah darah adik bungsunya? sebenarnya kecelakaan nya separah apa? dan bagaimana kronologis nya? Naina sangat penasaran.
Tapi, saat itu bukanlah saat yang tepat untuk menanyakan bagaimana kejadian ini bisa terjadi. Tapi ini adalah saat dimana semua orang berdoa untuk keselamatan Albry yang sedang berjuang di ruang UGD bersama para Dokter yang merawatnya.
Beberapa menit kemudian, Kelvin dan pak Jeffry juga sampai di rumah sakit. Kelvin masih memakai seragam nya, dari sekolahnya ia langsung ke rumah sakit.
"Kakak..hiks" Naina yang masih menangis, lalu memeluk kakaknya.
"Dimana Albry, Nai?" tanya Kelvin dengan wajah cemas nya.
"Albry masih di dalam kak." jawab Naina sambil memeluk kakaknya dengan sedih.
Alma masih dalam keadaan syok, ia tidak bisa ditanya oleh siapapun juga. Pikirannya saat itu hanya berfokus pada Albry yang masih berada di ruang UGD. Hati siapa yang tidak akan hancur, melihat anaknya celaka tepat di depan mata!
CEKRET
Ian dan satu suster keluar dari ruangan UGD dengan wajah yang kurang menyenangkan. Dahi nya berkerut, mereka berdua seperti sedang bingung. Bingung bagaimana merangkai kata untuk menyampaikan berita kurang menyenangkan itu.
Ian sebagai sahabat dekat Bryan, merasa berat hatinya untuk mengatakan berita tentang Albry kepada Bryan dan keluarga nya yang sudah menanti di depan ruangan UGD. Tapi ini adalah tugasnya, ia harus mengatakan hal baik dan hal yang sulit pada keluarga pasien.
"Dokter Ian, bagaimana keadaan Albry? dia baik-baik saja kan?" Alma menyeka air matanya, ia langsung memburu Ian dengan pertanyaan, juga secercah harapan bahwa anaknya akan baik-baik saja.
"Al tenang sayang" Bryan cemas memegangi tangan istrinya yang terasa sangat dingin dan gemetaran.
Ian menarik napas dalam-dalam, ia menangis lalu mengatakan dengan berat hati pada Bryan dan keluarga nya, bahwa Albry sudah tiada sebelum dibawa ke rumah sakit. Ian, para suster dan dokter lainnya tidak bisa menyelamatkan nyawa Albry.
Bagian tubuh Albry banyak yang hancur, terutama bagian kepala dan kaki nya yang sudah remuk terlindas mobil, kehilangan darah juga menjadi faktor utamanya. Meskipun Albry selamat, dia akan mengalami cacat seumur hidup. Membayangkannya saja sudah ngeri, Ian harus menjelaskan secara profesional tentang keadaan bocah berusia 8 tahun yang malang itu.
"Maafkan aku Bryan, Alma... Allah sangat menyayangi anak kalian .." kata Ian diakhir kalimat nya, ia menangis.
DEG!
Sontak saja Bryan, Alma, dan si kembar langsung menangis. Mereka dengan kompak berlari ke dalam ruang UGD, ingin segera melihat Albry.
Tidak ada yang tidak menangis di ruangan itu, semuanya menangisi kepergian Albry yang begitu mengenaskan. Alma dan Naina yang menangis sampai meraung-raung, mereka tak kuasa menahan emosi mereka saat melihat jenazah bocah yang berusia 8 tahun itu hancur!
"TIDAK!! ALBRY!! Albry ayo kita pulang .. Albry.. ayo kita makan kue cucur, ayo sayang... bangun.. !!! " teriak Alma sambil memeluk jasad anaknya yang hancur itu
Seandainya aku.. seandainya aku tidak terlambat satu detik saja. Padahal tinggal sedikit lagi, aku bisa menyelamatkan nya. Tapi.. aku benar-benar.. ini semua salahku..
"ALBRY!! hiks..ayo pulang sama kakak.. katanya kamu mau main sama kakak pulang sekolah? Albry.. kamu dengar kakak.." Naina menangis dan memegangi jasad adiknya dengan erat.
Hati mereka sangat hancur melihat keadaan Albry yang seperti itu. Tangisan Alma, Kelvin, Naina dan Bryan memenuhi ruangan.
Beberapa saat kemudian, Alma jatuh pingsan dengan keadaan terduduk. Ia tak kuat lagi menerima kenyataan yang ada di depannya. Anak yang ia kandung selama 7 bulan lamanya, dan ia besarkan dengan penuh kasih sayang telah tiada.
Bryan memegang Alma jatuh pingsan, ia memeluk istrinya itu hatinya juga hancur melihat anak bungsunya terbaring tak bernyawa. Bryan bercucuran air mata dengan duka yang mendadak itu.
Aku tidak akan membiarkan si penabrak itu melarikan diri, dia harus membayar nyawa anakku. HARUS!. Sekilas mata Bryan yang merah karena menangis, menunjukkan kemarahan.
Kelvin juga menangis sedih, ia tak tega melihat jenazah adiknya yang sudah setengah hancur itu, betapa kejam nya si penabrak ini pada anak berusia 8 tahun. Kelvin tak menyangka bahwa kata-kata
" Sampai jumpa nanti di rumah " akan menjadi kata-kata terakhir adiknya padanya..Kelvin memegang erat gantungan mobil Ferrari yang diberikan oleh Albry tadi pagi untuknya.
Ia tak menyangka bahwa kepergian Albry ke sekolah, senyuman nya pada kedua kakaknya, adalah untuk yang terakhir kalinya...
Bukannya pulang ke rumah bersama keluarga nya, tapi anak itu sudah berpulang ke Rahmatullah..
Innalilahi wainna ilaihi Raji'un..π
πΆπΆπΆ
Sepinya hari yang ku lewati
Tanpa ada dirimu menemani..
Sunyi kurasa dalam hidupku
Tak mampu aku 'tuk melangkah..
Masih kuingat indah senyummu
Yang selalu membuatku mengenang mu
Terbawa aku dalam sedihku
Tak sadar kini kau tak di sini
Engkau masih yang terindah
Indah di dalam hatiku
Mengapa kisah kita berakhir
Yang seperti ini
Yang seperti ini (berakhir)
Engkau masih yang terindah
Indah di dalam hatiku
Mengapa kisah kita berakhir
Yang seperti ini
Hampa kini yang kurasa
Menangis pun 'ku tak mampu
Hanya sisa kenangan terindah
Dan kesedihanku...
^^^Sammy S- kesedihan ku^^^
πΆπΆ
...---****----...
Hai Readers, maaf episode ini mengandung sedikit bawang ππ ada alasan kenapa author membuat Albry meninggal, nanti akan dibahas dalam satu chapter π€π mohon bersabar ya, nanti author crazy up lagi π
Tetap semangatin Author ya, budidayakan setelah baca kasih like dan komen ya..
Kasih bunga atau vote nya juga boleh, respon dari kalian sangat berarti untuk author π€π