
Kedua mata Alma dan kedua mata Bryan bertemu. Bryan tercengang melihat Alma dalam keadaan terikat.
Kenapa Pak Bryan bisa ada disini? dan kenapa dia datang sendiri? apa dia bodoh?
" Woah.. woah.. lihat siapa ini?"
Kelihatan nya pria ini orang kaya. Baron memperhatikan Bryan dari ujung kepala sampai ke ujung kakinya.
" Aku tidak mau menggunakan kekerasan, jadi lepaskan dia kalau kalian mau hidup kalian lebih panjang " Bryan berjalan mendekat ke tempat Alma duduk dan di ikat.
Kenapa si bocah bisa berurusan sama preman preman kaya gini?
" Lo jangan ikut campur urusan gua sama cewek ini. Mending lo pergi deh, jangan sok pahlawan "
" Kamu mau uang? berapa? aku bisa berikan berapapun yang kamu mau, tapi lepaskan dia " ucap Bryan santai
" Kelihatan nya lo emang orang kaya. Gua sebenarnya punya masalah sama cewek ini karena orang tua cewek ini punya hutang sama gue dan belum bisa lunasin hutangnya. Makanya gue nawarin dia buat lunasin pake tubuhnya aja "
Wajah Bryan yang awalnya tenang, tiba-tiba berubah menjadi penuh kemarahan
Bryan juga tiba-tiba berlari ke arah Baron dan menendang wajah Baron dengan kakinya. Hingga Baron jatuh tersungkur ke tanah.
BUGHH..
Para anak buah pak Baron itu tidak tinggal diam melihat bosnya di pukul oleh Bryan. Mereka menyerang Bryan bersamaan, tapi Bryan dengan mudah menghajar mereka bertiga.
" Kalian semua sampah !" teriak Bryan kesal sambil memukul Baron habis-habisan tanpa ampun. " Terutama Lo ! Lo sampah !"
" To-tolong .." Baron yang bertubuh besar itu menjadi tak berdaya di pukuli oleh Bryan, hingga wajahnya berdarah darah.
" Pak Bryan udah pak ! udah !" seru Alma yang merasa tak tega melihat Baron di pukuli habis habisan oleh Bryan.
" Lo bilang apa? Lo mau tubuhnya?!! mati aja Lo sana !!" Bryan kehilangan kendali, ia mengambil pemukul besi, berniat untuk memukul Baron.
" Pak Bryan hentikan ! udah pak, dia bisa mati !" teriak Alma panik
Pertama kalinya Alma melihat Bryan yang benar-benar emosi, sampai memukul orang dengan brutal. Alma bertanya-tanya dalam hatinya kenapa Bryan bisa semarah itu hanya karena dirinya di culik. Ia tak bisa percaya, Bryan yang dingin, bisa marah sampai seperti itu sampai tangannya sendiri terluka karena menghajar mereka.
Wiuuu wiuuu ..wiuuu...
Suara sirene mobil polisi membuat Bryan menghentikan aktivitas nya. Polisi datang ke tempat itu, bersamaan dengan bodyguard suruhan Bryan. Mereka menangkap Baron dan ketiga anak buahnya.
" Aku mau mereka di hukum seberat-beratnya, mereka harus tau akibat nya karena sudah menyentuh wanita Bryan Alvaro Aditama " kata Bryan kepada para polisi yang menangkap Baron dkk
" Baik pak Bryan " kata salah satu polisi itu dengan patuh
Setelah mereka di bawa ke mobil polisi. Bryan membantu Alma membukakan tali yang mengikat tubuhnya. Bryan melihat ditangan Alma ada bekas jeratan tali disana.
" Jangan menatap saya begitu pak, saya baik-baik saja "
Alma tidak suka dengan tatapan Bryan padanya, karena ia mengira tatapan Bryan adalah tatapan kasihan. Meskipun sebenarnya Alma merasa takut, dan tubuhnya gemetaran. Ia tak mau dikasihani oleh Bryan.
" bagaimana bisa kamu berkata baik-baik saja setelah kesucian mu hampir saja di rampas oleh mereka ?!" suara Bryan mulai meninggi
" Bapak jangan mulai lagi, saya sekarang tidak ada mood untuk berdebat dengan bapak " ucap Alma sambil mengalihkan pandangannya dari Bryan
" Kamu benar-benar. Jika saja aku terlambat, kamu mungkin sudah...
" Saya kan sudah bilang saya tidak apa apa, jadi jangan bicara lagi !" teriak Alma sambil menutupi matanya yang menangis, dengan kedua tangannya.
Kenapa air matanya terus keluar? padahal aku tidak mau menangis. Ini menyedihkan.
" Haa.. baiklah, kamu baik-baik saja. Kalau begitu, mari kita pergi ke rumah sakit " kata Bryan lembut
Apa aku tidak salah dengar? dia berbicara lembut padaku?. Batin Alma heran
" Saya mau pulang saja, saya tidak mau ke rumah sakit. Bapak yang harusnya ke rumah sakit, tangan bapak pasti sakit " Alma menyeka air matanya, dan berusaha untuk tidak menangis lagi.
" Aku tidak butuh ke rumah sakit, kamu kan bisa mengobati tanganku. Bukannya tas mu itu adalah kotak P3k? " tanya Bryan sambil tersenyum
" Tapi saya kehilangan tas saya, jadi pasti obat-obatan dan perlengkapan P3k milik saya juga hilang. " jawab Alma polos
" Tas mu itu, ada tuh di mobilku. Jadi kamu mau mengobati ku atau tidak? aku sudah menolong mu loh?' tanya Bryan
Melihat sisi polos nya yang seperti ini, dia sangat imut. Dia seperti anak kecil, yang pura-pura terlihat kuat dan berani, tadi pagi dia marah marah padaku karena restoran temannya ditutup. Pada akhirnya dia tetaplah bocah.
Tanpa sadar Bryan tersenyum melihat gadis yang ada di depannya itu, tapi Alma tidak menyadarinya.
Pak Bryan sudah menolong ku. Aku harus membalas budi padanya.
" Iya, saya akan mengobati bapak " jawab Alma
" Baiklah " Bryan tersenyum sambil mengusap kepala Alma dengan lembut.
Apa aku tidak salah lihat? barusan pak Bryan tersenyum padaku? senyuman yang terlihat tulus. Dan kenapa dia mengelus kepalaku? Apa dia peduli padaku? atau dia kasihan padaku?
Mereka masuk ke dalam mobil, disana Alma mengobati punggung tangan Bryan yang terluka dengan hati-hati.
" Saya baru saja mengobati nya kemarin, sekarang luka nya sudah terbuka lagi di tempat yang sama "
" Karena siapa aku terluka?" tanya Bryan
" Ah iya, maafkan saya. Tapi, saya tidak pernah menyuruh bapak untuk memukul mereka " gumam Alma pelan
" Kenapa kamu tidak mengatakan masalah sebesar ini padaku? aku kan bisa membantumu, apa berbagi beban dengan ku itu membuat mu tidak senang?"
Tidak senang? bukannya begitu. Aku hanya tidak mau dikasihani olehmu.
" Bukannya bapak sore ini ada rapat penting? bagaimana dengan rapatnya?" tanya Alma panik
" Jangan mengalihkan pembicaraan !" Bryan menjentikkan jarinya di dahi Alma.
" Aww.. sakit pak !" seru Alma sambil memegang dahinya
" Rasakan, berani nya bocah seperti mu menghadapi preman preman itu sendirian! Apa kamu punya 8 nyawa? Lihat saja bagaimana aku akan menghukum mu "
" Maafkan saya pak, tapi ini masalah saya sendiri dan tidak seharusnya saya melibatkan bapak dalam masalah saya "
" Aku ini suamimu, mana bisa aku tidak terlibat dengan hal yang dilakukan istriku. Aku peduli padamu " kata Bryan tegas
" Su-suami? tapi kan kita hanya menikah kontrak "
" Tidak , bapak benar. Kita memang suami istri " Alma menimpali dan membenarkan kata-kata Bryan.
Kenapa dia tiba-tiba bertindak seperti ini? ada apa dengan nya?
Alma merasa telah sedikit diperhatikan oleh Bryan. Hatinya masih sulit percaya bahwa pria yang sudah menikah dengannya itu, peduli padanya. Ia berusaha menyadarkan dirinya bahwa Bryan yang peduli padanya itu bukan cinta, tapi rasa kasihan dan simpati. Memang dalam hatinya Alma mulai berharap kalau Bryan memiliki perasaan yang sama dengannya.
Ia akui, ia mulai menyukai pria playboy yang ada di hadapannya itu. Bahkan saat pertama kali ia bertemu dengan Bryan, Alma sudah jatuh hati padanya. Namun, ia berusaha mengubur perasaan nya itu sebelum semakin dalam dan selalu mengingatkan dirinya sendiri bahwa Bryan bukanlah takdir nya.
Akan tetapi, takdir mengatakan lain. Niat Alma yang semakin ingin menjauh dari Bryan ,malah membuat Alma semakin mendekat padanya. Sekarang Alma menyadari saat melihat sosok pria tampan di depannya itu, bahwa ia mulai menyukai Bryan.
" Aku akan mengubah kontrak dan poin di dalam kontrak " kata Bryan tiba-tiba.
Dengan alasan demi sang kakek, Bryan ingin mengubah sedikit isi kontrak pernikahan mereka. Intinya, sekarang mereka harus saling mengabari satu sama lain dan bercerita kalau ada masalah yang besar. Dengan kata lain berbagi beban. Alma setuju setuju saja dengan usul Bryan.
Bryan dan Alma pulang ke rumah utama Aditama, namun setelah menerima telpon dari Andre tentang rapat yang tiba bisa diundur. Membuat Bryan harus kembali ke kantor.
" Seperti nya ada urusan mendesak ya pak?"
" Ya, aku harus pergi rapat yang sempat tertunda. "
" Maafkan saya pak, karena saya bapak jadi menunda rapatnya. "
" Cukup, kamu minta maaf terus dari tadi. Aku pergi dan akan pulang malam. Kamu makanlah duluan " Bryan membuka pintu mobilnya.
Diam-diam Alma tersenyum manis, ia merasa seperti istri Bryan yang sesungguhnya. Ini pertama kalinya mereka berbicara tanpa marah-marah dan berdebat. Melihat sikap Bryan yang lembut, ia sempat lupa bahwa Bryan adalah playboy.
" Tunggu pak "
" Ya? "
" Saya cuma mau bilang hati-hati dijalan."
" Kamu juga, hati-hati di rumah. Kalau ada apa-apa, kamu jangan sungkan hubungi aku " Bryan menunjukkan senyuman hangatnya
Ternyata ini gak buruk juga bicara sama si bocah. Eh kenapa aku seneng banget ya?.
Bryan masuk ke dalam mobilnya, dan segera menancap gas pergi ke tempat rapat itu akan diadakan. Tak terasa hari itu sudah mulai malam, Bryan melihat jam di tangannya yang menunjukkan sudah pukul 19.30. Dalam hati ia merasa bersyukur karena ia masih bisa melakukan rapat dengan klien pentingnya dan juga menyelamatkan Alma.
***
Walaupun Alma belum lama mengalami kejadian buruk, namun ia masuk ke dalam rumah dengan wajah yang ceria dan senang, seperti gadis yang baru saja jatuh cinta.
" Kamu baru pulang Alma?" tanya Jason yang sedang duduk sambil meneguk minuman berwarna pink fanta dengan santai. Baju yang dikenakan Jason agak terbuka di bagian atas nya, dan menunjukkan otot dada nya.
" eh kak Jason, maaf kak. Aku gak lihat kakak " ucap Alma merasa bersalah sambil memalingkan wajahnya karena tak mau melihat badan Jason.
Aku suka gadis gadis polos seperti ini. Pasti di ajak di ranjang juga gak bakal ngelawan kan? Lumayan lah buat sekali pakai.
" Iya gak papa Ohok ohok "
Mendengar Jason yang batuk batuk, Alma terlihat cemas. Dengan sigap ia segera menuangkan air putih yang hangat dan obat di meja yang ada di depan Jason.
" Aduh pusing banget.. Ohok ohok " Jason memegang kepalanya, dan sesekali ia batuk-batuk.
" Kenapa kak?" tanya Alma cemas
" Kepalaku pusing banget, udah minum obat aku langsung ngantuk '
" Kakak jangan tidur disini kak, pindah ke kamar aja " kata Alma
Dengan alasan pusing dan kesulitan berjalan, Jason berhasil membuat Alma memapahnya menuju ke kamarnya. Beberapa menit kemudian, Alma meletakkan tubuh kekar Jason di kamar nya dan Laura.
" Kakak, istirahat aja disini ya. Aku mau telpon kak Laura dulu. " kata Alma panik sambil meraih ponselnya.
Jason dengan berani memegang tangan Alma dan mengambil ponsel yang dipegangnya.
" Gak usah, gak papa. Nanti dia malah gangguin kita " Jason menyeringai, tersenyum seperti merencanakan sesuatu
" Apa maksud kakak? "
Alma mulai takut melihat tatapan penuh nafsu yang ditujukan Jason padanya, belum lagi tangan Jason yang masih memegang pergelangan tangannya.
Pikiran setan, dan liar datang menghampiri Jason. Pria itu berlari dan mengunci pintu kamarnya dari dalam. Alma kaget melihat Jason yang mengunci pintu.
" Kak, kenapa kakak ngunci pintunya?" tanya Alma heran
" Menurutmu kenapa lagi?" tanya Jason sambil membuka baju nya di depan Alma.
" Kakak, kak Jason mau ngapain?" tanya Alma sambil berusaha meraih gagang pintu.
Namun, Jason menggendong nya di bahu dengan paksa. Ia melempar Alma ke tengah ranjang nya. Kini Alma bukannya takut lagi, tapi ia merasa panik apalagi saat tubuh Jason mulai menindih tubuhnya.
Tatapan Jason padanya penuh dengan nafsu, sama dengan tatapan pak Baron yang sebelumnya ingin mencelakai nya. Jason sudah benar-benar kehilangan akal sehatnya, karena kalah oleh nafsu nya. Akhirnya ia bisa berduaan dengan wanita polos yang bisa membuatnya bergairah selain Laura.
" Kak Jason mau ngapain? kak.. jangan lakukan ini " Alma berusaha mendorong tubuh Jason yang menindihnya dengan sekuat tenaga.
Merasa tak bisa melawan Jason dengan tangan dan tubuhnya, ia pun berusaha melawan dengan suaranya dan meminta pertolongan.
" Mau kamu teriak berapa kali pun, tidak akan ada yang mendengar kamu. Semua orang tidak akan pulang sebelum jam 9 malam. Kamu dan aku berdua disini. " Jason mengunci tangan Alma dan mencengkram nya dengan kuat.
Pria itu berusaha untuk membuka kedua kaki Alma yang sengaja di tutup rapat-rapat. Ia berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan kesucian nya dengan tenaganya yang tersisa.
" Le-lepaskan saya kak Jason ! jika kak Laura tau dia akan ..."
Jason membekap mulut Alma dengan tangannya. " Laura tidak akan tau, hanya kamu dan aku saja yang akan tau tentang ini. Tenanglah dan nikmati saja " Jason tersenyum menyeringai, yang tampak menyeramkan bagi Alma.
Hmph..
Jason, pria yang sebelumnya terlihat baik padanya, bersikap ramah, dan selalu membelanya ternyata memiliki maksud lain dan itu hanya topeng nya saja.
Dalam hati, Alma merasa kasihan pada Laura karena memiliki suami yang brengsek seperti Jason.
Ia berharap akan ada seseorang yang menyelamatkan nya.
****
Apakah Jason akan berhasil memperkosa Alma? apakah Alma bisa mempertahankan kesucian nya?