Stuck In Love CEO

Stuck In Love CEO
Kenangan bersama nenek



Resepsi pernikahan Leon dan Laura pun terpaksa harus ditunda karena keadaan Bu Delia. Mereka semua pergi ke rumah sakit beramai-ramai, kecuali anak-anak yang di titipkan pada Bi Asih, Bi Inah, Bu Widya dan juga beberapa bodyguard Bryan.


Leon, Laura dan semua orang yang ada disana tampak panik melihat kondisi Bu Delia yang tiba-tiba saja jatuh pingsan. Padahal sebelumnya Bu Delia baik-baik saja. Bu Delia langsung di bawa ke ruang UGD begitu sampai di rumah sakit.


" Apa yang terjadi pada Mama? padahal sebelumnya Mama baik-baik saja?" tanya Bryan bingung


" Mama.. semoga Mama baik-baik saja " gumam Laura cemas


" Sayang, tenanglah. Mama akan baik-baik saja " Leon memeluk Laura untuk menenangkan nya.


Alma juga tampak menunggu dengan cemas. Menunggu dokter keluar dari ruangan UGD tempat ibu mertuanya di tangani.


Beberapa menit kemudian, Dokter Haris keluar dari ruang UGD. Dokter itu memberitahukan tentang kondisi Bu Delia yang kritis dan di ambang kematian. Sontak saja hal itu membuat kedua anak dan kedua menantunya kaget mendengar nya.


" Apa maksud dokter? Kritis? Mama saya tidak punya penyakit apapun, kenapa dia bisa sampai kritis?" tanya Laura sambil menangis


" Maafkan saya, karena saya baru memberitahukan tentang ini sekarang. Bu Delia menyuruh saya merahasiakan nya, tapi saya akan memberitahukan yang sebenarnya " jelas Dr. Haris


" Apa maksud mu? Mama saya sakit apa?" tanya Bryan


" Bu Delia selama ini mengidap penyakit kanker darah stadium akhir "


DEG!


Laura, Leon, Bryan dan Alma tercengang mendengar nya. Kaki Laura sampai lemas hampir terjatuh, beruntung ada Leon yang menopang tubuhnya.


" Tidak! Mama sangat sehat, Mama tidak mungkin sakit.. hiks " Laura menangis terisak-isak di pelukan suaminya.


" Bry, Mama.. Mama, Bry " Alma juga menangis mendengar tentang ibu mertuanya. Jadi selama ini Bu Delia menyembunyikan penyakit nya.


Bryan mulai meneteskan air mata, ia memeluk Alma dan saling menguatkan satu sama lain.


Dokter Haris mengatakan agar keluarga Bu Delia bersiap siap untuk kemungkinan terburuk. Sel kanker yang ada di dalam tubuh Bu Delia sudah menyebar ke semua organ penting di dalam tubuhnya. Dan itu yang menyebabkan keadaan nya kritis.


Dokter dan tim medis di rumah sakit itu sudah mengupayakan yang terbaik untuk menolong Bu Delia. Kini hanya doa dan keajaiban yang bisa membantu kesembuhan nya. Betapa sedihnya hati anak-anak dan kedua menantu Bu Delia, mendengar nya. Mereka tidak percaya bahwa Bu Delia terkena sakit parah yang mematikan. Yang lebih menyakitkan hati mereka, adalah fakta bahwa Bu Delia bisa menyembunyikan penyakit nya dengan baik dari semua orang disekitarnya.


***


Tit.. tit..tit.. suara mesin terdengar di ruang rawat itu. Bu Delia tampak tidak sadarkan diri, dengan selang infus yang terpasang di tubuhnya.


Alma dan Bryan mengunjungi Bu Delia lebih dulu di ruangan ICU. Mereka berdua tampak sedih dengan keadaan Bu Delia. Air mata Alma belum kunjung berhenti juga, malah bertambah saat melihat Bu Delia terbaring lemah tak berdaya.


" Bry, Mama.. Bry.. hiks " Alma berusaha menguatkan hatinya, agar tidak menangis tapi ia menangis juga.


" Al, tenang lah. Kita disini untuk menguatkan Mama " Bryan tersenyum pahit melihat ibu nya tidak berdaya di ranjang rumah sakit itu


Sekilas kenangan masa kecil nya bersama Laura dan ibunya, menghampiri nya. Saat Bu Delia berjuang seorang diri untuk membesarkan kedua anaknya, dan juga perusahaan Papa nya. Bryan akhirnya menangis juga, menggenggam tangan ibunya yang terasa dingin.


" Ma, bangun Ma.. Bryan mohon Ma.. Mama harus sembuh. Mama harus bertahan, bukankah kita akan bahagia bersama Ma? bukankah Mama mau melihat kami mempunyai bayi lagi? bukankah Mama ingin melihat dan mendampingi cucu cucu Mama sampai dewasa.. Ma, Bryan sayang Mama " Bryan mencium tangan ibunya itu.


Tangan Alma menepuk nepuk pundak Bryan, berusaha menegarkan suaminya. Walaupun ia juga sama-sama merasakan kesedihan yang sama dengannya.


Air mata Bryan jatuh membasahi tangan Bu Delia yang sedang ia genggam, perlahan-lahan wanita paruh baya itu membuka matanya.


" Sayang, Mama membuka matanya !" Ujar Alma pada Bryan


" Mama, Mama sudah sadar?" tanya Bryan langsung beranjak dari tempat duduknya, ia melihat ibunya tersenyum di wajah pucat nya.


" Aku akan panggil dokter !" ucap Alma buru-buru


Saat Alma akan beranjak pergi dari ruangan itu, tangan Bu Delia memegang tangan nya. Bu Delia menggeleng pelan, ia berbicara perlahan-lahan pada anak dan menantu nya itu.


" Panggil.. Laura d-dan Leon k-ke-mari.. " ucap nya dengan terbata-bata


Alma segera berlari keluar dari ruangan itu, melaksanakan perintah Bu Delia untuk memanggil Laura dan Leon yang berada di ruang tunggu yang ada di luar.


Leon dan Laura bergegas masuk ke dalam ruangan itu. Laura langsung memegang tangan ibunya, menangis disana. Dengan sisa kekuatan yang dimiliki nya, tangan Bu Delia menggapai kepala Laura dan mengelusnya.


" Mama.. Mama harus sembuh.. Mama akan sembuh dan bahagia bersama kami" Laura menahan tangisnya


Tanpa bicara apa-apa, Bu Delia tersenyum dan mengisyaratkan kepada Leon dan Alma untuk mendekat ke padanya. Leon dan Alma pun mendekati Bu Delia.


" Leon, Mama titip Laura dan Kayla. To-tolong buat me-mereka bahagia. Mereka sudah terlalu banyak menderita " Bu Delia menangis, dadanya terasa sangat sakit. Napasnya sudah mulai sesak, rasanya ia seperti sudah berada di dunia lain. Pandangan nya mulai kabur.


Leon menggenggam tangan Bu Delia. " Saya berjanji akan membuat Laura dan Kayla bahagia seumur hidup saya, tidak akan saya biarkan mereka meneteskan air mata sedikit pun. Ma, Mama harus sembuh demi kami ya Ma? "


Bu Delia hanya tersenyum menanggapinya, kini giliran Alma yang mendapatkan pesan dari Bu Delia. Pertama-tama Bu Delia meminta maaf kepada Alma atas semua yang pernah ia lakukan di masa lalu padanya. Entah kenapa kata-kata nya itu terdengar seperti pesan terakhir.


" Ma, kenapa Mama minta maaf padaku? aku sudah melupakan semuanya, tanpa Mama meminta maaf padaku pun, aku sudah memaafkan Mama. Jadi Mama jangan meminta maaf lagi "


" Terimakasih. Dengan begini, aku bisa pergi dengan tenang. Al-al ma tolong jaga Bryan ya. Dan Bryan, jangan pernah menyakiti Alma.. sampaikan pada Kayla, Kelvin dan Naina kalau neneknya tidak bisa bermain lagi dengan mereka.. " Bu Delia menangis, dan memegang dadanya.


" Mama!" Bryan, Alma, Leon dan Laura menangis melihat Bu Delia tak berdaya.


Napas nya mulai tersengal-sengal, tangannya masih dalam genggaman kedua menantunya itu. Bu Delia mulai melihat bayangan suaminya dan ayah mertuanya pak Hardi tersenyum padanya.


Jadi inilah akhirnya. Aku sudah dijemput, ini waktunya aku pulang, kembali pada yang di Atas. Kalian anak-anak ku sudah bahagia. Aku bisa pergi dengan tenang.


Wanita paruh baya itu pergi dengan senyuman kebahagiaan di bibirnya. Wajahnya tampak bercahaya, ia tidak punya beban lagi di hatinya. Melihat kebahagiaan anak-anak nya sudah membuat nya puas. Bu Delia pergi tanpa meninggalkan kebencian pada siapapun di dalam hatinya.


Saat Bu Delia menutup mata, menghembuskan napasnya yang terakhir. Semua yang berada di dalam ruangan itu menangis sedih atas kepergian nya.


Ditambah lagi suara mesin medis menggema tanpa tanda koma diruangan itu, mengiringi Isak tangis keluarga nya. Laura lah yang terlihat paling terpukul disana.


Bagaimana hatinya tidak terluka? di hari yang seharusnya membahagiakan untuknya, ia juga harus merasakan sedihnya kehilangan sang Mama yang selalu mendukung nya dalam suka dan duka.


" Mama, hiks.. Mama.. "


Kini Bu Delia sudah tertidur selamanya dengan tenang.


🍂🍂🍂


" Mama, Mama gimana keadaan nenek Ma? nenek gak apa-apa kan?" tanya Naina cemas


" Iya Ma, nenek pasti baik-baik aja kan Ma?" tanya Kelvin cemas


Alma tidak menjawab, ia hanya menangis dan segera memanggil Bi Inah. Alma berbisik pada Bi Inah, dan Bi Inah langsung terkejut mendengar nya.


" Innalilahi wainna ilaihi Raji'un .. baik nyonya, saya akan menyiapkan semua nya " ucap Bi Inah yang seperti nya akan menangis


" Mama, jawab Ma! nenek kenapa?" Naina menggoyang-goyangkan tubuh Alma, bertanya dengan cemas dan penasaran. Naina seperti nya syok dengan Bi Inah yang mengucapkan


" Kenapa bi Inah bilang innalilahi, Ma? siapa yang meninggal?" tanya Kelvin dengan raut wajah yang tegang


Alma tidak sanggup memberitahukan ketiga anak itu tentang apa yang terjadi pada Bu Delia. Alma memeluk Kayla, Kelvin dan Naina.


" Kalian harus kuat ya, kalian harus tegar. Nenek kalian sudah berada di surga, dan tenang disana..." jelas Alma dengan berurai air mata


Ketiga anak itu mengerti apa yang di maksud oleh Alma, mereka menangis terisak isak. Tak menyangka bahwa Bu Delia akan meninggalkan mereka secepat ini. Kelvin bahkan sampai menangis histeris, mendengar berita duka itu. Alma berusaha menenangkan mereka.


" Ini gak mungkin Ma, nenek gak mungkin meninggal hiks " Naina menangis tersedu


" Kalian harus kuat ya, Allah sangat sayang pada nenek. Itu sebabnya nenek berada di dekat NYA " Alma menguatkan ketiga anak yang menangis itu.


****


Pemakaman Bu Delia sudah dilakukan sore itu juga, tepat di hari pernikahan Laura dan Leon. Hari yang terlihat cerah, dan matahari masih bersinar terang. Para tamu undangan yang tadinya hadir untuk menyaksikan hari bahagia Laura dan Leon, ikut menghadiri pemakaman Bu Delia sebagai pelayat.


Makam Bu Delia, dekat dengan makam pak Hardi dan makam mendiang suaminya. Laura, Bryan masih tampak syok dengan kematian Bu Delia yang mendadak untuk mereka. Untunglah disana ada Leon dan Alma yang memberikan kedua saudara itu kekuatan.


Disisi lain, anak-anak juga sedih dengan kepergian nenek mereka. Mereka masih menangis di depan makam neneknya.


" Kenapa nenek bisa meninggal? padahal nenek baik-baik saja sebelum nya. Nenek bahkan bisa bermain dengan kami ke taman bermain huuhuuu " Naina menangis tersedu-sedu.


" Sudah sayang, sekarang kita doakan saja nenek agar bisa tenang di alam sana. Nenek masih melihat kita, nenek masih bersama kita "


" Nenek masih bersama kita? apa maksud Mama?" tanya Kelvin


" Nenek akan selalu ada di dalam hati kita, dalam kenangan kalian " Alma memeluk kedua anaknya itu dan menenangkan mereka.


Ma, semoga Mama tenang di sana. Kami akan selalu mendoakan Mama. Kebaikan Mama selalu ada di dalam hati kami, pergilah dengan tenang Ma..


🍂🍂🍂


.


.


Hari mulai berganti hari, tidak terasa sudah 7 hari sejak kepergian Bu Delia. Bryan masih kepikiran soal Mama nya itu, ia bahkan tidak bisa fokus bekerja karena kepikiran dengan Bu Delia.


Di saat itulah Alma selalu ada untuk Bryan , memberikan dukungan pada suaminya untuk bangkit dan tegar. Pagi itu Alma sudah bangun seperti biasanya, ia menyiapkan seragam merah putih untuk di kenakan kedua anaknya.


Hari itu adalah hari pertama mereka akan masuk sekolah dasar.


Alma membangunkan Bryan yang masih tidur lelap di ranjangnya. Belakangan ini Bryan mengalami insomnia, itu terjadi sejak kepergian ibunya. Makanya Bryan selalu bangun agak siang dari biasanya.


" Sayang, bangunlah. Kamu harus bekerja hari ini. Semangat " Alma menggoyangkan tubuh suaminya itu, lalu memberikan nya kecupan di kening.


CUP


Bryan mulai membuka matanya, tersenyum melihat istrinya. " Pagi sayang "


" Iya pagi juga, cepat pergi mandi lalu sarapan. Aku akan mengecek anak-anak dulu ya " ucap Alma sambil tersenyum


" Tunggu sebentar " Bryan memeluk Alma dari belakang, mendekap nya dengan hangat.


" Bryan, ada apa? apa kamu masih sedih karena Mama?" tanya Alma lembut


" Aku memang masih sedih, tapi syukurlah aku tidak terlalu sedih lagi. Karena kamu ada sampingku, terimakasih istriku "


" Sudah kewajiban ku untuk mendukung mu dan di samping mu "


" Alma apa kamu tau?"


" Tau apa?"


" Aku mencintaimu " Bryan tersenyum dan memberikan kecupan manis di leher istrinya.


Akhirnya Bryan bisa bercanda lagi, sebelum nya dia tidak banyak bicara sejak Mama meninggal. Syukurlah Bryan sudah mulai membaik. Alma merasa lega karena melihat kembali senyuman di wajah suaminya itu.


Si kembar sudah memakai seragam merah putih mereka, Naina tampak cantik dan imut dengan kuncir 2 di rambutnya. Alma yang menata rambutnya, memberikan semangat di hari pertama kedua anak nya masuk sekolah dasar.


" Ayo sarapan dulu semuanya, Mama sudah siapkan Omelet " kata Alma pada si kembar dan suaminya.


" Iya Ma " jawab Kelvin dan Naina tampak lesu.


Apa mereka masih sedih ya? Alma melihat kedua anak nya itu dengan wajah sedih.


" Ayo semangat! karena hari ini hari pertama kalian masuk sekolah dasar, Papa juga akan mengantar kalian ke sekolah " Bryan tersenyum menyemangati kedua anak nya itu.


" Nenek .. nenek bilang nenek mau mengantar kami masuk ke sekolah dasar di hari pertama kami. " gumam Naina sedih, sambil melihat gelang yang ada di tangannya. Gelang couple dengan Bu Delia.


" Nenek juga bilang akan bermain sepeda lagi bersama kami " timpal Kelvin yang juga teringat neneknya.


Suasana sarapan pagi itu pun menjadi suram, karena anak-anak teringat dengan sosok nenek mereka. Tak hentinya Alma memberikan semangat kepada kedua anak nya untuk mendoakan Bu Delia.


...***...