
...---***---...
Laura mendekati Bryan yang sedang menangisi kepergian istrinya, dengan hati-hati ia melangkah dan berusaha menenangkan Bryan. Disisi lain dari kejauhan, Mike menangis melihat sahabatnya sedang berduka untuk istrinya.
Setengah hatinya tidak percaya kalau Alma sudah tiada setelah melewati persalinannya yang berat.
Sang suami juga tidak berhenti menangis, banjir sudah air mata menggenang di matanya jatuh membasahi selimut yang menutupi tubuh Alma. Tangannya masih memeluk tubuh sang istri yang sudah tak bernyawa.
" Hiks.. tidak! sayang, jangan seperti ini. Kamu tidak kasihan padaku dan anak-anak kita! Kamu tega pada Albry kecil? dia bahkan belum melihat ibunya. Kamu.. Alma kamu... hiks "
" Bryan .. hiks " lirih Laura sambil memegang pundak adiknya. Perlahan lahan air mata mengalir dari matanya, membasahi pipinya. Melihat sosok Alma yang tidak bernyawa terbaring di atas ranjang, dengan wajah pucat nya.
Alma, tidak mungkin.. dia.. Laura menangis tersedu-sedu.
Bryan menangis histeris, ia seperti sudah kehilangan akal sehatnya. Bryan berusaha mematahkan kenyataan bahwa Alma sudah tiada, menggoyang-goyangkan tubuh Alma dan berbicara pada Alma. Bryan memeluk tubuh tak bernyawa itu sambil menangis tak terkendali.
" TIDAK!! ARGHH !! bagaimana bisa kamu pergi seperti ini? bangun ! Alma bangun! aku sudah kembali, aku tidak akan pergi lagi. Bagaimana bisa aku hidup tanpa mu?!" Tangan Bryan memeluk tubuh tidak bernyawa itu dengan erat, diiringi tangisan duka.
" OWAAA.. OWAAA... OWAAA.. " Albry kecil terus menangis dalam gendongan Leon, padahal sebelumnya bayi kecil itu tertidur pulas.
Leon juga terlihat syok dan terpana melihat kenyataan yang ada di depannya. Air mata yang ia tahan akhirnya keluar juga.
Kakak perempuan nya berusaha untuk menenangkan Bryan yang memeluk erat tubuh istrinya itu. " Bryan.. ikhlaskan Alma.. ikhlas kan dia " ucap Laura dengan hati yang berat
" Tidak kak! Alma hanya tidur, dia baik-baik saja. Dia akan bangun. Benar, Alma hanya tidur saja karena lelah. Dia akan bangun setelah tidur " Bryan menghentikan tangisan nya yang histeris tadi, ia melepaskan pelukan nya. Meletakkan Alma dengan hati-hati di ranjang dan menyelimuti tubuh dingin itu dengan selimut hangat.
Tatapan Bryan menjadi kosong, tiba-tiba ia terdiam dan membuat semua orang yang berada di ruangan itu bergidik ngeri melihat sikapnya yang tiba-tiba berubah. Mereka bersimpati pada suami yang baru saja ditinggalkan oleh istri tercinta nya, bahkan dua suster dan dua dokter yang masih ada disana juga ikut sedih melihat Bryan.
" Ian, tolong jaga dulu Alma ya. Kalau dia sudah bangun tolong kabarin aku. Aku masih telpon anak-anak dulu dan kasih tau mereka kalau adik mereka sudah lahir. Mereka pasti senang" bibir Bryan tersenyum, tapi air mata terus mengalir dari matanya.
" Bryan HENTIKAN! cukup, bro istrimu sudah tiada " ucap Ian sambil menepuk bahu sahabat nya itu.
" Apa maksud mu tiada? istriku sedang tidur disana. Dia bilang dia lelah " jawab Bryan sambil tersenyum pahit
" Bryan, hentikan. Sudah, kamu jangan seperti ini " Mike juga ikut menenangkan sahabatnya. Meskipun mereka sama sama berduka karena kehilangan wanita yang mereka sayangi.
Pria itu berdiri mematung dengan pandangan kosong, seperti nya kenyataan sudah memukul mental dan batinnya, wajahnya pucat pasi. Akhirnya pria itu ambruk juga, beruntungnya Mike ada disana dan langsung menopang tubuh Bryan yang tidak sadarkan diri.
Setelah aku sadar, aku berharap ini hanya mimpi.
" Bryan! Bryan bangun! hey! sadarlah!" ujar Mike dan Ian panik melihat Bryan tidak sadarkan diri.
" BRYAN!! " panggil Laura dan Leon yang juga khawatir melihat kondisi Bryan yang tidak sadarkan diri.
Bryan yang memiliki kondisi fisik yang kuat, jarang sakit, bisa ambruk juga karena kondisi mental dan pikiran nya tidak stabil.
Tentu saja hal itu karena kenyataan pahit yang harus di terimanya. Baru saja ia bahagia kembali bertemu dengan istrinya, dan bertemu dengan bayi mereka yang baru lahir, tiba-tiba saja menerima kenyataan lain dengan berita kematian. Hati siapa yang tidak akan terpukul? batin siapa yang tidak akan terluka? Ia merasa dipermainkan oleh sesuatu yang bernama Takdir!
***
1 jam sudah berlalu, Bryan mulai membuka matanya. Ia berada di sebuah ruangan, dengan selang infus terpasang di tangannya. Luka ditangannya juga sudah di perban dengan rapi. Pria itu melihat ke sekeliling nya, ia melihat Laura sedang menggendong Albry kecil di dalam gendongannya. Laura duduk di sofa yang tak jauh dari ranjang tempat Bryan berbaring.
" Kakak.. " ucap Bryan lemas memanggil Laura yang duduk di sofa.
" Bryan, kamu sudah sadar?" tanya Laura yang terperangah lega melihat adiknya sudah sadar.. " Cup cup cup sayang, tante disini jangan nangis terus sayang " Laura berusaha menenangkan Albry kecil yang tak henti hentinya menangis, bahkan setelah diberi susu formula, bayi itu tetap menangis.
OWAA.. OWAAA...
" Kenapa Albry terus menangis? mana Alma? apa dia belum menyusui Albry?" tanya Bryan sambil melihat anaknya, dan tersenyum tipis.
Laura tidak sanggup menjawab pertanyaan Bryan. Ia terdiam dan fokus menggendong Albry kecil.
" kakak kenapa tidak jawab? Alma dimana kak?" tanya Bryan sambil menatap matanya dengan tajam
"....."
Tampaknya Bryan masih belum menerima kenyataan ini.
" Apa dia masih tidur? aku akan melihatnya " ucap Bryan sambil melepas selang infus ditangannya
" Bryan apa yang kamu lakukan? kamu pikir kamu mau kemana dengan kondisi tubuh mu yang seperti itu?!" tanya Laura melarang
" Aku akan membangunkan Alma kak, sini berikan Albry kecil padaku. Alma pasti senang melihat nya " Bryan langsung mengambil Albry kecil dari gendongan Laura. " Ayo nak kita bangunkan Mama mu yuk " ucap Bryan pada bayi mungil yang masih menangis itu.
" Bryan! kamu!" Laura menangis melihat kondisi adiknya itu.
Bryan maafkan kakak.. Laura tampak sedih dan menyesal
Sambil menggendong Albry kecil, Bryan masuk ke kamar bersalin. Ia melihat dua orang pria berseragam putih, tampak ingin memindahkan Alma ke kamar jenazah. Mereka mendorong ranjang beroda itu, namun Bryan melarang mereka dengan tegas.
" Mau kalian bawa kemana istriku? istriku akan tetap disini!" ucap Bryan sambil menatap tajam kedua pria yang bertugas mengatur jenazah itu.
" Maaf pak, tapi kami harus segera.." ucap seorang petugas jenazah
" Kalian tidak dengar aku?! istriku akan tetap disini, dia tidak akan kemana-mana !" suara Bryan meninggi
Ken yang berada di belakang Bryan, memberi aba-aba pada kedua petugas itu untuk pergi dan meninggalkan jenazah Alma. Ken datang bersama si kembar, setelah mendengar kabar dari Leon kalau Alma meninggal dalam persalinan nya.
Berita bahagia dan berita duka berdampingan, itu membuat si kembar tampak kebingungan dan sedih. Disatu sisi mereka bahagia dengan lahirnya adik mereka, dan disisi lain mereka sedih karena Mama mereka meninggal.
Sesampainya disana, mata Kelvin dan Naina terpana melihat sang Mama yang sudah terbaring di ranjang tak berdaya tanpa nyawa. Mereka berlari menghampiri Alma dan memeluknya.
" Mama!! Mama bangun Ma! Mama gak mungkin pergi! huuuu...hu... " Naina menangis meraung-raung, memeluk tubuh Mama nya yang terasa dingin.
Bahkan Kelvin yang memilik karakter datar dan dingin saja, hari itu menangis tersedu-sedu menangisi sang Mama sama seperti adiknya. Niat hati nya ingin menguatkan adiknya, tapi ia juga tidak bisa membantah naluri hatinya. Air mata jatuh membasahi pipinya.
" Mama.. huuu.. Mama... Mama bangun Ma..." Kelvin menangis memeluk Mama nya.
" Mama, Naina janji Naina gak akan nakal lagi. Naina gak akan banyak makan cemilan di malam hari dan mengurangi nonton drama Korea malam hari, asalkan Mama bangun ya.. " Naina membujuk Alma.
" Ma, Kelvin juga janji gak akan jahil sama Naina lagi. Gak akan bertengkar lagi sama Naina, kita akan akur selama nya. Asalkan Mama bangun ya.. mama bangun.. kami masih butuh Mama. Apalagi Albry kecil .. " bujuk Kelvin sambil menatap Mama nya yang masih tidur.
Bryan juga ikut membujuk istrinya untuk segera bangun. Ia membawa Albry kecil, dengan harapan Alma bisa kembali bangun.
" Sayang, kamu lihat kan? kami menunggu mu disini. Aku dan anak-anak kita sangat membutuhkan kamu sayang. Kamu dengar kami kan, Al? bangunlah Al, kumohon " ucap Bryan pada Alma, ia menangis lagi dengan wajah sedihnya.
" Mama!! Mama bangun Mah!!" kata si kembar memohon dan memeluk Mama nya semakin erat.
Tangan mungil Albry memegang tangan Mama nya yang terasa dingin. Bahkan bayi kecil itu masih ingin merasakan kasih sayang Mama nya.
Ya Allah tolong kami! tolong biarkan kami menjadi keluarga utuh dan bahagia. Kasihanilah kami, tolong kembalikan Alma. Biarkan Alma hidup lebih lama.. Aku mohon Ya Allah, jika Alma kembali aku akan membahagiakan nya. Tolong berikan aku kesempatan untuk membahagiakan istri dan anak anakku. ucap Bryan di dalam hatinya.
Di belakang mereka berdiri Ken yang tampak sedih, ia merasa bersalah. Jika bukan karena dendamnya, Alma tidak akan mengalami kelahiran prematur dan meregang nyawa.
Tiba-tiba saja jari Alma bergerak sedikit memegang tangan mungil Albry yang memeganginya. " Pa! Papa! Mama bergerak, tangan Mama bergerak " ucap Naina yang melihatnya senang, ia segera menyeka air matanya.
" Benarkah?" tanya Bryan dan Kelvin terpana
" Tangan Mama bergerak menyentuh de Albry " Naina tersenyum senang. Bryan dan Kelvin juga terkejut melihat secara langsung, jari Alma menggenggam tangan mungil Albry.
Dan secara otomatis, Albry kecil menjadi tenang tidak menangis seperti sebelumnya. Seakan akan keajaiban datang menghampiri dari doa seorang suami dan doa anak-anak nya.
" Ken! panggilkan dokter!" teriak Bryan pada adiknya itu.
" Ya kak" jawab Ken yang langsung pergi buru-buru memanggil dokter.
🍂🍂🍂
Beberapa saat kemudian, Alma sudah dipindahkan ke ruang rawat dan mendapatkan pemeriksaan dari Ian dan seorang suster. Meskipun belum sadar sepenuhnya, Ian mengatakan bahwa ini pertama kalinya ia menyaksikan sendiri keajaiban di depan matanya.
" Ian, bagaimana keadaan Alma?" tanya Bryan berharap
" Syukurlah.. Alhamdulillah...Allah telah mengabulkan doa kita " ucap Bryan, dan si kembar merasa lega. Hati mereka tidak seperti tadi, kini semuanya sudah mulai tenang.
Ya Allah terimakasih sudah mengembalikan istriku. Bryan tersenyum penuh kelegaan dalam hatinya.
Sementara Bryan menjaga Alma di ruang rawatnya, Si kembar melihat adik bayi mereka yang terpaksa harus di rawat di ruang inkubator karena kondisi nya yang lemah. Bayi itu sedang tertidur lelap di dalam inkubator nya, bersama bayi bayi lainnya yang berada di dalam ruangan itu.
" Kakak, dia sangat kecil ya " Naina tersenyum melihat adik kecilnya yang mungil dari balik kaca luar.
" Iya, itu mungkin karena adik kita lahir tidak tepat pada waktunya atau lebih cepat dari waktu kelahiran nya " jelas Kelvin
" Kelvin pintar ya, kamu tau banyak hal " ucap Ken sambil mengusap rambut Kelvin dan tersenyum hangat
" Hehe.. aku tau dari buku yang Papa bawa, dan aku tidak sengaja membacanya. Jadi aku tau deh " ucap Kelvin sambil tersenyum
" Oh ya om Ken, kata om Ken Albry kecil mirip siapa?" tanya Naina penasaran
Pasti mirip aku kan!
" Hem... Albry kecil mirip dengan Kelvin " jawab Ken jujur
" Ah? Mirip kakak? bukan mirip denganku?" wajah Naina tampak kecewa, ia menunduk sedih
Kelvin baru teringat kalau Naina sangat ingin adik perempuan tapi malah dapat adik laki-laki. Apa karena itu adiknya sedih? pikir Kelvin dalam hatinya.
" Enggak kok, Albry mirip kamu Nai " jawab Kelvin
" wah Kelvin, jangan bohong loh! Albry itu mirip kamu dan Papa kamu " ucap Ken
Aduh si om ini gak ngerti situasi ya?
" Enggak, om Ken bener kok. Albry kecil mirip kakak sama mirip papa " kata gadis kecil itu dengan wajah cemberut nya.
Apa aku mengatakan sesuatu yang salah? Ken tampak bingung melihat si kembar yang tampak sedih
" Hehe.. " Ken nyengir, tak paham dengan si kembar.
Tak lama kemudian, Han datang menghampiri Ken dan membisikkan sesuatu ke telinga Ken. Wajah Ken tampak serius setelah mendengar nya. Si kembar melihat om nya tampak menyeramkan.
" Oh, jadi si old man itu mau buat onar lagi ya? " Ken tersenyum menyeringai, wajahnya seperti ingin membunuh seseorang.
" Apa kita langsung habisi saja dia bos?" tanya Han
Habisi? apa maksudnya habisi? om Ken lebih menyeramkan dari papa. ucap Naina sambil menelan ludahnya.
Sebenarnya apa pekerjaan om Ken ya? apa dia benar-benar anggota geng? apapun itu dia sangat keren! batin Kelvin sambil tersenyum
" Habisi? kematian terlalu mudah untuk nya. Biar aku yang mengurusnya, Han kamu jaga ketiga keponakan ku yang lucu-lucu ini. Kalau terjadi apa-apa dengan mereka, kamu akan tau sendiri akibatnya. " kata Ken sambil tersenyum sinis pada Han, tatapannya penuh ancaman.
" Siap laksanakan bos!" Han menunduk dan memberi hormat pada bos nya itu.
Bahkan orang-orang bertubuh besar ini sangat menghormati om Ken. Kelvin melihat om nya dengan mata penuh kekaguman.
Ken langsung mengubah eskpresi nya saat ia menghadapi si kembar. Tidak menyeramkan seperti sebelumnya seperti yang ia tunjukkan pada Han.
" Naina, Kelvin, om pergi dulu ya karena ada urusan sebentar. Kalau kalian butuh apa-apa bapak ini akan membantu kalian" ucap Ken berwajah ramah
Tidakkah bos terlalu pilih kasih? kenapa hanya padaku dia selalu tampak menyeramkan dan menatap tajam, di depan keponakan keponakan nya saja dia bersikap lembah lembut. batin Han iri pada si kembar
" Iya om, tapi om mau kemana?" tanya Naina penasaran
" Om mau mengurus cecunguk dulu " jawab Ken sambil tersenyum santai pada kedua keponakannya.
ia pun pergi bersama beberapa orang bertubuh besar itu pergi meninggalkan rumah sakit dengan wajah menyeramkan dan tampak garang.
" Mengurus cecunguk saja kok pake bawa banyak orang? apa om Ken takut pada cecunguk makanya dia bawa banyak orang. Ya pasti begitu kan? cecunguk kan berbahaya ! " ucap Naina dengan senyuman polosnya
" Ya, terserah kamu saja lah Nai " Kelvin menggelengkan kepalanya sambil tersenyum mendengar kepolosan adiknya.
" PFut.. " Han sambil menahan tawa melihat kepolosan Naina
Tidak heran bos sangat menyayangi keponakan keponakan yang baru saja ditemuinya, mereka sangat menggemaskan. batin Han senang melihat kelucuan si kembar.
" Oh ya, om apa sih pekerjaan om Ken?" tanya Kelvin penasaran
" Bukankah tadi kamu sudah mendengar nya? om kalian pergi mengurus cecunguk " jawab Han santai
" Oh jadi om Ken benar-benar mengurus cecunguk, apa dia pembasmi cecunguk?" tanya Naina polos
" Om ayolah aku serius. Apa om mau aku laporkan sama om Ken nih? kalau om bilang pekerjaan om Ken itu mengurus cecunguk? kira-kira apa yang akan terjadi ya kalau aku ngadu sama om Ken?" tanya Kelvin dengan senyuman mengancam pada Han.
Han langsung ketakutan saat mendengar ancaman Kelvin. Sudah terbayang di kepalanya, bagaimana Ken akan menghukum nya.
Astaga! aku tarik kembali ucapan ku tadi. Hanya adiknya menggemaskan, tapi kakak nya reinkarnasi iblis.
🍂🍂🍂
Keesokan harinya, Alma terbangun dari mati surinya. Ia merasakan tangan hangat yang menggenggam nya. Seorang pria tertidur di samping dengan posisi duduk.
Bibir Alma tersenyum melihat Bryan yang tidur disisinya, tangannya mengelus rambut Bryan yang tampak berantakan itu dan merapikan nya. Bryan merasakan ada tangan yang menyentuh kepalanya, pria itu pun bangun dan menyambut Alma yang sudah sadar dengan senyuman.
" Bry.." ucap nya lemah
" Sayang, kamu sudah bangun?" tanya Bryan sambil tersenyum bahagia
" Iya, aku kembali sayang.. " jawab Alma, tangannya membelai pipi Bryan. Menyeka air mata yang mengalir dari mata suaminya itu.
Bryan memeluk Alma dengan perasaan lega dan bahagia. Rasanya jantungnya sudah kembali berdetak dengan normal, tidak seperti sebelumnya yang sempat mati rasa. Bahagia nya tidak bisa dilukiskan lagi dengan kata-kata.
" Terimakasih sayang.. terimakasih sudah kembali. Aku bisa gila kalau kamu benar-benar meninggalkan ku, tolong jangan membuatku takut lagi. Jangan tinggalkan aku dan anak-anak kita! " ucap Bryan sambil memeluk erat istrinya, hampir saja ia hancur setelah kemarin Alma sempat mati suri. Beruntung nya ia tidak menjadi gila.
" Tidak, aku yang harus berterimakasih padamu dan anak-anak yang sudah membawaku kembali " jawab Alma sambil membalas pelukan suaminya
Karena kalian lah aku bisa kembali, kalian yang membawaku kembali saat aku berada dalam mimpi panjang ku itu. Aku mendengar kalian memanggil namaku.
" Sudah menangis nya, kenapa kamu jadi cengeng begini? mana Albry kecil kita? aku belum sempat menggendong nya " kata Alma sambil tersenyum
" Dia ada di ruangan inkubator, karena tubuhnya kecil kondisi nya masih lemah. Kamu mau melihatnya, sayang?" tanya Bryan sambil mencium kening istrinya penuh rasa syukur. Tak hentinya ia tersenyum memandangi istrinya, ia juga menyeka air mata nya.
****
Ian dan Mike yang berada di luar ruangan itu merasa senang juga melihat Alma sudah sadar. Namun mereka tak berani masuk dan menganggu kemesraan suami-istri itu.
" Mike, sebaiknya kita jangan ganggu mereka " ucap Ian sambil tersenyum pada Mike.
Ian tertegun melihat Mike membawa sebuket bunga matahari untuk Alma.
" Mike.. apa kamu masih menyimpan perasaan.. " Ian ragu untuk bertanya
" Tidak Ian, aku tidak mengharapkan lagi. Mereka sudah ditakdirkan satu sama lain, terlahir untuk bersama " ucap Mike dengan hati yang pedih melihat kebahagiaan Alma dan Bryan.
" Kamu pasti akan segera menemukan jodohmu Mike " Ian menyemangati sahabat nya itu sambil tersenyum.
Alma Bryan, kalian harus selalu bahagia. Setelah semua masalah ini, aku yakin kalau kalian memang ditakdirkan untuk bersama. Namun sayang sekali cinta pertama ku harus berakhir seperti ini. Alma Bryan, aku akan menemukan cintaku setelah ini.
Mike tersenyum melihat Alma dan Bryan dari balik kaca. Mike berdoa tulus untuk kebahagiaan sahabatnya dengan cinta pertama nya yang berakhir menyedihkan itu.
...---***---...