Stuck In Love CEO

Stuck In Love CEO
Luluh



...🍂🍂🍂...


Si kembar menjalani aktivitas mereka di sekolah seperti biasa nya. Sementara itu, mobil yang dikendarai Alma melaju semakin kencang dan berhasil memposisikan mobilnya tepat di belakang mobil Ken. Alma terlihat marah, jantungnya berdebar-debar belum lagi bayi yang ada di perutnya bergerak-gerak tidak karuan. Merasakan ibunya sedang dalam suasana panik.


" Sayang maafkan Mama nak, kamu tenang saja ya. Mama cuma mau memastikan keadaan Papa mu. Kamu jangan khawatir ya, Mama akan jaga kamu baik-baik. " ucap Alma pada perutnya yang membuncit itu.


Ken menyadari kehadiran Alma di belakang mobilnya, saat itu sedang lampu merah. Ken menengok ke arah Alma.


" Wanita itu sudah gila ya?! bisa-bisa nya dia menyetir dengan keadaan hamil besar seperti itu? kenapa juga aku peduli padanya? dia itu kan istri Bryan, bukan istriku. Justru bagus kalau dia mengikuti ku, lalu mati kecelakaan dengan bayinya. Maka Bryan akan semakin sedih dan menderita " kata Ken berusaha tidak peduli pada Alma. Pria itu tersenyum tipis melihat Alma.


Bagaimana kalau dia dan bayinya kenapa-napa? astaga! batin Ken yang mulai cemas pada Alma


Ken memberhentikan mobilnya di salah satu apartemen, dan apartemen itu adalah apartemen teman Mike tinggal juga. Alma mengikuti Ken, berusaha mengejarnya. Namun ia tak bisa berlari karena kondisinya yang tengah berbadan dua. Apalagi kandungan nya sudah menginjak usia 7 bulan, berjalan pun sudah mulai terasa berat untuknya.


" Bryan! Bryan tunggu!" ujar Alma melihat Ken yang masuk ke dalam lift. Ken mengacuhkan Alma dan bersikap seolah-olah tidak melihatnya mengejarnya.


TING!


Lift yang dinaiki Ken sudah naik ke lantai atas yang menunjukkan lantai 3, lantai yang sama dengan apartemen Mike.


Alma terpana dengan perlakuan Ken padanya. Pikirnya bagaimana bisa suaminya berubah sikap dalam waktu 2 hari, berubah seperti menjadi orang yang berbeda.


" Bryan, kamu tidak akan seperti ini. Bryan kamu tidak akan menyakiti ku, aku percaya kamu " gumam Alma sambil melihat cincin pernikahan nya dengan Bryan.


Setelah pintu Lift terbuka, Alma memasuki lift dengan napas yang sudah mulai tidak teratur. Seperti nya ibu hamil itu kecapean akibat mengemudi mobil nya terlalu cepat. Beberapa detik kemudian Alma sampai di lantai 3, ia melihat Ken berada di ujung lorong apartemen itu dan memasuki salah satu kamar apartemen. Terlihat juga Livia ada disana dan memeluk Ken dengan mesra.


" Sayang, kamu sudah datang?" tanya Livia sambil tersenyum manja dan mencium pipi Ken


" Iya sayang, aku datang " jawab Ken sambil membalas ciuman Livia dengan mesra, dengan sengaja Ken menunjukkan senyuman nya pada Alma seolah-olah ia sengaja memperlihatkan pemandangan nya seperti sedang berselingkuh itu.


Bagus, dia melihatnya. Bryan seandainya kamu melihat ini. Aku akan menari nari karena bahagia melihat penderitaan orang yang kamu cintai.


Alma tercengang melihat pemandangan yang ada di depannya.


Livia? itu kan wanita yang menggoda Bryan? kenapa Bryan memanggilnya sayang? tidak mungkin, ini pasti mimpi. Sesuatu harus dipastikan secara langsung agar tidak timbul salah paham. Aku harus bertanya dan mendengar nya sendiri.


Wanita hamil itu memberanikan dirinya untuk menghampiri Ken yang sedang bermesraan dengan Livia di depan pintu kamar apartemen Livia. Livia terlihat terkejut melihat Alma memergoki mereka dan langsung melepaskan pelukan Ken.


" Bryan.." lirih Alma dengan wajah yang penuh pertanyaan, ia menatap Ken dengan mata berkaca-kaca.


" Bryan bagaimana ini? kita ketahuan istri kamu " bisik Livia pada Ken. Bisikan Livia itu terdengar oleh Alma.


" Tidak apa, karena dia sudah tau semuanya aku tidak usah menjelaskan apa-apa lagi padanya " Ken menatap tajam Alma sambil tersenyum puas melihat wanita hamil itu tertekan oleh kekecewaan dan kesedihan


" Tidak usah menjelaskan apa? Bryan jelaskan padaku ada apa ini? kenapa kamu seperti ini?" tanya Alma sambil memegang tangan Ken. Ken menepis tangan Alma dengan kasar.


" Kamu bodoh atau dungu sih? kamu tidak lihat apa yang ada di depan kamu? perselingkuhan, aku berselingkuh !" Ken tersenyum mengakui semuanya dengan santai


Kita lihat, apakah kamu masih akan tetap sabar menghadapi ku? kamu pasti akan marah padaku.


PLAK


Tamparan mendarat di pipi Livia dengan keras, hingga pipi wanita itu merah. Ken heran karena Alma tidak marah padanya, malah marah pada Livia. Ken semakin berfikir kalau wanita di depannya itu sangat bodoh.


" Apa yang kamu lakukan?! kenapa menamparku? " tanya Livia tidak terima


" Pasti kamu yang menggoda suamiku! dulu kamu juga begitu kan? Bryan tidak mungkin seperti ini kalau tidak ada yang menggoda nya " Alma menangis, wajahnya memerah menahan marah. Ia tak bisa menerima Ken yang mengakui dirinya telah berselingkuh. Ia tak percaya kalau Ken/Bryan akan berbuat seperti itu padanya.


" Hey! aku sudah cukup sama ya sama kamu. Tapi suami kamu yang datang duluan padaku, dia yang ngajak aku berhubungan selama 2 bulan ini. " jelas Livia pada Alma


Alma terpana untuk kesekian kalinya, apa katanya berhubungan selama 2 bulan? Alma tidak percaya itu! Ken juga mengakui bahwa dirinya memang sudah berpacaran dengan Livia secara diam-diam.


Livia pun menunjukkan pada Alma bukti di ponselnya kalau mereka sudah berhubungan selama 2 bulan, foto-foto kebersamaan dan kemesraan Ken dengannya. Alma memeriksa tanggal foto di dalam ponsel itu, setiap detailnya tanpa terlewat. Tanggal-tanggal nya memang menunjukkan 2 bulan yang lalu, bahkan ada foto-foto yang menunjukkan waktu akhir-akhir ini.


Haa.. tidak sia-sia aku melakukan penyamaran sebagai Bryan dari dua bulan yang lalu dan mendekati wanita ini. Aku benar-benar pintar. Ken merasa bangga pada dirinya sendiri


" Tidak, tidak mungkin. Ini pasti bohong, Bryan kamu tidak akan melakukan ini padaku. Kamu sudah janji, dan ini kesempatan mu yang terakhir ! kenapa .. kenapa kamu.." Tangan Alma gemetaran karena marah dan sakit di hati nya


" Karena aku bosan padamu, apalagi kamu sedang hamil. Dan aku tidak suka wanita membosankan seperti kamu " ucap Ken sambil merangkul tubuh Livia


" Jelas-jelas kamu bilang, kamu tidak akan pernah bosan padaku... Apa semua itu bohong?" tanya Alma sedih


Aku tidak percaya ini, Bryan suamiku tidak akan pernah mengkhianati ku seperti ini. Ini tidak benar.


" Kamu benar-benar percaya kata-kata manis seorang pria? bagiku kamu adalah wanita yang membosankan " ucap Ken tanpa perasaan.


JLEB!


Alma tercengang lagi mendengar kata-kata Ken.


Tidak kusangka, kepercayaan nya terhadap Bryan begitu besar. Itu artinya aku perlu berusaha lebih keras lagi membuat kepercayaan nya pada Bryan runtuh. ucap Ken dalam hatinya


Ken mengajak Livia masuk ke dalam apartemen dan mengunci kamar apartemen itu. Sementara Alma menangis di depan pintu dan terus mengutuk pintu kamar itu.


" Aku akan menunggu kamu disini Bryan! jika kamu kembali dan menjelaskan semua nya padaku, lalu meminta maaf. Aku akan memaafkan mu! kamu dengar itu? aku akan tunggu kamu disini! kamu hanya perlu datang padaku dan jelaskan semuanya! kamu tidak mungkin begini! Aku percaya kamu Bryan! aku percaya ! hiks.." teriak Alma sambil menangis dan mengetuk ngetuk pintu apartemen itu


Ken mulai luluh melihat kegigihan Alma, ia merasa iri lagi pada Bryan yang mendapatkan cinta sebesar itu dari istri nya. Ken berusaha mengabaikan Alma yang masih berada di depan pintu apartemen itu.


30 menit berlalu dan Alma masih berdiri disana dengan kondisi tubuh yang hamil besar. Matanya sembab dan merah karena terlalu banyak menangis, sampai ia cegukan.


Apa yang kamu lakukan bersama wanita itu di dalam sana Bryan? kamu tidak begini, kamu tidak akan menyia-nyiakan aku dan anak kita. Kamu mencintai ku, aku percaya padamu. Kenapa kamu menyakiti ku lagi?. Alma mulai menangis lagi dan memegang perutnya yang tiba-tiba mengencang.


KLAK


CEKRET


Terlihat seorang pria keluar dari apartemen nya dan mengunci pintu. Dia adalah Mike yang baru saja akan pergi bertemu klien nya di luar.


" Alma? apa dari tadi wanita yang menangis dan berteriak teriak itu adalah dia?" gumam Mike sambil melihat Alma yang masih berdiri di depan salah satu pintu apartemen. " Itu kan apartemen baru Livia? kenapa dia berdiri disana?"


Mike berjalan menghampiri Alma, tiba-tiba saja ia melihat wanita hamil itu jatuh terduduk dan memegang perutnya, tampak kesakitan.


" Ah.. Uh.. " Rintih Alma kesakitan


Perutku kenapa sangat sakit dan mengencang seperti ini?


Mike berlari dan menghampiri Alma dengan panik. " Alma kamu kenapa? kamu baik-baik saja?"


" Pak.. Pak Mike.. "


" Aku akan bawa kamu ke rumah sakit, apa kamu bisa jalan?" tanya Mike cemas


" Ti..tidak.. aku mau Bryan yang membawaku ke rumah sakit "


Tidak peduli aku disebut wanita bodoh, dungu atau apapun itu. Aku sudah berjuang sejauh ini untuk membangun sebuah keluarga bahagia denganmu Bryan, aku tidak akan melepaskan mu dan kita tidak boleh berpisah lagi.


" Bryan? apa Bryan ada disini?" tanya Mike kebingungan


Mike melirik ke dalam apartemen Livia, ia tampak marah. Apa yang dilakukan Bryan di dalam sana dengan Livia? begitulah pikir nya dalam hati.


" Tapi kamu.. biar aku saja yang bawa kamu ya?" tanya Mike lembut


" tidak! aku tidak akan pergi sebelum Bryan keluar dan mengantarku ke rumah sakit!" ucap Alma kerasa kepala


Pria yang berniat menolong Alma itu akhirnya mengetuk pintu kamar Livia, bahkan berteriak-teriak di depan sana. Meneriakkan nama Bryan dengan kencang, beruntung nya di lantai apartemen itu hanya ada Mike dan Livia saja yang menghuni nya.


DUK


DUK


" Bryan! Bryan keluar kamu! bajingan! brengsek!" teriak Mike sambil menggedor-gedor pintu dengan kencang. Sambil memperhatikan Alma yang terlihat kesakitan dan memegang perutnya, wajah Alma penuh keringat dan pucat. " Istrimu di luar sini dan sedang kesakitan! kamu tidak akan keluar!" teriak Mike penuh kemarahan


" Uh... sayang tahan sebentar ya.. Sayang " ucap Alma sambil mengelus perut buncitnya itu, tangannya gemetaran. Keringat dingin bercucuran di tubuhnya.


Pintu apartemen itu pun terbuka, terlihat Ken yang bajunya acak-acakan dan ada beberapa tanda merah di lehernya seperti habis bercinta. Mike ingin sekali menghajar pria yang ada di depannya itu, namun ia mengurungkan niatnya karena keselamatan Alma lebih penting.


" apa sih berisik banget?" tanya Ken cuek, lalu pandangan tertuju pada Alma yang duduk di lantai.


Si bodoh ini! kenapa dia masih disini? aku pikir dia sudah pergi. Ken tampak cemas melihat Alma


" Keluar lah dan bawa istrimu ke rumah sakit, bodoh! " teriak Mike pada Ken


" Bryan, aku sudah bilang kan kalau aku akan menunggu mu disini.. " Alma tersenyum senang melihat pria yang ia anggap sebagai suaminya itu keluar dari kamar apartemen Livia.


Aku tau kamu akan keluar Bryan. Aku tidak tau ada apa dengan kamu, tapi aku tau kamu mencintai ku, masih mencintai ku. batin Alma


" bodoh! bukankah aku sudah menyuruh mu pergi!" teriak Ken marah, ia pun segera menggendong wanita hamil itu. Wajahnya tampak cemas.


Sejak kapan aku mulai mencemaskan orang lain! tidak, ini bukan cemas, aku hanya kasihan pada nya dan bayi yang ada di perutnya.


Bersamaan dengan itu, datanglah Leon yang sudah mencari-cari Alma dan Bryan dimana-mana. Leon melihat Ken menggendong Alma yang keadaan nya sedang tidak baik, Leon juga tidak melewatkan pandangan nya pada leher Ken yang penuh bekas ciuman.


" Pak Leon?" tanya Mike sambil melihat Leon


" Al, kamu kenapa?" tanya Leon panik


" Ah.. sakit.. perutku...ahhh " rintih wanita hamil itu kesakitan


" Aku akan membawanya ke rumah sakit " ucap Ken sambil berjalan dengan Alma yang berada di dalam kungkungan nya


" Ya, kita bawa dulu Alma ke rumah sakit setelah itu aku punya banyak pertanyaan untukmu adik ipar " ucap Leon tajam tanpa senyuman di wajahnya


Ken, Mike dan Leon pergi ke rumah sakit untuk menemani Alma melakukan pemeriksaan. Ketiga pria itu tampak cemas menunggu di depan ruang UGD.


Leon langsung memukul wajah Ken, tanpa tau tempat nya dimana. Seperti nya sekali lihat saja Leon sudah mengerti situasi nya.


BRUGH


" Sialan! kenapa kamu memukul ku?" tanya Ken marah


" Kenapa kamu bilang? sebenarnya aku ingin membunuh mu sekarang. Tapi aku menahan nya karena kamu masih suami adikku!" teriak Leon marah


" Kamu bajingan, kamu bukan manusia! bagaimana bisa kamu melakukan itu pada Alma! dia sedang mengandung anakmu, dasar gila!" Leon lagi-lagi memukul Ken, kali ini di wajah bagian kanannya.


Mike diam saja dan tidak bergeming apa-apa, tangannya yang gatal ingin memukul Ken sudah di dahului oleh Leon yang juga sama-sama marah dengan Ken.


Ken terdiam, ia tak melawan Leon membiarkan dirinya di pukuli oleh Leon. Ken duduk di kursi dan hanya mendengarkan ocehan Leon, wajahnya tampak merasa bersalah. Leon sangat kecewa dengan Ken/ Bryan yang kembali ke sifat playboy nya, ia tidak ingin percaya tapi apa yang ia lihat sudah jadi buktinya kalau Bryan alias Ken tidak setia lagi pada adiknya.


Leon mengancam Bryan/Ken, jika terjadi sesuatu pada Alma dan bayinya maka Leon akan menuntut nya juga menyuruh Alma bercerai darinya.


Ini bukan salahku! kenapa dia tetap menunggu di depan pintu? itu karena dia bodoh. Benar itu karena dia bodoh. Bukan salahku.. Jika terjadi sesuatu pada bayinya maka aku.. aku...Tidak, aku tidak boleh luluh.


Ken memegang kepalanya, ia tampak sedih karena sudah membuat Alma masuk rumah sakit. Kali ini pria itu benar-benar di buat cemas dengan keadaan Alma dan bayi yang bahkan bukan miliknya. Apa Ken mulai peduli pada Alma?


.


.


Seakan memiliki firasat, Bryan asli yang masih disekap merasakan hatinya tidak nyaman memikirkan Alma dan anak-anak nya. Ia ingin segera bebas dari tempat nya disekap itu.


...****...


Beberapa menit kemudian Ian keluar dari ruangan UGD. Dengan cepat, Mike dan Leon langsung memburu dokter itu dengan banyak pertanyaan tentang Alma dan bayinya.


" Kalian tenang saja, Alma dan bayinya baik-baik saja. Dia hanya mengalami serangan syok dan lelah karena berdiri terlalu lama. " jelas Ian pada Mike, Leon dan Ken.


Ken merasa lega mendengar nya.


" Lalu bagaimana keadaan nya sekarang?" tanya Ken cemas


" Diam kamu! kamu tidak berhak bertanya!" seru Leon marah


Ian bingung melihat kemarahan pada diri Leon dan Mike pada Ken yang ia anggap sebagai Bryan. Ada masalah apa sampai Mike dan Leon memperlakukan nya seperti itu?


"Anak dan istri mu baik-baik saja, namun jika ini terjadi lagi akan sangat berbahaya untuk keselamatan anak dan istrimu. Tolong jaga kondisi emosional nya ya, jangan biarkan fisiknya terlalu lelah juga " Ian menerangkan pada Ken


Ken langsung masuk ke dalam ruangan tempat Alma di rawat. Ia menatap Alma yang sedang tertidur dengan tatapan yang berbeda dari sebelumnya. Tanpa sadar Ken membelai wajah Alma yang sedang tertidur itu.


" Ken, apa yang kamu lakukan? kamu sudah gila ya. Kenapa kamu seperti ini? kamu harusnya menghancurkan nya, bukannya mengkhawatirkan kan nya. Tunggu? aku khawatir padanya? pada wanita bodoh ini? " Ken menarik tangannya kembali.


Ken? siapa Ken? apa dia benar-benar bukan Bryan?. Batin Alma kaget mendengar Ken bergumam.


Mata Alma masih terpejam, ia mendengar jelas apa yang dikatakan oleh Ken dan ia masih pura-pura tidur. Kilas balik tentang Bryan selama 2 hari ini benar-benar membuatnya sangat curiga, wajah yang mirip mungkin bisa menipu mata. Namun hati tidak akan bisa menipu, sikap Bryan dan kebiasaan nya sungguh berbeda.


Saat Ken sedang keluar dari ruangan nya, Leon dan Mike masuk untuk menjenguk Alma. Alma mulai membuka matanya dan wajahnya tampak serius.


" Al, kamu udah sadar? kamu gak apa-apa?" tanya Leon cemas


" Alma syukurlah kamu sudah sadar, " ucap Mike lega


" Kalian...tolong bantu aku, kumohon.." tangannya memegang erat baju Leon.


" Ada apa? apa yang bisa kami bantu?" tanya Mike cemas melihat raut wajah Alma yang tidak baik itu


" Tolong bantu aku temukan Bryan yang asli " jawab Alma penuh keyakinan, ternyata tidak butuh waktu lama untuk menyadari kalau Ken bukanlah suaminya, Bryan.


Dia bukan Bryan, dia adalah Ken.


Mike dan Leon tampak kaget mendengar jawaban Alma yang mencengangkan itu. Bryan yang asli? apa maksudnya? Bukankah Bryan selalu ada di hadapan mereka?


...---***---...