
🍁🍁🍁
Entah apa yang dipikirkan Juna, kata-kata yang terdengar seperti lamaran itu meluncur dari bibirnya. Juna sendiri tak percaya dan terkejut dengan apa yang baru saja ia katakan pada Bryan.
Lamaran? menikah? dia pasti sudah gila! baru saja bertemu kembali dengan Naina dan berbaikan dengannya, Juna sudah mengajaknya menikah. Apa yang ada di pikirannya itu?
Gila Juna! Gila! kamu bilang apa barusan? menikah dengan Naina? haha.. ini bagus, langsung menikah lebih baik daripada tunangan.
Juna sudah pede sendiri, ia senyum senyum dengan apa yang ia ucapkan barusan. Menikah dengan Naina seperti nya adalah keputusan yang tepat.
Kata menikah yang meluncur begitu saja dari bibir Juna, membuat Bryan, Kelvin dan Naina terpana mendengarnya. Mereka memandang Juna dengan penuh pertanyaan, mata mereka membulat tercengang.
"Lo bilang apa barusan?" tanya Kelvin sembari melirik tajam ke arah Juna yang masih tersenyum seperti orang bodoh.
"Gue mau nikah sama adik Lo" jawab Juna tanpa berfikir panjang
Juna mau menikah sama aku? tapi kenapa? bukankah dia sudah punya pacar? dan aku juga hanya sahabatnya saja?. Naina bengong mendengar ucapan Juna
"Anak gila! kamu ngomong apa? mau menikahi putriku??" Bryan bertanya sekali lagi untuk memastikan apa yang ia dengar itu benar atau tidak.
Tingkah Juna yang bicara tanpa berfikir panjang dianggap Bryan sebagai tindakan sembrono. Bryan tidak suka dengan sikap Juna yang sembrono, dianggapnya sebagai tindakan tidak konsisten.
"Saya akan melamar Naina secara resmi om, saya suka sama Naina" ucap Juna penuh keteguhan dan keyakinan. Dalam hatinya ada rasa takut kehilangan Naina, atau Naina jatuh ke pelukan pria lain jika ia tidak cepat-cepat melamar Naina.
Mungkin semua ini terbilang buru-buru, tapi sekalian saja Juna mengutarakan niatnya untuk serius dengan gadis cantik yang berasal dari keluarga Aditama itu.
Kelvin emosi, saat itu juga ia memukul mukul Juna dan mengusirnya. Kelvin meminta pak Muin selaku satpam di sana untuk menyeret Juna, lalu menutup gerbang rumah itu.
"Naina ayo masuk! jangan bicara sama anak gila ini lagi" Bryan menggandeng tangan putrinya, ia merasa kalau omongan Juna adalah candaan semata.
"Tapi pa.. kasihan Juna" Naina tidak tega melihat Juna masih berdiri di depan gerbang rumahnya dengan wajah sedih. Juna juga memelas di depan Naina, berharap dikasihani oleh Naina dan keluarganya. Namun sayangnya, Bryan dan Kelvin sama sekali tidak bersimpati pada Juna.
Juna gak apa-apa kan? wajahnya lebam lebam gitu. Sebenarnya yang Naina cemaskan itu bukan soal kata pernikahan, tapi kondisi Juna yang habis di pukuli oleh Kakak nya.
"Nai dia tuh cuma bercanda, jangan anggap serius" ucap Bryan pada Naina.
"Kalian masuk aja, biar aku yang urus dia" cakap Kelvin pada adik dan papa nya, ia melihat ke arah Juna.
Bryan dan Naina pun masuk ke dalam rumah lebih dulu. Sementara Kelvin masih ada di luar rumahnya, ia berada di gerbang.
"Vin, gue serius.. gue sayang sama Naina" kata Juna tegas pada Kelvin.
"Gue gak percaya tuh! mana ada yang bilang sayang terus ninggalin orang yang dia sayang gitu aja. Nikah? Lo mimpi ya? gak akan gue biarkan cowok seperti Lo menikah sama Naina!" jari telunjuknya menekan nekan dada Juna dengan kasar, matanya menatap sarkastik pada Juna.
"Gue ngerti kalian semua marah sama gue, tapi Naina udah maafin gue" ucap Juna sambil merengek
"Terus apa hubungannya sama pernikahan? Lo gila ya, baru aja ketemu lagi sama Naina dan Lo udah ngajak nikah??" Kelvin menyilangkan tangan di dada, menatap Juna dengan tajam.
Bukankah si Juna ini sama seperti ku? baru bertemu dengan Keira, aku juga mengajak nya menikah. kata-kata Kelvin pada Juna seperti sindiran untuknya sendiri.
"Karena Naina gak mau pacaran, jadi gue ajak nikah aja" Juna menggerutu dengan bibir yang mengerucut.
"Bodoh! b*go! apa Lo gak ngerasa ini terlalu cepat? bahkan jika Naina gak mau pacaran, pasti ada yang namanya pdkt dulu dong? ya kan? nah ini Lo main asal ngajak nikah aja" Kelvin menasehati Juna
Mendengar nasihat Juna, ia merasa kalau Kelvin mendukung nya dan Naina. Juna mengatakan bahwa ia senang kalau Kelvin mendukungnya. Namun, Kelvin berkilah kalau ia tidak mendukung Juna bersama Naina tapi ia hanya mendukung apa yang terbaik dan membuat Naina bahagia.
"Kalau Lo memang kebahagiaan Naina dan Naina juga suka sama Lo, gue gak akan ngelarang kalian bersama. Tapi, kalau Lo cuma buat Naina menderita.. gue akan jadi orang pertama yang maju buat menjauhkan Naina dari Lo. Yang jelas, gue masih belum suka sama Lo, nilai Lo masih minus" Kelvin menerangkan pendapatnya tentang Naina dan sekalian juga memperingatkan Juna.
"Ja-jadi Lo bakal setuju kan kalau Naina emang suka sama gue?!" tanya Juna dengan mata yang berbinar-binar
"Gak juga. Gue sebenernya lebih suka kalau Naina sama orang lain yang jauh lebih baik dari Lo, dan gak pernah nyakitin dia" Kelvin tersenyum menyeringai, seperti nya kata-kata itu bermaksud lain.
Juna terpana mendengarnya, ia bisa menebak orang yang dimaksud oleh Kelvin adalah saingan terberat nya, yaitu Theo. Ya, memang dari dulu Theo adalah saingannya untuk dekat dengan Naina. Dalam hatinya Juna bertekad untuk mendekati Naina dan mengubah hubungan persahabatan diantara mereka menjadi hubungan cinta.
Kelvin mengatakan lagi pada Juna, bahwa kedua orang tua nya juga setuju jika Naina bersama Theo. Mereka sangat respect pada Theo yang digadang-gadang akan menjadi menantu laki-laki di dalam keluarga Aditama. Makin panas saja hati Juna mendengar kata-kata Kelvin.
Berarti tugasku sangat banyak. Menyingkirkan si Theo, mengambil hati Naina, kedua orang tua nya, semua keluarganya.
"Woy! ngapain Lo masih ada disini, balik sana!" seru Kelvin mengusir Juna yang masih ada di depan gerbang rumahnya.
Semoga aja kamu paham Jun, apa maksud ku.
"Oke, gue pergi" jawab Juna sambil cemberut dan melangkah pergi. Juna membalikkan lagi badannya dan menatap ke arah Kelvin
"Apa lo lihat-lihat?!" tanya Kelvin pada Juna yang kembali meliriknya
"Gue akan pergi sekarang, tapi gue bakal balik lagi!" seru Juna penuh semangat
Selamat berjuang Juna. Perjalanan kamu tidak akan mudah. batin Kelvin
Juna meninggalkan rumah Naina, Kelvin juga masuk ke dalam rumahnya. Kelvin melihat dan mendengar kalau adiknya sedang di nasehati oleh Bryan dan Alma.
"Ada apa sih ini? malam-malam masih pada ribut aja?" tanya Alma pada Bryan dan Naina, ia baru saja menuntaskan urusan nya di kamar mandi.
"Ini nih, ada orang gila yang ngelamar anak kita, sayang.."
"Orang gila? yang melamar? siapa?" tanya Alma sambil duduk di samping Naina, ia menatap suami dan putrinya dengan mata yang penasaran.
"Ya ampun papa, kok omongan nya Juna dianggap serius sih. Dia pasti bercanda pa" Naina tersenyum dan menanggapi nya dengan santai.
Tapi kenapa Juna bilang gitu ya? apa benaran dia bercanda atau.. Naina sendiri merasa ragu kalau Juna hanya bercanda karena melihat dari wajahnya, Juna terlihat serius dan bersungguh-sungguh. Entahlah, Naina jadi bingung sendiri.
"Iya sayang, barusan dia kesini nganterin Naina. Terus dia bilang sama aku kalau dia mau menikah sama Naina, gila ya tuh anak?! gak habis pikir papa, kenapa dia bisa ngomong kaya gitu. Gak tau malu" omel Bryan kesal pada Juna yang datang seenaknya dan melamar Naina.
"Apa? kok mama jadi kurang respect juga sama dia. Dia sudah membuat anak mama yang cantik ini galau, pokoknya kamu jangan sama dia ya. Sama Theo aja, cowok kaya gitu tidak bertanggungjawab" ucap Alma pada putrinya itu, sambil mempromosikan Theo.
"Ya, papa juga setuju kalau kamu sama Theo. Dia anak baik, dokter cerdas dan dia anak sahabat papa" Bryan mengangguk dan tersenyum setuju dengan pendapat istrinya tentang Theo dan Naina.
"Pa, ma, aku sama kak Theo gak akan pernah ada hubungan kaya gitu. Dan ada alasan kenapa Juna dulu pergi begitu aja. Mama, papa dengarkan aku dulu" Naina ingin didengar oleh papa dan mama nya.
Kelvin juga ikut duduk dan ingin mendengarkan cerita Naina tentang Juna. Naina menceritakan alasan kenapa Juna pergi begitu saja tanpa kabar sedikit pun. Setelah mendengar cerita dari Naina, Alma Bryan mulai bersimpati pada Juna. Terlebih lagi saat mereka mendengar kalau pak Farid sudah tiada.
"Jadi begitu ceritanya, kasihan juga dia ya. Masih muda sudah harus mengemban tanggungjawab yang berat" Alma prihatin pada Juna, ia menurunkan alisnya.
"Kalau gitu sih papa no komen, tapi fakta dia udah membuat anak papa galau itu gak merubah keadaan. Harusnya bagaimana pun keadaan dia, dia bisa menghubungi kamu" ucap Bryan tegas, ia ingat bagaimana Naina sedih karena Juna yang pergi.
Alma, Kelvin juga bungkam karena memang apa yang dikatakan oleh Bryan itu benar. Bryan dan Alma mungkin memaafkan Juna, tapi mereka tetap tidak setuju kalau Naina menikah dengan Juna.
Padahal Naina sendiri belum ada kepikiran untuk menikah. Dia masih ingin menikmati masa muda dan karir nya yang saat ini sedang cemerlang. Naina menutup pembicaraan itu dan pergi ke kamarnya.
Jantungnya berdegup kencang, ia mengingat kata-kata Juna pada Bryan saat tadi berada di depan rumah nya.
"Ih...kenapa sih jantungku berdebar seperti ini? Juna pasti cuma bercanda! dia kan udah punya pacar! logikanya aku harus jauhi dia, karena dia udah punya pacar. Tapi kenapa dia ngomong kaya gitu sama papa?! gak masuk akal!" dengus Naina sambil merebahkan dirinya di ranjang.
Entah kenapa gadis itu mulai merasakan hal yang tak biasa saat ia bertemu dan berdekatan dengan Juna. Naina tak mengerti apa yang ia rasakan itu.
🍀🍀🍀
Keesokan harinya adalah hari dimana pameran galeri Naina resmi dibuka. Semua orang yang memiliki undangan, hadir ke acara pameran itu. Kelvin juga meluangkan waktunya dengan mengambil libur untuk menghadiri acara itu, ia menjemput Keira dan mengajaknya berangkat bersama ke acara itu.
Kelvin dan Keira kini berada di depan gedung galeri Naina. Keira tampak tegang, tangannya gemetar memegang buket bunga.
"Kei, kamu kenapa sih dari tadi diem terus?" tanya Kelvin sambil melihat ke arah Keira dengan cemas.
"Kamu gak lihat? aku sedang tegang nih, apa aku jangan masuk ke dalam saja?" Keira menjadi ragu dan takut untuk masuk ke dalam gedung itu.
"Kamu mau kabur lagi?" tanya Kelvin kesal
"Gak bukannya gitu vin, aku.. aku hanya takut kalau mereka akan marah pada ku, apalagi Naina" ucap Keira takut untuk masuk ke dalam gedung dan bertemu dengan teman-teman nya.
"Kamu tenang aja, mereka tidak akan bereaksi sama seperti ku. Awalnya mereka akan marah, tapi mereka bakalan ngerti kok kalau kamu jelasin" Kelvin memegang tangan Keira seraya menenangkan pacarnya yang sudah kembali itu.
"Makasih Vin, aku akan masuk ke dalam dan menjelaskan semuanya" kata Keira semangat setelah Kelvin menyemangati nya..
"Nah gitu dong" Kelvin tersenyum manis pada Keira
Kelvin ganteng banget, dia makin banget. Bodohnya aku dulu meninggalkan nya yang sempurna ini. batin Keira terpesona melihat senyuman yang menyungging di bibir pacarnya.
"Kamu jangan senyum-senyum kaya gitu!" kata Keira tiba-tiba marah saat Kelvin tersenyum padanya.
"Kenapa?"
"Karena kamu ganteng dan semua wanita bisa memandang kamu!" jawab Keira dengan cepat, tanpa rem sedikit pun.
"A-Apa??!!" Kelvin langsung memalingkan wajah lalu ia memegangi bibirnya, menutupi wajah nya yang merah.
Aku ganteng? haah... aku tidak menyangka kalau aku se senang ini di panggil ganteng oleh Keira. Walaupun orang-orang sering mengatakan aku tampan, tapi kalau Keira yang mengatakan nya.. aku sangat bahagia. batin Kelvin berbunga-bunga
Walah! Keira kenapa bibir mu tidak di rem?! pekik nya dalam hati
"Yuk ah masuk ke dalam!" ajak Keira yang juga malu setelah mengatakan Kelvin ganteng.
"Aku gak akan tersenyum pada orang lain apalagi cewek lain, aku cuma hanya akan tersenyum sama kamu" ucap Kelvin dengan senyum manis dari bibir seksinya itu.
"Kelvin! udah ah...ayo masuk! acaranya udah mau mulai!" seru Keira mengalihkan pembicaraan, ia berjalan mendahului Kelvin. Rasa malunya tidak dapat ia sembunyikan, pipi nya merah merona dan matanya menatap kemana-mana.
Kelvin gemas melihat tingkah Keira yang seperti itu. Beberapa langkah saat masuk ke dalam, Keira terpana melihat teman-teman lama nya ada disana. Hati Keira berdebar-debar, ia merangkai kata di dalam pikirannya untuk diucapkan pada teman-teman nya itu.
Naina, Damar, Bagas, Nando, Reza, Nisha dan Theo juga ada disana. Mereka semua terpana melihat kehadiran Keira disana, terutama Damar.
"Kei.. Keira??!" panggil Naina dan Nisha bersamaan.
"Bro, itu si Keira!" seru Bagas sambil menepuk pundak Damar. Damar sendiri malah mematung saat melihat Keira berdiri tak jauh dari sosok Kelvin.
"Aslinya itu si Keira!!" kata Reza yang juga terkejut melihat Keira ada disana.
Damar berlari dan memeluk Keira, Naina dan Nisha yang akan menghampiri Keira keduluan oleh Damar.
GREP
Keira terkejut mendapat pelukan hangat dari Damar. Semua orang disana juga terkejut melihat pemandangan itu. Dan ada satu orang yang terlihat marah melihat Damar dan Keira berpelukan.
"Da-damar??" Keira masih dalam mode kaget
Kenapa Damar seperti ini?
"Kei..aku kangen sama kamu" ucap Damar dengan mata berkaca-kaca.
...---***---...