Stuck In Love CEO

Stuck In Love CEO
Kesempatan untuk Bryan



Alma terdiam membeku. Leon seperti nya mengerti apa yang membuat Alma bimbang. Kehadiran Bryan, sudah membuat Alma kembali bimbang. Leon menyesali kebaikan hatinya dulu, untuk membujuk Alma pulang ke Jakarta. Jika pada akhirnya Bryan akan menjadi orang ketiga diantara mereka, dan Leon yakin kehadiran Bryan akan menggoyahkan hati Alma.


Leon mulai takut, merasa terancam dengan posisinya. Jauh di lubuk hatinya, ia tau kalau Alma masih menyimpan cinta untuk Bryan. Apakah Leon yang selalu ada untuk Alma akan kalah dengan Bryan yang sudah menjadi masa lalu Alma?


Aku jadi menyesal telah membujuk mu kembali ke Jakarta. Seharusnya aku biarkan saja kamu dan anak-anak berada di luar negeri selamanya. Tapi aku tidak akan menyerah begitu saja, aku sudah berhasil mendapatkan jawaban ya darimu setelah 6 tahun. Aku tidak bisa bersabar dan menunggu lagi.


Leon menghela napas nya, seperti nya ia akan mengatakan sesuatu pada Alma. Tanpa mereka berdua sadari, Kelvin memperhatikan mereka diam-diam.


" Alma, ayo kita bertunangan " ucap nya penuh keseriusan, tak lupa tangannya memegang tangan Alma


Deg!


Bukan hanya ciuman di pipi saja yang mendadak malam itu, untuk Alma. Tapi juga permintaan pertunangan dari Leon. Mata Alma seketika membulat karena kaget.


Tunangan? Batin Kelvin kaget mendengar nya.


" Ke-kenapa tiba-tiba kak?"


" Tidak tiba-tiba Al, aku sudah ingin melakukan ini dari dulu. Tapi aku menunggu kamu, kita bertunangan ya " Leon memohon


" Kak, aku akan pikir-pikir dulu ya dan aku juga harus tanya pada anak-anak tentang ini. Tidak apa kan?" tanya Alma sambil tersenyum


" Ya baiklah, aku pikir aku sudah mengatakan apa keinginan ku. Aku harap segera mendapatkan jawaban nya, Al. " Leon tersenyum pahit


Aku harap penantian ku tidak sia-sia.


" Iya kak, aku-aku akan memikirkan nya dulu "


Kenapa Mama ragu? apa Mama masih mencintai papa Bryan? tidak heran kepercayaan diri papa Bryan begitu tinggi, Mama masih mencintai nya. batin Kelvin menganalisa raut wajah dan sikap Mama nya itu di depan Leon.


Kelvin sama seperti ibunya, ia terlihat bingung juga harus memilih siapa. Leon yang selalu ada untuk mereka selama 6 tahun, ataukah Bryan papa kandung si kembar yang belum lama hadir kembali dalam kehidupan mereka. Dan Kelvin menyimpulkan kalau Mama nya masih mencintai mantan suaminya itu.


" Aku akan pulang, ini sudah malam. "


Bibir Leon mendarat di kening Alma, mengecupnya dengan lembut. Alma di buat kaget lagi oleh sikapnya. Ia mencium Alma 2 kali dalam satu hari, membuatnya terkejut.


" Kakak.. " wajah Alma memerah


" Aku pamit sayang " Leon tersenyum dan membelai pipi gadis itu sebelum pergi meninggalkan rumahnya.


" Aku antar sampai depan "


Alma mengantar Leon sampai ke depan rumahnya sampai pria itu menaiki mobilnya lalu pergi dari rumahnya. Entah kenapa perasaan nya masih saja hambar saat di dekat Leon. Jika ia mencintai Leon, bukankah harusnya ia berdebar-debar? ini sih biasa saja untuknya. Tidak seperti saat ia bersama Bryan.


Kelembutan dan kasih sayang yang ditunjukkan Leon padanya, nyatanya tidak membuat hatinya tergerak. Apa mungkin karena selama ini Alma menganggap Leon sebagai saudaranya?


🍂🍂🍂


Di rumah keluarga Aditama.


Risya membawa selembar kertas, dan menghampiri Bryan yang sedang duduk di sofa dan memainkan tabletnya.


" Papa !"


" Ya sayang? ada apa?"


Risya menatap Bryan yang ia kenali sebagai papanya itu dengan penuh pertanyaan. Sikap Laura yang berubah padanya membuat anak itu bingung.


" Papa, papa tidak marah kan sama aku?" Risya ragu dan agak takut untuk bertanya


" Loh, kamu kok bertanya seperti itu? kenapa papa harus marah sama kamu?" tanya Bryan heran mendengar pertanyaan anaknya itu.


" Karena.. karena Tante Laura marah sama aku, jadi aku pikir papa juga marah sama aku " Risya menunduk, wajah anak itu tampak sedih. Membuat Bryan tidak tega, pria itu merangkul Risya dan mendudukkan nya di pangkuannya.


" Kata siapa Tante Laura marah sama kamu? dia gak marah kok "


" Tapi, tadi Tante di sekolah tidak mau naik mobil bareng aku. Tante malah bawa si Kelvin salah satu anak kembar yang tidak jelas asal usul nya itu " gerutu Risya


" Risya, kamu jangan bicara sembarangan tentang mereka ! " bentak Bryan emosi


" Papa, papa juga marah sama aku..hiks " mata polos itu pun akhirnya menangis


" Maaf, papa gak marah sama kamu. Papa cuma gak suka kamu bilang tentang mereka seperti itu. Udah kamu jangan nangis " Bryan mengusap air mata Risya, dan berusaha mengendalikan emosinya


" Semua orang mereka tidak jelas asal usul nya, karena mereka tidak punya papa " jawab Risya yang tangisannya sudah mulai reda


" Apa? semua orang itu siapa? siapa yang berani yang mengatakan itu?!" tanya Bryan kesal


" teman-teman di sekolah ku pah, mereka bilang kalau Kelvin sama Naina itu anak haram "


" Apa? benar-benar keterlaluan ! papanya ada disini dan mereka malah bilang seperti itu " gumam Bryan kesal, mendengar kedua anaknya diperlakukan dan dihina seperti itu oleh teman-temannya


Bryan jadi teringat kata-kata Alma sebelum nya. Betapa sulitnya hidup Alma yang membesarkan anak anak tanpa dirinya. Hinaan dan ejekan seperti ini pasti sudah sering anak-anak itu rasakan. Bryan jadi semakin merasa bersalah, jika saja ia tidak playboy dan bisa membuktikan dirinya tidak bersalah lebih cepat. Mungkin saja Alma tidak akan pergi meninggalkan nya, andai saja saat itu ia menghentikan pertunangan nya dengan Selina. Mungkin saja saat ini Bryan, Alma dan anak-anak mereka sudah hidup bahagia seperti keluarga.


" Papa bilang kalau mereka anak papa?" tanya Risya polos


" Ya, mereka adalah anak-anak papa mu. Anak kandung, dan kamu bukan !" ujar Laura yang baru saja akan turun dari lantai atas.


" Apa? jadi aku bukan anak kandung papa? tapi mereka?" tanya Risya bingung.


" Kakak, udah kak. Jangan lampiaskan kemarahan kakak sama Risya. " ucap Bryan mengingatkan


" Dia harus tau posisi nya di rumah ini Bryan, dia tidak berhak bicara seperti itu tentang anak anak kamu dan Alma. Memangnya dia siapa?" kata Laura sinis dan penuh kebencian


" Kakak ! udah cukup !" teriak Bryan marah


" Kamu yang cukup Bryan, kenapa kamu masih menampung anak ini? sudah jelas-jelas dia bukan anak kamu. Pantas saja Alma belum menerima kamu, apa kamu gak sadar apa alasan nya? salah satunya adalah kehadiran anak ini !"


Laura rupanya masih sakit hati dengan apa yang dilakukan oleh orang tua Risya. Laura tidak bisa menerima pengkhianatan Jason dengan mudah. Bagaimana pun juga ia sudah hidup lama dengan Jason. Melihat anak selingkuhan suaminya setiap hari, pasti membuatnya terluka.


Bryan tersentak dengan apa yang dikatakan Laura. Membenarkan bahwa kata-kata Laura tidak sepenuhnya salah. Mungkinkah alasan Alma belum menerima kehadiran nya karena Risya masih berada di sekitar nya dan membuat Alma juga kedua anaknya tidak nyaman?


" Kenapa kamu diam Bryan? kamu menyadari bahwa kata-kata ku tidak salah kan?" Laura menyilangkan tangan di dadanya, menatap Risya dengan penuh kebencian


" Kenapa Tante sama papa bertengkar? apa ini gara-gara aku?" Mata Risya kembali berkaca-kaca. Ia hampir menangis.


Ny. Delia yang mendengar keributan itu terbangun dari tidurnya. Ia segera membawa Risya yang menangis ke dalam kamarnya. Meskipun ia tau Risya bukanlah cucu kandungnya, tapi Ny. Delia sudah terlanjur sayang pada anak itu. Begitu pula dengan Bryan.


🍂🍂🍂


Keesokan harinya, di rumah Alma.


Mia, Alma, dan si kembar tampak bersiap siap untuk memulai aktivitas mereka.


" Mi, kok buru-buru banget. Ayo sarapan dulu !" ujar Alma


" Aku udah di jemput Aldo, duluan ya "


Mia tampak begitu bersemangat sudah di jemput oleh pacarnya. Ia berangkat lebih dulu, dan melewatkan sarapannya.


" Dasar.."


" Tante Mia kelihatan bahagia ya ma " ucap Naina sambil memakan nasi goreng buatan ibunya.


Sementara Alma masih sibuk mempersiapkan makanan untuk diisi ke kotak bekal anak anaknya.


" Ya, syukurlah " jawab Alma


" Ma, hari ini ada hari orang tua di sekolah " kata Kelvin


Alma menghentikan aktivitas nya sejenak, dan ia mulai memperhatikan kedua anaknya. Kelvin melanjutkan kata-kata nya, bahwa setiap orang tua akan hadir dalam acara itu.


" Mama tidak usah datang, aku akan bilang ke Bu guru kalau mama sibuk " ucap Kelvin santai, dan sudah terbiasa jika ibunya tidak datang ke acara sekolah.


" tidak sayang, mama pasti datang ! mama bisa datang " ucap Alma yakin


" Aku senang Mama bisa datang, tapi apa Mama akan datang sendiri seperti waktu itu? semua orang membicarakan kenapa kami tidak punya papa? lebih baik mama tidak usah datang " Naina terlihat kesal, hari orang tua membuat nya begitu sensitif. Ia jadi teringat ejekan teman-temannya saat sekolah di luar negeri dulu.


" Sayang, maafkan mama. Mama akan datang kok "


" Tidak ! mama tidak perlu datang, tidak perlu bawa papa juga. Semua orang akan mengejek kami disekolah biarkan saja !" Naina menghentikan makan nya dan ia segera pergi keluar rumah membawa tas gendong nya. Wajahnya terlihat kecewa dan sedih.


" Mama akan datang kan?"


" Kalau aku sih tidak apa-apa di ejek seperti itu, aku sudah terbiasa. Tapi, Naina tidak terbiasa ma. Dia sangat sensitif, dia pasti senang kalau mama sama papa bisa datang bersamaan " ucap Kelvin sambil tersenyum


Apa aku sedang di nasehati oleh anak berusia 5 tahun? ibu macam apa aku ini. Benar juga, selama ini Naina tidak pernah marah seperti itu. Apa dia membutuhkan papa nya? ya Allah aku bingung harus menghubungi kak Leon atau kak Bryan? . Perasaan Alma terusik dan tidak tenang.


" Mama harus hubungi papa Bryan, dia kan papa kandung kami. Dan Naina pasti akan lebih senang Ma. "


Semoga dengan ini mama menyadari perasaan nya. Kalau Mama masih mencintai papa Bryan.


" Iya sayang, jam berapa acaranya?" tanya Alma


" Jam 10 Ma " jawab Kelvin


Setelah selesai sarapan, sebelum berangkat ke kantor Alma mengantar dulu kedua anaknya ke sekolah mereka. Di sepanjang perjalanan Naina terlihat cemberut dan sedih. Alma merasa sedih melihat anaknya yang sedih itu, ia berusaha membujuk Naina untuk tersenyum.


" Nai, mama pasti datang kok. Mama akan datang sama papa kamu "


" Bohong ! Mama bohong "


" Udah dong sayang ngambeknya, Mama janji akan datang sama Papa "


" Kalau mama bohong, aku tidak akan percaya lagi sama Mama. Mama harus datang sama papa "


" Oke, janji kelingking dulu yuk?" Alma tersenyum


Naina dan Alma menautkan kelingking mereka satu sama lain. Sebagai tanda perjanjian.


" Ayo, sekarang senyum dulu anak mama yang cantik. Biar mama kerjanya semangat !" Alma tersenyum pada anaknya itu


Naina tersenyum manis pada ibunya. Kemarahan nya sudah mulai mereda. Ia sangat berharap kalau Mama dan papa nya akan datang bersama ke acara nanti siang. Kelvin tersenyum melihat Naina dan Alma.


" Kelvin, kamu jagain adik kamu ya "


" Iya Ma, Mama jangan lupa nanti siang " Kelvin mengingatkan


" Iya sayang " jawab Alma


Saat Alma akan masuk kembali ke dalam mobilnya. Ia melihat Ny. Delia yang mengantar Risya ke sekolah. Hatinya sedikit tidak nyaman melihat Risya, di sisi lain ia merasa kasihan pada Risya karena diabaikan oleh Selina dan Jason. Dan setiap melihat Risya, Alma menjadi bingung.


Beberapa menit kemudian, Alma sampai di kantornya. Ia segera masuk ke ruangan nya dan bekerja seperti biasanya. Di sela-sela waktu santainya, ia kebingungan sambil menatap ponselnya.


" telpon atau tidak, telpon tidak " gumam Alma kebingungan


" Bu Alma, apa anda baik-baik saja?" tanya Viona yang dari tadi melihat Alma terlihat resah


" Ah Viona, syukurlah kamu disini. Aku butuh pendapat mu "


" Ya Bu, katakan saja " Viona tersenyum


Alma mengatakan kebingungan nya pada Viona, tentang siapa yang harus ditelpon oleh Alma. Leon atau kah Bryan. Viona memberikan pendapat bahwa Bryan sebagai ayah kandung dari si kembar harus diberikan kesempatan untuk bersama si kembar. Jadi, Alma wajib menelpon nya.


Dengan hati yang resah, Alma pun menghubungi Bryan lebih dulu. Baru saja dering yang pertama, sudah terdengar suara Bryan mengangkat telponnya. Suara yang ceria, dan tentunya bahagia.


" Halo "


" Ada apa kamu menelpon ku? tumben sekali "


" Jangan kepedean deh, aku menelpon karena Naina dan Kelvin " jawab Alma cuek


" Ada apa? apa terjadi sesuatu pada mereka?" tanya Bryan dengan nada suara yang panik


" Mereka baik-baik saja kok , aku cuma mau memberitahu mu kalau hari ini di sekolah mereka ada hari bersama orang tua "


" Jadi ?"


" Jadi, Naina dan Kelvin sangat mengharapkan kehadiran mu. Aku harap kamu tidak sibuk, tapi kalau kamu sibuk aku akan meminta kak.."


" Stop ! jangan bilang kamu mau meminta si Leon menggantikan ku? aku tidak sibuk dan sekalipun aku sibuk aku pasti akan meluangkan waktu ku untuk mereka. Terimakasih sudah berinsiatif menghubungi ku lebih dulu Alma " Bryan tersenyum senang.


Alma sudah mulai mempercayai ku, aku tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini. Apakah anak-anak ku adalah jalan dari Tuhan agar aku bisa bersama dengan Alma lagi?


" Iya, bagaimana pun juga kamu adalah papa mereka. Aku tidak akan melarang kamu dekat dengan mereka. Kelvin bilang acaranya mulai jam 10 " jelas Alma


" Aku akan jemput kamu jam 09.40 "


" Kita berangkat masing-masing saja "


" Eh mana bisa begitu? kita kan orang tua Kelvin dan Naina, mereka akan sedih kalau kita berjalan terpisah. "


Benar juga, Naina kan ingin melihat aku berangkat bersama dengan kak Bryan


" Ya baiklah " jawab Alma setuju


Yes, akhirnya kesempatan datang juga. Bryan terlihat senang dan senyum-senyum sendiri. Andre sampai tertawa melihatnya.


****


Tepat jam 09.40, Bryan menjemput Alma di kantornya. Mereka segera berangkat menuju ke TK tempat si kembar bersekolah.


" Kamu tidak boleh mengecewakan mereka, paham?"


" Ya, aku tau. Dan aku juga tidak akan mengecewakan mu "


" Aku sedang membicarakan tentang anak-anak ! bukan kita "


" Membicarakan kita juga boleh kok "


" Kak Bryan! kamu!"


" Apa?"


" Kamu tidak melewatkan sarapan mu lagi bukan?"


" Oh, jadi sekarang kamu mulai peduli padaku?" Bryan tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya itu.


" Tidak ! aku bertanya karena aku takut kamu akan mengacaukan acaranya dengan sakit maag mu itu "


" Haa..dasar jaim " gumam Bryan


" aku tidak jaim " Alma menyilangkan tangannya di dada


Aku tau cinta itu masih ada di antara kita, dan aku akan buat kamu menyadari nya.


Alma dan Bryan sampai di depan gerbang sekolah, terlihat beberapa orang tua murid yang mulai memasuki area sekolah. Bryan memarkirkan mobilnya di tempat parkir. Mereka pun berjalan bersama layaknya pasangan suami istri.


" Syukurlah kita tidak terlambat, ayo kak " Alma berlari. " Tidak usah buru-buru !" ujar Bryan


Tak sengaja, kaki Alma tersandung batu dan membuatnya hampir jatuh. Beruntung nya Bryan menangkap tubuhnya.


" Bagaimana bisa kamu berlari dengan sepatu tinggi seperti itu? kamu seharusnya berhati-hati !"


" Maaf kan aku " Alma tersentak dengan perhatian dari Bryan. Tangan Bryan masih menyentuh pinggangnya.


Debaran ini, masih sama seperti dulu.


" Kenapa kamu minta maaf padaku? bodoh! apa kamu terluka? "


" Aku baik-baik saja " jawab Alma


Ternyata kak Bryan masih peduli padaku.


Bryan mengajak Alma duduk terlebih dahulu dan memeriksa kaki Alma dengan penuh perhatian. Si kembar tersenyum melihat kedekatan orang tua mereka.


" Kakak, lihat itu. Mama dan Papa Bryan bersama. Aku mau kesana ah !" Naina tersenyum senang


" Nai, kamu gak lihat situasi nya? kalau kamu ingin mama dan papa bersatu kan? kita biarkan saja mereka berdua dulu " Kelvin menghentikan adiknya untuk mendatangi ayah dan ibu nya.


Apakah pada akhirnya cinta mereka akan kembali ke tempatnya berada?


...---****---...