
Readers ku tersayang..❤️🤗 jangan lupa like dan komennya kalau udah baca ya, biar author tambah semangat.
Kalau suka ceritanya, mangga boleh di favorit kan 🙏😊
****
.
.
Bryan ditemani oleh Andre, masuk ke ruang rapatnya. Hari itu adalah rapat dengan pihak JJ modelling, artinya rapat dengan Mike dan Sharla.
Suasana dingin mengitari ruangan rapat itu, aura permusuhan antara Bryan dan Mike rupanya masih belum menghilang. Bryan masih merasa terancam dengan keberadaan Mike, padahal Mike sudah menghilang selama 3 bulan untuk melupakan perasaan nya pada Alma. Namun, Bryan masih tetap saja curiga pada temannya itu.
" Baiklah, pihak kami akan segera mengirimkan baju untuk para model yang ada di perusahaan mu " ucap Bryan sambil mengulurkan tangannya untuk berjabatan tangan dengan Mike
" Iya, mohon bantuan dan kerjasamanya " jawab Mike
" Sebelum kamu pergi, bagaimana kalau kita makan siang bersama dulu. Bu Sharla apa anda tidak keberatan?" tanya Bryan pada Sharla
" Saya setuju setuju saja sih " jawab Sharla sambil tersenyum
Ada apa ini? apa mereka benar-benar sudah baikan? kenapa aku merasa mereka masih bermusuhan?
Bryan, Sharla, dan Mike makan siang bersama di sebuah restoran mewah yang letaknya tak jauh dari kantor Aditama grup. Tatapan Bryan pada Mike masih tajam dan memancarkan keresahan.
Sambil menikmati santapan makan siang, Bryan mengawali pembicaraan dengan Mike.
" Oh ya, Mike kenapa kamu kembali?" tanya Bryan sambil memotong daging di piringnya dengan pisau.
Seperti nya Bryan masih merasa bahwa aku adalah ancaman. Dia terlihat tidak senang, aku kembali kemari. begitulah pikir Mike setelah mendengar pertanyaan Bryan
" Perusahaan ku kan berada disini, apa masuk akal aku meninggalkan perusahaan ku lalu pergi keluar negeri untuk waktu yang lama?" ucap Mike sinis
" Santai saja, aku hanya bertanya " Bryan tersenyum tipis, lalu memakan salah satu potong dagingnya yang ada di piring
" Seperti nya kamu yang tidak santai " Mike tersenyum sinis
Sharla merasa deg degan saat berada diantara Mike dan Bryan. Ia bisa merasakan aura permusuhan diantara mereka, akhirnya wanita itu memutuskan untuk pergi ke toilet untuk mencuci tangannya, lebih tepatnya untuk menghindari kedua orang itu.
Dan benar saja, setelah kepergian Sharla, kedua ya berdebat dengan bebas.
" Kenapa Bryan? apa kamu masih mengira aku adalah ancaman?" tanya Mike sambil tersenyum sinis
" Tidak sama sekali " jawab Bryan berusaha tenang
" Kata-kata mu bertentangan dengan hatimu kan, Bryan?" tanya Mike
" Jangan sok tau " Bryan melirik tajam kepada temannya itu.
" Tenang saja, aku akan menepati janjiku. Aku tidak akan menjadi seseorang yang merebut istri temannya, aku juga tidak bisa berada diantara kalian. Jadi, kamu jangan curiga lagi pada ku " ucapnya bersungguh-sungguh
Bryan tersenyum, ia mempercayai janji Mike. Mereka pun akhirnya bisa makan dengan tenang lalu mengobrol seperti biasanya. Karena Bryan mulai menurunkan kewaspadaan nya pada Mike.
Berusaha sepenuhnya percaya pada Mike dan Alma. Menghindari rasa curiga yang bisa menimbulkan kesenggangan hubungan dan perpecahan hubungan diantara mereka. Di tengah-tengah obrolan mereka, Andre datang dengan wajah panik bersama ketua departemen teknologi di kantor Aditama Grup.
" Presdir, maaf menganggu makan siang anda! tapi ada urusan yang gawat " ucap Andre berbisik pada Bryan
" Ada apa?" tanya Bryan pada Andre
Ketua departemen teknologi itu langsung membisikkan sesuatu ke telinga Bryan. Bryan tampak kaget dan tersentak mendengar nya.
" APA??!" Bryan langsung berdiri dari mejanya dengan wajah panik.
" Bryan, ada apa?" tanya Mike cemas melihat teman nya itu.
" Maaf, seperti nya aku harus pergi lebih dulu Mike. Ada urusan internal perusahaan " ucap Bryan lalu pergi begitu saja bersama Andre dan ketua departemen teknologi dari perusahaan nya.
Bagaimana ini bisa terjadi? siapa yang berani melakukan ini??
Bryan mengepalkan tangannya dan tampak kesal, entah apa yang didengarnya dari ketua departemen teknologi di perusahaan nya itu. Melihat reaksi nya seperti nya bukan berita yang baik. Mike juga tampak cemas melihat temannya itu.
Sharla baru saja kembali dari toilet setelah sengaja berlama-lama disana. Ia hanya melihat Mike sendirian di meja nya.
" Kenapa kamu sendirian? mana Pak Bryan?" tanya Sharla
" Dia sudah pergi, kamu lama sekali di toilet nya. Kamu BAB ya?" goda Mike pada Sharla
" Apa? haha.. aku sengaja menghindari kalian, atmosfer di sekitar kalian terasa panas " Sharla tertawa kecil
" Kami sudah menyelesaikan semua masalah. Aku dan Bryan sudah benar-benar berbaikan " Mike tersenyum senang
" Benarkah? bagus dong, tapi apa kamu benar-benar sudah melupakan nya? " tanya Sharla serius
Hanya keheningan saat pertanyaan serius dilontarkan untuk Mike dari Sharla. Sharla tidak bertanya lebih banyak lagi, ia tak mau membuka luka yang ada di hati Mike karena menyukai istri temannya sendiri.
" Sudahlah, ayo kita pergi juga. Aku harus bersiap-siap pergi ke Paris mengejar pesawat " ucap Sharla mengalihkan perhatian
Kasihan sekali kamu Mike, sudah mencoba 3 bulan menjaga jarak darinya. Hatimu masih terpaut padanya. Semoga Tuhan menghadirkan seseorang yang mencintai mu . Doanya tulus untuk sahabatnya
" Ya ayo, akan ku antar ke bandara " jawab Mike sambil tersenyum pada sahabatnya itu.
🍂🍂🍂
Di sekolah si kembar..
Saat itu adalah jam istirahat, terlihat beberapa anak yang tinggal di kelas, ada yang pergi jajan ke kantin, ke taman, dan ada juga yang menghabiskan waktunya dengan bermain bersama teman-teman nya.
Menghabiskan jam istirahat dengan bermain bersama teman-teman nya adalah hal yang paling disukai Naina yang memiliki banyak teman.
" Nai, kita main jungkat-jungkit disana yuk " ucap salah seorang teman sekelasnya
" Iya ayo "
" Nai kita main lompat tali aja " ucap salah satu temannya yang lain
" Jangan Nai, mending kita main congklak aja yuk "
Setiap hari Naina menjadi rebutan semua teman sekelasnya yang ingin menjadi temannya. Karena Naina memiliki sesuatu yang membuatnya disukai oleh banyak orang. Bahkan ia juga populer di kalangan para pria, sama seperti kakak nya Kelvin.
Setelah selesai bermain, Naina duduk dan akan makan siang bersama teman sebangkunya yang bernama Nisa.
" Hari ini kamu bekal apa Nis?" tanya Naina penasaran sambil melihat kotak bekal milik temannya itu.
" Oh hari ini Mama ku buat sostel, kamu mau Nai?" tanya Nisa ramah
" Nis, hari ini Mama ku memberikan ku dua daging ayam. Satunya buat kamu ya " Naina memberikan salah satu potong daging ayam yang ada di kotak bekalnya, ke kotak bekal milik Nisa
" Iya, ini Mama ku juga buat 2 sostel. Satunya buat kamu " ucap Nisa sambil memberikan salah satu sostel nya ke kotak bekal milik Naina
Keduanya sama-sama memiliki hubungan yang baik. Nisa adalah teman paling dekat dengan Naina di kelasnya. Terlebih lagi mereka adalah sebangku. Dari kejauhan Kelvin tampak sedang memperhatikan Naina.
" Hey, Vin lagi apa kamu disini? katanya mau ke perpus?" tanya Diki ( salah satu teman sekelas Kelvin)
" Iya mau " jawab Kelvin
Kelvin dan Diki pergi menuju ke perpustakaan. Sementara Naina dan Nisa asyik memakan bekal makanan yang mereka bawa dari rumah, meskipun di sekolah sudah menyediakan makanan.
Saat selesai makan, Naina buru-buru ke kamar mandi karena ia kebelet ingin pipis. Setelah menyelesaikan urusan nya di kamar mandi, ia mendengar suara kegaduhan dari belakang toilet wanita.
Naina yang penasaran langsung menuju ke belakang toilet wanita, ia melihat seorang anak berkacamata sedang di bully oleh anak-anak yang tubuhnya lebih besar darinya.
Apa ini? apa mereka membully anak itu? aku harus lihat dulu.
" Cepat! serahkan uang jajan dan buku PR kamu ! kalau kamu tidak mau dipukul lagi " ucap seorang anak laki-laki sambil menarik kerah baju anak bertubuh kecil dan berkacamata itu dengan kasar.
" Iya cepat dasar culun, Kutu buku!" ujar seorang anak lainnya
" Jahat sekali! kalian penjahat !" ujar Naina sambil keluar dari persembunyiannya, seraya menunjuk ke arah anak anak yang membully anak berkacamata itu.
" Hey siapa kamu?" tanya salah satu anak pembully itu
" Pergi! jangan ganggu anak itu, kalian orang jahat " ujar Naina sambil celingukan ke arah lain, ia pun tersenyum.
Ketiga pria yang menganggu anak berkacamata itu menghampiri Naina dengan tatapan menantang. Mereka meremehkan tubuh Naina yang kecil, dengan mudah salah satu dari mereka mengangkat tubuh Naina.
" dasar kalian otak udang! orang jahat " gerutu Naina pada ketiga orang itu
" Le-lepaskan gadis itu!" ucap si pria berkacamata dengan gagap, berusaha memberanikan dirinya.
Naina menggigit tangan anak laki-laki yang mengangkat tubuhnya, hingga Naina terjatuh ke lantai. Diam-diam Naina tersenyum, ia pun menangis entah akting ataukah sungguhan. Tangisannya sangat keras hingga membuat seorang guru datang ke arah nya.
" Wuu..wuuu.. sakit.. hiks.. sakit "
" Apa? apa kamu terluka? hey! bocah kecil!" teriak salah seorang anak laki-laki si pembully itu
" Ada apa ini??" tanya Bu Maya ( guru kelas 3 ) dengan wajah yang galak pada ketiga anak pembully itu.
" Bu guru, aku di dorong oleh kakak kakak ini. Mereka juga menyakiti kakak itu " Naina masih menangis, tangannya menunjuk pada anak berkacamata yang tampak berantakan.
" Lagi-lagi kalian buat masalah! Tony, Billy, Ghani! ikut ibu ke ruang guru!" ujar Bu Maya galak
" Tapi Bu.. kita gak.. " ucap Tony tergagap, ia tampak ketakutan karena ketahuan sedang membully anak kelas 2 yang memakai kacamata itu.
" Naina sama Theo gak papa kan?" tanya Bu Maya cemas
Theo adalah nama anak yang berkaca mata itu. Naina dan Theo hanya mengangguk. Setelah itu Bu Maya membawa ketiga anak nakal itu ke ruang guru untuk di adili.
Begitu Bu Guru dan ketiga anak nakal itu pergi, Naina langsung menyeka air matanya dan mulai tersenyum pada Theo. Tangannya terulur untuk menolong Theo yang jatuh terduduk di dekat tembok sekolah.
" Kakak, gak papa?" tanya Naina sambil tersenyum
Tiba-tiba saja Theo terdiam seperti merasakan sesuatu didalam tubuhnya, waktu seakan terhenti saat ia melihat gadis kecil yang cantik di hadapan nya itu. Theo terpana melihat Naina, seakan gadis kecil itu bercahaya terang di matanya.
Peri, ada peri cantik turun ke bumi.
" Kakak kelas? kakak kelas gak apa-apa?" tanya Naina cemas melihat Theo hanya diam saja
Theo menerima uluran tangan Naina, pria itu tampak gugup. Ia mencari-cari kacamata nya yang terjatuh, dengan cepat Naina mengambilkan kacamata milik Theo yang ada di lantai.
" Kakak, ini kacamata nya " icap Naina sambil mengembalikan kacamata itu pada Theo.
" Ma-makasih ya " jawab Theo sambil memakai kacamata nya kembali
Mau dilihat dari kacamata atau tanpa kacamata pun, dia sangat cantik. Dia juga pemberani, peri cantik. Mulai sekarang namanya adalah peri cantik.
Theo tidak berhenti menatap Naina bahkan sampai tidak berkedip. Naina kebingungan melihatnya, ia mengira bahwa Theo masih syok dengan kejadian yang baru saja dialaminya.
Apa kakak ini gagap ya? dari tadi kok bicaranya kaya gitu? Atau jangan-jangan kakak ini gagap karena terlalu syok?
" Kak, kita ke ruang UKS aja yuk. Tangan kakak luka " ucap Naina seraya menunjuk ke arah sikut tangan kanan Theo yang berdarah
" A-aku gak pa-pa. I-ini cuma luka kecil aja " jawab Theo sambil memunguti buku-buku nya yang berserakan di tanah. " Daripada aku, kamu gak papa kan?" tanya Theo cemas
" Kakak tenang saja, aku tidak apa-apa. Tadi itu aku cuma pura-pura. "
" A-aku pikir kamu terluka, syukurlah kalau enggak " Theo tersenyum
" Kak, aku punya sesuatu buat ngobatin luka kakak " Naina tersenyum lalu merogoh saku bajunya, ia mengepalkan kedua tangannya di depan Theo. Menyuruh Theo memilih tangan kanan atau kiri, karena ada hadiah yang menanti Theo disana.
Theo tersenyum dengan keramahan dan sikap ceria Naina, lalu memilih tangan kanan Naina yang terkepal. Naina membuka kepalan tangannya, dan disana terlihat ada plester dengan gambar beruang.
" Plester?"
" Hore! selamat kakak memilih plester, itu artinya luka kakak harus diobati. " Naina tersenyum dan menempelkan plester pada luka yang ada pada sikut Theo.
Theo menatap Naina dengan terpesona. Naina memberikan permen juga untuk menghibur Theo.
" Te-terimakasih peri cantik " Theo tersenyum dan menerima permen yang bisa meledak di mulut itu, menatapnya dengan senyuman.
" Ah? peri cantik? aku?" tanya Naina polos
" Iya, kamu peri cantik. " jawab Theo malu-malu
" Namaku Naina kak, aku anak kelas satu. Bukan peri cantik " Naina memperkenalkan dirinya. " Nama kakak siapa?" tanya Naina ramah
" Aku.. namaku Theo anak kelas 2 " jawab Theo gugup
Senyuman nya manis banget kaya coklat. ucap Theo dalam hatinya
" Oh.. kak Theo, semangat ya kak. Kalau kakak digangguin mereka bilang lagi sama aku ya " Naina tersenyum ceria
" Ah.. " Theo kehabisan kata-kata, seakan dunia telah berhenti saat itu juga. Gadis cantik di depannya seperti nya sudah mencuri perhatian nya, atau mungkin hatinya.
Aku mau ngomong apa ya? aku kehabisan kata-kata. Padahal aku punya banyak pertanyaan.
Namun semua nya runtuh seketika ketika ia melihat pria yang lebih tampan dan lebih sempurna darinya menghampiri Naina dengan wajah yang khawatir. Theo menjadi insecure saat melihat pria itu.
" Nai, aku dengar dari Bu Maya kamu terlibat sama anak-anak nakal kelas 3 itu ya? kamu gak papa kan?" tanya Kelvin cemas
" Aku gak papa kok. Mereka sudah dapat pelajaran nya, karena sudah membully kak Theo " jawab Naina santai
" Huft.. syukurlah, kalau mereka macam-macam sama kamu, aku pasti akan.. " Kelvin terlihat gemas, ia mengepal tangannya seakan akan ingin meninju seseorang
Theo terlihat sedih saat melihat Kelvin dan Naina sangat dekat. " Seperti nya aku tidak bisa bersaing dengan Kelvin Aditama, dia kan anak laki-laki yang sempurna dan idaman di negeri ini. Peri cantik pasti akan memilihnya. " ucap Theo di dalam hatinya
Tanpa bicara apa-apa, Theo melangkah pergi dengan langkah yang gontai sambil membawa buku-buku nya, mendekapnya di dadanya. Wajahnya tampak sedih seperti habis putus cinta.
" eh, kak Theo! kakak mau kemana? aku mau kenalkan kakak pada Kakakku ! "ujar Naina setengah berteriak pada Theo.
Theo langsung berbalik badan dan kembali menghampiri Naina. Apa dia tidak salah dengar? Naina bilang kalau dia akan mengenalkan kakak nya? apa itu Kelvin?
" Kamu bilang apa?" tanya Theo masih belum ngeh
" Kakak, kenalin ini kakak ku Kelvin. Kak Kelvin kenalin ini kak Theo anak kelas dua " kata Naina
" Kakak? jadi Kelvin Aditama itu kakak kamu? tapi kan kalian sama-sama kelas satu?" tanya Theo bingung
" kami kembar " jawab Kelvin cuek
" Kembar ya? berarti kalian tidak pacaran?" tanya Theo langsung sumringah mendengar nya
" Hah? pacaran?!" Kelvin dan Naina tercengang mendengar pertanyaan Theo. Mana mungkin anak kecil pacaran, dasar Theo!
Kelvin dan Theo pun berkenalan. Naina mengingatkan mereka Theo tidak memberitahukan orang-orang tentang hubungan Naina dan Kelvin. Karena hanya sedikit orang yang tau tentang hubungan mereka.
" Terimakasih ya peri cantik " Theo memberanikan dirinya untuk tersenyum pada Naina
" Sudah kubilang aku bukan peri cantik, tapi tidak apa-apa deh mau dipanggil peri cantik juga. Aku kan memang cantik " Naina tersenyum senang
" Cih, penyakit narsis nya keluar lagi " gumam Kelvin sambil melirik tajam pada adiknya
" Apaan sih kakak? nyambung aja kaya kabel " gerutu Naina pada kakak nya
" Oh ya ini, aku punya sesuatu buat kamu " Theo merogoh sesuatu di saku celananya, terlihat lah sebuah cincin mainan berbentuk bunga.
" Eh? buat ku kak?" tanya Naina sambil mengambil cincin bunga itu
" Kalau sudah besar nanti, aku akan menggantinya dengan cincin sungguhan dan yang mahal. Sekarang pakai ini dulu ya " Theo tersenyum, entah apa yang dibayangkan olehnya. Wajahnya tampak berseri-seri.
" Apa maksud kamu mengganti dengan cincin sungguhan?" tanya Kelvin dengan wajah marah penuh pertanyaan, sementara Naina terlihat bingung dengan wajah polosnya.
" Ka-kalau sudah besar nanti, menikahlah denganku peri cantik " wajah Theo ngeblush, ia langsung berlari begitu saja setelah mengatakan semua isi pikirannya.
Theo lari dan masuk ke kelasnya, meninggalkan Naina yang bengong dan Kelvin yang terlihat marah.
" Benar-benar bocah ingusan, awas saja dia!" seru Kelvin kesal
" Kakak, apa aku baru saja dilamar?" tanya Naina polos
" Tidak, dia tidak melamar mu. Dia hanya bercanda " jawab Kelvin kesal
Anak itu! awas kalau dia berani mendekati Naina lagi!. Kelvin terlihat seperti bapak yang marah karena anak perempuan nya diganggu.
Sementara itu Naina senyum senyum sendiri memandangi cincin yang ia dapat pertama kalinya dari seseorang.
...--***---...