
...🍀🍀🍀...
5 hari sebelum pernikahan Naina dan Juna..
Kabar bahagia tentang pernikahan Naina dan Juna sampai ke telinga Bu Vera dan Ian, sahabat Bryan Alma yang tak lain adalah orang tua Theo.
Surat undangan pernikahan Naina sudah di sebar 5 hari sebelum hari h pernikahan mereka.
"Sayang sekali ya, padahal aku menginginkan Naina menjadi menantu kita" Vera melihat surat undangan bertuliskan Juna dan Naina. Disingkat menjadi Junai, di depan surat undangan itu ada foto Naina dan Juna yang terlihat mesra.
"Sayang, udah dong jangan gitu ah. Theo kita kan sudah punya Nisha, dia cantik, baik dan pintar.. kalau Theo mendengar ucapan mu ini, dia akan marah loh" kata Ian mengingatkan istrinya kalau Theo sudah punya Nisha sebagai pasangannya (alias pacar).
"Iya deh iya..tapi sayang, aku tuh kurang suka kerjaan nya si Nisha" ucap Vera sambil duduk di sofa empuk di tengah rumahnya
"Memangnya kenapa? Pramugari itu pekerjaan yang bagus kan?" tanya Ian sambil tersenyum santai
"Aku pikir itu pekerjaan yang tidak baik, pramugari itu sangat sibuk dan selalu pergi kapan saja. Jika anak kita menikah dengannya, bukankah dia akan selalu ditinggal kapan saja. Lalu siapa yang akan ada di rumah ini?"
"Oh aku mengerti kenapa kamu gak suka pekerjaan Nisha. Kamu takut tidak ada yang menemani mu di rumah kan? Kalau Theo dan Nisha menikah nanti? Sayang.. jadi kamu sudah setuju sama Nisha?" tanya Ian yang selalu memikirkan kebahagiaan anaknya dan mendukung apapun pilihan Theo.
"Walaupun awalnya aku setuju sama Naina, tapi kan Naina sudah memilih orang lain. Apa boleh buat? Jodoh kan udah takdir dari yang kuasa, dan Naina bukanlah jodoh anak kita" kata Vera yang masih menyayangkan Naina menikah dengan Juna
"Haih, ya sudahlah. Kita pikirkan saja kebahagiaan Theo, bukankah Theo juga sudah memilih Nisha dan berpaling padanya?" tanya Ian sambil menghibur istrinya yang masih menggerutu itu.
"Iya deh sayang, kalau hal itu bisa membuat anak kita bahagia.. ya apa boleh buat" Kata Vera pasrah dengan keputusan Theo, "Kita doakan saja yang terbaik untuk Naina dan Juna yang sebentar lagi akan menikah"
"Kamu benar" Ian tersenyum menanggapi istrinya. Mereka berdoa untuk kebahagiaan Naina dan Juna yang sebentar lagi akan menikah.
****
Keadaan Naina sudah mulai membaik, walau kadang sesekali Naina memuntahkan darah atau mimisan. Tapi Naina tidak sampai pingsan asalkan dia tidak kelelahan. Demi menjaga kondisi Naina agar tetap sehat, Juna selalu rajin merawat Naina. Dari mulai makanan, sampai kondisi psikologis nya. Memberikan Naina semangat untuk tetap kuat dan tenang dalam keadaan apapun. Hari-hari itu Naina lewati dengan penuh perjuangan. Pasalnya disaat Naina merasakan efek kemoterapi, Naina harus merasakan beberapa bagian tubuhnya terlepas dan keluar. Seperti rambut, kulit kering, pendarahan dari hidung dan mulutnya
Tapi disaat perjuangan nya melawan kanker, Naina merasa sangat disayang, seperti nya dia adalah wanita yang paling beruntung di dunia. Bisa dicintai oleh seorang pria bernama Arjuna Ardiwinata, membuat hidupnya lebih bermakna. Cinta dan kasih sayang dari orang-orang terdekat nya juga menjadi dorongan semangat untuk dirinya hidup lebih lama dan tidak insecure.
Hari itu Naina berniat pergi keluar dari rumah sakit, dia dan Juna bermaksud mencoba baju pernikahan mereka di sebuah butik. Untuk menutupi kepala yang semuanya sudah botak, Naina memakai rambut palsu dan topi yang dibelikan di oleh Kayla.
"Nah, sudah siap! Gimana tante? Bagus kan?" tanya Kayla sambil tersenyum melihat mahakarya nya pada Naina.
"Wow! Ini terlihat seperti rambut sungguhan, Kay" Alma takjub melihat rambut palsu itu yang terlihat seperti rambut asli Naina yang panjang.
Gadis itu bercermin, dia mengelus rambut palsu nya. Walau rambut itu palsu, tapi dia bahagia karena bisa merasakan rambut panjang dan tebal lagi. "Kak Naina, gimana? Rambut palsu yang aku beli bagus kan?" tanya Kayla pada kakak sepupunya itu
Naina mengangguk dan tersenyum, gadis itu terlihat lebih tegar dari biasanya," Bagus, aku suka banget! Berasa kaya rambutku sendiri"
"Syukurlah kalau kamu suka. Yuk kita keluar sayang, hari ini kamu akan mencoba gaun pengantin" Alma mengajak anaknya untuk pergi ke butik langganan nya.
"Tante Alma, kak Naina maaf ya aku gak bisa ikut ke butik. Aku ada jadwal pemotretan siang ini" Kayla meminta maaf karena dia tidak bisa ikut dengan Alma dan Naina.
"Iya gak apa-apa, kamu kan sibuk. Lagipula ada Tante yang akan menemani Naina" Alma tersenyum tidak masalah
Alma dan Naina berangkat dari rumah sakit menuju ke butik tempat Naina akan fitting baju pengantin nya bersama Juna. Dia sudah janjian bersama Juna langsung di lokasi.
Pak Jeffry sudah menunggu Alma dan Naina di tempat parkir. Dia akan mengantar kedua majikannya itu ke butik.
Di dalam perjalanan menuju ke butik, Naina mulai mual-mual. Efek kemoterapi nya kembali kambuh.
"Uwekk.. uwekk.."
"Sayang, kamu kambuh lagi ya? Pak Jeffry, kita balik lagi aja ke rumah sakit!" titah Alma pada supirnya itu, setelah melihat Naina mual-mual.
"Baik nyonya" jawab Pak Jeffry patuh
"Jangan pak! Kita ke butik aja, jangan balik ke rumah sakit!" kata Naina melarang Pak Jeffry untuk berbalik kembali ke rumah sakit
"Sayang, kita kembali aja ke rumah sakit ya.. kamu mual-mual loh"
"Aku gak apa-apa ma, lagian ini udah biasa terjadi. Aku hanya perlu minum obat aja kok" Naina tersenyum santai, dia memang sudah terbiasa dengan keadaan ini. Saat dimana penyakit nya kambuh.
Naina dibantu oleh Alma mengambil obat yang ada di dalam tas selempang milik Naina. Gadis itu langsung meneguk obatnya disertai air putih yang ada di dalam botol. Naina juga berusaha menstabilkan kondisinya dengan menghela napas dan mengambil napas dalam-dalam seperti yang disarankan oleh Firlan.
"Tuh kan mama lihat? Aku udah gak mual-mual lagi, aku udah baik-baik aja" Naina kembali tersenyum ceria
"Iya sayang, ya..baiklah kalau kamu memang sudah baikan" Alma mengelus kepala Naina dengan lembut
Beberapa menit kemudian mereka sampai di depan butik langganan Alma. Mereka sampai lebih dulu disana sebelum Juna. Sambil menunggu Juna yang belum datang, Alma dan Naina melihat-lihat gaun pengantin yang ada disana.
Hati Naina sangat bahagia ketika melihat gaun gaun cantik berwarna putih itu, gaun yang menyiratkan ikatan suci pernikahan. Naina memegang salah satu gaun putih yang mencuri hatinya.
Gaun ini bagus sekali, apakah tubuhku akan bagus memakai gaun ini?. Batin Naina sambil tersenyum melihat salah satu gaun dengan pita ditengah gaun itu.
"Sayang, kamu suka gaun ini?" tanya Alma sambil menghampiri anaknya yang matanya melihat gaun pengantin berwarna putih itu.
"Iya ma, ini bagus. Aku suka yang ini, tapi apa tubuhku muat memakainya? Gaun ini pasti kebesaran" jelas Naina yang menyadari kalau tubuhnya sekarang sangat kurus
CEKRET
"Selamat datang pak" sambut pegawai butik pada seorang pria yang sudah berdiri di depan pintu. Pria itu memegang buket bunga berwarna pink.
"Nai.." Juna tersenyum manis kepada Naina yang sedang berdiri di depan sebuah gaun putih bersama mama nya.
...---***---...
Hai Readers! Maaf ada keterlambatan dalam up nya, ini karena putri saya yang sedang sakit🤧🤧 doakan untuk kesembuhan anak saya ya🥺 supaya bisa up lebih banyak lagi..