
...🍀🍀🍀...
Darren, salah satu pria yang pernah bertemu secara tidak sengaja dengan Naina saat berada di cafe Damar. Dialah yang memberikan topi nya pada Naina untuk menyelamatkan gadis itu dari rasa malu.
"Kalian gangguin dia lagi ya? Balik sana!" ujar Darren pada ketiga temannya kesal.
"Apaan sih Lo Dar? Gangguin aja" keluh salah satu teman Darren tidak senang.
"Maafin teman-teman saya ya kak, mereka memang mulutnya gak bisa dijaga" kata Darren memohon maaf untuk perlakuan teman-teman nya.
"Maaf, tapi kenapa kamu yang meminta maaf pada mereka? Ini kan bukan salah kamu,"kata Naina sambil membawa keranjang belanjaan nya.
"Ya?" Darren tertohok dengan ucapan Naina padanya.
"Mereka yang harus meminta maaf pada saya, bukannya kamu" ucap Naina tegas. Tanpa bicara apa-apa lagi, Naina melangkah pergi meninggalkan Darren dan ketiga temannya disana.
Benar juga, bukan aku yang salah. Kenapa aku minta maaf ya?. Darren terdiam dan berfikir.
Ternyata Naina bermaksud untuk mengambil topi rajut nya yang jatuh lumayan jauh dari sana setelah dilempar teman-teman Darren. Naina melirik ke arah Darren dan teman-teman nya, kemudian berjalan pergi.
"Kuat mental banget tuh cewek, terakhir kali dia nangis loh" kata Adrian sambil tersenyum.
"Tapi dia kelihatan cantik, ya gak sih? Cuma kepalanya aja yang botak" kata Agam menyayangkan kepala Naina yang botak.
"Ngomong-ngomong kenapa dia botakin kepalanya ya?" tanya Wisnu, salah satu teman Darren juga.
"Bisa gak sih kalian jangan gangguin kakak itu, kaya bocah tau gak! Minta maaf sana sama kakak itu sebelum dia pergi jauh" titah Darren pada ketiga temannya.
Wisnu, Agam dan Adrian menolak untuk minta maaf pada Naina. Mereka malah memilih pergi setelah menganggu Naina. Tak lama setelah kepergian temannya, Mike datang menghampiri Darren di tempat kosmetik.
"Kamu disini rupanya, papa udah nyari kamu dari tadi" Mike menggeleng-gelengkan kepalanya, dari tadi dia sudah mencari anaknya kemana-mana.
"Iya pa, barusan aku ketemu cewek itu lagi pa" kata Darren.
"Cewek yang mana?" tanya Mike
"Itu loh pa, cewek botak.. yang pernah aku ceritakan sama papa" jawab Darren menjelaskan secara singkat tentang Naina.
"Oh ya? Lalu apa kamu sudah minta maaf sama dia?" tanya Mike pada putranya itu.
"Aku lupa" jawab Darren.
"Kalau kamu bicara tentang cewek botak, papa jadi teringat anak sahabat papa" Mike teringat sosok Naina yang terakhir kali dia lihat dirumah sakit.
"Memangnya gimana pa?" tanya Darren penasaran.
"Dia tuh terkena penyakit kanker, kepalanya botak dan tubuhnya juga kurus. Padahal dia adalah anak yang ceria, tapi kasihan sekali dia harus mengalami penyakit mematikan seperti itu, " jelas Mike sedih teringat Naina.
"Oh ya pa, katanya papa mau ajak aku ketemu sama anak sahabat papa itu?" tanya Darren.
"Iya, waktu itu papa kan sudah ajak kamu. Tapi, kamu nya yang gak mau" jawab Mike
"Maaf pah, waktu itu aku kan lagi pergi sama temenku" Darren menggaruk-garuk kepalanya.
"Ya udah nanti kamu ikut sama papa ya ke acara pernikahan nya" kata Mike mengajak pada anaknya.
"Dia mau nikah?" tanya Darren
"Iya, dia sudah punya tunangan yang sangat sayang sama dia. Dan mereka memutuskan untuk mempercepat pernikahan mereka" jelas Mike.
Orang sakit parah saja semangat hidupnya begitu tinggi. Lalu apa si cewek botak itu sakit kaya anak sahabat nya papa?.
****
Setelah selesai berbelanja, Naina, Bryan dan Alma pulang ke rumah mereka. Rumah yang sudah lama Naina tidak pulang kesana, akhirnya dia bisa mencium aroma yang selalu ia rindukan saat berada di rumah sakit.
Keira dan Kelvin menyambut kedatangan Naina dengan perasaan bahagia. "Selamat datang kembali di rumah Nai!" kata Keira menyambut adik iparnya itu.
"Sehat-sehat ya Nai" Kelvin memeluk adiknya dengan penuh kasih sayang.
"Insyaallah kak" jawab Naina sambil membalas pelukan kakaknya.
Belum lama penyambutan itu, Naina bergegas masuk ke dalam kamarnya yang sudah lama tidak ia tempati. Gadis itu merebahkan tubuh nya di ranjang dengan hati yang bahagia. Tangannya memeluk boneka beruang stoberi pemberian Alm. Albry.
"Yee!! Alhamdulillah aku bisa ke kamarku lagi, udah lama banget aku gak tidur di kamar ini" Naina tersenyum senang karena dia bisa kembali ke dalam kamarnya.
Alma dan Bryan melihat Naina dari balik pintu kamar Naina sambil tersenyum senang. "Syukurlah sayang, keadaan Naina mulai membaik" Bryan mendekap tubuh istrinya.
"Iya Bry, aku sangat bahagia" Alma menatap putrinya yang sedang rebahan di ranjang kamarnya itu.
Di kantor Juna...
"Gimana ceritanya ini Ardi?!" Juna terlihat kesal karena melihat dokumen menumpuk di mejanya. Dia memegang kepalanya dengan gusar.
"Maafkan saya pak, tapi selama bapak mengambil libur ada banyak dokumen yang harus ditandatangani. Dan alangkah baiknya kalau bapak menyelesaikan ini sebelum hari pernikahan bapak dan bulan madu bapak" Ardi menjelaskan nya pada Juna.
"Lalu bagaimana jika aku menyelesaikan ini? Dan aku tidak bisa bertemu dengan Naina" Juna merengek seperti anak kecil, dia tidak bertemu dengan Naina selama dua hari setelah foto prewedding. Kini pernikahan mereka tinggal dua hari lagi.
Kenapa mendadak pak Juna jadi seperti anak kecil?. Ardi keheranan melihat raut wajah Juna dan rengekannya.
"Bukankah tidak baik calon pengantin bertemu sebelum hari pernikahan pak, dan bapak bisa menghubungi Bu Naina kalau bapak merindukan nya"
"Ah.. Ardi kamu benar juga, kata orang tua zaman dulu tidak baik kalau bertemu sebelum hari pernikahan. Ya baiklah, aku akan menelpon nya setelah pekerjaan ku selesai" kata Juna sambil tersenyum melihat foto Naina di meja kerjanya.
Aku jadi tidak sabar Nai, kita akan segera menikah. batin Juna tak sabar dengan hari pernikahan nya dan Naina yang tinggal menghitung hari.
Ardi merasa lega melihat Juna kembali bersemangat bekerja untuk mengambil hari libur di hari pernikahan dan bulan madunya nanti. Ardi terus memberikan semangat kepada Juna untuk mempercepat pekerjaan nya.
Dan begitulah Juna, sebelum hari pernikahan nya dia disibukkan dengan pekerjaan kantor yang menumpuk. Rapat-rapat penting yang dimajukan jadwalnya menjadi lebih awal, pertemuan dengan kolega bisnisnya. Lalu bagaimana dengan Naina?
Dua hari sebelum hari pernikahan nya, Naina menyibukkan dirinya kembali di galeri Albry karena dia sudah lama tidak melukis.
"Bu Naina.. saya senang sekali melihat keadaan Bu Naina semakin membaik" kata Carol sambil memeluk Naina dengan perasaan lega.
Kasihan Bu Naina, penyakit nya sudah membuat tubuhnya kurus kering seperti ini.
"Alhamdulillah Carol, aku sudah mulai membaik walau dokter bilang kalau aku gak boleh beraktivitas yang berat-berat dan harus menjaga kesehatan ku" kata Naina sambil tersenyum semangat
"Iya Bu Naina" Carol tersenyum, dia kagum pada ketegaran Naina dalam melawan penyakitnya.
Carol pun mengajak Naina untuk berkeliling ke galerinya dan melihat-lihat. Carol juga melaporkan apa saja yang sudah terjadi di galeri selama Naina ada disana. Galeri Albry dipenuhi oleh banyak pengunjung, bahkan ada salah satu kepala sekolah yang mendatangi galeri Albry untuk menemui Naina.
"Katanya dia adalah kepala sekolah SMA xxxx"jawab Carol.
"Apa? Itu kan sekolah ku dan Juna dulu!" Naina terkejut mendengar jawaban Carol.
Segera setelah itu Naina menghubungi kepala sekolah baru di tempatnya sekolah dulu. Ternyata dia ingin mengundang Naina sebagai tutor sekaligus guru ujian praktek seni untuk anak-anak nya di sekolah. Naina pun menyetujui nya. Dia bersedia untuk datang ke sekolah dan menjadi tutor murid-murid itu dengan semangat.
Sepulang dari galeri, Naina dijemput oleh Kelvin yang baru pulang kerja. Gadis itu terlihat lelah dan duduk di meja kemudi dekat kakak nya.
"Udah dibilangin jangan ke galeri dulu, kamu kan gak boleh kecapaian Nai" kata Kelvin mengingatkan.
"Hehe, habisnya seru sih.. udah lama aku gak melukis. Sampai aku lupa waktu" Naina hanya nyengir mendengar ucapan kakaknya.
"Kalau Juna tau, dia pasti omelin kamu" ucap Kelvin sambil menyetir mobilnya.
"Tapi kan Juna gak tau hehe, kakak jangan kasih tau dia ya" kata Naina mengingatkan.
"Huh! Kamu ini, kalau udah nikah ingat ya harus nurut sama suami" ucap Kelvin mengingatkan lagi adiknya agar tidak membantah perkataan suami dan patuh pada suaminya.
"Hem.. iya kak" jawab Naina patuh. Tak berselang lama setalah mengobrol dengan kakaknya tentang kepala sekolah yang mengundang Naina sebagai guru seni ujian praktek, tiba-tiba saja Naina memuntahkan darah.
UHUK!
SRAT
Darah itu mengucur ke bajunya. Hal ini terjadi karena Naina lelah dan dia bergerak berlebihan. Sontak saja hal itu membuat Kelvin memberhentikan mobilnya dulu dipinggir jalan.
"Nai!"
UHUK.. UHUK..
Bukan hanya satu kali Naina muntah darah, tapi tiga kali dan kali ini jumlah intensitas darahnya meningkat lebih banyak sampai darah itu mengenai celananya juga.
"Nai...kamu gak apa-apa? Tuh kan aku udah bilang jangan sampai kecapean, kamu ini ya benar-benar deh...sama keras kepalanya sama Keira" Kelvin mengambil sapu tangan yang ada di mobilnya, dia membantu Naina membersihkan darahnya.
"Aku gak apa-apa, ini kan sering terjadi kak" ucap Naina yang sudah terbiasa mengalami hal seperti ini. Maka dia terlihat santai saja menghadapi nya.
"Tapi kali ini kamu muntah darah lebih banyak dari biasanya, kita ke rumah sakit aja ya Nai. Periksa sama dokter Firlan!"
"Kakak, aku gak apa-apa. Benaran kok cuma butuh istirahat aja, udah ini aku langsung makan dan tidur di rumah. Tapi jangan ke rumah sakit, kalau aku diperiksa lagi nanti aku gak bisa keluar dari rumah sakit dengan mudah" jelas Naina seraya membujuk kakaknya.
"Nai..."
"Aku ada obat, kakak jangan khawatir"
Walau sudah biasa melihat Naina yang muntah dan mimisan, tetap saja hati Kelvin terasa sakit melihat keadaan adiknya yang seperti itu.
🍀🍀🍀
Sesampainya di rumah, Naina langsung pergi ke kamarnya diam-diam. Dia mengganti bajunya yang berdarah. Sehabis dari kamar mandi dan mengganti bajunya, Naina melihat ponsel nya yang ada di ranjang bergetar dan menyala.
Naina tersenyum melihat siapa yang memvideo call dirinya sore itu. Dia adalah Juna, calon suaminya.
"Halo Assalamualaikum Nai" Juna tersenyum menyapa Naina, dia masih berada di ruang kerjanya.
"Waalaikumsalam Junjun" Naina tersenyum lebar melihat wajah calon suaminya yang sudah tidak ia lihat selama 3 hari.
"Kamu lagi apa?" tanya Juna
"Aku lagi mau rebahan aja"
"Kamu baru pulang dari galeri, ya?" tanya Juna
"Ehm.." Naina berniat berbohong, tapi dia tidak bisa.
"Aku kan udah bilang jangan capek capek" Juna menggelengkan kepala, dia cemas pada Naina.
"Tadi aku keasyikan melukis sampai lupa waktu, tapi aku gak apa-apa kok. Sebaliknya, kamu kayanya yang lagi capek tuh" Naina melihat dokumen menumpuk di meja Juna, dan tali dasi Juna yang dilonggarkan. Pria itu terlihat lelah.
"Hem.. iya aku memang capek dan kayanya aku lembur" jawab Juna sambil meminum secangkir kopi di mejanya.
"Kenapa? Apa kerjaan kamu di kantor banyak?" tanya
"Sebenarnya ini bisa dikerjakan nanti, tapi aku ngebut ngerjain nya sekarang. Kamu tau kenapa?" tanya Juna sambil tersenyum manis pada Naina.
"Kenapa?" Naina bertanya dengan wajah polosnya.
"Supaya tidak ada yang bisa menganggu acara penting dua hari lagi. Aku tidak mau ada pekerjaan menumpuk, jadi aku harus segera menyelesaikan nya" jelas Juna pada tunangan nya.
"Tapi kamu jangan terlalu lelah, nanti kamu sakit Jun" ucap gadis itu cemas.
"Kamu tenang aja, aku cuma lembur sampai jam sepuluh dan itu hanya untuk hari ini. Besok aku gak akan lembur kok. Oh ya Nai, apa kamu udah makan?" tanya Juna perhatian.
Dalam keadaan sibuk pun, Juna masih sempat-sempatnya menelpon ku dan menanyakan keadaan ku. Juna, apa kamu gak masalah hidup denganku selama nya?. Naina terharu dengan perhatian Juna padanya.
"Nai? Kamu gak apa-apa kan? Kok ditanya malah diam aja?" Juna menatap Naina melalui luar ponselnya dengan wajah yang cemas.
"Aku gak apa-apa Jun, dan aku udah makan kok. Kamu udah makan?" tanya balik Naina pada Juna.
"Udah tadi makan siang, terus sekarang aku lagi rehat dulu" jawab Juna sambil tersenyum.
"Jun..."
"Hmm..." sahut Juna
"Juna apa kamu yakin mau bersamaku seumur hidup?"
"Udah berapa kali kamu menanyakan nya Nai, aku sangat yakin!" jawaban Juna masih tetap sama, dia tetap akan bersama Naina selamanya.
"Setelah kamu menikah denganku nanti, kamu gak akan punya kesempatan lagi untuk melarikan diri. Karena aku tidak akan melepaskan kamu"
"Naina, kamu lagi menggoda ku ya?" tanya Juna sambil tersenyum
"Junjun, aku serius! Kalau kamu mau membatalkan pernikahan kita, lebih baik batalkan sekarang dari pada nanti kamu menyesal" kata Naina sambil melotot pada pria yang sedang video call dengan nya itu.
"Naina dengarkan aku, tidak akan ada yang namanya penyesalan. Aku cinta kamu, dan selamanya gak akan pernah berubah" Juna menatap Naina dengan penuh cinta.
...---***---...
Hai Readers! mohon bantuan ulasan dan komentar kalian pada link dibawah ini ya untuk novelku.😘🤭
https://www.harunup.com/2021/10/novel-stuck-in-love-ceo-karya-irma.html