
...πππ...
Malam pertama itu terlaksanakan meski bukan di tempat tujuan awal yaitu Korea. Tempat Keira ingin menghabiskan waktu bulan madunya bersama Kelvin.
Pasangan pengantin baru itu tampak bahagia setelah penyatuan tubuh mereka. Namun keesokan harinya menjadi hari yang menggemparkan ketika berita kurang baik dari rumah sakit.
"Sayang, kamu masih pegal-pegal?" tanya Kelvin seraya menyambut istrinya yang baru saja bangun tidur dan mandi itu.
Keira terkesima melihat Kelvin memasakkan makanan untuknya. Betapa herannya dia melihat suami nya yang tidak pernah menyentuh dapur itu memasak. Dia tidak berkomentar karena terpana melihat penampilan Kelvin yang menawan di pagi hari. penampilan yang tidak pernah dia lihat.
Dia sempat lupa bahwa mereka sudah menikah dan tinggal bersama.
"Sudah gak papa sayang" jawab Keira sambil mengambil sebuah pil di dalam kantong nya.
Mata Kelvin membulat melihat pil yang akan diminum oleh istrinya. Kelvin mengambil pil itu dan terlihat kesal. "Kamu mau minum pil ini? kenapa?" tanya Kelvin, melihat pil kontrasepsi itu.
"Aku pikir kamu belum siap memiliki anak lebih dulu" jawab Keira polos.
"Kamu selalu saja berfikir sendirian, jika aku tidak menemukan nya mungkin kamu akan meminumnya kan? buang saja!"
"Eh? kenapa? waktu itu kamu pernah bilang kalau kamu gak suka anak kecil? jadi aku pikir kamu..."
CUP
Kelvin mengentikan istrinya bicara dengan membungkam mulut Keira dengan kecupan.
"Aku memang gak suka anak kecil, tapi kalau anak kecil itu adalah anak kita aku pasti menyukai nya. Mau kamu hamil sekarang atau nanti, aku tidak apa-apa. Anak adalah anugerah dari yang kuasa" ucap Kelvin yang sama sekali tidak keberatan
"Oh begitu, jadi aku jangan minum obat ini?" tanya Keira pada suaminya
"Gak boleh" jawab Kelvin sambil menggeleng. Kemudian dia menggandeng tangan Keira dan mendudukkan Keira di kursi meja makan.
Kelvin melayani istrinya seperti tuan putri, padahal harusnya Keira yang bangun lebih pagi. Namun Keira kesiangan bangun akibat ulah Kelvin yang minta itu lagi di pada dini hari dan membuat dia lelah.
Sungguh, Keira merasa dirinya adalah wanita paling beruntung di dunia memiliki pria seperti Kelvin yang mencintainya.
Dreet...
Dreet..
πΆπΆπΆ
Sebuah telpon berdering saat mereka berdua sedang sarapan bersama. Bryan dan Alma juga belum pulang ke rumah. Kelvin mengangkat telpon rumah itu.
"Halo Assalamualaikum" ucap Kelvin setelah meletakkan gagang telpon di telinganya.
"Waalaikum salam, vin..kamu ke rumah sakit sekarang ya" pinta Bryan pada anak sulungnya.
"Ada apa pa? Naina gak papa kan?" tanya Kelvin pada papa nya, dia mencemaskan Naina.
"Naina masih belum siuman, dokter juga bilang gak tau kapan adik kamu akan sadar. Semua orang sudah melakukan tes sumsum tulang belakang dan tidak ada yang cocok, hanya tinggal kamu yang belum tes"
"Iya pah, Kelvin kesana sekarang" ucap Kelvin tanpa ragu.
"Papa tunggu" jawab Bryan
Kelvin mengembalikan gagang telpon itu ke tempatnya, wajahnya tampak resah dan gelisah. Beruntung nya sarapan pagi sudah selesai, Kelvin langsung buru-buru mengajak Keira ke rumah sakit untuk segera di lakukan tes tulang sumsum belakang.
Segera setelah Kelvin ke rumah sakit, dia langsung melakukan tes. Dan syukur lah hasilnya cocok, semua orang mengucap hamdalah karena Naina bisa tertolong setelah melakukan operasi. Namun masalahnya Naina belum sadar dan operasi masih belum di lakukan.
****
Tak terasa waktu terus berjalan, 5 hari berlalu sejak Naina koma. Dan keadaan nya masih sama, belum menunjukkan tanda-tanda Naina akan sadar. Juna, teman-teman dan keluarga Naina dengan setia memanjatkan doa agar Naina cepat siuman dan segera melakukan operasi. Tapi takdir Allah berkata lain.
"Jun, makan siang dulu yuk bro!" ajak Damar sambil menepuk bahu Juna, dia mengajak Juna makan siang bersama.
"Lo bisa sakit kalau lo terus terusan kaya gini" Nando menasehati sahabat nya.
Mau berapa lama lagi Nai? berapa lama lagi kamu akan menyiksaku? 5 hari terasa seperti lima ratus tahun bagiku? setidaknya katakan padaku Nai, kapan kamu akan sadar? aku gak masalah menunggu kamu berapa lama pun, tapi kamu tolong pastikan bahwa kamu akan sadar. Jangan tidur seperti ini. batin Juna sambil melihat tunangan nya terbaring lemah di tempat tidur.
Damar, Nando, Bagas dan Reza mengerti kesedihan Juna. Jika mereka berada di dalam posisi Juna, pasti mereka juga akan sedih dan terpuruk.
"Yuk ah makan dulu, kalau Lo gak makan gue bilangin Naina nih" ancam Bagas sambil melihat Naina.
"Benar banget, kalau Naina tau lo susah makan kaya gini. Auto ngamuk lah dia" kata Reza yang ikutan membujuk Juna
"Kalian duluan aja" ucap Juna tanpa semangat
"Jangan melehoy terus dong! yuk makan disini aja, Lo bisa sambil lihatin Naina juga. Cobain menu baru di restoran gue" Damar menarik tubuh Juna.
Membawa Juna ke sofa yang ada disana, pandangan Juna masih tertuju pada Naina. Dengan mata panda nya, dia masih stay di rumah sakit. Sementara urusan kantor dia serahkan pada Ardi di saat tidak ada hal yang mendesak.
Damar dan kedua temannya yang lain memaksa Juna untuk makan siang. Memberikan dukungan semangat pada Juna untuk tetap bertahan.
"Jun, ayo dong makan! jangan dilihatin doang!" seru Reza pada sahabatnya yang hanya melihat makanan di meja tanpa menyentuh nya
"Naina juga belum makan apa-apa selama 5 hari ini" jawab Juna lemas, melihat betapa kurusnya Naina yang terbaring tak sadarkan diri di ranjang itu.
CEKRET!
Pintu ruangan itu terbuka. Sontak saja membuat Juna dan ke empat teman baiknya melihat ke arah pintu.
"Kalau Lo ga mau makan, gih balik sana!" usir Kelvin sambil melangkahkan kakinya memasuki kamar Naina.
"Lo gak bisa ngusir gue dari sini" kata Juna enggan pergi dari sana.
"Naina juga pasti akan melakukan hal yang sama kalau Lo terus keras kepala, dia pasti marah. Dia semakin gak mau bangun kalau Lo nya kaya gini dan nyiksa diri sendiri" kata Kelvin dengan pedas menyerang mental Juna.
JLEB!
Itulah yang dirasakan oleh Juna ketika mendengar kata-kata pedas dari calon kakak iparnya itu. Teman-teman Juna menahan tawa melihat hubungan baik Juna dan Kelvin.
"Hubungan Lo baik banget ya sama calon kakak ipar Lo" bisik Nando pada Juna
"Baik banget" bisik Reza ikut memanasi
"Oke, gue akan makan. Tapi Lo jangan usir dari sini"
"Lo harus tetap balik, Lo mau ninggalin kerjaan Lo terus?"
"Gue gak bisa ninggalin Naina" Juna menolak
"Naina gak sendirian disini, banyak orang yang bisa jagain dia. Kalau Lo terus mengabaikan kerjaan Lo, gimana lo mau menghidupi adik gue nanti? pikir pake otak! jangan beg* " kata Kelvin sinis pada Juna yang terus terusan berada di rumah sakit tanpa mempedulikan dirinya sendiri dan pekerjaannya.
"Jun, apa yang dibilang si Kelvin itu benar" ucap Damar
Juna mengepal tangannya dengan kesal, dia tak mau meninggalkan Naina. Tapi perkataan Kelvin juga benar, dia harus kembali semangat dalam kehidupan sehari-hari nya.
"Oke, gue balik. Tapi udah gue makan ini" ucap Juna akhirnya setuju untuk pergi, namun setalah menghabiskan makanan yang dibawa Damar.
Kelvin tidak menjawab, dia hanya duduk di samping Naina dan mengelus kepala adiknya penuh kasih sayang. Nai, cepat lah sadar.. cepat kembali.. kamu masih disini kan, Nai? kakak kangen kamu.
Setelah selesai menghabiskan makanannya, Juna dan teman-teman nya langsung pamit pulang pada Kelvin dan Keira yang giliran berjaga di rumah sakit.
Titt...tit....tittt.....Tiiiiiitttttttttttt.............
"Apa yang terjadi? kenapa suara mesin nya jadi aneh??" tanya Keira panik melihat suara mesin yang aneh dan garis lurus tergambar di layar itu tidak zig-zag seperti biasanya.
"Dokter!! dokter!!" teriak Kelvin sambil berlari keluar dari ruangan itu dan memanggil dokter dengan panik.
...---***---...