Stuck In Love CEO

Stuck In Love CEO
Bab 26. Putusan pengadilan



***masih FLASHBACK****


Beberapa orang berdatangan setelah mendengar suara ledakan dari rumah Risya, mereka melihat Risya sedang menangis di depan rumahnya yang terbakar.


"Oh my Gosh! Are you all right,kid?" tanya seorang wanita berambut pirang pada Risya yang jatuh terduduk di lantai dan menangis.


"Hu.. huu.. " Risya menangis tersedu-sedu saat orang-orang menanyakan keadaannya, seolah ia syok dengan apa yang baru saja terjadi.


"Oh God! There's a burnt body there!" ujar seorang pria bule melihat mayat Maya yang terbakar.


"Poor Girl.. his hands are also on fire. Someone call an ambulance!" ujar seorang wanita bule itu sambil membantu Risya berdiri. Wanita itu bersimpati dengan keadaan Risya.


Mobil ambulance dan mobil pemadam kebakaran sudah datang. Segera para pemadam kebakaran itu melakukan tugas mereka untuk memadamkan api, sementara tim medis membawa Risya ke rumah sakit untuk diperiksa, dan mayat Maya untuk diotopsi.


Di rumah sakit..


Jason yang baru saja pulang dari perjalanan bisnisnya di Inggris, langsung pergi ke rumah sakit untuk melihat keadaan anaknya. Jason terlihat cemas, ia bersama sekretaris nya juga.


"Doctor, how is my daughter?" Jason menanyakan keadaan anak nya pada dokter yang baru saja keluar dari ruangan Risya dirawat.


"Sir.. take it easy, your son only suffered minor burns and was a little shocked. He just needs enough rest and calm" jelas dokter itu pada Jason


"Syukurlah kalau Risya baik-baik saja. Eh.. doctor, can i meet her?"


"Yes.. of course sir " jawab Dokter itu ramah


Jason masuk ke dalam ruangan tempat Risya dirawat. Risya sedang tertidur lelap, dengan selang infus terpasang di tangannya. Jason menatap Risya dengan khawatir. Sejak saat itu, Jason menemani Risya disaat waktu luangnya, meskipun tidak mengajak nya bermain. Jason selalu memberikan apa yang Risya inginkan.


Bahkan mimpinya untuk menjadi seorang model, dengan berat hati Jason mengizinkannya. Perhatian tak didapatkan Risya dari sang papa secara langsung, tapi lewat barang-barang yang diberikan papanya.


Waktu pun berlalu, kematian Maya dinyatakan sebagai kecerobohan Maya sendiri yang lupa mematikan kompor dan gas bocor. Tidak ada yang tau bahwa Risya lah penyebab kematian Maya. Sejak saat itu tanpa sepengetahuan papanya,Risya memelihara hewan-hewan langka dan berbahaya dari seluruh dunia.Risya juga hobi mengoleksi benda benda tajam, seperti pisau dapur, cutter, celurit dan lain-lain di kamarnya.


#END FLASHBACK


"Hentikan papa! jangan berlutut seperti itu didepan mereka! Papa hanya membuat aku malu.. sejak kapan Papa peduli padaku? papa selalu menghindari ku setiap aku mendekat!" seru Risya emosi


"Apa semua yang Papa belikan masih kurang untuk kamu? Papa memberikan semua yang kau punya untuk kamu, apa yang kamu inginkan Papa turuti. Sekarang papa cuma minta kamu minta maaf dan menyesali semua perbuatan kamu ini"


"Hahaha.. Papa selalu saja begitu, Papa seperti tidak ingin aku lahir ke dunia ini? Papa tidak menginginkan aku.. Papa juga tidak menginginkan mama.. bagi papa, kami ini hanya penghalang kebahagiaan. Papa pikir aku tidak tau? kalau selama ini papa selalu memikirkan Kayla dan Tante Laura. Papa ingin kembali pada mereka bukan?" Risya menangis sedih, "memang benar kalau Papa memberikan semua yang aku inginkan, tapi apa papa tahu apa yang benar-benar aku inginkan dari papa? Aku hanya ingin Papa memberikan waktu papa untuk memperhatikan aku, bukan dengan barang barang mewah. Papa.. tidak bisa memberikan semua itu untukku!"


Kemarahan Risya meledak pada Jason, Risya telah kehilangan masa kecil nya yang seharusnya memiliki kenangan indah. Jason tersentak kaget, ia baru sadar kalau selama ini ia memang kurang memperhatikan anaknya dan anaknya itu kekurangan kasih sayang darinya.


Risya mengatakan bahwa tidak ada jalan kembali, terserah ia mau disebut monster, mau ia mati atau tidak, ia tidak peduli lagi. Risya tidak mau diselamatkan oleh papa kandungnya itu.


Alma Bryan bersimpati dan merasa sedih dengan kondisi Risya. Namun, mereka juga tidak bisa memaafkan apa yang sudah Risya lakukan pada Albry. Alma dan Bryan merasa bingung, di satu sisi mereka kasihan pada Risya jika harus mendapat hukuman mati dan disisi lain nya, hati mereka tidak sebesar itu untuk mengampuni kesalahan Risya.


...🍀🍀🍀...


Keadaan Naina sudah mulai membaik, Naina pulang dari rumah sakit dan kakinya juga sudah sembuh. Keesokan harinya Naina kembali ke sekolah bersama Kelvin yang naik motor barunya.


"Kakak ini helm nya" ucapnya sambil menyerahkan helm kepada kakaknya.


"Kamu yakin udah gak papa Nai?" tanya Kelvin


"Iya kak,lihat ini ya.." Naina melompat-lompat di depan kakaknya untuk menunjukkan bahwa ia baik-baik saja.


"Sudah tidak sakit?" tanya Kelvin sambil turun dari motornya


"Iya kak, seratus persen baik-baik saja" jawab Naina ceria


Asyik! aku kembali ke sekolah, aku sudah kangen teman-teman. Naina menghirup udara sekolah yang selalu menyenangkan hatinya.


"Ya sudah"


Beberapa gadis menatap Kelvin dengan tatapan terpesona. Apalagi saat Kelvin turun dari motornya. Walaupun sudah biasa melihat kakaknya dikerubungi oleh wanita, Naina tetap merasa risih.


Naina dan Kelvin berjalan bersama menuju ke lorong kelas, banyak siswi-siswi yang menatap Kelvin.


Dimana pun dan kapan pun kakak selalu menarik perhatian.


"Aku kasihan sama cewek yang akan jadi pacar kakak nanti"tutur Naina pada kakaknya


"Kenapa?" tanya Kelvin


"Keira akan lelah dengan para gadis yang ngefans padamu. Kalau aku sih yang jadi Keira, pasti akan cemburu berat pacar ku diliatin cewek lain begitu" jelas Naina


"Apa yang kamu bicarakan?! memangnya Keira pacarku???!" wajah Kelvin langsung merah merona mendengar kata-kata adiknya yang ceplas-ceplos itu. Kelvin mencubit pipi adiknya dengan gemas


Tapi kata-kata Naina ada benarnya juga, jika nanti aku punya pacar. Dan jika itu Keira, apa dia juga tidak akan suka ya kalau selain menatapku seperti ini? apa dia akan cemburu?


"Aduh..ih kakak sakit tau. Tapi kak, kakak belum nembak Keira? apa kakak mau hts san?" tanya Naina


"Kamu ngomong sembarangan ya! nanti kedengaran orang lain, mati kamu ya!" Kelvin malu


"Cie.. kakak malu-malu..udah kak tembak aja Keira, aku yakin dia memilikinya perasaan yang sama kaya kakak. Dari kecil aku udah lihat kalau dia suka sama kakak, dan aku setuju banget kalau dia jadi kakak ipar masa depanku"


"Hehe.. aku tidak tertarik dengan urusan asmara ku sendiri. Tapi aku tertarik melihat hubungan asmara orang lain" jelas Naina


"Bodoh, pikirkan urusan cinta mu sendiri. Ckckck.. aku jadi kasihan sama cowok yang suka sama kamu atau yang jadi pacar kamu nanti" Kelvin membalikkan perkataan Naina sebelumnya padanya.


Naina sampai di kelasnya, semua temannya sangat senang karena Naina sudah kembali ke sekolah. Namun, Juna terlihat lesu dan sedih berbeda dari biasanya yang semangat. Bahkan sampai pulang sekolah, Juna terlihat lesu.


"Loh? Juna kenapa ya?" tanya Naina bingung


"Nai, si Juna lagi galau tuh. Lo hibur dia gih!"


"Galau? si cowok preman itu bisa galau juga?!" Naina tersentak kaget melihat Juna dari belakang. Juna sedang menghapus tulisan yang ada di papan tulis.


Naina mendekati nya dan bertanya apa yang terjadi pada Juna. Apa dia sedih karena nilainya sedih atau ada masalah lain?


"Kamu kenapa Jun? apa kamu galau karena gak senang kalau aku kembali ke sekolah?" tanya Naina menebak nebak


"Siapa yang bilang gitu? gue gak galau kok"


"Damar yang bilang, kalau kamu galau" jawab Naina polos


Juna langsung melirik ke arah Damar dengan kesal, ia melambaikan tangannya ke arah Juna dengan santai.


Sialan si Damar! udah tadi pagi ngomporin sama si Theo, sekarang ngomong sembarangan sama si Naina.


"Oh iya, si Juna tadi galau nya pas si mata empat.. maksud gue si Theo bilang kalau dia ngasih cincin sama Lo, Nai" jawab Damar blak blakan


Semoga aja deh si Naina peka. Awas aja kalau dia masih kagak peka. Jun, Jun.. kalau kamu ada pertanyaan harusnya bilang aja dong. Pake cemberut segala.


"Gue gak galau karena itu!" seru Juna membantah


Lah! si Damar kenapa sih? makin ngomporin aja? iya sih aku memang kesal karena si Theo bilang kalau dia pernah ngasih cincin sama si Naina, tapi kenapa si Damar bilang ke orangnya?. Juna kesal dalam hatinya


"Hahaha..oh cincin itu" Naina tertawa


"Jadi benar dia pernah ngasih cincin sama Lo?" tanya Juna


"Iya pernah" jawab Naina


"Terus Lo terima?" tanya Juna


"Iyah" jawab Naina


"Jadi Lo terima cincin itu? gak boleh gitu dong, Lo kan masih SMA!" Juna terlihat kesal


Apa si Naina beneran udah dilamar sama si Theo?


"Eh? apa maksudnya? masih SMA? apaan?" Naina melihat Juna dengan bingung


"Kenapa Lo gak kasih gue kesempatan?!" Juna memegang kedua tangan Naina dan menatapnya dengan sedih.


"Juna kamu kenapa sih? kesempatan apa sih?" tanya Naina tak paham


"Gue.. gue juga mau kasih Lo cincin, dan Lo harusnya kasih gue cincin. Lo harusnya gak terima cincin dari dia" Juna ngambek


"Jadi kamu mau kasih aku cincin juga? ya sudah mana? itupun kalau masih ada yang jualan cincin plastiknya" Naina tersenyum santai


"Cin-cincin plastik?!" Juna tersentak kaget


"PFut.. jadi maksudnya si Theo itu cincin plastik" Damar menahan tawa "Gue kira cincin apaan" gumam Damar


"Iya cincin plastik mainan, emang nya kenapa?" tanya Naina polos


Juna merasa lega dan bersyukur, ia pikir kalau Naina sudah dilamar oleh Theo dan menerima lamarannya. Ternyata hanya gara-gara cincin mainan bisa membuat salah paham, Damar dan Juna hanya tertawa dengan kesalahpahaman mereka sendiri. Sementara itu Naina hanya melihat kedua pria itu sambil menggelengkan kepala.


Naina yang masih berada disekolah, mendapatkan kabar dari Alma, bahwa keputusan pengadilan untuk kasus Risya pun sudah keluar. Risya yang tadinya akan dijatuhi hukuman mati, di ganti menjadi hukuman seumur hidup di penjara. Di samping Naina saat itu ada Juna yang sedang belajar dengannya di perpustakaan.


"hiks.." Naina menangis mendengar Risya dijatuhi hukuman seumur hidup, dalam hatinya ia iba pada Risya yang kurang mendapatkan kasih sayang orang tuanya. Dalam hatinya Naija bersyukur karena Risya tidak dihukum mati.


"Lo kenapa Nai?" tanya Juna cemas melihat Naina menangis


"Juna.. huu..hu.."


"Hey, Lo kenapa? ada yang nyakitin Lo? bilang sama gue!" kata Juna kesal


Siapa yang sudah membuat kamu menangis Nai? telpon dari siapa barusan?


Naina terus menangis sampai tersedu-sedu. Naina memeluk Juna yang ada disampingnya. Juna membalas pelukan Naina dengan menepuk-nepuk punggung Naina.


Demi apa? aku dipeluk? Jun! sadar Jun! jantung ku.. oh tidak.


...---***---...