
.
.
Bryan selesai mengganti bajunya dengan baju tidur. Sementara Alma sudah berbaring di ranjang nya. Ia tampak bingung dengan sikap Bryan.
" Bry, pak Mike kan adalah temanmu. Lalu kenapa kamu menyuruhku menjauhinya?"
" Karena aku tidak suka kamu memiliki hubungan dengannya. " jawab Bryan sambil mengambil buku pendidikan tentang ibu hamil. Bryan duduk di ranjang, disisi Alma. Bryan mulai membuka halaman demi halaman buku itu, tampak membaca nya.
" Ya, kenapa? apa kamu ada masalah sama pak Mike?" tanya Alma
" Ada "
" Masalah apa?"
" Ya ada saja masalah " jawab Bryan sembari membuka buku yang akan dibaca nya itu
" Maksudku masalah seperti apa?" tanya Alma penasaran
Masalah apa yang membuat Bryan begitu marah pada pak Mike?
Masalahnya dia sudah merebut hatimu. Masa aku mau bilang begitu? aku tidak mau Alma menyadari perasaan Mike padanya. batin Bryan tak tenang.
Ia pun menyimpan bukunya sejenak, lalu menyuruh istrinya cepat tidur karena harus sudah malam. Tidak baik untuk bayi mereka jika Alma tidur malam-malam.
" Aku akan tidur tapi kamu bilang dulu ada masalah apa kamu dengan pak Mike?" tanya Alma
" Untuk kali ini tolong jangan tanya alasan nya, cukup lakukan saja apa yang aku minta. Ini juga demi kebaikan hubungan kita, rumah tangga kita Al " Bryan membelai lembut rambut Alma sambil tersenyum
" Baiklah, aku tidak akan bertemu lagi dengannya setelah kontrak kerja ku 2 bulan lagi selesai bersama JJ modelling. Tidak apa kan menunggu sampai 2 bulan lagi?" tanya Alma membujuk suaminya
" Apa? berapa biaya pinaltinya? aku akan bayar semuanya, lalu kamu batalkan kontrak mu dan JJ modelling sekarang juga " kata Bryan marah
" Sayang, ini bukan soal uang. Tapi profesionalisme pekerjaan ku, setelah 2 bulan itu aku janji tidak akan ada hubungan lagi dengannya. " Alma tersenyum pada suaminya
" Haa.. baiklah, dua bulan ya?" tanya Bryan menghela napas nya
" Iya sayang, ya sudah aku mau tidur dulu ya aku ngantuk " Alma menarik selimutnya
" Tunggu dulu sebentar " Bryan menarik selimut yang menutupi tubuh Alma, lalu membuka baju atasan istrinya. Terlihat lah perutnya yang masih datar.
" Bry! apa yang kamu lakukan?" tanya Alma kaget
" Aku mau menyapa dulu anak kita, dan menyuruh nya cepat tidur. " Bryan mencium perut Alma yang masih terlihat datar itu. Mengelusnya dengan lembut. " Sayang ku, jangan rewel di dalam sana ya. Baik-baik dengan ibumu, Papa dan Mama sangat menantikan kehadiran mu. Kalau kamu membuat Mama mu susah, Papa tidak akan membiarkan mu " Bryan tersenyum memandangi perut istrinya dengan tatapan lembut.
MUACH
" Good night kesayangan Papa!" Bibir Bryan mengecup perut istrinya dengan lembut
Alma tersenyum haru dan juga malu-malu dengan sikap lembut suaminya pada dirinya dan anaknya yang masih ada di dalam kandungan nya.
" Darimana kamu belajar kata-kata seperti itu?" tanya Alma heran
" Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutku setelah membaca buku dari Ian " jawab Bryan sambil menutup kembali perut Alma dengan baju yang dikenakan nya. Menyelimuti istrinya dengan selimut hangat.
" Kamu sudah membaca bukunya? kapan? aku tidak lihat?" tanya Alma kaget
" Barusan, baru 10 lembar sih. Kata bukunya, kalau orang tua harus sering sering berkomunikasi dengan janin yang masih ada di dalam kandungan " jawab Bryan santai
" Apa? kamu bisa membaca 10 lembar dalam beberapa detik? dan kamu mengingat nya?" tanya Alma terpana dengan kecerdasan suaminya
Apa suamiku benar-benar jenius seperti Kelvin?
" Iya lah " Bryan menjawab dengan enteng, seolah membaca
" Sekarang aku tau kecerdasan Kelvin berasal dari siapa " Alma tersenyum
" Apa itu pujian?" Bryan kembali membuka buku nya, tubuhnya bersandar di pinggiran kasur. Ia tampak sedang membaca isi nya.
" Iya itu pujian. Tapi kamu masih belum mau tidur?" tanya Alma
" aku akan membaca buku ini dulu " jawab Bryan semangat
" Kamu tidur juga, besok kan kamu bekerja " Alma menarik tangan suaminya dan membaringkan tubuh suaminya di ranjang. " Nah, tidurlah sekarang "
Tatapan Bryan mengarah pada lingerie yang dipakai oleh Alma, terlihat tipis dan lekuk tubuhnya terlihat. Bryan mulai teracuni lagi dengan pikiran liar nya saat melihat istrinya yang cantik, ia pun segera beranjak dari ranjangnya sambil membawa 2 buku yang diberikan oleh Ian.
Buku tentang ibu hamil dan bagaimana perkembangan ibu hamil.
" Loh, kamu mau kemana Bry? " tanya Alma yang heran melihat suaminya yang seperti nya akan pergi dari kamar itu.
" Aku mau baca di ruang baca, kamu menggoda ku terus sih " gerutu Bryan kesal
" Menggoda? menggoda apanya?" tanya Alma polos
Deg!
Bryan semakin tergoda melihat wajah polos istrinya, baginya itu adalah godaan terberat. Hatinya berdebar kencang, tubuhnya mulai merasa panas. Pandangan nya mulai kemana-mana, melihat tubuh Alma dari atas sampai ke bawah. Bryan gemas dan ingin sekali menyentuhnya.
Ini gila! Ini harus segera diakhiri. Aku tidak bisa melakukan nya. Alma sedang terluka. Bryan menampar hatinya sendiri dengan kata-kata.
" Sudahlah, aku tidak fokus baca kalau disini! aku mau ke ruang baca, kamu tidurlah lebih dulu sayang " Bryan menghela napas dan mengelus kepala Alma
" Tapi ini sudah terlalu malam untuk membaca, tidak bisakah besok saja membacanya?" tanya Alma cemas
" Hal seperti ini tidak boleh ditunda tunda, aku harus belajar secepat nya. Aku akan menyelesaikan nya dan 20 menit ah tidak 30 menit " Bryan tersenyum penuh percaya diri
" Bisakah kamu membaca kedua buku itu dengan waktu yang singkat? kamu ini dasar.. "
Bryan sangat semangat. Dia sangat senang aku hamil lagi. Apa anak-anak juga akan senang ya kalau aku beritahu mereka tentang kehamilan ku?
Bryan mencium kening istrinya dengan mesra.
MUACH
" Good night sayang, good night anakku yang belum lahir, Papa baca buku dulu ya " Bryan tersenyum manis pada istrinya yang sedang hamil itu.
Alma tersenyum manis pada suaminya, Bryan berjalan keluar dari kamar nya dan pergi ke ruang kerjanya untuk membaca buku. Alma gemas melihat suaminya yang begitu bersemangat belajar buku tentang kehamilan. Padahal yang hamil adalah dirinya, tapi Bryan lah yang sibuk belajar tentang kehamilan dan anak.
" Ah dasar Bryan, menggemaskan sekali sih. Sayang lihatlah Papa mu, dia sangat bersemangat menanti kehadiran mu. Sehat terus nak, besok kita beritahu kakak kakak mu tentang mu ya " ucap Alma sambil mengelus perutnya dengan penuh kasih sayang, ia juga tak sabar menanti kehadiran anak ketiganya/ hamil keduanya.
Sekarang ada Bryan di samping ku, aku tidak perlu cemas. Dia akan selalu menemaniku.
Hati wanita itu merasa tenang dan damai, ia tidak takut lagi akan kecemasan melahirkan tanpa seorang suami disisinya, karena sekarang Bryan ada disisi nya.
.
.
KLAK
Bryan membuka pintu ruang kerja nya, pria itu memegang dadanya dan mengatur napasnya.
" Huft! hampir saja aku berbuat yang macam-macam! hey, pikiran mesum ku hentikan lah semua ini!" Tangan Bryan menampar dirinya sendiri " Ya ya aku tau Alma adalah istriku dan wajar jika kami melakukan hubungan suami istri, tapi ini bukan waktu yang tepat. Ian mengingatkan ku kalau aku tidak boleh melakukan nya di bulan-bulan awal kehamilan Alma. Tidak baik untuk Alma dan anak kami. " gerutu Bryan sebal, karena harus menahan nya.
Pria itu duduk di kursi, ia segera memfokuskan dirinya untuk membaca buku tentang ibu hamil dengan serius. Memakai kacamata bacanya. Tak terasa waktu pun berlalu, benar saja hanya butuh 30 menit dan Bryan sudah membaca dua buah buku yang tebalnya bukan main itu.
" Buku yang sangat bermanfaat. Dari sini aku bisa tau kalau kehamilan itu tidak mudah, baiklah kali ini aku akan berusaha
Bryan menutup bukunya dan menyimpan buku itu baik-baik, setiap kata di dalam buku yang baru saja ia baca sudah dalam ingatan nya. Kini pria itu berjalan kembali ke kamarnya untuk tidur, ia melihat istrinya sudah tertidur lelap. Bryan naik hati-hati ke ranjang, ia mengelus wajah istrinya dengan lembut.
" Sayang, mimpi indah ya " Bryan memeluk istrinya dengan hati-hati, membiarkan tangannya menjadi sandaran untuk istrinya tidur.
🍂🍂🍂
Kemesraan lainnya di rasakan oleh pasangan pengantin baru, Leon dan Laura yang baru menikah 8 hari. Mereka tinggal di rumah Bu Delia sesuai amanat terakhir nya, jangan membiarkan rumah utama Aditama kosong tanpa penghuni.
Mereka menunda rencana bulan madu karena Bu Delia yang meninggal dan masih dalam suasana yang berkabung. Setiap hari setelah kepergian Bu Delia, Laura selalu murung dan sedih. Dan Leon selalu ada untuk menghibur nya.
Malam itu ketika Laura baru saja menidurkan Kayla di kamar. Laura mendengar suara bising dari dapur nya.
" Suara apa itu? dan bau apa ini?" Laura mencium bau aneh dari dapurnya, ia segera berlari menuju ke dapur dan memastikan semuanya aman.
" Sayang, ada apa ini? kamu lagi ngapain sih?" tanya Laura keheranan melihat semua kekacauan di dapur.
" Aku gak ngapa ngapain kok " Leon berjalan menuju ke dekat microwave itu seperti menyembunyikan sesuatu di belakang tubuhnya dekat meja dapur.
" Leon, apa yang kamu sembunyikan? ada apa dibelakang sana?" tanya Laura penasaran. Laura melirik lirik ke belakang Leon, namun pria itu terus menghalangi nya dan membuat Laura bertambah penasaran.
" Kamu tidur aja duluan sayang, aku akan bereskan dapurnya " Leon tersenyum canggung
Niat ku yang ingin membuat kejutan untuk Laura jadi gagal deh! benar-benar aku tidak ada bakat dalam hal ini. Leon memaki dirinya sendiri di dalam hati
Laura kaget begitu melihat tangan Leon yang memerah, melepuh seperti terbakar. Ia langsung memegang tangan Leon dengan cemas.
" Tangan kamu.. ya ampun. Tangan kamu terbakar Leon !" Laura pun segera mengambil kotak p3k yang ada di atas lemari dapur.
Laura kesulitan menggapai kotak p3k yang letaknya tinggi itu. Lalu Leon lah yang mengambilkan nya. Tubuh mereka berdekatan, keduanya merasakan debaran di dalam hati mereka saat berdekatan.
Akhirnya saat itu Laura melihat apa yang disembunyikan oleh suaminya. Ia melihat kue berwarna hitam dan berbau gosong itu.
" Kamu terluka karena membuat ini?" tanya Laura sambil mengambil kue yang gosong itu. Laura terharu dengan perjuangan suaminya untuk menyenangkan hatinya.
" Itu.. iya aku.. aku buat itu, tapi gagal " jawab Leon sedih
Aku benar-benar memalukan.
Laura mengambil sepotong kue yang gosong itu lalu memakannya dengan santai. " Wah, ini enak sekali. Rasa keju nya terasa " Laura tersenyum
Ha. seandainya kemampuan memasak mu setengah saja dari ketampanan mu itu Leon. batin Laura merasakan pahit nya kue buatan suaminya.
" Eh ! itu gosong, tidak enak loh. Kenapa kamu memakan nya?" tanya Leon kaget
" Ini tidak buruk kok, ini sangat enak. Yah walaupun tampilannya gosong begini. Terimakasih Leon " Laura tersenyum hangat pada suaminya.
Leon tersenyum haru melihat istrinya memuji kue buatannya yang gosong itu. Kemudian, Laura mengobati luka di tangan Leon. Mengoleskan salep luka bakar pada tangan kiri nya yang melepuh.
" Lain kali jangan mencoba memasak di dapur lagi, " ucap Laura sambil mengoleskan luka ditangan suaminya
" Kenapa? kamu khawatir padaku?"
" Tidak, aku hanya khawatir kamu akan membakar dapur " jawab Laura
" Apa?!" suara Leon tampak terdengar sebal
" Haha.. Aku bercanda, aku bercanda. Tapi setengah serius juga sih " Laura tertawa melihat suaminya yang kesal itu
" Kamu suka sekali membuatku kesal ya Laura " Leon menatap istrinya dengan tatapan lembut penuh cinta.
Kenapa aku tidak bertemu denganmu lebih awal Laura? mungkin aku sudah bahagia dari dulu bersamamu. Pria yang menyia-nyiakan mu sungguh idiot, kamu adalah intan yang sangat berharga. Kenapa aku tidak menyadari bahwa kamu adalah takdirku Laura.
" Oh, jadi kamu kesal padaku?" tanya Laura sambil tersenyum dan meniup niup luka di tangan suaminya " Huu.. huu.. sakit tidak?" tanya Laura lagi
" Sakit " Leon tak bisa mengalihkan pandangannya dari Laura.
" masih sakit? aku tiup-tiup lagi ya. Kalau Kayla sedang sakit, dia selalu minta di tiup tiup seperti ini, lalu rasa sakitnya hilang. Aku tidak tau itu benar atau tidak..dasar ya anak anak " gumam Laura sambil meniup niup tangan Leon yang terluka.
" Duh sebentar ya, rambutku ini menghalangi saja ". Laura merasa risih dengan rambutnya yang terurai panjang menyentuh tangan Leon.
Laura mengibaskan rambutnya yang tergerai panjang, ia bermaksud untuk mengikat nya dengan ikat rambut yang ada ditangannya. Leon menahan tangan Laura yang akan mengikat rambutnya.
" Kenapa? " tanya Laura sambil melihat ke arah suaminya
" Jangan di ikat. "
" Apa?"
" Rambutmu, biarkan saja tergerai " Leon membelai rambut Laura yang terurai panjang.
DEG!
Tatapan mata Leon dan kata-kata Leon membuat Laura terpana dan terdiam sejenak. Laura terpesona oleh wajah tampan suaminya. Hatinya sudah dilelehkan sepenuhnya oleh Leon.
" I-itu.. " Laura mendadak menjadi gugup
Leon mendekatkan wajahnya ke wajah Laura, bibirnya menyentuh bibir Laura dengan lembut. Perlahan tangan Leon mulai merangkul tubuh Laura.
" Sayang, apa Kayla sudah tidur?" tanya Leon sembari tersenyum menggoda istrinya itu. Leon setengah berbisik ke telinga Laura.
" Iya, Kayla tidur nyenyak " jawab Laura malu-malu, merasakan hembusan napas suaminya di telinga dan lehernya terasa panas.
" Malam ini.. bisakah aku?" tanya Leon hati-hati
" Kamu suamiku Leon, kamu tidak perlu minta izin untuk melakukan itu " Laura tersenyum dan melingkarkan tangannya ke leher Leon. Tubuh Leon semakin memanas, apalagi saat istrinya itu menatap nya.
Laura memberikan sinyal persetujuan, ia melorotkan sedikit bajunya ke bawah untuk menggoda Leon. Namun, Leon malah terlihat malu-malu. Padahal mereka sudah bukan pertama kalinya lagi, tapi masih saja malu-malu.
Leon menggendong istrinya, membawa nya ke dalam kamar. Dan berbagi cinta di dalam kamar mereka.
.
.
🍂🍂🍂
.
.
Sinar mentari menyilaukan, menembus jendela kamar Alma. Membuatnya terbangun dari tidur nyenyak nya, entah karena efek obat ataukah karena pendarahan yang terjadi kemarin. Alma tertidur sangat lelap sehingga, ia kesiangan. Alma kaget melihat jam yang menunjukkan sudah pukul 7 pagi.
" Apa? jam 7? bagaimana ini? apa anak-anak sudah bangun? duh kenapa aku bisa kesiangan. Celaka lah aku!" dengan buru-buru, Alma berlari ke arah luar kamarnya.
.
.
Bryan yang memakai celemek, terkejut melihat Alma yang sedang berlari dan terlihat panik itu. Ia menghampiri istrinya.
" Sayang, jangan lari-lari! " ujar Bryan sambil memegang tangan istrinya dengan lembut
" Bryan, kamu sudah mandi? kamu sudah sarapan? anak-anak bagaimana?! apa mereka sudah bangun?!" tanya Alma panik
" Sayang, kamu tenang dulu " Bryan tersenyum memandangi istrinya itu.
" Ma! kami sudah bangun kok, ini kami mau sarapan pagi " sahut Naina yang sedang duduk di meja makan bersama kakak nya. Naina tersenyum melihat Mama nya itu
" Syu-syukurlah " Alma menghela napasnya, ia merasa lega karena kedua anaknya itu sudah bersiap dengan seragam merah putih mereka dan sedang duduk di meja makan.
Bryan menggandeng tangan Alma dan membawa istrinya ke meja makan untuk sarapan bersama. Kedua anaknya sarapan dengan sepotong roti, selai coklat dan selai keju. Sementara Alma terkejut melihat berbagai jenis makanan di depannya.
Apa apaan semua ini? apa ini semua yang disebut sarapan?
" Al, kenapa kamu diam saja? ayo makan lah "
" Kamu suruh aku menghabiskan semua ini? kamu tidak bercanda kan?" tanya Alma tak yakin
" Iya aku tidak bercanda. Habiskan lah sarapan mu sayang " jawab Bryan serius
" Iya Ma, supaya Dede bayinya cepat besar dan cepat lahir. Mama harus menghabiskan semua nya " kata Naina polos
" Ya ampun " Alma ternganga melihat makanan yang ada didepannya. Rasanya ia sudah kenyang dengan melihat nya saja.
" Mama, adiknya harus laki-laki ya " kata Kelvin sambil tersenyum senang dan memberikan sepotong roti dengan selai coklat diatasnya pada ibunya.
Seperti nya Bryan sudah memberitahu mereka tentang kehamilan ku?
Dan setelah itu, hari hari Alma yang tenang mulai sibuk karena suami dan kedua anaknya.
...---***---...
Mohon maaf readers! hari ini up nya agak telat 🤗 author baru pegang hp 🙏😊 makasih juga untuk kalian yang sudah ngasih gift dan vote nya secara cuma-cuma Minggu ini buat dukung karya ku.