Stuck In Love CEO

Stuck In Love CEO
Bab 102. Juna curiga



...🍀🍀🍀...


Malam itu dan saat itu juga Naina Juna resmi menjalin ikatan pertunangan di depan keluarga Naina. Malam yang belum berakhir begitu saja, Juna tak ingin melepaskan Naina. Dia terus memegang tangan Naina dengan erat.


Jun, kita mau kemana dulu?" tanya Naina pada tunangan nya yang sedang sibuk dengan stir kemudinya.


"Aku mau ajak kamu ke suatu tempat, kamu pasti suka" Juna tersenyum


"Ya udah, tapi kamu ingat kan papa bilang apa kan?" tanya Naina


"Jangan kemalaman, aku tau kok" Juna menjawab dengan cepat, "Ini gak akan lama" Juna tersenyum bahagia.


Dalam 10 menit perjalanan, mereka sampai di sebuah taman yang familiar. Tempat Juna dan Naina dulu akan bertemu namun tidak jadi. Hari dimana Juna pergi meninggalkan Naina tanpa kabar.


"Jun, ini kan tempat dimana dulu aku akan bertemu kamu?" tanya Naina meyakinkan dirinya pada taman itu. Namun herannya, mengapa di taman itu banyak lampu berkelap-kelip. Padahal Naina yakin sebelum nya tidak ada sesuatu seperti itu di taman yang sudah lama terbengkalai.


"Iya benar" jawab Juna


Juna menggandeng tangan Naina, secara bersamaan mereka berjalan melewati jalan penuh bunga menuju ke sebuah danau. Naina masih menatap Juna dengan penuh pertanyaan. Sesampainya di tengah danau, Naina dibuat takjub melihat ada perahu, kursi dan meja. Diatas meja itu ada makanan juga minuman, di hiasi lilin hias.


"Bagus, suasana malam mendukung. Langit juga cerah, Nai" Juna tersenyum melihat langit penuh bintang.


"Juna, apa kamu yang menyiapkan semua ini?" Naina terpesona melihat pemandangan danau itu.


"Tadinya aku ingin menyiapkan yang lebih, tapi semuanya serba mendadak. Papa dan om kamu ngerjain aku, jadinya aku gak sempat menyiapkan secara besar-besaran. Akhirnya kita hanya bisa merayakannya saja" Juna tersenyum, dia membantu Naina naik ke dalam perahu.


Tubuh Naina sempat oleng, dia berpegangan pada Juna. Mereka pun duduk bersama di kursi yang ada di tengah danau.


"Apa ini sudah terasa seperti drama Korea?" tanya Juna


"Ini lebih dari sekedar indah, Jun" Naina tersenyum melihat makanan dan minuman kesukaannya ada di meja.


"Syukurlah, ayo makan dulu. Kamu belum makan malam kan?"


"Iya Juna, makasih.. malam ini aku sangat bahagia" tak hentinya gadis itu tersenyum atas perhatian yang dia berikan.


"Aku lebih bahagia dan aku akan membuat kamu bahagia setiap harinya Nai" ucap Juna sambil memandang gadis itu dengan penuh cinta.


"Terimakasih Jun"


"Dalam cinta gak ada kata terimakasih, Nai. Aku mencintaimu, dan itu tanpa syarat" Juna tersenyum


Mereka berdua menikmati makan malam bersama di tengah danau atas perahu. Namun setelah selesai makan, Naina memuntahkan semua makanan yang belum lama dia telan.


"UWEKKK!! UWEKKK..."


"Nai, kamu gak papa?" Juna memegangi punggung Naina dan menepuk-nepuk nya.


"Aku baik-baik aja, kayanya aku masuk angin Jun" jawab Naina sambil berusaha mempertahankan dirinya.


"Gak Nai, kita ke rumah sakit aja yuk. Kamu udah sering kaya gini Nai, aku gak mau kamu kenapa-napa" Juna cemas dan agak memaksa Naina untuk pergi ke rumah sakit.


"Juna aku gak apa-apa, aku mau pulang aja" pinta nya pada Juna


Seperti nya ini efek samping obat yang dikatakan dokter. Aku gak tahan lagi, seperti nya ada yang mau keluar dari tubuhku.


Juna mengangkat tubuh Naina, kali ini dia tidak bisa tinggal diam saja melihat Naina seperti orang sakit. Akhir-akhir ini Juna menyadari bahwa Naina sering sekali sakit.


"Ah! Juna, kamu ngapain? kenapa kamu menggendongku?" tanya Naina sambil melingkarkan tangannya di leher Juna.


"Kita ke rumah sakit ya Nai, kita periksa sekarang" ucap Juna tegas


"Gak mau, Jun.. aku mau pulang.. aku mau pulang Jun" pinta Naina ketakutan saat mendengar kata rumah sakit.


"Tidak, kita ke rumah sakit ah! aku tidak percaya kalau kamu hanya kecapean"


"Lah? kenapa kamu nangis? Nai..aku cuma ngajak kamu ke rumah sakit" Juna keheranan


"Aku mau pulang.. aku mau pulang..hiks.."


"Nai.. jangan gini dong" Hati Juna tidak tega melihat Naina menangis. Suasana malam bahagia mereka berakhir dengan tangisan Naina.


Kini Juna dan Naina berada di dalam mobil Juna. Naina masih menangis, merengek pada Juna agar tidak membawanya ke rumah sakit. Juna tau kalau Naina sangat benci dengan rumah sakit, sama halnya seperti Alma sang ibu. Tapi Juna khawatir dengan kesehatan Naina yang akhir-akhir ini menurun, dia takut kalau Naina memiliki penyakit dalam.


"Gak ada gunanya kamu merengek kaya gitu, aku tetap bawa kamu ke rumah sakit. Demi kamu juga Nai"


"Kalau kamu tetap keras kepala gitu, aku mau pulang sendiri aja! aku bilang gak mau ya gak mau!' Naina berteriak kesal, gadis itu keluar dari mobil Juna dengan wajah marah.


Pokonya aku gak boleh sampai ke rumah sakit, kalau gitu.. Juna bisa tau penyakit ku.


JEBLAG!!


Naina menutup pintu mobil itu dengan keras lalu melangkah pergi. Juna mendesis kesal dengan keras kepala tunangan nya itu. Juna ikut keluar dari mobil dan menyusul Naina.


"Nai!! hey! angry cat!!" Juna berjalan cepat menyusul Naina, dan kini sudah berada di hadapannya.


"Dengerin aku dulu dong Nai.. kenapa kamu keras kepala kaya gini sih?" Juna memegang tangan Naina, tangannya meraih pipi cantik yang basah itu kemudian mengusapnya.


"Kamu yang keras kepala, aku bilang aku gak mau ke rumah sakit!" seru Naina masih menangis


Tak tahu harus bagaimana lagi, dia juga tak tega melihat Naina menangis terus. Akhirnya Juna mengalah padanya. "Oke fine, kita pulang aja ke rumah. Ke rumah sakitnya gak jadi, tapi kamu jangan nangis"


"Benaran gak jadi? kamu gak bohong kan?" tanya Naina sambil menyeka air matanya.


"Aku gak bohong angry cat ku..kita pulang aja" Juna membelai pipi Naina dengan lembut


Naina benar-benar mencurigakan. Seperti nya ada yang disembunyikan nya.


"Makasih Juna" Naina memeluk tunangannya dengan perasaan lega.


Maafin aku Jun, aku belum bisa cerita sama kamu. Aku harus menyembunyikan ini sampai kak Kelvin dan Keira resmi menikah. Naina merasa bersalah di dalam hatinya


Setelah membujuk Naina, Juna membawanya masuk ke dalam mobil dan mengantar nya pulang ke rumah. Mereka saling melambaikan tangan, kini status mereka sudah resmi bertunangan.


Juna dengan sengaja mengupload foto kebersamaan nya dan Naina ke media sosial dan grup alumni. Foto itu terlihat oleh semua teman-teman Juna. Termasuk Theo dan Nisha. Juna bermaksud memberitahu semua orang bahwa Naina adalah miliknya.


Ting!


Theo yang baru saja selesai operasi, menerima notifikasi pemberitahuan di grup alumninya. Hati Theo remuk melihat foto Naina dan Juna pamer cincin yang sama dengan caption, "Hari pertunangan ku, Naina resmi menjadi calon istriku. Minta doanya sampai hari H yang teman-teman"


"Si*l*n kamu Juna!!"


Theo melempar ponselnya dengan gusar saat melihat foto itu dan hatinya sungguh terluka. Theo mulai berfikir apakah ini memang akhir bagi nya?


Juna puas melihat pesannya dibaca oleh teman-teman nya, dia juga mendapatkan pesan selamat dari teman-teman nya.


Kemudian Juna menelpon Ardi, "Halo"


"Ya pak?"jawab Ardi cepat


"Ardi, cari tau siapa dokter yang memeriksa Naina saat di Maldives. Lalu, berikan lah hasil pemeriksaan nya padaku.. aku ingin kamu segera mendapatkan nya"


Hanya dokter itu yang tau kondisi Naina sebenarnya, aku merasa ada yang janggal dengan Naina. Aku rasa ini bukan kelelahan biasa. Juna curiga


"Ba-baik pak" jawab Ardi patuh namun dengan suara yang ragu. Hatinya penuh pertanyaan, kenapa si Presdir meminta nya melakukan itu?


...---****---...