
"Ehm." Nayla menetralkan suasana. "Bisakah bapak melepaskan pelukannya, saya tidak nyaman berbicara dengan posisi seperti ini."
Revan tersadar pelukannya sudah terlepas, tapi Revan malah menatap manik mata hitam Nayla dalam. Tatapan matanya sayu membuat siapapun tak tega melihatnya termasuk Nayla sendiri.
"Perkenalkan saya sekretaris baru bapak, nama saya Nayla Damian bukan Salsa." Ucap Nayla memperkenalkan dirinya dan sedikit menyidir tentang nama wanita yang sempat disebutkan Revan tadi.
'Nayla Damian... ini benar - benar tak terduga, wajahnya itu, apa dia cuman mirip dengan Salsa. Lagipula Salsa sudah meninggal 5 tahun lalu. Tapi kenapa perasaan gue dia itu beneran, akh... sudahlah.' Batin Revan.
"Ehm saya minta maaf karena sudah lancang memelukmu." Ucap Revan meminta maaf.
"Iya pak tidak apa - apa." Balas Nayla sopan tidak mungkin Nayla akan memarahi bos barunya ini bisa bisa dia dipecat di hari pertamanya bekerja.
Revan kembali ke kursi kerjanya, dia menarik nafasnya dalam - dalam dengan memejamkan matanya lalu menghembuskannya perlahan dengan kembali membuka mata. Revan reflek berteriak ketika mendapati rambut panjang wanita yang terurai tapi tak menampakkan wajahnya, itu membuat Revan mengira bahwa yang dilihatnya adalah makhluk tak kasat mata.
"Kenapa anda berteriak pak ?" Tanya Nayla polos setelah mengangkat wajahnya kembali.
Revan menghembuskan nafas lega ketika tahu yang di depannya ini adalah wanita yang mirip dengan Salsa bukan yang menurut perkiraanya ialah makhluk tak kasat mata. "Kenapa kamu masih disini terus ? Siapa yang menyuruhmu untuk duduk disitu ? Apa maksudmu menunduk seperti itu mau mebuat saya jantungan ?" Sentak Revan.
"Santai pak satu - satu ya." Jawab Nayla santai membuat wajah Revan merah menyala kemarahannya sudah mencapai ubun - ubun.
"Oke saya akan jawab satu satu pertanyaan pak Revan, pertama saya disini karena anda yang menelpon menyuruh saya kesini. Kedua tidak ada yang menyuruh saya untuk duduk disini ini inisiatif saya sendiri, capek tahu pak berdiri terus. Ketiga ini yang terakhir saya menunduk karena ponsel saya tadi jatuh jafi saya mengambilnya." Jelas Nayla panjang lebar.
Revan menganga dibuatnya seseorang berbicara tanpa jeda walau sedetik sungguh hebat pikirnya.
Diambilnya berkas itu dan berkata, "Siap pak." Kemudian Nayla melenggang pergi.
Revan menyenderkan punggungnya ke kursi, " Ternyata wajahnya saja yang sama, sifatnya sungguh jauh berbeda dari Salsa yang gue kenal."
•••
"Ahahaha..... Benarkah itu ma aku yakin sebentar lagi suamimu ini akan naik jabatan. Kau memang handal mencari keluarga kaya nyonya Rita Baiquni, aku salut padamu."
Suara tawa menghiasi ponselnya. Dia tidak tahu kehancuran sedang menanti dirinya.
Sahutan terdengar dari lawan bicara di ponselnya. "Kau terlalu banyak memuji suamiku. Aku memang pandai mencari keluarga kaya tapi sebagian besar semuanya disebabkan oleh kecantikan tiada tanding dari anak kita Putri Baiquni." Ucapnya sombong.
"Kau benar, lalu dimana Putri sekarang?"
"Dia sudah aku suruh ketempat yang akan menghasilkan uang untuk kita."
•••
Semoga suka sama ceritanya.
Jangan lupa klik like dan masukin cerita ini ke favorit supaya dapat notifikasi kapan updatenya.