Stuck In Love CEO

Stuck In Love CEO
Selina tidak waras?



Setelah mendengar penjelasan dari Viona tentang kecurigaan nya pada Gerry. Pak Jeffry, membawa ke empat bodyguard yang bertugas menjaga Alma untuk segera naik ke apartemen Gerry.


Viona dan Pak Jeffry terlihat cemas, mereka segera masuk ke apartemen Gerry dan tidak terlihat siapapun disana.


" Pak Jeffry, bagaimana ini? kemana Bu Alma?!" Tanya Viona panik


" Kalian cari nyonya dan pak Gerry di setiap sudut gedung ini, dan jangan sampai ada yang terlewatkan!" ujar Pak Jeffry kepada 4 orang bertubuh tinggi dan kekar itu.


" Baik pak "


4 orang pria itu berpencar mencari Alma dan Gerry di sekitar apartemen berlantaikan 10 itu. Pak Jeffry terlihat panik.


" Bagaimana ini? seharusnya saya tidak membawa Bu Alma kemari, seharusnya saya melarangnya " gumam Viona dengan mata nya yang berkaca-kaca


" Bu Viona tenang dulu ya. Kita tidak akan menyangka bahwa ini semua akan dilakukan pak Gerry. Bukankah pak Gerry adalah orang kepercayaan Pak Mike sahabat Presdir. Pasti semua orang akan menyangka bahwa pak Gerry juga baik." jelas Pak Jeffry


Aku harus segera mengabari pak presdir.


" Saya tidak menyangka ini akan terjadi.." Viona menginjak sesuatu di kakinya.


Viona mengambil sebuah kalung yang tidak asing, kalung milik Alma. Dengan tangan yang gemetar karena panik dan cemas, Viona mengangkat ponselnya dan menghubungi seseorang yang berhubungan dengan Gerry.


🍂🍂🍂


Malam itu Bryan baru pulang dari kantornya. Ia melihat kedua anaknya sedang bermain bersama seorang pembantu rumah tangga yang sebelumnya bekerja di rumah Alma. Bi Asih namanya.


" Selamat datang tuan " sapa Bi Asih dengan hormat


" Ya " jawab Bryan singkat


" Papa, sudah pulang?" sambut Naina kepada papa nya, lalu mencium tangan papa nya dengan sopan


" Iya sayang. Kalian belum tidur?" tanya Bryan sambil mengelus kepala anak perempuan nya dengan lembut


" Eh papa pulang " Kelvin menyimpan gadget nya dan segera beranjak dari kursi. Menghampiri papa nya lalu mencium tangan papa nya


" Iya Vin, Mama kalian mana? kok gak kelihatan?" Bryan celingukan kesana kemari, ia melonggarkan dasinya, dan tampak lelah.


Suaminya pulang, bukannya disambut tapi malah bersembunyi. Apa dia mau main petak umpet?


" Mama belum pulang Pa, kami juga lagi nunggu Mama " jawab Kelvin


" Belum pulang?"


Bryan melirik ke arah jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul setengah 9 malam. Hatinya mulai cemas dan resah, karena seharian itu ia tidak ada kontak dengan istrinya. saking sibuknya ia di kantor.


" Ya sudah, kalian cepat tidur ya. Bi Asih, tolong ya anak-anak bawa ke kamar nya " kata Bryan


" Iya tuan " jawab Bi Asih. " Nona muda tuan muda, ayo kita pergi tidur. " ajak Bi Asih


" Iya bi, aku juga sudah ngantuk " ucap Naina


Bi Asih membawa si kembar ke kamar mereka karena hari sudah malam dan waktunya mereka untuk tidur. Sementara Bryan masuk ke dalam kamarnya dan membuka beberapa pesan di ponselnya, yang berisi laporan anak buahnya tentang kegiatan Alma hari itu.


" Harusnya dia sudah selesai dengan pertemuan nya kan, kemana dia?" Bryan cemas dan hendak menelpon Alma. Namun sebelum ia memencet tombol panggilan, sudah ada seseorang yang menelpon nya.


Dreett.. Drett..


🎵🎵🎵


Pak Jeffry calling..


Tit!


Bryan langsung mengangkat telponnya, terdengar berita buruk dari Pak Jeffry mengenai istrinya.


" Apa maksudmu istriku menghilang? kemana dia? katakan yang jelas !" seru Bryan setengah berteriak dan langsung berdiri dari duduknya.


Hingga teriakan nya sampai membuat si kembar yang akan tidur di kamarnya menjadi terkejut. " Kak, Papa kenapa ya teriak teriak gitu?" tanya Naina


" Apa terjadi sesuatu? ayo Nai, kita samperin Papa " ajak Kelvin pada adiknya


Naina dan Kelvin keluar dari kamar mereka dan mendekat ke arah kamar Bryan. Mereka mendengarkan pembicaraan Bryan di telpon secara sembunyi-sembunyi.


" Pak Jeffry! " teriak Bryan


" Pak Presdir, saya tidak tau detail kejadian nya bagaimana. Tapi, nyonya menghilang dan seperti nya nyonya dibawa oleh pria itu " jelas pak Jeffry dengan suara yang ketakutan


" Sialan! bagaimana ini bisa terjadi? apa kalian bodyguard yang menjaganya hanya badut di kebun binatang saja hah?! istriku bukan anak kecil, kenapa dia bisa menghilang?!" teriak Bryan pada pria tua itu.


Naina dan Kelvin yang ada di balik pintu kamar Bryan, kaget mendengar bahwa Alma menghilang.


" Kakak, Mama menghilang. Apa maksudnya kak?" Naina terlihat khawatir


Kelvin terdiam dan memikirkan sesuatu. Sejak awal ia tau bahwa akhir-akhir ini selalu ada bodyguard yang menjaga nya dan Naina tidak seperti biasanya. Kelvin merasa aneh dengan semua ini, dan akhirnya keyakinan nya bertambah saat mendengar bahwa ibunya menghilang.


" Dimana posisi mu?! dan kumpulkan semua orang! "


Akan ku bunuh kamu Mike ! jika ini ada hubungannya dengan mu.


" baik pak, kami ada di apartemen xxx " jawab Pak Jeffry


Tut..


Bryan segera menutup telponnya, lalu ia mengirim pesan pada Andre.


Ia yang masih memakai kemeja kerja nya dan dalam keadaan lelah berlari keluar dari kamarnya dan tampak terburu-buru dengan wajah panik.


" Ka-kalian ngapain disini?" tanya Bryan yang terkejut melihat kedua anaknya berdiri tak jauh dari pintu kamarnya.


" Papa, papa mau kemana? Mama dimana pa?" tanya Naina dengan wajah cemas


" Papa mau jemput Mama kalian, kalian jangan cemas ya. Pergilah tidur " Bryan berusaha tetap tersenyum dan menjaga agar kedua anaknya tidak khawatir


" Kami sudah dengar semuanya pa, Mama hilang. Papa mau jemput Mama kemana?" tanya Kelvin tegas


" Papa akan mencarinya, Mama kalian akan baik-baik saja. Kalian jangan cemas ya " ucap Bryan


" Pa, Mama hilang kemana pah? apa Mama diculik? " tanya Naina yang hampir menangis


" Sayang, princess nya Papa.. jangan nangis ya, Mama kalian memang hilang tapi Papa akan mencarinya dan segera menemukan nya malam ini juga " jelas Bryan sambil duduk berlutut dan menenangkan Naina


" Bi Asih, tolong jaga anak-anak ya. Nanti Andre akan menjemput mereka "


" Baik tuan " jawab Bi Asih


Setelah menitipkan anaknya pada Bi Asih dan dua bodyguard yang berjaga di rumahnya. Bryan segera pergi ke lokasi tempat dimana Alma menghilang. Apartemen Gerry yang sudah ditinggalkan oleh pemilik nya.


🍂🍂🍂


Di sebuah tempat yang gelap dan asing baginya, Alma mulai terbangun dari pingsan nya. Setelah seember air berbau bensin menyiram tubuhnya. Kedua tangan dan kaki nya terikat erat oleh sebuah tali. Mulutnya di sumpal oleh solatip hitam yang tebal.


" Bangun, pemalas !" ujar seorang wanita dengan nada yang kasar dan sinis


Siapa itu?. samar-samar melihat seorang wanita cantik berambut pendek ada di depannya.


" Apa kamu sudah sadar?" tanya wanita itu


Alma berusaha membuka matanya yang masih sayup-sayup itu, penglihatan nya yang kabur mulai kembali. Ia melihat Gerry, beberapa orang pria yang disampingnya dan mantan istri dari suaminya ada disana. Matanya terpana melihat wanita itu ada disana.


Selina?!!


" Apa kamu mau bicara?!" Selina menyeringai dan membuka solatip di mulut Alma dengan kasar.


" Selina! apa ini semua adalah rencana kamu?" tanya Alma yang menatap tajam Selina. " Pak Gerry kenapa anda melakukan ini?"


" Maafkan saya Bu Alma, saya tidak bermaksud menyakiti anda. " Gerry terlihat merasa bersalah


Jika bukan karena pernah berhutang di masa lalu, aku tidak akan melakukan ini.Selina sudah gila, aku tidak mau terlibat dengannya lagi.


" Kalian benar-benar! sebenarnya apa yang kalian inginkan? " Alma berusaha melepaskan ikatan di tangannya, matanya menunjukkan kemarahan pada Selina.


" Selina, tugas ku sudah selesai kan? setelah ini jangan libatkan aku dalam rencana mu. " Gerry melangkah pergi, namun Selina menahannya.


" Kamu mau kemana Gerry? apa kamu pikir kamu bisa bebas setelah melakukan semua ini? " Selina memegang erat tangan Gerry, tatapan Selina pada Gerry membuat pria itu ketakutan. Tatapan yang kosong, di sertai senyuman tajam seperti sudah kehilangan akal sehatnya. Sementara Alma masih berteriak teriak minta agar dirinya di lepaskan.


" Selina! aku sudah membawa nya kemari sesuai perintah mu, dan urusan ku sudah selesai denganmu. " ucap Gerry


" Bukankah kamu mau tidur dengannya dulu? kamu bebas melakukan apapun padanya, nikmatilah dia dulu. Aku ingin dia rusak, sehingga Bryan tidak akan menerima nya lagi " bisik Selina pada Gerry. Kata-kata wanita itu terdengar kejam


Gerry terdiam dan melihat Alma yang masih duduk terikat di meja. Hatinya tak tega melihat Alma berada dalam kesulitan.


Wanita ini benar-benar gila. Seharusnya aku tidak melakukan ini. Terlibat dengan Mike dan Bryan Aditama, hanya untuk membalas budi pada Selina. Ini sudah kelewat batas, aku akan mati ditangan Mike dan Bryan.


Sebelumnya Gerry memberinya cairan afrosidak pada Alma, dan membuatnya tidak sadarkan diri. Gerry mempunyai niat yang jahat untuk menyetubuhi nya, namun ia ingat kembali dengan pertemanan nya dan Mike. Dan tidak menyentuh Alma sama sekali, ia hanya membawanya kepada Selina seperti apa yang diperintahkan.


" Selina kamu tidak harus melakukan hal sejauh ini. Dan aku tidak mau terlibat apapun lagi dengan mu " kata Gerry menolak


Karena kamu gila! tidak waras, psikopat. Gerry memaki Selina di dalam hatinya


" Jadi kamu menolak? haha.. baiklah, sebelum kamu pergi kamu tunggu dulu sebentar. " Selina tersenyum dan tertawa terkekeh-kekeh.


Selina menghampiri Alma, dan menjambak rambut Alma dengan keras. Hingga rambutnya tergerai ke bawah. Tangannya yang satu lagi memegang besi yang baru saja dipanaskan.


" ACK! lepaskan aku Selina!!" teriak Alma kesakitan. " Ka-kamu sudah gila !"


Menyebalkan! kenapa aku tidak bisa bela diri? tanganku terikat sangat kencang.


" Kalau kamu tidak mau melakukan perintah ku, besi panas ini akan mendarat di wajahnya. " Selina tersenyum kosong, seakan akal sehat sudah tidak ada di dalam dirinya. Selina mendekatkan besi panas itu ke arah wajah Alma sambil senyum-senyum sendiri.


" Selina! kamu gila " Alma berusaha menghindar, matanya memincing ketakutan melihat besi panas yang akan menghampiri nya


" Apa yang kamu lakukan? lepaskan dia Selina!" ujar Gerry tak tega melihat Alma akan disakiti oleh Selina. Padahal Gerry tidak ingin terlibat lebih jauh, tapi ia sudah terlibat dengan Alma.


Niat Gerry keluar dari tempat itu adalah untuk memberitahukan pada polisi, atau pihak rumah sakit jiwa untuk menangkap Selina.


Namun secara logikanya, jika ia pergi dari tempat itu sekarang juga maka Selina akan berbuat gila pada Alma. Gerry yakin, bahwa wanita yang pernah menjadi penyelamat nya di masa lalu itu sudah berubah menjadi tidak waras.


" Aku tau kamu tidak tega, kemarilah Gerry! jadilah anak baik " Selina menyambut Gerry dengan senyuman


" Kamu ingin aku melakukan apa?" tanya Gerry


" Perkosa dia !" jawab Selina dengan cepat


Jika wanita jal***g ini sudah rusak, Bryan pasti tidak akan menerima nya lagi, dan akan kembali padaku.


" Kamu sudah gila! " Alma panik, tubuhnya mulai berkeringat dingin. Ternyata wanita di depannya itu sudah benar-benar gila.


" Aku tidak akan melakukan nya ! Selina, ini sudah tindakan kriminal !" Gerry membentak Selina dan marah


Selina tiba-tiba tertawa, dan sedetik kemudian ia menangis dan mengubah air muka di wajahnya dengan cepat. Hal itu membuat Gerry dan Alma semakin takut melihatnya.


" Kenapa? kenapa semua pria menyebalkan? kenapa semua pria tidak menuruti perintah ku dan menginginkan ku? aku kurang apa HAH?! hahahaha.. hiks "


Selina memberi isyarat kepada anak buahnya untuk menangkap Gerry juga. Gerry sempat melakukan perlawanan, namun ia kalah jumlah. Ditambah lagi Selina memberikan nya sebuah minuman yang mengandung obat afrosidak.


" Selina ! jangan keterlaluan " Alma merasa kasihan melihat Gerry yang juga menjadi korban kegilaan Selina, gadis yang sangat terobsesi pada suaminya.


" Ohok ohok ! " Gerry berusaha memuntahkan minuman yang terteguk oleh mulutnya..


" Selina kamu sudah gila! tidak waras kamu!"


" Aku gila? haha.. aku ini waras " Selina tertawa terbahak-bahak


" Iya kamu benar, siapa juga orang gila yang mengaku dirinya gila." Gerry tersenyum tipis. Kedua tangannya masih dipegang erat oleh orang-orang suruhan Selina.


Selina menampar Gerry dengan keras. PLAKK!!


" Sekali lagi kamu bilang aku gila, aku akan menghabisi kamu juga. Dan untuk kamu pelakor yang sudah mengambil orang yang aku cintai, aku akan biarkan kamu hidup sampai besok saja. Malam ini silahkan kamu bersenang-senang dengan teman ku Gerry. "


Alma menatap Selina dengan tajam dan penuh kemarahan, Selina mengambil cincin pernikahan yang tersemat di jari manis Alma. Lalu memakainya di jarinya.


" Cincin ini sangat bagus ya, sangat cocok di jariku. Tanpa cincin ini kamu bukan istri Bryan lagi "


" Sungguh kekanakan, ada atau tidak ada cincin itu kami masih tetap menikah. Dan perasaan kami tidak akan berubah satu sama lain, kami akan tetap saling mencintai " Alma tersenyum sinis


Mendengar kata-kata Alma yang seperti ejekan baginya, membuat telinga nya panas dan hatinya seperti terbakar. Ia melayangkan beberapa pukulan pada pipi Alma, pukulan yang keras hingga sudut bibirnya berdarah.


BUGH


BUGH


Terdengar suara Alma merintih kesakitan


" Argh "


" Hentikan itu Selina!" Gerry yang setengah sadar berusaha menghentikan Selina menyakiti Alma.


" Haha, bagus. Kamu kesakitan kan Almahyra? ini tidak sebanding dengan rasa sakit di hatiku "


" Kenapa kamu tidak bisa menerima kenyataan, Selina? Bryan tidak mencintai kamu, apapun yang kamu lakukan padaku ini tidak ada gunanya. Bryan, tidak akan kembali padamu " jelas Alma


" Berisik!"


PLAK


Tangan Selina mendarat di pipi Alma untuk kesekian kalinya.


" Sekarang aku yakin kalau kamu benar-benar tidak waras! tunggu saja sampai Bryan dan semua orang menemukan mu. " Alma mengancam


" Kamu tidak dalam posisi untuk mengancam ku " Selina menjambak rambut Alma dengan kasar. " Jika kamu hancur, Bryan juga tidak akan menerima mu lagi "


" Kamu salah besar, jika aku hancur maka kamu lebih hancur. Bryan tidak akan membiarkan hal ini, dia tidak akan melepaskan mu " Alma menatap Selina dengan penuh kemarahan


Setelah menyiksa Alma dan Gerry. Selina meninggalkan mereka berdua di ruangan yang minim cahaya dan kurang udara itu. Disan ada 3 orang anak buah Selina yang menjaga mereka. Tangan kaki Alma dan Gerry sama-sama di ikat. Alma melihat Gerry seperti kepanasan, mengalami gejala yang sama dengan Alma sebelumnya. Pria itu menghela napas dan berusaha mempertahankan kesadaran nya.


" Bapak merasakan apa yang saya rasakan kan?" tanya Alma sedikit menyindir, ia mencium bau tubuhnya yang memiliki bau bensin.


Hosh.. hosh


" Ya, aku minta maaf karena sudah membius kamu " ucap Gerry dengan badannya yang panas dan berkeringat banyak


" Saya tidak butuh maaf bapak, saya butuh pertanggungjawaban bapak. "


" Baiklah, aku akan mengeluarkan mu dari sini jika aku bisa membebaskan diriku dari pengaruh obat ini "


" gigit saja bibirmu atau lidah mu " kata Alma dingin


" Apa maksudmu? kamu menyuruhku mati ?"


" Bapak ini bodoh atau bagaimana sih? masa mengigit bibir dan lidah saja bisa mati. Lihat saya? apa saya mati setelah menggigit lidah saya?" tanya Alma heran


" Wah, kamu benar-benar bisa mengatakan kata-kata pedas juga ya. Saya kira kamu wanita polos dan lemah lembut. "


" Cepat lakukan lah, sebelum teman anda yang tidak waras itu datang kemari. " ujar Alma pada Gerry yang ada di sebelahnya.


" Aku kan sudah minta maaf! dan aku bukan temannya, aku juga tidak tau kalau dia tidak waras " ucap Gerry kesal


Gerry memuji Alma yang bisa cukup tenang menghadapi situasi, dan menghadapi Selina. Bahkan Alma memiliki nyali yang cukup besar untuk menggigit lidahnya sendiri agar tetap sadar dan terbangun dari obat afrosidak yang sebelumnya diberikan padanya. Gerry memuji keberanian Alma. Namun, amarah Alma belum padam pada Gerry yang sudah menjerumuskan nya pada bahaya.


" Saya akan memaafkan anda kalau kita bisa keluar dari sini hidup-hidup " kata Alma tegas


" Kamu mengatakan hal yang kejam Bu Alma. Kita pasti akan selamat. Suamimu pasti sedang mencari mu sekarang." kata Gerry yakin


Bryan, cepatlah datang. Aku menunggu mu.


Tak terasa malam pun semakin dingin menuju ke arah subuh, Alma tidak bisa tidur sama sekali karena tubuhnya kedinginan. Namun, ia mencoba bertahan, berharap sang suami segera menemukan nya.


...---***---...