
...***...
Sore itu..
Di rumah sakit..
Ruangan tempat Naina di rawat, Kelvin Keira dan teman-teman nya yang lain sudah sampai disana untuk menjenguk nya. Suasana di ruang rawat itu jadi ramai karena kehadiran teman-teman nya, terutama teman-teman Juna yang selalu membuat kehebohan.
Mereka sangat mengkhawatirkan keadaan Naina dengan tulus. Bahkan terjadi keributan saat Juna dan Theo membawakan makanan yang sama untuk Naina. Teman-teman nya hanya melihat keributan itu di sofa, mereka tampak menikmati persaingan Juna dan Theo untuk mendapatkan hati gadis yang tidak peka itu.
"Nai, makan kue yang gue beli aja. Gue jamon lebih enak"
"Nai, kue yang aku bawa lebih enak. Kamu makan punya ku aja, dia pasti beli nya sembarangan. Kamu suka coklat kan?" tanya Theo sambil tersenyum dan menyodorkan kotak kue yang ia bawa pada Naina yang sedang duduk di ranjangnya.
"Lo lebih suka stoberi kan?" tanya Juna sambil melirik sinis ke arah Theo, dengan senyuman menyeringai
Mereka kompak banget, bahkan kue yang mereka bawa juga berasal dari toko yang sama. Mereka benar-benar sehati. Naina senyum-senyum melihat kotak kue yang ada ditangan Juna dan Theo
"Nai, ambil aja punya gue(aku)!" Theo dan Juna berbicara bersamaan
"Mau sampai kapan kalian seperti ini?! ini kamar pasien! apa kalian mau gue usir ke luar?!" ancam Kelvin kesal melihat kedua orang itu berantem terus di kamar rawat adiknya.
"Udah udah kalian berhenti ya ributnya, aku ambil kuenya" Naina mengambil kotak kue Juna dan Theo lalu meletakkan nya di meja.
Ternyata dia ngambil dua duanya, kenapa bukan punya ku saja?. Theo dan Juna terlihat kecewa
"Tenang aja, aku suka dua duanya kok. Mau itu coklat atau Stoberi. Aku suka" Naina tersenyum ceria
"Dua duanya? haaahh...." Juna dan Theo menghela napas secara bersamaan. Saat itu Juna cs, Kelvin dan Nisha malah tertawa melihat dua orang pria yang wajahnya terlihat lesu itu.
"Makasih ya kak Theo dan Juna, aku makan kuenya ya" Naina tersenyum ceria lalu mengambil kue yang ada di kotak itu dan memakannya dengan lahap seolah tidak terjadi apa-apa.
Bodohnya.. aku terlalu berharap lebih si bodoh ini akan peka dengan cepat. batin Juna sedih
Nai, udah berapa tahun kita bersama? kamu masih belum peka juga. Theo juga merasakan kekecewaan yang sama
Fiks! aku harus membuat kamu peka! batin Juna dan Theo penuh tekad.
"Malangnya ketua Virsche boys" gumam Reza sambil tertawa kecil
"PFut.. kasihan mereka berdua" Damar menahan tawa
"Ya, Naina orangnya gak peka untuk urusan kaya gini" bisik Keira pada Damar
"Perjuangan si Juna masih panjang" bisik Damar pada Keira
"Iyah haha" Keira tertawa
Kelvin menatap Damar dengan tajam, ia jelas tak suka kalau Keira berdekatan dengan pria lain. Damar yang peka, langsung tau kalau Kelvin ada rasa pada Keira, wanita yang ditaksir nya juga.
Beneran nih, kayanya si Damar ada rasa sama Keira. Kelvin menatap tajam Damar yang sedang duduk di kursi bersama Keira.
Berat nih, sainganku si genius cold man. Tapi aku tidak akan menyerah. Damar tersenyum menyeringai pada Kelvin.
Hari sudah mulai gelap, satu persatu teman Naina berpamitan untuk pulang. Juna cs pulang lebih dulu kecuali Damar dan Juna yang masih berada disana.
"Lo juga gak balik?" Theo membalikkan pertanyaan
"Gue juga mau balik, ayo balik bareng sama gue!" seru Juna mengajak
Gak akan aku biarkan kamu berduaan sama Naina disini.
Si trouble maker licik! aku tau kamu tidak akan membiarkan ku begitu saja. Theo tersenyum sinis pada Juna
"Cie.. cie.. udah gih pada pulang sana, udah mau malam" Naina tersenyum melihat ke arah Juna dan Theo.
Entah yang ada dipikirannya Naina, kedua orang yang saling bersaing itu malah dianggap akrab. Naina hanya tersenyum polos melihat kedekatan Juna dan Theo di matanya.
"Udah lah kalian balik! istirahat sana, karena perjuangan kalian masih panjang" Kelvin menepuk bahu Juna dan Theo secara bersamaan. Kelvin sepertinya mengerti penderitaan kedua pria yang jatuh cinta pada adik nya yang tidak peka dalam hubungan asmara.
Semangat! karena adikku belum tertarik dengan hubungan asmara. Batin Kelvin
"Thanks udah semangatin kita" kata Theo dengan wajah yang kecewa.
Apa ini lampu hijau?! batin Juna senang
Juna,Theo dan Nisha pun berpamitan lebih dulu setelah memastikan kalau Naina sudah lebih baik, kini tinggal Keira dan Damar yang belum pulang. Kelvin pun membicarakan masalah Risya yang ditangkap oleh polisi karena sudah terbukti mencelakai Naina.
Naina sempat tidak percaya bahkan terkejut, tapi dengan kesaksian Keira dan Damar ia pun menyadari satu hal. Bahwa selalu berfikir positif juga tidak selalu benar, ada kalanya selalu waspada.
"Kenapa dia melakukan itu kak? kenapa dia pura-pura baik , lalu mencelakai ku?" tanya Naina dengan mata yang berkaca-kaca, kepercayaan nya seperti di khianati. Ia merasa seperti orang bodoh.
"Menurutmu kenapa Nai? tentu saja dia menyimpan dendam lama." jawab Kelvin
"Iya Nai, awalnya aku juga tidak percaya kalau Risya melakukan semua ini. Tapi aku melihat bukti nya sendiri, dia juga mengakui kesalahannya di depan semua orang" jelas Keira
"Jadi dia benar-benar pelakunya.. haah.. lalu kenapa dia sampai dibawa masuk ke penjara? ini terlalu berlebihan, bukankah aku juga baik-baik saja sekarang?" tanya Naina heran
"Bukan hanya itu saja salah kesalahan Keira, dia juga mengakui kalau dia adalah dalang yang sudah menyuruh orang lain untuk menabrak adik lo" jelas Damar pada Naina
"Apa?!!" Naina tersentak kaget mendengarnya. Ia tak percaya kalau Risya mampu berbuat hal sekejam itu pada Albry adiknya yang sudah tiada.
"Kamu mau gimana? kamu masih mau maafin dia? masih mau berbuat baik?!" tanya Kelvin tajam pada saudara kembarnya itu.
"Aku.. aku...hiks" Naina tidak bisa menahan air matanya lagi, jika itu menyangkut soal Alm. Albry ia tak bisa diam saja. Naina menangis terisak-isak, ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. "Albry.. kenapa Risya melakukan itu? hiks.. "
Naina teringat kenangan menyakitkan tentang Albry, adik yang ia sayangi. Bagaimana Albry di saat saat napas terakhirnya? betapa sakitnya Albry yang kecil itu meregang nyawa? dan itu semua karena Risya? Rasanya Naina tidak percaya kalau Risya anak berusia 15 tahun bisa melakukan pembunuhan yang keji. Bahkan Risya sudah pernah membunuh 2 orang sebelum membunuh Albry dan orang suruhan nya untuk menabrak Albry.
Aku mungkin bisa memaafkannya atas perlakuan nya padaku, aku juga mengerti kalau dia ada dendam. Tapi aku tidak bisa memaafkan orang yang sudah membunuh Albry.
Kelvin memeluk adiknya dan menenangkan nya. Naina menangis di pelukan kakaknya" Aku tidak akan pernah memaafkan Risya! dia sudah membunuh Albry! aku tidak akan memaafkan nya! " teriak Naina histeris
"Ya, kamu tidak perlu memaafkannya! jangan memaafkannya, dia tidak pantas mendapatkan pengampunan.." Kelvin menahan air matanya, tangannya menepuk nepuk bahu Naina dengan lembut.
"Albry.. Albry... hiks.. huuuhuuu..."
Keira dan Damar menatap Naina dengan sedih dan prihatin. Seolah mereka dapat merasakan penderitaan yang sama dengan Naina. Apa yang dilakukan Risya itu benar-benar keji terhadap seorang anak berusia 8 tahun.
...---***---...