Stuck In Love CEO

Stuck In Love CEO
Bab 146. Ngidam ibu hamil



...πŸ€πŸ€πŸ€...


Di Jakarta, kantor Navin..


Alma terlihat sedang melamun di ruang kerjanya, dia tidak tenang memikirkan putrinya yang sedang berada di Singapura bersama suaminya. Dia khawatir pada Naina, dan ingin cepat-cepat menemui nya.


"Tidak bisa begini, aku tidak bisa diam saja! Bagaimana kalau disana Naina kambuh? Juna juga harus bekerja, dia pasti tidak akan bisa selalu bersama Naina. Dan bagaimana pula dengan pengobatan nya? Ya Allah, aku benar-benar mencemaskan nya..padahal belum 24 jam mereka pergi meninggalkan negara ini," gumam Alma resah.


Dreet..


Dreet..


🎢🎢🎢


Ditengah keresahan nya, sebuah panggilan di ponselnya, membuat fokusnya teralihkan.


Suamiku calling..


"Halo Bry," jawab Alma.


"Sayang, kamu ada dimana?"tanya Bryan.


"Di kantor lah, ada apa?"


"Makan siang bareng yuk," ajak Bryan pada istrinya.


"Ya udah, dimana?" Alma setuju.


"Restoran di samping kantor Navin," jawab Bryan.


"Oke, kita ketemu disana ya," Alma tersenyum.


Beberapa menit kemudian setelah pembicaraan di telpon itu, Bryan dan Alma bertemu di restoran yang tak jauh dari kantor Navin. Sebuah restoran sederhana dan selalu banyak pengunjung.


Saat makanan sudah datang dan ditaruh di meja, Alma terlihat melamun dan tidak nafsu makan.


"Sayang, ada apa?" tanya Bryan yang menyadari bahwa sedari tadi istrinya tidak banyak bicara, bahkan tidak memakan makanannya dengan benar.


"Bry, aku kepikiran Naina.." Alma menghela napas, dia mengatakan kekhawatiran nya pada Naina.


"Hem, sayang aku mengerti perasaan kamu. Tapi, disana kan ada Juna yang menjaganya.. kalau kamu khawatir pada nya, kita bisa video call mereka. Jika tidak ada telpon, berarti mereka baik-baik saja, sayang," jelas Bryan mencoba menenangkan istrinya.


"Kamu benar juga sih, Naina pasti akan baik-baik saja bersama Juna. Tapi hatiku tetap saja merasa resah," ucap Alma sambil mengangkat sendok berisi makanan yang siap disantap.


"Sore ini kita video call dia bersama-sama ya untuk memastikan keadaan Naina, aku juga ingin melihat keadaan putri kita. Udah ya, sekarang makan dulu, nanti kita telpon mereka," Bryan tersenyum, dia memberikan telur bagian kuning ke piring milik Alma.


"Iya Bry, makasih," Alma tersenyum lembut atas perhatian suaminya.


Keduanya sama-sama tersenyum dan makan siang bersama. Hati mereka tak luput dari Naina dan Kelvin, juga Keira yang sedang mengandung.


Tidak tahan berada di rumah terus, Keira akhirnya memutuskan untuk kembali bekerja. Dengan syarat, bahwa ketika usia kandungan Keira sudah menginjak 4 bulan dan dia merasa tidak sanggup, dia tidak boleh bekerja lagi di kantor.


Jam kerja Keira pun hanya boleh sampai pukul 2 siang, tidak boleh lebih dari itu. Maka setelah jam makan siang, Keira langsung dijemput oleh Kelvin dan diantar pulang ke rumah.


"Gimana bisa pulang kerja jam segini? Aku kan bos nya!" omel nya pada Kelvin yang membuat peraturan kerjanya.


"Justru itu karena kamu bos nya, maka kamu berhak pulang jam berapapun kamu mau. Masalah pekerjaan, aku sudah memerintahkan orang-orang terpercaya untuk melakukan nya. Kamu gak usah khawatir," ucap Kelvin dengan kedua tangan yang sibuk menyetir.


"Hem.."Keira tidak melanjutkan ucapannya, tapi malah menghela napas.


"Eits, apa kamu mau membantah lagi?" tanya Kelvin, "Gak ingat apa kata dokter? Kandungan kamu lemah, aku gak mau anak kita sampai kenapa-napa," ucapnya lagi.


"Iya sayang, aku tau.. maaf karena aku mengeluh," gumam Keira dengan suara yang pelan.


"Baguslah kalau kamu mengerti," Kelvin tersenyum pada istrinya.


Ketika berada dalam perjalanan pulang, pandangan Keira tertuju pada seorang pedagang tanggung. Pria tua yang membawa barang dagangannya di bahunya.


"Kelvin! Kelvin hentikan mobilnya!" seru Keira pada suaminya.


"Ada apa sayang? Kamu mau nyuruh aku salto, push up? Manjat pohon buah lagi?" tanya Kelvin. Dia sudah sering mendengar dan melaksanakan permintaan aneh-aneh istrinya yang sedang ngidam itu.


"Aku gak suruh kamu melakukan nya, anak kita yang mau. Jangan protes deh, ayo cepat hentikan mobilnya!" seru Keira.


"Ya baiklah ibu negara," jawab si calon ayah itu patuh.


CKITT..


"Kei, jangan lari-lari!" seru suaminya mengingatkan. Dia menutup pintu mobil itu dan menyusul istrinya.


"Pak, saya mau pesan kue cucunya dong!" Keira tersenyum, dia semangat memesan kue cucur itu.


"Boleh neng," jawab pria paruh baya itu dengan nada hangat. "Mau berapa neng?" tanya nya lagi.


"Saya mau 20 ya," jawab Keira yang tiba-tiba ngidam ingin kue cucur.


Kelvin berdiri di samping Keira, dia termenung melihat apa yang dijual oleh si pedagang itu. Kue cucur? Dia ingat benar kalau mamanya ngidam kue cucur saat hamil Albry, adik bungsunya yang sudah tiada. Ada rasa sedih di hati Kelvin melihat si pedagang kue cucur itu.


Matanya berkaca-kaca, tanpa sadar air matanya menetes. Dia hanya memandang pedagang yang sedang membuat kue cucur itu.


"Sayang, kenapa kamu nangis?" tanya Keira sambil menatap suaminya dengan cemas.


"Aku.. aku gak apa-apa Kei," jawab Kelvin sambil tersenyum, dia menyeka air matanya.


"Beneran kamu gak apa-apa? Kamu nangis gitu? Kamu gak mau aku beli kue cucunya? Kamu gak suka?"


"Enggak, bukannya gitu sayang," sangkal Kelvin.


"Gak tau kenapa aku tiba-tiba mau kue cucur, kalau kamu gak suka aku beli.. ya udah jangan,"


"Eh.. kok jadi ngambekan gitu sih? Aku tidak melarang untuk membelinya, kalau kamu suka kamu boleh beli berapapun yang kamu mau. Anak kita kan yang mau? Kita harus menuruti nya," Kelvin memegang perut istrinya yang masih datar itu.


"Iya sayang, jadi gak apa-apa nih aku beli kue cucur?" tanya nya lagi.


"Gak apa-apa, beli sebanyak yang kamu mau," Kelvin mengusap kepala istrinya penuh kasih sayang.


Albry, kakak kangen kamu sayang..


Ngidam Keira tidak berhenti sampai disana, dia selalu meminta macam-macam pada Kelvin. Bahkan ketika tengah malam minta di dibuatkan nasi uduk dan harus Kelvin sendiri yang membuatnya.


"Sayang, ada apa kamu bangunin aku jam segini?" tanya Kelvin sambil duduk dan mengucek matanya.


"Aku lapar Vin,"


"Kalau lapar ya tinggal makan, ada semur telur di dapur. Aku hangatkan dulu untuk kamu ya," dengan mata yang masih belum terbuka sempurna, Kelvin beranjak dari ranjang nya demi sang istri pada tengah malam.


"Tapi Vin, aku gak mau semut telur.."


"Mau apa dong?"


"Aku mau nasi uduk sama eskrim," jawab Keira meminta.


"Oke, aku pesan online dulu ya" jawab Kelvin sambil mengambil ponselnya yang sedang di charger. "Atau aku minta Farel saja mencarikan nya," gumam Kelvin.


"Aku gak mau pesan online Vin, aku mau nya kamu yang buat," ucap Keira manja.


"Hah?!" mata Kelvin langsung terbuka lebar begitu mendengar permintaan istrinya.


"Please, aku mau nasi uduk sama eskrim buatan kamu,"


"Oke fine nasi uduk kan? Tapi eskrim? Masa makan eskrim jam segini?!" Kelvin tidak percaya dengan permintaan aneh itu.


"Tapi aku mau, terus gimana dong?!" Keira cemberut.


"Nasi uduknya saja ya,"


"Ya udah jangan dibuatin aja, gak jadi. Aku mau tidur aja, biarlah anak kita kelaparan!" ancam nya pada Kelvin.


"Sayang jangan marah, oke aku buatkan. Tapi kamu bisa tunggu sebentar,kan?" Kelvin mencoba pengertian pada wanita hamil yang ngidam itu.


"Kalau kamu gak mau buat, ya udah!"


Cup


Kelvin mendekati Keira, kemudian mengecup bibir nya dengan lembut. "Iya sayang, aku buatkan," dengan sabar dan lembut, Kelvin bersedia melakukan permintaan istrinya.


Keira tersenyum, dia membalas kecupan itu dengan ciuman manis pada bibir suaminya.


"Kamu yang terbaik sayang," Keira memuji suaminya.


Walau dalam keadaan ngantuk, Kelvin tetap melakukan semua kemauan Keira. Mereka tinggal berdua lagi di rumah Kelvin dan berpisah dari Bryan Alma.


...---***---...