Stuck In Love CEO

Stuck In Love CEO
Bab 130. Before married (2)



POV Naina Juna, ( Gaun pengantin )


...🍀🍀🍀...


Dengan membawa sebuket bunga mawar pink berukuran besar, Juna datang menghampiri Naina. Dia memberikan bunga itu kepada calon istrinya.


Alma dan seorang pegawai butik mesem mesem sendiri melihat gejolak cinta diantara kedua orang yang akan segera menikah itu.


"Nai.." Juna tersenyum lembut, dia memberikan bunga itu pada Naina.


"Buat aku?" Naina


"Gak, ini buat si mbak butik nya" jawab Juna dengan wajah serius sambil melihat ke arah seorang pegawai wanita yang menahan tawa karena kata-kata Juna.


Kedua mata Naina langsung membulat mendengar jawaban Juna.


"Ya enggaklah, ini buat kamu!" seru Juna pada Naina. "Aku lagi berusaha romantis, jangan diketawain ya" oceh Juna dengan candaan yang seperti biasanya.


"Aku pikir kamu naksir si mbak nya, hehe" Naina tertawa kecil dan menerima buket bunga mawar pink itu dari tangan Juna.


"Mana mungkin aku naksir si mbak nya, kalau si mbak nya mungkin aja dia yang naksir aku" goda Juna pada Naina


"Haha" Alma dan Naina sama-sama tertawa dengan candaan Juna. Sementara si pegawai butik itu hanya tersenyum saja.


"Ehem! Jadi pengantin pria nya sudah datang, mari coba dulu baju pengantin!" kata pegawai butik itu pada Naina dan Juna


Calon pengantin itu sama-sama pergi ke ruang ganti untuk mencoba gaun pengantin mereka. Juna memakai setelan jas berwarna putih, pria itu terlihat tampan dan cerah saat memakainya.


"Kamu terlihat tampan Juna" Alma memuji calon menantunya itu dengan tulus.


"Juna memang sudah tampan dari lahir, mama mertua" jawab Juna dengan senyuman pede nya.


"Kamu ini benar-benar deh, tidak heran Naina selalu tertawa saat berada di dekat kamu..hiks" tiba-tiba saja wanita itu menangis dan duduk di sebuah kursi, entah apa yang dia tangisi.


"Eh.. eh? Mama kenapa nangis?" tanya Juna sambil duduk di samping calon mama mertuanya. Dia menatap Alma dengan cemas


"Juna.. kamu harus janji sama mama ya, kamu harus bahagiakan Naina.. kamu harus jaga anak mama..hiks" Alma menangis teringat anak gadisnya yang akan segera menikah. Dalam beberapa hari, Naina akan menjadi istri orang.


Tangan Juna menyeka air mata Alma dengan lembut. "Mama gak usah khawatir, mama bisa percaya kan Naina sama Juna. Aku akan menjaga Naina ma.. mama jangan nangis"


"Ya, mama percaya sama kamu Juna.. Kamu sangat mencintai Naina, mama bisa melihat itu. Tapi, ibu mana yang tidak sedih kalau anak gadis nya akan segera meninggalkan nya. Kelvin sudah menikah, sebentar lagi Naina juga akan menikah"


"Mama gak usah cemas, aku gak akan bawa Naina kemana-mana kok. Kami cuma tinggal terpisah dari mama dan papa, bukan berpisah selamanya kan? Kami akan sering mengunjungi mama nanti, lagian rumah Juna kan gak jauh" Juna menjelaskan pada mama mertuanya, bahwa dia tidak akan kemana-mana meninggalkan Alma dan Bryan. Mereka hanya akan tinggal terpisah seperti mau nya Naina yang ingin mandiri.


"Tetap saja.. kalau gak ada Naina di rumah, rumah akan sepi" Bibir Alma mengerucut, dia membayangkan dalam beberapa hari Naina akan meninggalkan rumah dan meninggalkan nya, "Juna, kamu benar-benar harus menjaga Naina dengan baik ya! Kalau kamu berani membuat Naina menangis, mama akan membawanya kembali pulang"


"Mama tidak akan punya kesempatan melakukan nya, karena aku gak akan biarkan mama membawa Naina pulang" Juna tersenyum tipis, dia bicara dengan percaya diri sama seperti biasanya.


"Apa itu artinya, kamu akan menjaga Naina?" tanya Alma sambil melihat ke arah Juna


Juna memegang tangan Alma dan meletakkan tangan Alma di kepalanya. Pria itu berlutut di depan Alma. "Aku berjanji ma, aku akan menjaga dan melindungi Naina. Aku akan membuat Naina bahagia dan tidak menyesal memilihku sebagai suaminya. Mama bisa percaya padaku" Juna tersenyum, matanya menatap ke arah Alma


Nai, seperti nya lelaki pilihan kamu ini benar-benar baik. Dia pasti bisa membuat kamu bahagia. Alma tidak bicara, dia hanya tersenyum ke arah Juna.


"Kalau mama gak percaya juga, apa mama lupa kalau aku sudah menandatangani surat perjanjian itu? Kalau aku akan memotong anu ku jika aku berani menyakiti Naina!" kata Juna dengan suara yang lantang, hingga orang-orang yang di butik itu mendengar kata-kata nya.


"Apa yang kamu katakan?! Kenapa kamu mengatakan nya dengan keras?!" Alma langsung mencubit tangan Juna dengan gemas. Dia malu dengan pandangan orang-orang pada nya dan Juna.


"Aduh, mama galaknya sama kaya Naina deh gemesin" Juna malah tertawa kecil melihat Alma yang marah.


"Juna, kamu berani ya godain ibu mertua kamu" Alma tersenyum lebar dengan tingkah Juna.


"Haha, ya udah dong jangan nangis lagi ya ma" bujuk Juna agar Alma tidak bersedih lagi


"Iyah" jawab Alma


Seorang pegawai butik itu membuka tirai di depan mereka. Terlihat lah seorang wanita memakai gaun pengantin berwarna putih panjang. Dia tersenyum dan terlihat sangat cantik.


"Gaunnya benar-benar cocok untuk Bu Ninaina!" kata pegawai wanita sambil tersenyum melihat ke arah Naina


Alma dan Juna terpana melihat penampilan Naina yang terlihat memukau dengan gaun pengantin nya. Naina sendiri seperti merasa sedang bermimpi, suatu hari dia akan mengenakan gaun berwarna putih itu.


"Mama, Juna? Gimana? Gaunnya bagus kan? Ini agak kegedean sih" Naina merasakan gaun itu kebesaran di badannya yang kurus.


"Kamu sangat can..." Alma tersenyum cerah melihat putrinya berdiri di dekat tirai itu dengan gaun pengantin nya.


"Lepaskan!" kata Juna sambil menatap tajam ke arah Naina, tangannya menyilang di dada. Juna terlihat tidak senang.


Alma terheran-heran melihat Juna menunjukkan raut wajah serius tidak seperti biasanya yang selalu ramah dan bercanda. Seakan-akan Juna berubah menjadi seseorang yang berbeda.


"Apanya yang lepaskan?" tanya Naina dengan wajah polos nya


"Lepaskan gaunnya Naina" jawab Juna tegas


"Kenapa? Gaunnya bagus kan?" tanya Naina meminta pendapat Juna, dia tersenyum ke arah calon suaminya.


"Jelek banget gaunnya" jawab Juna tak suka.


Mana bisa Naina menggunakan gaun itu di hari pernikahan kami. Tidak akan aku biarkan. Juna terlihat marah Naina memakai gaun itu. Gaun yang agak terbuka di bagian atas dan menunjukkan sedikit leher nya.


Lah? si Juna kenapa ya?. Alma menatap menantunya dengan bingung.


"Menurut kamu jelek? Tapi aku suka gaun ini.." Naina mengernyitkan dahinya, dia meminta Juna setuju dengan baju pilihan nya.


"Ganti! Aku gak suka" kata Juna sedikit membentak


"Kalau aku gak mau, gimana?" Kata Naina menantang


"Mau aku robek gaunnya?" ancam Juna pada Naina dengan tatapan yang tajam


DEG!


Naina dan Alma tercengang melihat raut wajah Juna yang terlihat tidak seperti biasanya. Tingkah Juna saat ini mengingat Alma pada sebuah peristiwa di masa lalu.


Juna yang seperti ini terlihat seperti Bryan!! Ah aku baru ngeh. Alma menghampiri anaknya dan berbisik padanya.


"Nai, kamu nurut aja sama Juna. Mama tau kenapa dia bersikap seperti itu" bisik nya pada Naina


"Memangnya Juna kenapa?" tanya Naina polos dan bingung, mengapa pria itu terlihat marah.


"Naina, kamu gak akan lepas bajunya?" tanya Juna tajam


"Ah? Apa?" Naina menatap ke arah Juna


"Ma,maaf.. mama bisa biarkan kami berdua dulu? Aku mau bicara sama Naina" kata Juna meminta mama mertuanya untuk pergi sebentar meninggalkan nya dan Naina berdua


"Ah ya baiklah...tolong jangan keras keras sama Naina ya" Naina mengingatkan


"Juna cuma mau nasehatin aja kok" jawab Juna sambil tersenyum cerah


"Oke" kata Alma


Naina, semoga kamu baik-baik saja nak. Alma berharap anak nya akan baik-baik saja dengan Juna.


"Nai, ikut aku!" Juna menarik tangan Naina dan membawa gadis itu ke dalam ruang ganti. Naina sulit berjalan karena dia menggunakan gaun pengantin itu.


"Kamu serius mau pakai gaun itu di hari pernikahan kita?" tanya Juna dingin


"Iya, gaunnya bagus.. cuma kegedean dikit, tapi bisa dikecilkan lagi kok" jawab Naina dengan wajah polosnya.


"Kamu gak boleh pakai dan kamu tidak akan memakainya!" Juna melotot ke arah Naina


"Kenapa? Ini bagus, aku mau pakai ini"


"Oh.. jadi kamu mau pakai? Baik" Juna tersenyum tipis, dia mengangkat tubuh Naina dan mendudukkan tubuh Naina di meja rias.


"KYAA!! Juna kamu kenapa?!" Naina terkejut


"Kamu mau pakai gaunnya kan?" tanya Juna sambil melorotkan bagian atas gaun pengantin itu dengan mudah. Kini kedua bagian depan Naina mulai terlihat.


SRET


"Juna mesum! Kamu mau apa?" tanya Naina terkejut dengan sikap Juna padanya.


"Kamu mau pakai gaun ini, atau mau menggantinya? Tergantung kamu" Juna tersenyum licik, kedua tangan Juna membuka resleting gaun Naina yang letaknya ada dibelakang.


SREK


SREK


"Junjun! Kenapa kamu buka resleting nya?" Naina melotot ke arah Juna, dia terkejut karena bagian punggung nya mulai terlihat.


"Kamu lihat kan? Gaunnya mudah di lepas, ini sebabnya aku gak mau kamu pakai gaunnya. Apalagi untuk di pertontonkan di depan orang banyak" kata Juna dengan tangannya yang menyentuh nyentuh punggung Naina dengan lembut


"Uhhh... Ahhh... Juna, geli..hentikan Juna.." Gadis itu menggelinjang kegelian dengan sentuhan Juna


"Gimana? Kamu masih mau pakai gaun itu? Atau kamu mau melepaskan nya? Kamu mau membantahku?" tanya Juna dengan suara yang tegas dan serius.


Deg!


Naina tercengang dibuat nya, dia tidak menyangka Juna yang selalu terlihat bercanda akan melakukan hal seperti ini.


Kenapa sikap Juna jadi seperti Presdir yang mendominasi begini?


"Naina.. jawab?!!" Tangan Juna mulai nakal, dia menyentuh kaki Naina dengan lembut seraya menggoda nya. Alhasil, gadis itu tampak sangat kegelian.


"Uhh.. Juna.. hentikan, sudah.." Naina memohon pada Juna untuk tidak menyentuh nya lagi, sesekali gadis itu tertawa geli.


Juna menatap Naina dengan tatapan nanar, dia merasa tubuhnya semakin panas. Melihat wajah cantik Naina, dia ingin sekali melahap nya. Ekspresi Naina sudah mengundang hasrat terdalam yang ada di dalam dirinya.


Sial! Aku yang menggodanya, tapi malah aku yang tergoda!. Batin Juna yang sadar bahwa dirinya mulai memanas.


Juna sadar lalu menghentikan aktivitas nya. Dia kembali merapikan baju Naina dengan cepat. Seperti habis menumpahkan noda lalu dibersihkan kembali.


"Juna..."


"Nai, jangan pakai gaun itu! Dan ganti bajumu sekarang juga, pilihlah gaun yang lain" kata Juna marah


"Kamu marah, hanya gara-gara gaun?Apa kamu gak suka aku tampil cantik?" tanya Naina


"Kamu sudah cantik, dengan atau tanpa memakai gaun itu. Hanya saja aku tidak suka kamu mempertontonkan tubuh kamu di depan orang banyak nanti"


"Haa.. Juna kamu cemburu?" Naina akhirnya mengerti apa maksud dari tindakan dan ucapan Juna kepadanya. Pria itu cemburu, dia tidak ingin ada orang lain yang melihatnya memakai gaun seksi.


"Hm... entahlah" Juna bersikap jaim, wajahnya kesal, bibirnya cemberut.


"Kalau jawabannya entahlah, berarti gak apa-apa dong aku pakai gaun ini" Naina tersenyum menggoda calon suaminya itu


"Ninaina! Kamu!" Juna menatap Naina dengan tajam


"Baiklah, aku tidak akan memakainya. Tapi kamu harus memilihkan gaun nya untukku" Naina tersenyum manis


"Iya aku akan memilihkan nya, gaun yang cocok untukmu" tak hentinya Juna tersenyum ketika berhadapan dengan calon istrinya. Menyambut hari bahagia itu mereka tersenyum bahagia.


Naina mengangguk setuju, kemudian dia memeluk Juna dengan lembut penuh kasih sayang. "Nai..."


"Juna! Ini benar-benar gawat!" kata Naina sambil tersenyum di dalam pelukan Juna.


"Gawat apanya?" tanya Juna dengan wajah yang tegang


"Aku sayang banget sama kamu Jun, sampai aku gak tau dimana dasarnya. Karena perasaan itu sangat dalam" Naina menyembunyikan wajah berseri itu pada dada bidang milik Juna. Tangannya melingkar di punggung Juna.


"Aku lebih sayang sama kamu, sayang banget" Juna membalas pelukan hangat dari Naina


Ketika Naina dan Juna akan segera merajut kebahagiaan dalam ikatan pernikahan. Pasangan Keira dan Kelvin sedang berada dalam problem, itu disebabkan oleh Keira yang sedang mengalami morning sickness.


Dari sejak tadi pagi, Keira tidak bisa pergi kemana-mana karena morning sickness nya yang parah. Kelvin bahkan sampai membatalkan rapat penting nya karena dia mencemaskan Keira di rumah sendirian.


"Sayang, kenapa sih kamu cemberut terus?" tanya Kelvin seraya menghampiri istrinya yang sedang duduk di kursi.


"Menurut kamu, aku kenapa?!" tanya Keira dengan suara yang meninggi, tangannya menyilang di dada.


"Sayang, maafin aku.. aku gak ada maksud apa-apa melarang kamu pergi keluar. Tapi kamu lihat sendiri kan bagaimana kondisi kamu?" tanya Kelvin khawatir pada istrinya yang muntah-muntah dari tadi pagi


"Tapi aku mau ikut Naina sama mama ke butik, aku juga mau pergi bekerja! Aku tidak mau jadi pemalas" ucap wanita hamil itu emosi


Kelvin sangat menyebalkan, masa dia melarangku ini dan itu.. aku kan sedang hamil, aku bukan orang sakit. gerutu Keira di dalam hatinya sebal


Kenapa akhir-akhir Keira jadi pemarah? Apa ini karena dia sedang hamil? Ya ampun, dia jadi susah di hadapi. Kelvin menepuk jidatnya


"Sayang.. aku cuma khawatir dengan keadaan kamu dan anak kita. Kamu dari tadi muntah-muntah terus kan? Bagaimana kamu akan beraktivitas dalam keadaan seperti itu?" Kelvin mengomel karena mencemaskan istrinya


"Terus ngapain kamu ikut ikutan disini? Kenapa bukannya pergi kerja aja sana!" teriak Keira kesal


"Aku khawatir sama kamu, makanya aku pulang lebih awal" jawab Kelvin berusaha sabar dengan kemarahan istrinya.


Ting tong!


Ting tong!


🎵🎵🎵


"Biar aku yang buka" kata Kelvin yang sudah berdiri bersiap untuk menuju ke arah pintu.


"Gak usah, aku aja" ucap Keira sambil beranjak dari tempat duduknya.


Pria itu kembali duduk di kursinya, dia bingung bagaimana menghadapi Keira yang sekarang menjadi emosian.


Keira membuka pintu rumah itu, dia terkejut karena tiba-tiba ada orang misterius yang melempar darah ke sekujur tubuhnya.


BYUR!!


"Ahhhh!!"


Kemudian orang misterius itu lari begitu saja meninggalkan Keira yang berdiri mematung dengan wajah syok nya.


"Kei!!" teriak Kelvin panik sambil berlari menghampiri istrinya. Setelah dia mendengar Keira berteriak.


...---***---...