
...Kini hanya akan kebahagiaan yang datang pada kita.....
...Setelah lama badai menerjang dalam bahtera rumah tangga.....
...Kini.....
...Cinta kita akan abadi selamanya...
...---JuNai.....
...πππ...
8 bulan telah berlalu sejak Naina dinyatakan hamil oleh dokter. Selama 8 bulan itu, Naina selalu berada di rumah dan dalam penjagaan ketat suaminya.
Perutnya sudah semakin membesar, wanita hamil itu kini hanya memakai daster dan baju yang membuatnya nyaman saja. Ketika tidur, dia juga merasa kesulitan, berbaring, terlentang, sudah mulai tidak nyaman.
"Naik lagi?!" Pekik wanita hamil itu saat melihat timbangan yang menunjukkan berat badannya, 62 kg. "Bulan kemarin kan masih 58 kg!"
"Kenapa sayang?" tanya Juna yang baru saja pulang dari joging di sekitar kompleks rumahnya.
"Juna, berat badanku naik lagi!" keluh wanita hamil itu dengan bibir nya yang mengerucut.
"Ya gak apa-apa dong sayang. Alhamdulillah, bagus.. itu berarti kamu dan anak kita sehat,"
"Tapi aku gemuk Jun.." Naina menatap perutnya yang semakin membuncit.
"Gemuk juga kamu tetap cantik sayang, apalagi kamu gemuk demi anak kita"
"Tapi Jun, kenapa rasanya aku lebih gemuk dibandingkan ibu hamil lainnya ya? Dan beratku juga lebih berat dari kak Keira waktu hamil,"
Juna menggedong istrinya dengan sekuat tenaga, tubuh Juna semakin kekar saja karena dia rajin berolahraga dan menghabiskan waktunya di rumah bersama Naina yang sedang hamil.
"Juna, aku berat lho!" kata Naina terkejut.
"Berat darimana? Nih aku masih bisa mengangkat mu,"
"Turunkan aku!" Naina menatap suaminya. Juna hanya tersenyum gemas melihat istrinya.
KRUKKK...
KRUKKK..
"Eh, suara apa itu?" tanya Juna sambil melirik ke arah Naina yang masih berada di dalam gendongan nya.
Kenapa perutku bunyi ya? Padahal tadi aku udah makan banyak.
Kruuukk..
Bunyi memalukan itu kembali terdengar jelas dari perut Naina."Anak papa seperti nya kelaparan ya?" Juna tersenyum manis.
Dia menurunkan istrinya dan menempatkan wanita hamil itu di sofa. "Kamu mau makan apa?"
"Tapi aku udah makan tadi pagi, aku udah makan banyak,"
"Ya ampun sayang, wajar kan kalau ibu hamil makan banyak? Kenapa? Takut gemuk? Kamu kan udah gemuk, sayang.."
"Tuh kan aku gemuk!" Naina menggerutu lagi, dia mengerutkan keningnya.
Juna mencium bibir Naina dengan lembut," Gemuk, tapi cantik dan gemesin. Apalagi ada baby kita di dalamnya.."Juna memegang perut besar istrinya itu dengan penuh kasih sayang.
"Juna.. kamu tuh ya," Wajah Naina memerah, dia terpesona mendengar gombalan dari suaminya.
"Hehe, oh ya sayang kamu mau makan apa? Baby kita mau makan apa?" tanya Juna sambil tersenyum memandang istrinya.
"Em.."
"Jangan minta yang pedas-pedas lagi ya, gak boleh. Dokter bilang kamu gak boleh makan yang pedas-pedas,"
"Aku mau makan di cafe nya Damar, kita keluar yuk?" Naina mengajak suaminya pergi keluar rumah.
Selama ini Naina banyak menghabiskan waktu nya di rumah karena Juna begitu protektif padanya. Bahkan pekerjaan nya pun di handel oleh Carol dan orang-orang yang Juna pekerjakan. Juna benar-benar tidak membiarkan Naina kelelahan bahkan bergerak sedikit pun. Dia benar-benar menjaga Naina dan anak mereka dengan baik.
Dia sangat memanjakan istri dan anaknya yang belum lahir. Bahkan Juna sudah membuat kamar bayi untuk anak mereka, perabotan bayi, kebutuhan semuanya sudah dibeli lebih awal. Bukan hanya dimanja oleh suaminya, Naina juga dimanja oleh mama dan papa nya.
Awalnya Juna menolak ajakan Naina pergi keluar, dia takut kalau terjadi sesuatu pada kandungan Naina. Tapi, Juna merasa kasihan pada istrinya yang merengek dengan wajah memelas.
Akhirnya Juna membawa Naina yang tengah hamil besar itu ke cafe Damar yang lumayan ramai di kunjungi pengunjung. "Mar!"
"Yok, Jun!" Damar menghampiri Juna dan Naina yang baru saja masuk ke dalam restoran itu.
"Mar, dimana meja yang masih kosong? Kayanya disini penuh semua," tanya Juna sambil melihat-lihat ke arah sekeliling nya yang penuh dengan pengunjung.
"Tinggal lantai atas doang yang kosong,"
"Bisa kosongin satu meja aja di lantai bawah gak? Soalnya Naina kan lagi hamil besar, bahaya kalau dia naik turun tangga." kata Juna meminta pada Damar untuk mengosongkan satu meja di lantai bawah.
"Oh..oke deh," jawab Damar setuju.
Mereka pun duduk di salah satu meja kosong di dekat jendela yang sudah di kosongkan oleh Damar. Naina tersenyum melihat melihat pemandangan disekitarnya.
"Sayang, kamu mau pesan apa?" tanya Juna sambil melihat daftar menu yang ada di meja.
"Aku mau ayam goreng, sama jus apel!" jawab wanita hamil yang sedang ingin makan dan minum itu.
"Oke," jawab Juna sambil tersenyum.
Setelah memesan makanan pada pelayan disana, beberapa menit kemudian makanan yang mereka pesan sudah tersaji di depan mata dan tinggal disantap.
Naina dan Juna memakan makanan itu dengan lahap, terutama Naina yang nafsu makannya sangat besar semenjak kehamilan nya menginjak bulan ke 5. Hal itu membuat Juna senang, karena Naina yang sebelumnya sangat kurus semenjak terkena penyakit kanker. Kini terlihat gemuk dan sehat.
"Sayang,"
"Ya ada apa?"
"Kenapa kamu gak mau aku melakukan USG?" tanya Naina penasaran pada Juna yang sebelumnya menolak USG anak mereka.
"Aku ingin kelahiran anak kita menjadi kejutan." jawab Juna sambil tersenyum. Dia ingin kelahiran anaknya menjadi sebuah kejutan terindah untuknya dan juga Naina.
"Kamu benar juga," Naina membenarkan ucapan suaminya.
Tak lama setelah makan, Naina melihat seorang tukang aromanis berada di luar restoran itu.
"Sayang, aku mau aromanis itu?" tunjuk nya pada tukang aromanis itu.
"Iya, ayo kita beli!" Juna menggandeng tangan istrinya dan mereka berjalan bersama membeli aromanis.
Tak sengaja seorang anak remaja menubruk Naina, hingga wanita hamil itu terjatuh. Sontak saja hal itu membuat Juna marah!
"Ma-maaf, saya gak sengaja!"
"Jalan pakai mata dong! Istri saya lagi hamil!" Juna melotot kepada anak remaja itu.
"Udah Jun, aku gak apa-apa kok." Ucapnya pada Juna untuk tenang.
Kenapa perutku tiba-tiba mengencang seperti ini?
Mereka pun kembali ke rumah. Sesampainya disana, Naina memegang perutnya dia merintih kesakitan. "Aahhhh.. aucchhhhh.. Juna.."
"Sa-sayang, kamu kenapa?"
"Perutku sakit banget... Jun..," Naina memegang suaminya dengan erat. Dia merintih kesakitan.
"Tu-tuan seperti nya nyonya akan segera melahirkan!" ucap seorang pelayan di rumah Juna saat dia melihat ada yang basah di kaki Naina.
"Itu seperti nya air ketuban.." ucap pelayan yang satu nya lagi.
"Nai.." Juna terlihat bingung.
"Juna.. sakit..Aaahh.. Juna.."
"Kita ke rumah sakit sekarang!" Juna menangkup tubuh wanita hamil itu. Dia terlihat panik.
"Saya akan menyetir tuan!" Pak Kusno duduk di kursi kemudi dengan cepat.
Juna dan Naina masuk ke kursi belakang mobil. Naina terus menggenggam tangan suaminya, tubuhnya berkeringat. Mereka sudah dalam perjalanan ke rumah sakit terdekat.
"Jun..na..huuuhhh..," napas Naina terengah-engah.
"Iya sayang, aku disini..kamu dan anak kita akan baik-baik saja, tenang ya sayang," Pria itu berusaha melakukan apa yang dia bisa untuk menenangkan istrinya yang akan melahirkan. Padahal usia kandungan nya baru 8 bulan.
"Apa sayang?" tanya Juna cemas.
"Anak kita menendang nendang.. seperti akan keluar.. keluar.." Naina berbicara dengan napas yang tidak teratur.
"Tahan sayang, sebentar lagi kita sampai di rumah sakit!" ucap Juna sambil menelan ludah.Tangannya sibuk mengusap keringat di wajah istrinya.
Di saat tegang seperti itu, sebuah telpon masuk ke ponsel Juna. Dia melihat tulisan papa disana, segeralah Juna mengangkat nya. Sekalian dia memberitahu bahwa Naina dibawa ke rumah sakit karena akan segera melahirkan.
Beberapa menit kemudian mereka sampai di rumah sakit. Naina langsung dibawa ke ruang bersalin. Dokter mengatakan bahwa Naina bisa melahirkan normal tanpa operasi sesar, karena posisi bayinya berada di ujung. Sudah pembukaan sepuluh.
"Dok, apa saya boleh menemani istri saya di dalam?" tanya Juna pada dokter.
"Silahkan pak, tapi anda tidak boleh membuat ribut ya,"
"Terimakasih dok," ketika Juna hendak melangkah masuk ke dalam ruang persalinan. Bryan, Alma, Kelvin, Keira dan baby R yang berada di dalam gendongan Keira sudah datang kesana.
"Juna!"
"Pa, ma, kakak ipar, nanti bicaranya ya! Aku akan menemani Naina di dalam!" Juna terburu-buru, kemudian dia masuk ke dalam ruang persalinan itu.
Bryan, Alma, Kelvin, Keira dan anak mereka menunggu di ruang tunggu.
Di dalam ruangan itu..
Naina merasakan seperti ada yang akan keluar dari perutnya. Dokter memberikan pengarahan kepada Naina agar tetap tenang dan mengatur napasnya.
Juna juga ada disisinya untuk menemani proses kelahiran itu."Juna, aku pasti bisa kan?"
"Iya sayang, kamu pasti bisa! Kamu sudah melewati semua nya dengan baik... kamu dan anak kita akan baik-baik saja.." Juna memegang tangan istrinya seraya menguatkannya.
"Iya, bismillah..aku pasti bisa..aku.. AHHHHHH!!" Naina berteriak kesakitan, perutnya semakin mengencang.
"Ibu Ninaina, ini sudah waktunya.. ibu tenang ya dan dengarkan instruksi saya baik-baik, tarik napas ..buang.. tarik napas perlahan-lahan, tenang.. rileks," dokter berusaha membuat Naina tenang dulu sebelum dia akan melahirkan. Dokter melihat sudah ada kepala si bayi terlihat di bagian jalan lahir.
"Kamu bisa sayang! Kamu bisa.." Juna tampak gugup melihat istrinya kesakitan. Dia cemas juga.
"Ahhh.. ya Allah.. aaaahhhh..." Naina mengerang kesakitan. Tangannya memegang Juna dengan erat. Kemudian tangan Naina beralih pada rambut Juna.
"Ayo Bu...Dorong!! Dorong!!!" dokter itu menginstruksikan kepada Naina.
"Aaaahhhh.....Aaaaaaaaaahhhhhhhhh..." Naina mengerang panjang, tanpa sadar tangannya menarik rambut Juna dan menjambak nya dengan kencang.
"Aah.. Ayo Nai, kamu pasti bisa! Kamu bisa.. auwww.." Juna menahan rasa sakit dari rambut yang ditarik itu.
"Ayo Bu.. sedikit lagi!! sedikit lagi...dorong!!"
Setelah melalui berbagai teriakan dan perjuangan. Tak lama kemudian, terdengar lah suara bayi yang menangis keras. Naina menghela napas lega dengan wajah dan tubuh dibanjiri keringat.
Rambut Juna terlihat acak-acakan akibat ulah istrinya, tapi tidak apa-apa. Senyuman bahagia tersirat dibibir nya ketika dia melihat bayi imut dan lucu telah lahir ke dunia, dan bayi itu adalah anak pertamanya dengan Naina.
OWAAAA.. OWAAAA!!
"Nai, anak kita sudah lahir!!" Juna mencium kening nya dengan bahagia. Naina tersenyum bahagia.
"Alhamdulillah pak, Bu, selamat bayinya laki-laki..sehat tanpa kekurangan apapun. Dan dia sangat tampan," ucap suster yang menggendong bayi itu setelah selesai di bedong.
"Alhamdulillah.."
Juna menggendong bayinya dengan hati-hati, bayi itu mirip dengan nya. Juna terlihat sangat bahagia, tak lupa dia mengadzani bayi laki-laki nya itu.
Naina mencium pipi bayi nya dengan bahagia. Rasanya kebahagiaan itu sudah lengkap.
"Papa, mama dan yang lainnya ada diluar. Aku bawa anak kita kesana dulu ya,"
"Iya sayang," jawab Naina yang lemas, habis melahirkan.
Juna memperlihatkan bayi nya pada mertua dan kakak iparnya. Alma dan Bryan berebut ingin menggendong cucu kedua mereka dari Naina.
"Lucu sekali bayi ini, tapi dia tidak mirip dengan Naina," ucap Alma sambil memegang pipi gemas bayi yang baru lahir itu. Bayi itu tertidur pulas setelah diberikan susu formula.
"Seperti nya dia mirip ayahnya," Bryan tersenyum memandangi wajah cucunya. Kulitnya bersih dan putih. "Tapi, matanya mirip dengan Naina, mama nya.." Bryan melihat mata anak itu.
"Selamat ya Juna," ucap Keira yang ikut bahagia melihat kebahagiaan Juna.
"Selamat sudah menjadi seorang ayah,"
"Thanks"
Cekret!
"Bapak Juna, istri bapak mau melahirkan lagi!" seru seorang suster dengan buru-buru.
"APA?!!" Semua orang yang berada di ruang tunggu tercengang mendengar nya. Mungkinkah baginya kembar?
Prosesi kelahiran bayi kembar itu pun berhasil setelah 2 jam lebih. Ternyata bayi kembar itu bukan hanya 2, tapi 3.
Dua bayi laki-laki dan satu bayi perempuan yang lahir paling terakhir, sungguh anugerah yang sangat indah untuk pasangan Juna dan Naina. Mereka memiliki bayi kembar tiga? Hal yang langka!
Seluruh anggota keluarga Aditama juga merasakan kebahagiaan itu. Kebahagiaan yang berlipat-lipat. Apalagi Juna, kebahagiaan nya bahkan tak bisa diungkapkan lagi dengan kata-kata. Anak-anak dan istrinya selamat dan sehat.
"Terimakasih sayang, kamu sudah melahirkan anak-anak yang lucu. Aku sangat bahagia, kita bahkan memiliki tiga sekaligus!" Juna menggendong bayi perempuan nya.
"Iya sayang, aku juga sangat bahagia. Terimakasih ya Allah." Naina tersenyum sambil menggendong anak keduanya.
"Ngomong ngomong kalian belum kasih nama untuk anak kalian ya?" tanya Alma yang sedang menggendong anak pertama Juna dan Naina.
"Jupiter si sulung, si tengah Mars, dan si sulung namanya Venus.." jawab Naina sambil tersenyum dan memandangi ketiga anak nya yang sama-sama tersenyum ketika mendengar nama itu.
Juna juga terlihat senang dengan nama yang telah disepakati bersama dengan nya dan Naina. Nama yang diambil dari tata Surya.
****
5 tahun kemudian,
"Jupii, Mars, Ven! Kalian dimana sih?" tanya Naina sambil mencari ketiga anaknya di sebuah taman.
"Mereka pasti sembunyi lagi" gumam Juna
"Itu sudah pasti. Mereka selalu kompak kalau dalam hal menolak minum obat, sungguh mereka begitu keras kepala."
"Benar, dan keras kepalanya menurun dari seseorang," Juna menoleh ke arah istrinya.
"Apa maksudmu itu aku?" tanya Naina sebal.
"Aku gak bilang begitu ya," Juna tersenyum pada istrinya.
Mereka mencari ketiga anak mereka, kemudian salah satu dari anak kembar itu berhasil ditemukan.
Seorang anak laki-laki dengan mata berwarna coklat persis seperti Juna. "Ah! Ketangkap satu Nih!" Juna menggendong anak itu.
"Yah ketahuan deh," anak itu adalah Mars, putra kedua mereka.
"Kalau kalian gak mau keluar, mama gak akan kasih eskrim lagi buat kalian!" teriak Naina mengancam kedua anaknya yang masih bersembunyi itu.
"Kami disini ma!" seru seorang anak laki-laki dan anak perempuan yang rambutnya di kuncir dua. Kedua anak itu tersenyum dan menghampiri mama mereka. Dia adalah Jupiter, dan Venus.
Juna dan Naina terlihat sangat bahagia bersama keluarga kecil mereka. Hingga malam tiba, ketika anak-anak mereka sudah tertidur pulas.
"Sayang," Juna memeluk istrinya dari belakang, mengecup mesra leher nya.
"Ada apa?" Naina menatap suaminya.
"Bagaimana kalau kita tambah satu anak lagi?"
"A-Apa??!" Naina terkejut mendengar ucapan suaminya. Dia tersenyum dan memeluk suaminya dengan penuh kasih sayang dan rasa syukur.
Kebahagiaan mereka kini sudah lengkap dengan hadirnya tiga tata surya di dalam hidup mereka. Yaitu, anak-anak yang lucu bernama Jupiter, Mars dan Venus.
...β€οΈβ€οΈβ€οΈEndβ€οΈβ€οΈβ€οΈ...
...---***---...
Hai Readers! Terimakasih atas dukungan kalian selama ini buat karya author yaπ₯° mohon maaf bila masih ada kekurangan ππ Akhirnya novel ini sudah tamat dalam jumlah 262 episode.
π€§π€§ππππ₯°π₯° please respond nya ya bagaimana ending cerita ini? Author butuh pendapat kalian..