Stuck In Love CEO

Stuck In Love CEO
Bab 11. Albry sudah pergi



🍂🍂🍂


Bryan menemani Alma yang masih tidak sadarkan diri selama kurang lebih 3 jam lamanya. Wajah ibu dari tiga anak itu sangatlah pucat, tubuh nya juga dingin. Siapa yang tidak akan syok dan histeris, ketika melihat buah hatinya meninggal di depan mata nya dengan cara yang kejam.


Siapa yang tega disini? apakah itu takdir? kita tidak bisa menyalahkan takdir dan apa yang sudah terjadi pada seorang anak yang baru berusia 8 tahun itu, hanya saja kenapa Tuhan harus mengambilnya dengan cara seperti ini?


Albry diibaratkan seperti kertas bersih tak bernoda, betapa kejamnya caranya tiada harus mengenaskan seperti itu. Namun, semuanya kembali pada takdir, semuanya sudah digariskan bahkan sejak Albry masih berada dalam kandungan.


Semua orang berharap bahwa ini hanyalah mimpi buruk mereka. Tapi fakta memukul semua harapan mereka saat melihat Albry kecil sudah memasuki kamar jenazah dan sedang dimandikan oleh tim medis, agar segera dimakamkan.


Kelvin masuk ke dalam ruangan tempat ibunya di rawat.


"Pah, Mama masih belum sadar?" tanya Kelvin pada papanya yang duduk di samping Mama nya yang masih tertidur.


"Iya Vin, Naina mana?" tanya Bryan sambil memegang kepalanya yang terasa penat


"Naina sama Theo dan dokter Ian di depan. Terus, pak Andre ada di depan katanya nunggu papa. Ada hal penting yang mau disampaikan" kata Kelvin


"Kamu bisa disini dulu, tunggu Mama kamu sebentar?" tanya Bryan


"Iya pah, aku disini" jawab Kelvin


"Papa keluar dulu" Bryan beranjak dari tempat duduknya.


"Pah, aku harap ini hanya mimpi" kata Kelvin dengan senyuman pahit di wajahnya, ia berusaha menahan sakitnya kehilangan adik bungsu yang sangat ia sayangi itu.


"Papa juga harap ini hanya mimpi Vin, tapi semuanya nyata. Kepedihan dan sakit di hati ini begitu nyata" ucap Bryan yang sedih kehilangan putra bungsunya itu.


Bryan keluar dari ruangan tempat Alma di rawat. Ia melihat Andre dan seorang pria berseragam polisi berdiri di depan kamar itu, menunggu Bryan.


"Bisa kita bicara sebentar pak?" tanya polisi


"Baik, tapi jangan disini. Nanti anak-anak saya bisa mendengarnya" kata Bryan sambil melihat ke arah Naina yang duduk di bangku bersama Theo.


"Baik, mari kita bicara di tempat lain"ajak polisi pada Andre dan Bryan.


Bryan, Andre dan polisi itu pergi ke tempat sepi untuk mengobrol. Sementara itu Naina masih syok, ia merasa kepergian adiknya hanyalah mimpinya saja.


Theo ada disampingnya untuk menemaninya, dan menghiburnya jika ia bisa. Gadis itu yang biasa nya ceria, hanya diam saja dan menangis.


"Nai, kamu belum makan siang kan? kamu juga belum minum dari tadi, yuk makan dan minum dulu ya." kata Theo sambil membawa sekotak makanan berisi makanan, dan sebotol air minum untuk Naina.


Naina hanya menggeleng lemah, ia seperti sudah kehilangan tenaga dan mood nya untuk melakukan sesuatu. Hanya air mata yang bercucuran dari matanya. Theo menyeka air mata Naina dengan tangannya, perlahan dan lembut.


Theo tulus mengkhawatirkan Naina, ia terus membujuk Naina untuk makan lebih dulu. Theo takut Naina akan jatuh sakit, belum lagi keadaan psikologis nya sedang down.


"Nai, aku tau sekarang kamu sedang sedih dan berduka. Tapi, apapun yang terjadi kamu harus makan agar ada tenaga ya?" bujuk Theo sambil memegang sendok, ia bersiap ingin menyuapi Naina


"Aku tidak mau makan kak" jawab Naina sedih


"Kamu harus tabah, Nai.. kalau bukan kamu siapa lagi yang akan menyemangati dan menghibur Tante Alma? Tante Alma sangat terpukul, dia membutuhkan kekuatan untuk bangkit. Kalau kamu sakit, bagaimana kamu dan Tante Alma bisa saling menguatkan?" kata Theo sambil tersenyum dan membelai pipi Naina dengan lembut


Benar juga kata kak Theo, mama yang paling terpukul dengan kejadian ini. Mama melihat langsung kejadian nya, tepat saat Albry meninggal. Mama lebih sedih dariku dan kak Kelvin. Kalau aku sakit, aku tidak bisa menguatkan Mama.. aku harus tegar.


Naina mengambil kotak makanan yang ada ditangan Theo, namun entah karena lemas atau apa. Naina hampir menjatuhkan kotak makanan itu, dengan cepat Theo membawa kembali kotak makanan itu dan menyuapi Naina dengan penuh kasih sayang.


"Makasih kak Theo, tanganku masih lemas" kata Naina sambil tersenyum pahit


"Gak papa.. aku ngerti kok, aku suapin ya" Theo tersenyum, ia mengambil nasi dan lauk memakai sendok yang dipegangnya. Naina mengangguk pelan.


Kapan lagi Theo bisa berdekatan dengan Naina seperti ini? Theo merasa senang karena ia bisa menjadi orang pertama yang bersama Naina di saat tersulit nya, ia ingin meringankan kesedihan yang ada di hati Naina setelah kepergian adik kecilnya yang terlalu mendadak.


Baru saja Naina, makan 3 suapan dari Theo..


Seseorang membuka pintu kamar ruangan tempat Alma di rawat, Alma keluar dari kamar itu dan memanggil manggil nama adiknya. Kelvin berusaha menenangkan ibunya yang masih terpukul itu. Naina dan Theo langsung beranjak dari tempat nya duduk, mereka melihat Alma yang terlihat sedih.


"Albry, mana Albry? kenapa kita disini Vin? Albry pasti sudah nunggu kita di rumah.." Alma terlihat linglung, ia tersenyum sambil menangis.


"Mah.. tenang mah, mamah baru saja sadar... Mama makan dulu yuk, mama belum makan loh" kata Kelvin membujuk mama nya


"Kelvin kenapa kamu gak jawab? mana Albry? mana Albry?!"


"Albry.. dia.." Kelvin tak sanggup mengatakan nya lagi, jika itu soal Albry, karena ia juga sedih.


Alma menghampiri Naina dan memegang tangan anak perempuan nya itu, pandangan mata Alma tampak kosong. Seperti nya Alma frustasi.


"Nai, ayo kita pulang Nai.. adik kamu udah nunggu di rumah. Ya, dia pasti nunggu kita di rumah.." kata Alma pada anak gadisnya itu.


"Ma.. Albry sudah pergi Ma.. Albry sudah pulang..hiks " Naina menangis tersedu-sedu teringat kembali kepada sang adik.


"Iya, Albry sudah pulang kan? dia pulang ke rumah.. makanya kita juga harus pulang. Kenapa kamu nangis sayang? " tanya Alma seolah semuamya baik-baik saja.


Masih dalam keadaan menangis, Naina memeluk ibunya itu dengan erat. Memberikan nya pelukan kekuatan, agar ibunya bisa menerima kenyataan bahwa Albry sudah dipanggil oleh yang maha kuasa.


Alma memeluk erat Naina, keduanya menangis dan saling menguatkan satu sama lain. Ya memang menerima kenyataan itu adalah hal yang paling sulit, apalagi jika itu adalah kenyataan yang menyakitkan dan pahit.


Jadi..ini bukan mimpi? Albry.. benar-benar sudah pergi. batin Alma sakit hati


Kelvin dan Theo juga merasakan kesedihan yang sama ketika melihat pemandangan menyedihkan yang ada di depan mereka.


Tak hentinya Alma dan Naina menangis, namun mereka berusaha untuk tetap kuat. Mereka ingin melihat Albry untuk yang terakhir kalinya, kedua wanita itu berada di dalam kamar jenazah.


Melihat jasad anak berusia 8 tahun, yang sulit dikenali karena wajahnya sudah rusak. Terbaring di ranjang mayat, ditutupi kain putih. Alma dan Naina tidak menyangka kalau yang berada di ranjang itu adalah Albry, anggota keluarga mereka yang paling muda dan paling mereka sayang.


"Ini semua salah Mama, kenapa Allah tidak mengambil nyawa Mama saja? kenapa...?" Alma memandangi jasad anaknya yang sudah tidak bernyawa dengan penuh duka di dalam hatinya.


"Mama jangan bicara seperti itu, ini sudah takdir dari Allah.. mah.. Allah pasti punya rencana indah untuk kita semua, Allah sayang Albry, itu sebabnya dia dipanggil lebih dulu " kata Naina yang juga sedih kehilangan adiknya.


Baru tadi pagi bertemu dengan adiknya, siang itu ia menerima kabar bahwa adiknya kecelakaan dan tiada. Sungguh, umur tidak ada yang tau sampai kapan.


"Ini salah mama.. Nai, kalau saja Mama lebih cepat. Mungkin adik kamu masih ada disini.. kalau saja Mama ada disana bersamanya, kalau saja Mama bisa menggantikan nya... dia pasti kesakitan di tabrak oleh mobil itu" Alma menangis, tangannya mengelus kepala dan rambut anak bungsunya itu.


Naina dan Alma saling berpelukan untuk berbagi kekuatan. " Mama.. jangan nyalahin diri mama sendiri..hiks "


***


Kelvin dan Theo berada di luar ruang jenazah itu, mereka duduk di bangku yang ada di depan sana. "Yang sabar dan tabah ya Vin, gue tau ini pasti berat juga buat Lo" ucap nya sambil menepuk bahu Kelvin


"Ya, gue juga gak nyangka kejadian nya bakal kaya gini. Ini sangat mendadak.. Albry, dia masih sangat kecil" kata Kelvin sambil menatap sedih kedua wanita yang masih meratapi kepergian Albry di dalam kamar jenazah.


"Iya gue tau, kalau Lo mau nangis, nangis aja Vin.. gak papa " kata Theo menyemangati


"Thanks yo, tapi gue harus tetap tenang agar Mama dan Naina tidak semakin drop" Kelvin menyeka air mata nya dengan cepat.


"Gue tau Lo kuat bro" Theo tersenyum memberikan semangat pada temannya itu.


Oh ya, aku harus kabarin om Ken sama tante Laura, aku hampir lupa.


"Theo, gue kesana bentar mau telpon dulu om sama tante gue yang ada di Australia"


"Oke, tenang aja. Gue gak akan kemana-mana"


...---***---...