
Pov Junai
...Tak banyak perhatian kamu mengerti...
...Tak harus ada bunga kamu mengerti...
...Ku tak selalu ada kamu mengerti...
...Cinta tanpa terucap kamu mengerti...
...Mestinya kamu bisa...
...Tinggalkan diriku ini...
...Namun kau tak menyerah...
...Memelukku seutuhnya...
...Kamu kamu...
...Yang terus mengerti aku...
...Tak pernah terlukiskan...
...Betapa besar hatimu...
...Kamu kamu...
...Dengarkan ini janjiku...
...Kau milikku, aku milikmu...
...Hingga akhir waktu...
...πππ...
Naina menepis tangan Theo yang memegangi nya, namun ia malah memegang tangan Juna. Juna tersenyum senang, ia suka dengan sikap Naina yang seolah menegaskan bahwa Naina lebih condong ke Juna daripada pada Theo.
Kamu lihat sendiri Theo, lihat yang jelas! Naina lebih memilih siapa?. Juna merasa menang mendapatkan uluran tangan dari Naina.
Naina menepis tanganku? tapi kenapa dia masih memegang tangannya?. Theo tampak kecewa
"Udah ya, aku mau pulang" ucap Naina sambil melepas tangan Juna, lalu melangkah pergi ke luar dari restoran itu.
"Nai, aku antar kamu ya" ucap Theo yang tidak menyerah meski sudah ada reaksi penolakan dari Naina.
"Maaf kak Theo, aku mau dijemput sama kak Kelvin" Naina menolak dengan tegas ajakan Theo
Kak Kelvin mana sih? apa dia masih sama Keira ya?. Naina celingukan kesana kemari mencari-cari mobil kakak nya yang belum kunjung tiba juga.
"Nai, pulang bareng aku aja" Juna mengajak
"Tidak usah repot-repot, kamu juga pulang sana. Aku nunggu kak Kelvin" Naina juga mengusir pria itu
Drett..
Drett..
πΆπΆπΆ
Ponsel Theo berdering, ia segera mengangkat telpon itu. "Halo..... ya?...... collapse??!..... baiklah saya akan segera ke rumah sakit"
Tut..
Theo langsung menutup telpon yang darurat itu, ia yang masih memakai setelan jas putihnya langsung
"Wah wah, jadi dokter yang hebat memang sibuk sekali ya. Dipanggil setiap saat, dan sangat dibutuhkan pasien" Juna tersenyum ke arah Theo. Senyum yang mengejek.
Si Juna pasti mengejekku.
"Kak, aku dengar pasien mu kritis..Cepatlah kembali ke rumah sakit!" seru Naina yang cemas setelah mendengar Theo berbincang dengan orang di telpon itu.
Pekerjaan kak Theo sungguh mulia, tangannya digunakan untuk menolong banyak orang. Naina kagum pada pekerjaan Theo sebagai seorang dokter yang berjasa menolong orang.
"Tapi kamu gimana?" tanya Theo rusuh, ia tidak mau membiarkan Juna dan Naina berduaan saja disana.
"Gimana apanya? aku kan mau dijemput kak Kelvin"
"Jangan mau pulang sama dia ya, bahaya!" Theo menunjuk ke arah Juna dengan sebal, seraya memperingatkan Naina.
"Bahaya?" Naina menengadah melihat ke arah Theo dengan bingung.
Si Juna ini pasti penuh tipu muslihat, dia pasti bakalan modus lagi supaya bisa pulang bareng Naina. batin Theo kesal melihat Juna menjulurkan lidah ke arahnya dengan bermaksud mengejek. Sungguh sikap yang kekanakan, seperti anak kecil yang sedang memperebutkan permen manis.
Pergi aja kamu Theo, pergi yang lama. Sibuk aja terus, biar kesempatan ku semakin lebar. Juna senang dengan kesibukan Theo di rumah sakit.
Naina heran karena Juna masih berdiri di belakangnya, padahal ia sudah mengusirnya. Juna terus saja menempel seperti prangko pada Naina.
"Kenapa kamu juga belum pulang?" tanya Naina dengan wajah cemberut
"Calon istriku saja belum pulang, masa aku pulang duluan" ucap Juna seraya menggoda Naina, matanya menatap ke arah Naina.
"Juna jangan bercanda deh, ini gak lucu" Naina tersenyum tipis mendengar ucapan Juna yang seolah candaan baginya.
"Aku serius Nai, apa harus aku bersumpah?" Juna mengangkat satu tangannya, mempersiapkan diri untuk bersumpah.
Kenapa omongan ku dianggapnya candaan? aku kan serius. Apa aku masih di friendzone?. Juna sedih karena Naina masih menganggap ucapan pernikahan Juna adalah candaan.
"Juna kamu jangan kayak gini dong, pacar kamu kasihan nanti kalau dengar candaan ini" kata Naina yang masih memikirkan sosok wanita yang sebelumnya ia lihat di dalam ponsel.
"Pacar? Nai aku gak punya pacar.. kalau maksud kamu wanita yang ada di wallpaper aku kemarin, dia cuma mantan ku" jelas Juna singkat pada Naina
"Juna, kamu terdengar seperti sedang merayuku sekarang? kamu terlihat seperti playboy" Naina kesal sambil melirik sinis ke arah Juna.
"Kamu cemburu kan?" tanya Juna sambil melihat wajah Naina yang memerah
"Cemburu apa? memangnya teman bisa cemburu?!" ucap Naina dengan nada suara yang mulai meninggi.
Kenapa aku kesal ya membicarakan wanita yang bahkan aku tidak tau dia siapa?!. Naina merasa heran karena ia merasa ada sesuatu yang aneh dengan hatinya terhadap Juna.
"Ya itulah yang aku heran kan, kenapa teman bisa cemburu? apa mereka masih teman?" tanya Juna yang terdengar seperti sindiran untuk Naina.
Aku tau Nai.. hati kamu itu untukku. Kita bukan lebih dari sekedar teman. batin Juna percaya diri bahwa ia spesial untuk Naina.
"Aku tidak cemburu! kita kan cuma teman, untuk apa aku cemburu. Aku gak peduli tuh kamu mau pacaran sama siapa, mantan kamu siapa. Aku tidak marah! aku tidak cemburu! tidak sama sekali" Naina menyangkal perasaan nya sendiri, namun sikapnya tak bisa berbohong bahwa ia cemburu pada sosok wanita yang ada di dalam wallpaper Juna. Wanita yang bernama Citra.
Huuh.. kenapa disini sangat dingin? seperti nya sudah mau masuk musim hujan. batin Naina sambil memegang kedua tangannya, ia tampak kedinginan.
"Tapi kamu sedang marah tuh sekarang" ucap Juna sambil memakai jas nya pada tubuh Naina.
PLUK
"Juna, kamu apa-apaan sih!" Naina kebingungan karena Juna memberikan jas hangat nya pada Naina
"Cuaca nya dingin sudah mau masuk musim hujan" jawab Juna sambil merapikan jas nya yang dipakai oleh Naina, dengan lembut dan tatapan penuh perhatian.
DEG!
Hatiku.. kenapa begini? padahal Juna kan hanya teman. batin Naina kebingungan dengan debaran di hatinya.
"Wanita itu hanya mantanku, wanita yang aku sayang selama ini hanya kamu Nai. Kamu satu satunya wanita yang ingin aku nikahi"
"Juna! kamu jangan bercanda lagi deh, ini gak lucu Jun!" Naina menolak ungkapan perasaan Juna padanya.
Candaan Juna sungguh keterlaluan.
"Sampai kapan kamu mau terus menutup mata? menolak perasaan ku, kita bukan teman lagi Nai. Kita udah dewasa, segalanya bisa berubah saat kita sudah dewasa" Juna mulai kesal karena Naina tidak juga memberikan nya kesempatan bicara dengan benar dan masih menganggap hubungan mereka hanya teman.
"Sekali teman tetap teman, kita gak akan bisa berubah Jun" sangkal Naina terhadap dirinya sendiri
"Kamu selalu aja begini Nai, kamu tidak mengerti kalau hanya dijelaskan dengan kata-kata. Kamu selalu memungkiri perasaan kamu, kamu ingin langsung menikah kan? kamu tidak ingin pacaran? tapi kamu terus menggantung perasaan ku dan Theo seperti ini"
"Apa maksud kamu?" tanya Naina dengan wajah polosnya.
"Ninaina bodoh"gumam Juna sambil mendengus kesal.
Apa aku harus melakukan nya agar si bodoh ini mengerti?
"Apa kamu bilang? aku bodoh?!" Naina geram, ia menatap Juna dengan tajam.
Juna mendekat ke arah Naina, lalu merengkuh leher Naina dengan satu tangannya, dan satu tangannya lagi merengkuh punggung Naina seraya mendekapnya. Ia menatap wanita itu lekat lekat penuh perasaan. Entah apa yang akan ia lakukan.
Kenapa Juna begini? apa yang mau dia lakukan? tatapannya.. itu.... Naina kebingungan dan mulai takut saat Juna mendekat ke arah nya
"Nai, sekarang kamu rasakan dan lihat baik-baik. Apakah teman bisa melakukan hal ini?" ucap Juna setengah berbisik pada Naina, ia memeluk Naina semakin erat. Kedua mata mereka bertemu dan saling menatap.
Kemudian, Juna membenamkan bibirnya pada bibir merah milik Naina, di depan restoran itu disaat jalan sedang sepi.
"Akhp!!"
Gadis itu terkesiap saat Juna mencium nya. Naina tidak sempat mendorong, ia terdiam dengan wajah kagetnya
Juna.. dia mencium ku??
Naina semoga kamu sadar dan peka kalau kita bukan teman lagi. ucap Juna yang masih mencium bibir Naina dan memeluk tubuhnya.
...---***---...
Mau lanjut? komen dulu ya, kasih like nya jugaπππ₯°π