Stuck In Love CEO

Stuck In Love CEO
Bryan Alma jadian?



Mereka bertiga duduk di kursi yang ada di depan Supermarket sambil memakan eskrim, Kayla juga lahap memakan coklat yang baru saja ia beli.


Disana lah Leon menceritakan kepada Laura secara singkat kenapa ia dan Bryan bisa berkelahi saling pukul. Laura sedikit terkejut karena pada akhirnya Alma akan memilih Bryan, dan meninggalkan pria sebaik Leon untuk adiknya yang sering disebut playboy itu. Namun, Laura sudah menduga kalau Alma dan Bryan masih saling mencintai, dan lagi ada anak-anak diantara mereka.


Laura senang, karena adiknya bisa kembali mendapatkan cintanya dan kebahagiaan nya. Tapi, disisi lain Laura merasa sedih karena ada yang patah hati jika Alma dan Bryan kembali bersatu.


" Aku tidak tau harus bilang apa pada bapak, tapi cinta akan menemukan jalannya sendiri. Bisa saja seseorang yang tulus sedang dalam perjalanan, atau sedang menunggu bapak menyambut nya. " kata Laura berusaha menghibur Leon


" Haa.. bukankah itu kata-kata ku?"


" Benar, karena kata-kata itu aku menjadi terhibur. Jadi, walaupun sekarang bapak merasa sakit hati. Ingatlah selalu kata-kata itu, hidup tidak berhenti disini "


Leon terdiam sejenak, ia hanya menunjukkan sedikit senyuman ketika Laura menghibur nya dengan kata-kata.


Aneh, padahal itu kata-kata ku sendiri. Entah kenapa mendengar nya dari orang lain, aku merasa tenang.


" Aku senang kalau kamu terhibur dengan kata-kata ku sebelumnya, dan terimakasih sudah mendengar kan ku..Tanpa sadar aku jadi curhat " Leon tersenyum tipis


" Wah, Om ganteng kalau senyum tambah ganteng deh. " Kayla memuji pria tampan yang ada di sebelah ibunya itu


" Kamu imut sekali, kamu juga cantik kok " Leon memuji Kayla


" Yang benar? kalau begitu mama ku juga cantik dong ya? " kedua mata anak imut itu berbinar-binar mendapat pujian dari Leon.


" Kayla sayang, kamu bicara apa sih? maaf pak Leon, anak saya memang suka bicara sembarangan " ucapnya pada Kayla


" Ayo om jawab dong! Mama ku juga cantik kan?" tanya Kayla semangat


Seperti nya Leon tak bisa menghindari pertanyaan semangat dari si imut kecil yang bernama Kayla itu.


" Iya, Mama kamu juga cantik " jawab Leon sambil tersenyum dan membelai pipi Kayla


Wajah Laura langsung merona, seperti memakai pemerah pipi. Untunglah malam itu cahaya tidak terlalu terang seperti disiang hari, jika itu siang hari mungkin kulitnya yang putih akan terlihat merah nya dengan jelas.


Seperti nya Laura malu mendapatkan pujian itu. Entah kenapa hatinya jadi terasa aneh. Apalagi saat melihat senyuman tipis menawan Leon sebelum nya.


" Kay, kamu gak boleh bilang gitu ah. "


Ya ampun, kenapa aku senang banget dia bilang aku cantik? padahal itu kan cuma bercanda.


" Hehe tuh kan Mama ku emang cantik, terus kenapa ya papa ninggalin Mama? papa jahat " gumam Kayla dengan wajahnya yang sedih


" Mungkin papa kamu memang jahat, tapi mama kamu pasti akan dapatin yang lebih baik dari papa kamu, nak " Leon tersenyum


" Iya benar om, papa nya kaya om ganteng juga boleh " kata Kayla senang


Leon dan Laura saling berdehem, mereka terlihat canggung. Leon pun berpamitan untuk pulang karena hari sudah malam.


" Baiklah, hati-hati dijalan pak "


" Oh ya, apa kamu dan Kayla mau aku antar?"


" Tidak usah, rumah kami dekat dari sini kok. " jawab Laura


" Kalau begitu, makasih ya Bu Laura, udah nyoba hibur saya " Leon tersenyum tipis


" Ya, semoga bapak bisa menemukan kebahagiaan bapak "


" Kamu juga "


Leon masuk ke dalam mobilnya dan segera pergi dari tempat itu. Laura dan Kayla melihat nya, lalu tersenyum.


🍂🍂🍂


Keesokan harinya, hari Minggu...


Pagi itu Selina mendatangi rumah keluarga Aditama. Ia datang untuk membawa Risya dari keluarga Aditama. Hal itu rupanya malah membuat keributan di rumah keluarga Aditama. Karena penolakan Risya terhadap ibu kandungnya sendiri.


" Risya, ayo ikut sama mama sayang " Selina merentangkan tangannya untuk menyambut Risya. Namun anak itu malah bersembunyi di belakang Ny. Delia.


" Aku tidak mau ikut Mama, aku mau sama nenek sama Papa disini !"


" Risya sayang, dia bukan nenek kamu dan Bryan bukan papa kamu. Papa kamu adalah papa Jason "


" Bagaimana bisa kamu menjelaskan hal seperti itu pada anak kecil, Selina? kamu benar-benar tidak tahu malu " ucap Ny. Delia sinis


" Diam kamu nenek tua, ini tidak ada urusan nya sama kamu " Selina emosi dan menatap Ny. Delia dengan penuh kebencian


Selina memaksa Risya dan membawanya dengan paksa keluar dari rumah Aditama. Ny. Delia tidak bisa berbuat apa-apa, karena di mata hukum dan secara biologis Risya adalah putri Selina dan Jason. Risya menangis tidak mau ikut ibunya, dan membuat Ny. Delia sedih. Kini Ny. Delia hanya berharap kalau Risya akan baik-baik saja ditangan orang tua nya sendiri.


" Udah lah ma, Risya itu kan anaknya. Dia gak mungkin ngapa ngapain anak kandung nya sendiri. Mama khawatirkan aja si kembar sama Kayla cucu cucu mama yang sebenarnya "


" Iya Laura kamu benar. Oh ya, kamu bilang Alma dan Bryan sudah baikan kan? kalau begitu gimana kalau kamu bawa si kembar kemari. Mama, mau main sama mereka. Mari kita beri kesempatan kepada orang tua mereka untuk menghabiskan waktu bersama " ucap Ny. Delia


" Mama, benar. Aku juga sudah kepikiran hal itu " Laura setuju


****


Pagi itu Alma sudah melakukan aktivitas nya seperti biasa, menyiapkan sarapan, dan bekal untuk kedua anaknya, wajahnya tampak berseri berbeda dari biasanya. Mia, dan si kembar merasakan suasana yang berbeda dari Alma.


" Tante, mama kenapa sih senyum-senyum begitu? aneh deh " bisik Naina pada Mia


" Menurut kamu kenapa?" Mia tersenyum mengerti


Ini pasti karena semalam dia udah jadian lagi sama pak Bryan. Suasana hatinya jadi bagus banget.


" Mama kesambet tuh " ucap Kelvin tersenyum sambil memakan sarapannya.


Syukurlah Mama bisa tersenyum bahagia.


Alma yang asik di dalam dunianya sendiri, tidak menggubris perkataan Mia dan kedua anaknya itu. Bahkan pagi itu Alma sudah mendapatkan salam hangat dari Bryan melalui pesan di ponselnya. Sekarang mereka terlihat seperti pasangan yang baru pacaran.


Pagi itu di depan rumah Alma, terdengar suara klakson mobil yang kencang. Alma, Mia, dan si kembar segera pergi keluar untuk melihat apa yang terjadi.


" Pak Bryan?" Mia ternganga


" Papa?"


" Selamat pagi semuanya, ini hari yang cerah bukan? " Bryan tersenyum ceria pada Alma dan kedua anaknya


" Kenapa pagi-pagi kamu sudah kemari?" tanya Alma bingung


" Tentu saja menjemput istri dan anak-anak ku " jawab Bryan


" Si-siapa yang kamu panggil istri mu?" Alma terlihat malu-malu


" Tidak usah malu-malu begitu, ayo masuk. Aku akan mengantarmu dan anak-anak ke tempat tujuan kalian "


Bryan terlihat senang dan ceria tidak dingin seperti biasanya. Apalagi saat Alma dan kedua anak nya naik mobil bersama nya. Mereka merasa seperti keluarga yang lengkap.


Naina tak henti-hentinya mengungkapkan kebahagiaannya, melihat mama dan papa nya sudah mengakhiri konflik, juga kesalahpahaman selama 6 tahun itu.


" Aku senang, sekarang papa dan Mama sudah baikan. Tapi ada yang buat aku bingung..."


" Apa sayang?" tanya Bryan


" Kapan Mama sama papa mau menikah lagi? kalau kita mau jadi keluarga yang utuh, mama harus nikah sama papa. "


" Sayang, pernikahan itu sebenarnya...."


" Papa akan segera menikahi mama kalian, kalian jangan cemas ya " Bryan memotong kata-kata Alma


" Beneran pa?" tanya Naina semangat


" Tentu saja, papa sudah menunggu lama untuk ini. Papa tidak akan berbasa-basi lagi " Bryan tersenyum melihat Alma yang terdiam mendengar ucapan pernikahan. Senyum Bryan sirna saat melihat wanita yang duduk disampingnya itu terlihat resah.


Ada apa dengan Alma? kenapa dia terlihat tidak senang mendengar kata pernikahan? apa ini perasaan ku saja?


Alma tertegun tampak memikirkan sesuatu yang berat. Setelah mengantar kedua anaknya ke sekolah, barulah Bryan mengajak Alma bicara selagi mereka dalam perjalanan ke kantor Alma.


" Ada apa? kenapa dengan wajahmu itu? "


" Memangnya aku kenapa?" Alma bertanya balik


" Saat mendengar kata pernikahan aku rasa kamu tidak terlihat senang, apa ini hanya perasaan ku saja?"


" Kamu serius ingin menikah lagi dengan ku?" tanya Alma


" Tentu saja, wanita satu satunya yang ingin aku nikahi hanya dirimu Alma. Dan kita juga sudah punya anak bersama, kalau kami tidak percaya padaku, aku bisa saja menikahi mu sekarang " Bryan serius


" Kita baru memulainya lagi, ku pikir pernikahan terlalu cepat untuk kita. "


" Terlalu cepat apanya? aku sudah menunggu selama 6 tahun " Bryan tersenyum pahit


" Apa selama 6 tahun itu, kamu hanya mencintai ku?"


" Kamu tidak percaya?"


" Aku percaya, tapi.. "


CKITTT


Bryan memberhentikan mobilnya di pinggir jalan. Bryan ingin mendengarkan alasan kenapa Alma terlihat masih ragu padanya.


" Aku tidak fokus kalau harus mendengarkan mu sambil menyetir. Jadi kenapa kamu masih ragu untuk menikah dengan ku? atau jangan-jangan kamu yang tidak mencintai ku?"


" Bukan begitu "


" Kalau begitu, kamu cinta padaku?"


" Iya aku cinta "


" Kalau begitu tunggu apa lagi, ayo kita menikah. Bukan demi kita saja, tapi demi anak-anak kita " ucap Bryan tegas


Sejujurnya Alma masih takut dengan pernikahan, bukannya ia ragu pada perasaan Bryan. Tapi pernikahan memang terlalu cepat bagi Bryan.


" Bagaimana kalau kita pacaran dulu? pacaran percobaan selama 1 bulan, kak Bryan ?" usul Alma


" Pacaran percobaan? jadi aku harus menunggu 1 bulan lagi?" tanya Bryan


" Untuk mempererat hubungan kita sebelum menikah, bukannya kita harus pacaran dulu dan mengenal satu sama lain?"


" Benar juga, dulu kita menikah tanpa mengenal satu sama lain. Baiklah, aku setuju. Mari kita pacaran dulu "


Tidak apa, sebelum satu bulan aku akan membuatmu tidak bisa melarikan diri lagi dariku Alma. Selamanya kamu milikku.


" Ya, itulah maksud ku " Alma tersenyum


Seandainya dulu kita saling memahami dan saling percaya seperti ini. Mungkin kita tidak akan bercerai dan masih bersama sama sekarang. Dan seandainya dulu aku tidak bersikap kekanak-kanakan.


" Aku lega, kamu menolak pernikahan kita bukan karena ragu terhadap hatiku. Kalau begitu kita pacaran sekarang ya "


Seandainya dulu aku tidak melakukan hal bodoh dengan bertunangan dengan Selina, dan seandainya dulu aku bukanlah pria brengsek yang menodai kesucian mu. Mungkin sekarang kita sudah hidup bahagia. Tidak apa, mari kita mulai dari awal.


" Iya kita pacaran " jawab Alma senang. " Ayo, kita berangkat ke kantorku. Aku bisa terlambat !"


" tunggu dulu Al !"


" Ya, apa lagi?"


" Terimakasih sudah mencintai pria brengsek seperti ku, dan menerima masa lalu ku "


" Ssst .. kamu tidak brengsek, jangan pernah bicara begitu lagi. Atau aku akan marah " Kedua tangan Alma meraih pipi Bryan, matanya memandang pria tampan yang seperti pahatan patung itu.


" Tapi aku memang brengsek "gumam Bryan


" Itu kan dulu, sekarang kamu tidak begitu. Kita sepakat untuk tidak membahas masa lalu, dan memulai hubungan dengan awal yang baru. Jadi, jangan pernah bicara begitu lagi. Hmm.." Alma tersenyum


GREP


Tangan kekar Bryan memeluk tubuh mungil Alma dengan lembut. Bryan tersenyum senang, seakan kebahagiaan dan dunia adalah miliknya. Akhirnya gadis yang ia cintai bisa tersenyum lagi padanya, ini seperti mimpi yang terwujud.


" Kak Bryan.." Alma gugup dengan pelukan yang tiba-tiba itu


" Ternyata ini bukan mimpi ku lagi, sentuhan ini, melihat senyuman mu, dan memelukmu. Ini semua nyata. "


" Iya ini nyata " jawab Alma sambil membalas pelukan Bryan, kedua tangannya meraih punggung Bryan yang lebar itu. Mereka saling mencium aroma tubuh masing masing.


Sesampainya di depan kantor Alma, lagi-lagi Bryan tidak mau melepaskan tangan Alma. Ia terus menahan Alma agar berada di sisinya. Entah kenapa pria itu menjadi manja padanya. Bahkan Bryan mempermasalahkan nama panggilan sekarang. Mereka seperti ABG yang baru pacaran.


" Kak Bryan, lepaskan tanganku. Aku harus ke kantor. Ini sudah jam 7.30. Kamu juga harus ke kantor bukan?" Alma merasa canggung, Bryan terus menggenggam tangannya.


" Jangan panggil aku kak, aku tidak mau. Bryan, panggil aku Bryan. " ucap Bryan manja


Kenapa dia mendadak menjadi seperti anak kecil?


" Iya Bry..Bryan. Sekarang lepaskan tanganku, aku harus pergi bekerja "


" Aku tidak mau terpisah darimu "


" Bryan! nanti sore kita akan bertemu lagi untuk membahas proyek. " kata Alma sambil berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Bryan


" Aku akan melepaskan mu, kalau kamu memberikan ku ciuman "


" A-Apa? " Alma terkejut


Sejak kapan Bryan yang dingin bisa bersikap manja seperti ini?


" Kalau tidak mau aku akan terus memegang tangan mu " Bryan terlihat serius, ia tersenyum menggoda Alma.


" Kamu serius akan melakukan ini?" tanya Alma


" Tentu " Bryan menantang


Dia tidak akan berani melakukan nya, dia kan penakut.


Alma mendekatkan wajahnya ke wajah Bryan, dengan cepat bibirnya mendarat di pipi Bryan.


CUP


Sontak saja Bryan melepaskan tangannya dari Alma. Alma langsung berlari menuju ke dalam kantornya, meninggalkan Bryan yang wajahnya terlihat memerah.


" Sial! aku pikir aku benar-benar jatuh cinta lagi kedua kalinya pada mu Alma " gumam Bryan sambil memegang pipinya yang baru saja di cium oleh Alma.


Pemandangan itu di lihat oleh Selina yang kebetulan sedang lewat di dekat sana. Selina berencana untuk pergi menemui agensinya dan kembali ke dunia entertainment. Atas bantuan Jason, Selina bisa kembali di terima oleh salah satu agensi di negeri itu.


" Kamu pikir kamu bisa bahagia dengannya begitu mudah? Maaf Bryan, meskipun kita sudah bercerai. Tapi, aku juga tidak ingin kamu bahagia. Wanita yang membuat mu bahagia harus hancur, Bryan ! "


Gumam Selina penuh kemarahan, matanya yang penuh kebencian mengarah pada Alma yang berjalan masuk ke dalam kantornya, dan Bryan yang pergi mengendarai mobilnya.


****


Di lantai bawah gedung Aditama Grup.


Bryan juga sampai di kantornya, pagi itu ia membalas sapaan semua karyawan nya dengan senyuman. Andre yang ada dibelakang nya sampai tercengang melihatnya.


" Pagi pak !" sapa para karyawan wanita sambil membungkuk hormat di depan Bryan, sang Presdir.


" Iya " jawab Bryan sambil tersenyum cerah


Walah, apa matahari terbit dari Utara? kenapa Presdir menjawab sapaan mereka?. Andre menelan ludah dan keheranan


Sontak saja para karyawan wanita itu kelabakan, dan dibuat terpana oleh pesona Bryan. Bryan langsung berjalan menuju ke dalam ruang kerjanya.


" KYAA !!"


" Kalian lihat itu? pak Presdir tersenyum?" kata salah satu karyawan wanita takjub


" apa aku tidak salah lihat? Presdir yang sudah tampan, di hiasi senyuman pagi ini dia semakin tampan !"


" Ya ampun, ada apa dengan hari ini? kenapa pak presdir bisa seperti itu ya?" tanya seorang karyawan penasaran


Mereka yang tidak pernah sekalipun mendapatkan jawaban saat menyapa Bryan, tentu saja merasa kaget dengan sikap Bryan yang berbeda pagi itu. Seperti bukan Bryan yang biasanya.


Hari itu Bryan sangat semangat bekerja, ia tak sabar menunggu sore agar bisa bertemu lagi dengan kekasihnya. Bryan terlihat melamun dan memainkan bolpoin nya, entah kenapa Bryan jadi terlihat bingung.


Ngomong-ngomong, aku belum pernah memberikan Alma hadiah. Kami kan baru saja jadian, harusnya ada hadiah. Apa aku belikan sesuatu saja ya untuknya? tapi apa.. kalau bunga sih itu terlalu biasa.


" Andre !"


" Ya pak?"


" Menurut mu, hadiah apa yang biasanya diberikan pada wanita untuk memperingati hari jadian mereka "


" Apa maksud bapak, hari jadian itu seperti pacaran?"


" Ya itu, pacaran. Tapi, pacaran yang serius "


" Kalau saya sih waktu pertama pacaran dengan istri saya, saya memberikan nya sebuah gelang couple pak "


" Gelang couple? hmm.. "


Apa Alma akan suka, jika aku belikan dia gelang couple?


" Apa ini untuk Bu Alma pak?"


" Ya "


" Kalau saya boleh menyarankan lebih baik bapak memberikan sesuatu yang belum di pakai oleh Bu Alma "


" Sesuatu yang belum dia pakai? cincin maksud mu? Andre, dia masih belum mau menerima cincin dariku kalau aku memberikan nya sekarang "


" Jangan cincin pak, yang lain saja dan yang belum Bu Alma miliki "


Bryan berfikir keras, dan ia baru ingat kalau Alma tidak pernah memakai sesuatu di lehernya. " Terimakasih Andre, sekarang aku tau apa yang harus aku berikan pada kekasihku. Gaji mu naik bulan ini " Senyum terlihat di sudut bibirnya


" Alhamdulillah.. saya selalu mendoakan kebahagiaan bapak dan Bu Alma pak. Cinta kalian membawa kebahagiaan! " Andre tersenyum girang.


" Tugasmu sekarang, adalah mencarikan ku seorang pembuat kalung yang terbaik di negeri ini !"


" Siap gerak pak!" Andre memberi hormat pada boss nya itu


Terkadang pak Bryan bisa sangat menyebalkan, tapi aku sangat suka kalau giliran naik gaji seperti ini. Istriku dan anakku di rumah pasti akan semakin mencintai ku. Haha...


...---***---...