
Alma langsung menenangkan dirinya dan tadi sempat merasa takut dan panik. Berusaha menjawab dengan tenang pertanyaan ramah dari Ny. Delia. Alma heran, kenapa Ny. Delia bisa bersikap ramah padanya secara tiba-tiba? padahal dulu kan Ny Delia sangat membenci nya.
" Kabar saya baik Bu, kabar ibu bagaimana?" tanya Alma sopan
" Alhamdulillah Mama juga baik-baik aja. Oh ya Alma siapa kedua anak ini? " tanya Ny. Delia sambil melirik ke arah Kelvin dan Naina yang ada di belakang Alma.
" Mereka anak anak saya bu, Kelvin, Naina, ayo salam dulu sama Bu Delia " Alma tersenyum
Kelvin dan Naina secara bergantian mencium tangan Ny. Delia dengan sopan. Wanita paruh baya itu menanggapi si kembar dengan ramah.
" Nama saya Ninaina, panggil aja Naina ya nek" kata Naina ramah
" Nama saya Kelvin " kata Kelvin dengan wajah datar seperti biasanya
Siapa nenek ini? apa dia kenal sama Mama?. Kelvin yang selalu peka dengan keadaan disekitarnya, merasa bahwa Alma dan Ny. Delia saling mengenal.
Kedua anak ini sangat sopan. Sangat berbeda dengan Kayla dan Risya. Mereka bahkan tidak pernah memberi salam pada ku. Alma membesarkannya dengan baik.
" Maaf Bu Delia, saya harus segera pergi karena masih banyak pekerjaan " kata Alma
Kenapa ibu Delia ada disini? apa dia sudah tau kalau aku dan kak Bryan bertemu? Tapi, kenapa dia tidak kelihatan marah.
" Sayang sekali padahal ibu masih mau bicara dengan mu, bolehkah ibu meminta nomor ponselmu?" tanya Ny. Delia berharap
Ini masih terlalu awal untuk bertanya tentang anak-anak. Aku akan bertanya padanya nanti, saat waktu sudah senggang sekalian meminta maaf.
Alma semakin terkejut saat Ny. Delia tiba-tiba meminta nomor ponselnya. Alma memberikan nya dengan mudah. Pikiran positif nya, mungkin nyonya Delia ingin membangun hubungan yang baik dengannya, dan tidak mau bermusuhan dengan Alma.
Tak lama kemudian, Risya menghampiri neneknya itu dan memeluknya. Alma dibuat terpana dengan kehadiran anak itu. Seakan akan ada panah yang menghujam ke jantung nya.
Dia adalah anak nona Selina dan kak Bryan. Ya Allah, kenapa hatiku sakit?
" Nenek, kenapa lama banget? aku udah nunggu dari tadi di mobil. Cepet nek ! aku mau makan di restoran ayam !" kata Risya sembari menarik tangan neneknya itu dengan manja
" Alma, kalau begitu ibu pergi dulu ya. Nanti ibu hubungi kamu lagi " kata Ny. Delia sambil tersenyum lama
Kalau diingat-ingat dulu, Ny. Delia sama sekali tidak pernah tersenyum padanya. Dia selalu menunjukkan wajah sinis pada Alma, dan selalu ramah pada Selina. Tapi, hari kenapa Ny. Delia banyak tersenyum pada Alma dan kedua anaknya.
Hal itu membuat Alma berfikiran negatif, ia mengira kalau Ny. Delia akan merebut anak-anak nya.
Keputusan ku benar-benar salah, seharusnya aku tidak pernah kembali ke negara ini.
Alma mengantar anaknya kembali pulang ke rumah, ia telah memperkerjakan seorang pembantu rumah tangga sekaligus orang yang akan menjaga kedua anaknya selama Alma bekerja.
" Mama, ke kantor dulu ya sayang. Kalian jangan nakal sama Bi Asih. Jangan keluar rumah, Kelvin terutama kamu ! jangan macam-macam "
" Ya mah " jawab kedua anaknya itu patuh
" Bagus, nanti pulang nya Mama akan bawakan makanan. Oh ya, Tante Mia juga akan kembali kesini nanti malam "
Si kembar terlihat gembira saat mendengar Mia akan kembali dan tinggal bersama mereka.
πππ
Siang itu, Bryan pergi ke rumah sakit untuk bertemu dengan sahabatnya Ian. Meminta hasil tes DNA si kembar, sekaligus menyerahkan sampel DNA Risya yang akan di tes.
" Gila ya kamu Bryan ! ini baru 2 hari dan kamu sudah minta hasil tes nya?" tanya Ian yang terlihat lelah dan kantung mata nya tebal
" Matamu seperti mata panda saja " Bryan tersenyum tipis
" Karena siapa aku begini?" tanya Ian sebal.
" baiklah akan ku bayar 2 kali lipat, ah tidak. Tiga kali lipat deh. Jadi, mana hasil nya?" tanya Bryan
" Kamu ini ! kalau kamu bukan sahabatku dan kalau kamu tidak punya uang banyak, aku tidak akan mau begadang demi semua ini. " gerutu Ian kesal.
Ian menyerahkan 2 amplop putih berisi hasil tes DNA Naina, Kelvin dan dirinya. Bryan juga menyerahkan rambut milik Risya untuk di tes DNA oleh Ian.
" Kamu mau tes DNA untuk Risya? bukankah waktu itu sudah terbukti kalau Risya adalah putrimu?"
" Ada sedikit keraguan, jadi aku ingin memastikan nya. Ian, jangan sampai ada yang tau tentang ini, apalagi Selina. " kata Bryan
" Baiklah, akan aku kabari 3 hari lagi hasil tes nya "
Bryan masih belum membuka hasil tes nya. Ia ingin membuka nya di dalam mobil. Andre yang menyetir, terlihat senang melihat wajah Bryan yang kembali ceria. Mereka bergegas kembali menuju ke kantor Aditama.
Bryan membuka surat itu dengan hati berdebar. Berharap kalau si kembar adalah anaknya.
SRET
Mata Bryan fokus menatap secarik kertas itu, hatinya seolah terbang melayang saat ia melihat kata 99,9 persen anak kandung yang memiliki hubungan darah, ayah dan anak. Isi surat yang satunya pun sama hasilnya. Betapa bahagianya hati Bryan, ternyata kedua anak itu memang anaknya.
" Andre ! mereka, mereka benar-benar anak ku! sudah kuduga ! Andre.." Bryan kegirangan, tak hentinya ia tersenyum
" Selamat pak, saya turut senang. " jawab Andre sambil tersenyum.
" Aku harus segera menemui Alma, ya nanti malam aku harus ke rumahnya " kata Bryan semangat
Kali ini dia tidak bisa menghindar lagi untuk bertemu dengan ku. Aku dan dia punya ikatan yang kuat, yaitu kedua anak kami. Dan Leon, menyingkir lah kamu.
*****
Di kantor Navin desain.
Semua orang yang bekerja disana memberi hormat pada Alma, karena sekarang Alma adalah CEO dari Navin desain.
Alma duduk di kursi presdir, ruangan yang di desain mewah itu. Namanya terpampang di
" Terimakasih Bu Viona sudah menggantikan tugas saya selama saya berada di luar negeri. Apa kamu senang saya kembali?"
" Tentu saja, saya kira anda tidak akan pernah kembali. Tugas saya jadi berkurang deh sedikit." Viona tersenyum cerah
" Syukurlah kalau kamu senang, kamu bisa kembali ke kursi sekretaris " kata Alma
" Terimakasih Bu Presdir ! " Viona terlihat gembira
Viona menyerahkan laporan tentang permintaan desain dari Klien yang menumpuk. Juga jadwal jadwal meeting dengan klien juga menumpuk. Alma merasa senang karena akhirnya ia bisa sukses membangun perusahaan sampai berkembang dan maju.
" Bu, saya mau mengingatkan kalau sore ini Bu presdir ada rapat dengan klien penting. Klien itu ingin meminta desain untuk baju terbaru di perusahaan nya "
" Perusahaan itu di bidang fashion?" tanya Alma sambil memeriksa beberapa dokumen yang terletak di meja nya
" Benar Bu "
" Perusahaan apa itu?" tanya Alma
" Namanya adalah..
πΆπΆ tring tring
Sebuah telpon yang bersuara menghentikan kata-kata Viona. Viona mengangkat nya, dan mengatakan bahwa klien nya sudah datang lebih awal untuk rapat. Alma menggerutu di dalam hatinya, mengapa klien itu tidak tahu waktu?
Perasaan berdebar ketika pertama kali bertemu, kembali mereka rasakan. Saling bertanya-tanya dalam hati, kenapa dia ada disini?
" Alma, kenapa kamu ada disini?" tanya Bryan kaget
" Kamu juga ngapain ada disini?" tanya Alma ketus
" Seperti nya kita memang berjodoh ya. Bisa bertemu seperti ini lagi. Apa ini takdir?" Bryan tersenyum senang
Memang deh, jodoh tak akan kemana. Bahkan Tuhan pun sudah memberi jalan padaku untuk mengejar mu lagi.
" Jangan salah sangka, ini pasti cuma kebetulan " kata Alma sinis
" Maaf Bu Presdir, pak Bryan dari Aditama Grup adalah klien perusahaan kita " bisik Viona pada Alma
" Apa? kenapa kamu menerima pesanan nya?" tanya Alma kesal
" Aku kesini untuk bertemu dengan CEO Navin, apakah kamu adalah CEO nya, Alma?" tanya Bryan
" Benar, mari kita duduk dan bicarakan soal bisnis " Alma terlihat serius dan formal
Keduanya duduk saling berhadapan, di depan mereka ada segelas air putih, beberapa dokumen, dan pena.
Bryan semakin kagum saja dengan Alma, bertahun-tahun tidak terlihat sekarang gadis itu sudah menjadi wanita yang sukses. Alma sedang menjelaskan konsep desain untuk baju baju model terbaru di perusahaan Bryan.
Namun, pria itu malah menatap Alma dan tidak fokus pada penjelasan Alma. Andre dan Viona juga melihatnya.
" Pak, pak Bryan kenapa anda melamun saja?" tanya Alma kesal
" Habisnya kamu sangat cantik, dulu dan sekarang kamu masih sangat cantik " Bryan tersenyum tulus
Andre, Viona menahan tawa mendengar nya. Sementara wajah Alma langsung memerah mendengar pujian dari Bryan.
" Hem Hem" Andre dan Viona sama-sama berdehem
" Pak, tolong bersikap profesional! kita sedang mendiskusikan pekerjaan " ucap Alma tegas
" Wajahmu memerah tuh, kamu malu ya?" tanya Bryan sambil tersenyum menggoda
" Pak Bryan !" teriak Alma kesal
" Walaupun sekarang kamu jadi galak, tapi kamu tetap manis. Kamu tidak berubah "
Apa yang dia lakukan? kenapa dia menggodaku seperti ini? Alma, ingat lah kalau pria di depanmu ini adalah suami orang.
" Hentikan semua ini ! kalau anda tidak bersikap profesional lagi, saya tidak mau rapat dengan anda. Dan anda kan pria yang sudah beristri, jadi jangan menggoda saya " Alma berdiri dan terlihat marah
" Jadi kamu cemburu?!" tanya Bryan senang
" Saya tidak bercanda ya pak Bryan! maaf kita sudahi saja pembicaraan kita " kata Alma kesal
Tangan Bryan memegang tangan Alma, wajahnya tampak serius. Ia menyuruh Andre dan Viona untuk keluar dari ruangan itu. Mereka pun patuh dan mengunci pintunya.
" Apa yang kamu lakukan? lepaskan aku !" seru Alma
" Kamu tidak bisa keluar sebelum kita bicara "
" Apa bapak akan memaksa saya? saya kan sudah bilang kalau saya tidak mau! " tanya Alma, sambil mencoba membuka pintu.
" Kenapa keras kepala mu itu tidak berubah? kamu harus memberi ku kesempatan untuk bicara !" seru Bryan mulai emosi
" Haa.. baiklah, kita bicara " Alma menghela napas dan akhirnya mengalah.
Mereka pun duduk berhadapan, Bryan menjelaskan bahwa ia memang menikah dengan Selina 6 tahun lalu setelah kepergian Alma. Tapi, itu pun karena paksaan dari ibunya.
" Kamu tau kenapa aku bertunangan dengan Selina saat itu? Karena aku tau kamu akan datang padaku, dan aku dengan bodohnya berfikir kalau kamu akan menghentikan pertunangan ku. Sebenarnya rencana itu yang aku pikirkan agar kamu keluar dari persembunyian mu. " kedua mata Bryan berkaca-kaca
" Kamu tau aku datang, tapi kamu tetap bertunangan dengan nya? kamu bahkan menikah dan punya anak dengan nya " kata Alma sakit hati
" Itu memang benar, karena saat itu Selina sedang mengandung. Dan aku terpaksa menikahinya " Bryan memegang tangan Alma
" Terpaksa atau tidak, itu tidak menghapus kenyataan bahwa kamu mencintainya. Kamu sampai punya anak dengannya "
Jangan luluh olehnya Alma, kamu yang dulu dan kamu yang sekarang itu sudah berbeda. Jangan terjebak lagi dalam rayuan nya.
" Aku bersumpah aku hanya mencintai mu ! perasaan ku padanya sudah lama mati !" seru Bryan
" Aku tidak peduli apa yang kamu katakan, faktanya dan logika nya bahwa kita tidak ada hubungan apa-apa lagi " kata Alma tegas
" Oh, jadi kamu pikir kita tidak ada hubungan apa-apa lagi? lalu bagaimana dengan anak kita?" tanya Bryan
" Siapa? aku tidak punya anak denganmu !" seru Alma
" Ayolah Alma, aku tau kamu tidak sebodoh itu. Sebenarnya tanpa tes ini juga, aku sudah tau kalau si kembar adalah anakku " Bryan menunjukkan hasil tes DNA kedua anaknya pada Alma.
Alma melihatnya, dan tercengang. Bagaimana bisa Bryan punya sampel DNA anak kembarnya? Lalu ia teringat, bahwa Bryan bisa melakukan apa saja yang ia mau dengan uang dan kekuasaan nya.
" Itu tidak mengubah apapun, mereka anakku sendiri bukan anak kita. "
" Aku sudah tau kamu akan menyangkalnya, kalau begitu mari kita main secara hukum saja " kata Bryan sambil tersenyum sinis
" Apa maksud kamu?" tanya Alma tak paham
" Kalau kamu tidak mengakui bahwa mereka adalah anak kita, aku akan membawa hal ini ke pengadilan. Aku akan mengambil mereka darimu "
" Tuh kan! jadi ini tujuan mu mendekati ku, kamu ingin mengambil anak kita dariku?!" Alma kesal
" Jadi sekarang kamu mengakui semuanya, kalau Naina dan Kelvin adalah anak kita. " senyum manis tertarik di bibir Bryan. Menunjukkan kepuasan saat melihat Alma kebingungan di depannya.
JLEB, kata-kata Bryan sudah menjebak Alma.
Apa? apa aku dijebak olehnya? Aku baru saja mengatakan kalau si kembar adalah anakku dan dia?
Mendadak Alma terdiam, ia sudah kalah dari Bryan. Bryan mendekati Alma, dan membuat tubuh wanita itu tersandar ke tembok.
" A-Apa yang kamu lakukan?" tanya Alma kebingungan
" Jangan bilang kalau kita tidak ada hubungan apa-apa. Takdir sudah mengikat kita, Alma. Karena aku akan mengejar mu lagi mulai sekarang. Jangan lari lagi dariku, aku merindukan mu Alma..."
GREP
Kedua mata itu bertemu dan saling menatap. Bryan memberanikan dirinya untuk memeluk Alma, pelukan yang lembut tanpa paksaan. Kerinduan sama-sama mereka rasakan, Alma tidak menolak dan menerima pelukan itu. Tangannya ragu untuk memeluk balik Bryan.
...----****----...
Readers, jangan lupa tinggalkan jempol dan komentar kalian yaππ kasih gift dan vote juga boleh banget. Author udah kabulkan crazy up nya nihππ
Makasih yang udah mampir π