
πππ
Tes, tes, tes,
Darah itu menetes pada kanvas ada lukisan Bu Delia. Darah itu mengucur dari hidung Naina seperti air mengalir.
"Eh? aku mimisan" Naina memegang hidungnya yang mimisan itu, hal tidak biasanya terjadi pada Naina yang memiliki tubuh sehat dari kecil, ia jarang sakit.
Uh.. ini pasti karena aku terlalu lelah otak, jadi begini.
Darah masih menetes dari hidung Naina, bahkan sampai mengenai blouse putih yang ia kenakan. Naina mencari-cari tisu di meja kerjanya, kemudian ada seseorang yang membuka pintu ruangannya.
CEKRET
"Selamat pagi Bu Naina, maafkan saya karena saya terlambat.." ucap Caroline sambil membungkukkan badannya di depan Naina.
"Ah iya gak apa-apa kok. Aku juga belum lama datang" Naina tersenyum, ia masih mencari-cari tisu di meja namun tak kunjung menemukan nya juga.
Caroline terkejut dan langsung menghampiri Naina dengan membawa sapu tangan yang ada di tasnya. "Ya ampun Bu Naina, mimisannya banyak banget.. Bu Naina gak papa?" tanya nya cemas sambil melihat ke arah bajunya yang berdarah.
"Aku gak papa kok Caroline, kayanya aku cuma kecapaian. Semalam aku begadang buat desain kalung" jawab Naina sambil mengambil sapu tangan itu dan mengusap darah di hidung dan di sudut bibirnya.
Naina pun pergi ke kamar mandi untuk membersihkan sisa sisa darah di wajahnya, ia melihat ke arah cermin.
"Sudah bersih deh.. hm.. gak biasanya aku mimisan kaya gini, apa karena akhir-akhir ini aku sering begadang ya?" gumam nya pada dirinya sendiri yang sering begadang karena nonton drakor dan menggambar desain.
Bukan karena tidak ada waktu siang untuk menggambar nya, tapi Naina lebih berkonsentrasi menggambar saat malam hari.
Setelah membersihkan wajahnya, mimisan itu telah berhenti. Naina keluar dari kamar mandi dan melanjutkan aktivitas nya untuk mewarnai gambar Almh. neneknya yang belum usai.
Dia baru sadar kalau ternyata darah nya mengucur pada kanvas itu tepat di gambar baju neneknya yang belum di warnai. Naina tersenyum lembut, ia mengambil kuas yang sudah di olesi cat merah dan mewarnai gambar baju nenek nya yang belum usai.
Darah dan cat merah itu bercampur jadi satu.
Setelah selesai melukis, Naina mencuci tangannya yang berlumuran cat di wastafel. Kemudian, Caroline datang menghampiri nya.
"Bu Naina, ada yang ingin saya sampaikan Bu"
"Ya, ada apa?" tanya Naina sambil duduk di meja nya
"Albry galeri mendapatkan undangan dan tawaran untuk memamerkan karya di Maldives, bukankah itu bagus Bu? dengan begitu Albry galeri akan terkenal di seluruh dunia" Caroline tersenyum dan sangat bersemangat
"Iya, kamu betul juga sih. Tapi, tawaran itu datang dari siapa?" tanya Naina yang senang mendapat tawaran ke luar negeri untuk memamerkan karyanya.
"Perusahaan Ardiwinata fashion yang menawarkan nya Bu, dan mereka juga menawarkan kerjasama pada Albry galeri" jawab Caroline, masih dengan senyum cerah di bibirnya
"Fashion? mengapa perusahaan fashion menawarkan undangan ke pameran galeri? dan mengajak kerjasama juga?" Naina terheran-heran, bagaimana bisa perusahaan yang berkecimpung di bidang fashion mengajak nya bekerjasama. Karena dua perusahaan itu, dari bidang saja sudah berbeda.
"Mereka menunggu konfirmasi dari pihak kita, Bu" jawab Caroline
Ardiwinata fashion? Ardiwinata? apa itu Juna?!
Tiba-tiba saja gadis itu beranjak dari kursinya, ia yakin bahwa Perusahaan itu adalah perusahaan yang di pimpin oleh Juna.
Mengapa Juna melakukan ini?
"Ada apa Bu?" tanya Caroline yang heran melihat raut wajah terkejut nya Naina.
Tok, tok, tok
"Permisi!!" suara seorang pria dari luar ruangan itu.
"Biar saya yang buka pintunya Bu"
"Tidak usah, aku saja" jawab Naina sambil berjalan ke arah pintu ruangan kerjanya.
CEKRET
"Maaf Bu, saya sedang mencari orang yang bernama Ninaina Alisya Aditama?" ucap si tukang kurir itu
"Ya, saya sendiri" jawab Naina
"Ini untuk Bu Naina, saya hanya minta menyampaikan nya saja" ucap si kurir itu sambil menyerahkan dua buket bunga berwarna merah dan bunga berwarna pink itu pada Naina.
Setelah itu tukang kurir itu pergi, sebelum Naina sempat bertanya siapa pengirim 2 coklat dan dua bunga itu.
Dari siapa ya?. Naina bertanya-tanya sambil melihat dua bunga yang kini ada diatas meja kerja nya.
"Pasti ini dari pacar Bu Naina, tapi kenapa mengirim nya double ya?" ucap Caroline sambil meletakkan dua kotak kue coklat di atas meja kerja Naina.
"Aku gak punya pacar" jawab Naina sambil mengambil dua kartu ucapan yang di selipkan pada kedua buket bunga itu.
"Masa sih? terus yang tadi pelukan sama Bu Naina di depan, itu siapa?" goda Caroline pada bos nya itu
Sebenarnya aku terlambat bekerja bukan karena macet di jalan. Tapi itu karena aku gak mau melihat Bu Naina, malu.. eh tapi, aku malah keceplosan.
DEG!
Wajah Naina langsung memerah, seperti memakai blush-on. Naina menengok ke arah Caroline dengan raut wajah yang malu-malu. "I-itu.. apa kamu melihat semuanya??" tanya Naina dengan mata polosnya.
"Itu.. sebenarnya saya.." Caroline terlihat bingung mau menjelaskan apa pada Naina.
Malunya, ternyata Caroline melihat aku dan Juna berpelukan di depan galeri tadi. Lalu, apakah dia juga mendengar apa yang aku bicarakan dengan Juna? malunya...Naina menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
Sebenarnya Naina ingin bertanya pada Caroline, apakah gadis itu mendengar pembicaraannya dan Juna. Namun, ia sudah terlalu malu untuk bertanya. Saking malunya, Naina berkata dalam hatinya bahwa ia ingin bersembunyi di dalam lubang semut karena ada orang yang melihatnya berpelukan.
"Maafkan saya bu, saya benar-benar tidak sengaja melihatnya. Saya juga bersumpah, kalau saya tidak mendengar apa yang ibu bicarakan dengan pria itu" kata Caroline sambil mengangkat kedua tangannya dengan penuh keyakinan.
"I-iya, sudahlah jangan dibahas lagi" ucap Naina yang malu karena tidak ingin Caroline membahasnya lagi. Diam-diam Naina tersenyum manis, mengingat pelukannya dengan Juna. Gadis itu terlihat seperti anak remaja yang baru jatuh cinta saja.
Caroline pun menutup mulutnya rapat-rapat, ia gemas melihat wajah Naina yang terlihat sangat imut kalau sedang malu.
Bu Naina sangat imut dan polos. Dia juga sangat cantik dan baik hati. Tidak heran kalau Bu Naina menjadi rebutan dua cowok ganteng itu. Yang satunya dokter yang satunya presdir. Namun, sepertinya bu Naina lebih memilih presdir itu. batin Caroline sambil melihat ke arah Naina yang sedang di mabuk kepayang itu.
Naina mulai membaca salah satu kartu ucapan yang ada disana. Kartu ucapan yang berasal dari bunga mawar berwarna merah.
Semangat di hari pertama kita jadian, angry cat! Aku tau tanpa coklat pun kamu udah manis, tapi karena kamu suka coklat, ya mau gimana lagi. Aku kasih aja deh.. ayo kita ke Maldives πππ
...Si cowok preman Junjun....
"Haha.. Dasar cowok preman si tukang gombal " Naina tertawa sendiri melihat kartu ucapan dari Juna, teman baiknya saat SMA yang sekarang mungkin sudah bisa dipanggil sebagai calonnya.
Setelah selesai membaca kartu undangan yang pertama. Naina membaca kartu undangan yang berasal dari bunga mawar pink.
Peri cantik, aku tidak akan pernah menyerah. Mau kamu menolak ku berapa kali pun, aku akan tetap mengejar kamu. Maafkan aku Nai..π₯ΊβΊοΈ
Semangat kerja nya ya peri cantik, maaf aku belum sempat menemui kamu karena sibuk.
...Salam, Theo...
Raut wajah Naina yang tadi tersenyum sesudah membaca kartu dari Juna, kini berubah menjadi sedih setelah membaca kartu ucapan dari Theo.
Hati Naina sedih setelah membaca kartu ucapan dari Theo itu, apalagi saat dirinya melihat ada kata Peri cantik disana yang mengingatkan nya pada masa kecil mereka.
***
Di rumah sakit pusat kota, Theo baru saja keluar dari ruang operasi. Pria itu merebahkan tubuhnya di sofa yang ada di ruangan kerja nya.
Theo terlihat letih dan lelah, kantung matanya juga tebal. Mungkin karena ia terus berada di meja operasi.
"Haahhh.. akhirnya aku bisa beristirahat sebentar. Pasti sekarang Naina sudah menerima bunga nya kan?" gumam Theo sambil merogoh saku jas nya yang berwarna putih. Terlihat ada kotak berwarna merah disana.
...---***---...