
...🍂🍂🍂...
"Naina udah tenang dan dia udah tidur, kamu bisa tenang juga.. obati dulu luka ditangan kamu itu. Saya akan suruh suster membantu kamu" kata Firlan sambil tersenyum ramah pada Juna
"Ya" jawab Juna sambil melihat darah dan luka gigitan ditangannya. Dia lega melihat Naina sudah tidur dan tidak kesakitan seperti sebelumnya.
Syukurlah Nai kamu sudah tidur.
"Kamu tenang saja" Firlan menepuk bahu Juna seraya menenangkan nya
"Dokter.." panggil Juna pada Firlan
"Ya? apa?"
"Apa Naina akan terus kesakitan seperti ini setiap dia melakukan pengobatan?" tanya Juna sedih
"Iya, tentu nya sakit. Karena adikku juga begitu" Firlan duduk di samping Juna. Firlan pun membantu Juna mengobati luka ditangannya. Seperti nya kedua pria itu akan sedikit mengobrol.
"Adik dokter? apa dia sakit sama seperti Naina?" tanya Juna penasaran
"Heem, dia meninggal karena kanker. Sudah berkali-kali dia menjalani operasi dan pengobatan tapi pada akhirnya dia meninggal"
"Ah?" Juna terpana mendengar nya.
"Arjuna, apa kamu tau seberapa kejamnya sel kanker membuat manusia menderita? selama ini aku selalu melihatnya karena aku selalu berada di sekeliling orang-orang yang sakit kanker. Dan aku tau kalau pengobatan maupun operasi tidak bisa menjamin kesembuhan pasien, pengobatan dan operasi itu hanya lah cara yang bisa memperlambat waktu dan berapa lama seseorang akan bertahan dari kanker itu" Firlan teringat dengan pasien pasien nya yang tiada karena kanker.
"Dokter.. Naina akan sembuh kan? Naina adalah pengecualian kan? pasti ada keajaiban kan?" tanya Juna berharap tunangannya akan sembuh
"Saya bukan Tuhan yang bisa menentukan sembuh atau sakit nya seseorang. Tapi sebagai dokter yang mempelajari ilmu medis, itulah yang bisa saya katakan. Saya berharap, kamu tidak akan kehilangan sama seperti saya yang pernah kehilangan. Jangan berkecil hati dan teruslah memberikan Naina semangat" harapan Firlan pada Juna bahwa Naina akan selamat.
"Naina pasti akan sembuh.. Naina pasti bisa melawannya, dia tidak akan seperti pasien yang lain. Walau kemungkinan nya kecil, tapi masih ada kemungkinan yang lain.. dan itu adalah keajaiban" ucap Juna yakin
"Saya juga mengharapkan itu dan saya harap kamu selalu sabar menghadapi Naina" Firlan tersenyum,dia memberi semangat pada Juna untuk selalu bersabar menghadapi saat-saat tersulit Naina.
"Aku pasti akan selalu bersabar tanpa dokter mengatakan nya. Terimakasih dokter" Juna tersenyum sambil melihat tangannya sudah di balut oleh perban.
"Saya tidak tau kalau kita bisa mengobrol akrab tanpa bertengkar lebih dulu" kata Firlan sambil tertawa kecil
"Dokter jangan mulai lagi.." ucap Juna sambil tersenyum, dia merasa satu langkah lebih dekat dengan Firlan
Firlan pun pamit untuk mengurus pasien lainnya. Juna juga ikut keluar dari ruangan itu setelah dia yakin kalau Naina sudah tertidur lelap.
"Trouble maker, Lo benar-benar udah gila" ucap Kelvin melihat tangan Juna terluka
"Biarlah gue di bilang gila. Asalkan Naina bisa merasa lebih baik" Juna tersenyum tulus, dia rela melakukan apapun untuk Naina.
"Oke...fiks lo emang gila" Kelvin menghela pas. "Pulang lo sana, hari ini bukannya Lo ada rapat?" tanya Kelvin seraya meminta Juna pergi menyelesaikan urusan pekerjaan nya yang tertunda.
"Iya gue emang mau pergi kok" Juna tersenyum ceria.
Juna menyalami dengan sopan, satu persatu orang yang ada disana. Dari mulai Laura, Leon, Ken, Viona, kemudian yang terakhir Bryan dan Alma. Orang tua Naina sangat berterimakasih pada Juna yang setia menemani Naina walau dirinya juga sibuk dengan urusan pekerjaan. Apalagi dia adalah seorang Presdir dari salah satu perusahaan terbesar di Asia.
"Om, Tante, saya pamit pulang dulu ya" ucap Juna sambil melangkah pergi.
"Juna.. tunggu!" seru Bryan memanggil Juna. Pria itu melirik ke arah Bryan dan berjalan kembali menghampiri nya.
"Iya om?" tanya Juna
"Kamu sudah ada rencana, kapan kamu akan menikahi Naina?" tanya Bryan serius pada Juna, dia tidak mau menunda lagi hari bahagia untuk anaknya. Dia ingin Naina bahagia dan dia percaya bahwa Juna bisa membuat Naina bahagia.
"Rencana sudah ada .. tapi.. HAH??!!" Juna tercengang mendengar pertanyaan Bryan yang tiba-tiba itu. "O-om, apa maksudnya ini?" tanya Juna yang kurang paham maksud pertanyaan Bryan
"Maksud kami, kami setuju kalau kamu ingin cepat menikah dengan Naina" Alma membantu suaminya menjawab pertanyaan Juna. Wanita itu tersenyum dan percaya pada Juna, dia sudah menerima Juna sebagai menantu laki-laki nya.
Kelvin, Keira dan semua keluarga Naina yang ada disana tersenyum bahagia mendengar obrolan Juna, Bryan dan Alma.
"A-Apa saya tidak bermimpi? saya dan Naina menikah?" tanya Juna tak percaya
"Ya, jadi kapan kamu mau menikah dengan anak saya?" tanya Bryan lagi dengan wajah serius nya
"Sa-saya siap menikah dengan Naina ka-kapan saja, ta-tapi.."
"Si bodoh ini, lihatlah kakak! dia jadi gagap" Ken tertawa kecil mendengar suara Juna yang mendadak gagap ketika membahas soal pernikahan.
"PFut..haha" Kelvin tertawa
"Sayang, gak boleh gitu ah! jangan diketawain, orang lagi serius juga!" Keira mengingatkan suaminya untuk jangan menertawakan Juna disaat serius seperti itu.
"Hehe , iya deh sayang" jawab Kelvin sambil mencium pipi Keira dengan lembut
"Kelvin! kamu main nyosor nyosor aja, ini lagi dimana?" tanya Keira sebal sambil memegang pipinya
"Rumah sakit"jawab Kelvin santai
"Huh! terus?" tanya Keira lagi
"Terus gak apa-apa dong, kamu kan istriku. Sah sah aja kan kalau aku mau cium kamu" Kelvin tersenyum dengan santainya
"Dasar kamu ya tidak tahu malu!" Keira mencubit tangan Kelvin dengan gereget.
"Kak Kelvin sama kakak ipar gitu deh, suka bikin iri yang jomblo" gerutu Kayla sebal yang selalu melihat kemesraan kakak sepupu dan istrinya
"Nanti kamu juga ketemu kok sama jodoh kamu" kata Keira pada adik iparnya itu sambil tersenyum
Mendapatkan lampu hijau untuk segera menikahi Naina, tentu saja Juna sangat siap kapanpun waktunya. Hanya saja dia belum bertanya pada Naina apakah dia setuju atau tidak pernikahan mereka dipercepat karena belum ada pembicaraan kapan rencana pernikahan setelah pertunangan Naina dan Juna.
"Terimakasih om, tante. Atas kesempatan yang sudah om dan tante berikan pada saya, tapi saya harus bertanya dulu sama Naina apakah dia keberatan pernikahan ini di percepat?"
"Juna benar Bry, kita harus bertanya dulu pada Naina" Alma melirik ke arah suaminya.
"Tapi menurutku Naina tidak akan menolak ,dia pasti langsung setuju. Memang dia ingin segera menikah dengan Juna kan?" Bryan berpendapat bahwa putrinya akan setuju pernikahan itu dipercepat.
"Iya sayang, tetap saja kita harus tanya Naina dulu"
"Om sama tante gak usah cemas, nanti saya yang akan tanya sama Naina" kata Juna menawarkan diri
"Oke, ya sudah kamu pulang dulu dan urus pekerjaan mu jangan lupa istirahat ya" kata Bryan perhatian kepada Juna
Si bodoh itu, dia sangat mencintai Naina. batin Ken sambil melihat senyum bodoh Juna.
...🍀🍀🍀...
Dua hari berlalu sejak kemoterapi itu di lakukan, kini Naina mulai merasakan efeknya. Dan rasanya lebih sakit dibanding kemo yang pertama dan kedua. Bahkan efeknya juga semakin parah.
Naina sama sekali tidak boleh meninggalkan rumah sakit atau pun perawatannya. Anggota keluarga nya bergantian menjaga Naina di rumah sakit. Sesekali teman-teman nya juga datang menjenguk dan memberikan semangat untuk Naina.
Pada hari pertama dan hari kedua Naina tidak mengeluh, tapi di hari ketiga Naina mulai menunjukkan sikap tidak seperti biasanya. Dan ini bermula ketika Naina bercermin.
"Nai, ayo makan lagi dong. Belum habis nih sayurnya" bujuk Keira pada adik ipar nya.
"Udah kak, aku udah gak kuat" Naina menolak makanan itu karena dia takut akan memuntahkan nya lagi.
Hari ini Naina lebih lemah dari biasanya, kemarin dia hampir tidak tidur karena terus muntah-muntah. Kasihan dia, ya Allah.. tolong segera angkat penyakit nya. Keira sedih melihat keadaan Naina, baru tiga hari setelah kemoterapi. Gadis itu sudah kehilangan 7 kilo berat badannya, wajahnya yang semula chubby kini menjadi kurus dan kering kerontang.
"Ya udah, kamu minum dulu jus buah nya ya" bujuk Keira sambil tersenyum dan berusaha tegar. Baru pertama kali dia melihat pasien dengan penyakit kanker, dan dia menyadari betapa mengerikannya penyakit itu lebih mengerikan dari film film yang dia tonton.
Lagi-lagi jus buah tanpa gula, tidak ada rasanya. Tapi aku harus meminum semuanya demi kesehatan ku. batin Naina dengan mata yang melirik ke arah jus buah di dalam gelas yang sudah dibuatkan Keira untuknya.
"Iya, aku minum deh" Naina mengambil gelas itu dan meminum jus buah jambu. Walaupun rasanya hambar, Naina tetap meminumnya. Dia berusaha untuk tidak memuntahkan nya kembali, dia lelah menolak makanan nya terus.
"UWEKKK!! UWEKKK!!" Naina mual-mual setelah meminum setengah jus di dalam gelas itu.
"Kamu mau muntah, Nai?" dengan sigap Keira menyiapkan kantong keresek agar Naina bisa muntah disana.
"Gak kak, aku cuma mual aja. Kak, aku mau jalan-jalan keluar" ucap nya yang bosan terus saja berada di dalam ruang rawat.
"Oh ya, kamu udah lama gak jalan-jalan ya? aku tanya dokter Firlan dulu, kamu boleh jalan-jalan keluar atau enggak" kata Keira sambil tersenyum
KLAK
"Boleh kok, silahkan kalau mau jalan-jalan" jawab Firlan yang sudah ada di dekat pintu dan membukanya. Dokter tampan itu berjalan menuju ke arah Naina.
"Beneran boleh kan?" tanya Naina ceria
"Iya, tapi jangan lama-lama ya. Berjemur di pagi hari juga bagus untuk kesehatan kamu" pesan Firlan pada pasiennya itu
"Yes! aku bisa jalan-jalan keluar" Naina bahagia karena dia bisa pergi keluar untuk berjemur.
"Tapi, saya akan memeriksa kamu dulu" ucap dokter itu ramah dan hangat pada Naina, dia bersiap-siap dengan stetoskop nya untuk memeriksa kondisi Naina.
"Iya kak Firlan!" jawab gadis itu sambil tersenyum.
Ini perasaan ku aja atau memang dokter Firlan perhatian banget sama Naina? apa jangan-jangan dia ada perasaan sama Naina? ey.. gak mungkin kan? Keira melihat dokter Firlan begitu memperhatikan Naina dan dia mulai berfikir yang bukan-bukan.
Setelah memeriksa kondisi Naina, Firlan tersenyum cerah. Seperti nya ada kabar baik, namun Firlan berkata akan menjelaskan nya pada orang tua Naina nanti.
Pagi itu, Keira membawa Naina jalan-jalan ke taman rumah sakit. "Nai, seharusnya kamu pakai kursi roda saja" Keira memegang tangan Naina saat berjalan, dia takut Naina akan jatuh
"Enggak apa-apa, aku kan bukan orang cacat yang harus jalan pake kursi roda. Aku masih bisa jalan dengan kedua kakiku sendiri" kata Naina sambil menepis tangan Keira yang memegangnya
Meski Naina tidak berjalan cepat, tapi memang benar kalau ia masih bisa berdiri dengan kedua kakinya. Gadis itu duduk di kursi panjang yang ada di taman bersama Keira. Matahari pagi menghangatkan tubuh.
"Sayang sekali, padahal matahari nya sangat bagus untuk berolahraga. Tapi, sekarang tubuhku sudah sulit untuk berolahraga" gumam Naina sambil tersenyum memandang matahari yang cerah dan hangat itu.
"Kamu bisa kok berolahraga lagi, tapi nanti ya setelah kamu sembuh" Keira menyemangati
Seandainya.. tubuhku secerah dan seceria matahari itu. Aku pasti akan sembuh.. pasti. ucap Naina yakin
Naina melihat ke arah jarinya, dia menyadari kalau cincin pertunangan nya tidak ada. "Hah!"
"Ada apa Nai? kamu sakit lagi?" tanya Keira cemas
"Cincin ku...cincin pertunangan ku gak ada!" seru Naina panik sambil bergerak mencari-cari cincin itu di sekitar rumput.
"Nai, siapa tau cincinnya tertinggal di kamar. Kamu tenang dulu ya, aku cari di kamar bentar. Sambil cari di kamar, aku juga sambil lihat-lihat jalan siapa tau cincinnya jatuh di jalan. Kamu tunggu disini ya Nai, jangan bergerak!" Keira menenangkan Naina yang panik dan kembali mendudukkan Naina di kursi itu.
Keira berlari terburu-buru, dia mencari cincin Naina.
Meski sudah disuruh diam oleh Keira, Naina tetap penasaran dan mencari cincinnya di sekitar sana. Dia melihat seorang wanita dengan kepala botak dan wajah pucat, duduk di kursi roda bersama seorang wanita paruh baya di belakang nya.
"Kamu lagi nyari apa?" tanya wanita paruh baya yang mendorong kursi roda itu pada Naina
"Saya lagi nyari cincin saya Bu, siapa tau ibu sama adik ibu melihatnya" kata Naina sambil tersenyum, dia menebak bahwa wanita botak yang duduk di kursi roda adalah adik si ibu itu.
"Cincin ya? cincin yang seperti apa? biar saya bantu cari" kata wanita paruh baya itu ramah. Wanita botak itu juga tersenyum ramah pada Naina walau dia tidak banyak bicara.
Kelihatan nya gadis itu juga sakit parah. batin Naina melihat ke arah gadis botak itu dengan prihatin.
"Auh.." Naina tiba-tiba terjatuh lemas ke rumput, dia memegang tangannya yang lebam meski hanya sedikit terbentur.
Wanita paruh baya itu membantu Naina berdiri. Dia pun bertanya apa Naina sedang sakit? Dan ternyata anaknya juga mengalami penyakit yang sama dengan Naina. Mereka akhirnya berkenalan walau tidak menemukan cincin Naina.
"Hai kak Naina, namaku Liana" sapa gadis berkepala botak itu pada Naina
"Dia anak saya, usianya 17 tahun. Apa kamu percaya kalau dia berusia 17 tahun? setelah dia menjalani kemo ketiga, jadi beginilah tubuhnya" ucap Bu Fani prihatin dengan keadaan putrinya
"tujuh belas tahun?" Naina terbelalak melihat keadaan Liana yang tidak tampak seperti gadis berusia 17 tahun.
"Penyakit kanker sudah merusak semuanya" Bu Fani tersenyum pahit sambil mengelus kepala Liana dengan lembutnya.
"Ibu, aku akan sembuh Bu.. jangan cemas" ucap Liana sambil tersenyum tegar. Dia percaya bahwa dia akan sembuh.
Apa nanti aku akan jadi seperti wanita botak itu? apa rambutku akan botak dan tubuhku akan seperti nenek-nenek?. Naina mulai takut melihat kondisi Liana setelah kemoterapi.
Tangan Naina meraba-raba wajah nya, tangannya juga terlihat kurus. Naina pun berjalan masuk kembali ke dalam rumah sakit dengan perasaan yang galau. Dia masuk ke dalam toilet wanita dan bercermin disana.
"Aku! kenapa wajahku jadi seperti ini? apa semua orang melihatku dengan wajah yang seperti ini? Juna.. apa dia selalu melihatku begini? aku.. aku sangat jelek.. " Naina menangis melihat wajahnya yang tampak keriput dan tidak cantik lagi. Dia juga menyadari kalau rambutnya mulai rontok parah.
Keira kembali ke taman, dengan membawa cincin Naina. "Nai, cincinnya udah kete.." Keira melihat-lihat ke arah taman itu, namun Naina tidak ada disana."Naina kemana??!"
...---***---...
Hai Readers makasih gift dan Vote nya ya❤️❤️🤭 mohon maaf update nya sorean ya 🙏🥰