Stuck In Love CEO

Stuck In Love CEO
Bab 142. Masih resepsi



...🍂🍂🍂...


"Nai, kamu kenapa melamun? Kamu sakit? Dimana yang sakit?" Tangan Juna menyentuh kening Naina dengan lembut, memastikan bahwa istrinya baik-baik saja.


"Aku gak apa-apa Jun, ka-kamu keluar aja sambut para tamu. Aku mau istirahat disini," Titah Naina kepada suaminya, mendadak dia gugup.


"Mau pergi kemana aku tanpa kamu Nai? Aku gak akan kemana-mana, kamu tiduran aja" Juna mendorong pelan tubuh Naina ke ranjang empuk itu.


Kedua matanya membulat, Naina terlihat gugup dan ketakutan entah kenapa. Juna mengerutkan keningnya, dia heran dengan sikap Naina yang terlihat tegang.


"Nai, kamu kenapa?" Juna tersenyum tipis melihat istrinya sudah berbaring di ranjang itu dengan wajah takutnya.


"Ka-kamu, a-aku cuma mau istirahat aja.. kamu jangan macam-macam!" Naina mengingatkan pada suaminya untuk jangan berbuat macam-macam.


Juna tersenyum jahil, dia mendekati wajah istrinya dengan sengaja. Keningnya menyentuh kening Naina, dia sangat suka melihat wajah Naina yang terpana karena dirinya.


"Jun-juna.. kamu mau ngapain sih?!" protes Naina pada suaminya yang sudah berada sangat dekat dengannya.


"Tenang aja Nai, ini masih siang. Aku tidak akan berbuat macam-macam, apalagi kamu lagi gak enak badan. Aku tidak akan memaksa kamu Nai.. karena aku sayang kamu," Juna menjauhkan wajahnya dari Naina, dia tersenyum manis memandang istrinya yang cantik dan imut itu.


Memang jagonya Juna dalam merayu, mengatakan kata-kata yang membuat hati gadis itu meleleh. Persis seperti ketika mereka masih SMA, walau mereka sering berdebat dan bertengkar. Namun itu adalah salah satu cara mereka menunjukkan kedekatan, dimana pasangan itu saling memahami satu sama lain.


Itulah Juna dan Naina.. cinta yang diawali dari benci menjadi tertarik, lalu cinta. Tak lama kemudian, Naina tertidur setelah minum obatnya. Juna stay disana dan setia menemaninya, tangan hangat nya mengelus kening Naina.


"Kapan penderitaan kamu akan berakhir Nai? Aku ingin kamu sembuh.." Juna mencium kening istrinya, dengan lembut.


Setelah yakin Naina tidur nyenyak, Juna berniat pergi menemukan dokter Firlan. Tapi Dokter Firlan sudah ada di depan pintu kamar itu.


"Dokter Firlan? Anda disini?" Juna menutup pintu kamar itu rapat-rapat.


"Maaf, tadinya saya ingin masuk dan memastikan kondisi Naina" Firlan tersenyum.


"Dia sedang tidur dok. Dokter, ada yang ingin saya bicarakan dengan dokter" Juna menatap dokter itu dengan serius.


"Kebetulan saya juga ada yang ingin dibicarakan dengan kamu" jawab Dokter Firlan setuju.


Firlan dan Juna duduk di sebuah kursi yang letaknya berada di depan kamar itu. Juna membicarakan tentang pengobatan untuk Naina.


"Saya sudah bilang kalau kanker itu adalah sel patogen yang menatap seperti parasit di dalam tubuh. Naina sudah di operasi dua kali, tapi keadaan nya masih tetap sama, saya tidak bisa mengarahkan Naina sembuh sepenuhnya. Tapi tidak ada salahnya mencoba?"


"Iya dokter, saya dengar di Singapura ada rumah sakit khusus kanker terbaik di dunia. Apa itu benar dok?" Juna bertanya.


"Ya, makanya saya menyarankan agar kamu membawa Naina kesana untuk pengobatan secepatnya" saran Firlan pada Juna.


"Saya bukannya tidak mau membawanya, saya tidak kuat kalau melihat Naina menderita dan kesakitan lagi selama pengobatan nya. Hati saya sakit dok.. saya gak bisa melihat Naina kesakitan lagi, tapi saya ingin Naina sembuh.." Mata Juna berkaca-kaca, mengingat sakit Naina ketika dia dalam pengobatan. Terutama saat Naina melakukan kemoterapi yang menyakitkan untuk dirinya dan merusak tubuh nya.


"Saya tau ini berat pak Juna, saya hanya bisa menyarankan dan berdoa saja. Pengobatan Naina terjadi atau tidak, itu tergantung pada keputusan kalian berdua," Firlan tersenyum pahit.


"Kalau begitu saya akan bicarakan dengan Naina dulu setelah semua nya tenang" Juna ingin Naina sembuh dan dirawat di rumah sakit terbaik, tapi sebelum itu dia akan meminta izin kepada Naina juga keluarganya lebih dulu.


****


Di tempat resepsi pernikahan, masih banyak tamu yang datang dan pergi. Mereka banyak yang menanyakan dimana pengantin nya, Alma dan Bryan menjelaskan tentang kondisi Naina yang kurang baik.


Disisi lain ada Damar dan Kayla yang sedang makan bersama, mereka duduk di sebuah kursi. "Gimana Kay, enak gak makanan nya?" tanya Damar pada Kayla.


"Serius ini masakan kamu?"tanya Kayla tidak percaya bahwa makanan yang enak tersaji di acara pernikahan itu adalah masakan Damar.


"Iyah lah" jawab Damar sambil tersenyum, dia ingin mendapat pujian dari Kayla.


"Masa sih? Kalau buatan kamu, berarti gak enak dong" Kayla tersenyum, dia mengejek masakan Damar.


"Iya ya, masakan ku gak enak sampai-sampai kamu belepotan begitu" Damar tersenyum lebar, melihat pipi dan bibir Kayla kotor karena daging kecap.


"Ah? Apa?" Kayla menatap Damar dengan bingung.


Damar tersenyum lebar, dia mengusap kotoran di pipi dan bibir Kayla dengan tangannya. "Ehem ehem!"


Sebuah suara terdengar tegas membuat Damar menghentikan aktivitas nya. Dia melihat seorang pria berdiri di belakang Kayla dengan tatapan mata tajam dan menganalisis dirinya.


Deg!


Damar terdiam, tingkahnya jadi kikuk di depan ayah tiri Kayla. Hati nya berdebar kencang, terlebih lagi ketika pemimpin dari perusahaan Maxton itu menatapnya dengan tajam.


"Papa?" Kayla menoleh ke arah belakang, di lihatnya sosok Leon sang papa tengah berdiri disana.


Hem, jadi ini cowok yang selalu dibicarakan Kayla? Dia tampan sih, kelihatan nya gentle juga..


Kenapa papa nya Kayla menatapku seperti itu ya? Apa aku ada buat salah? Mendadak aku jadi merinding. Damar memalingkan matanya dari Leon karena deg degan.


Leon tersenyum tipis, dia memandang ke arah Damar, "Jadi ini si cowok rese yang selalu kamu bilang itu, Kay?"


Kayla dan Damar sama-sama tercekat mendengar pertanyaan Leon. "Ahahaha.. papa, kok ngomongnya gitu sih pa?" Kayla memegang pelan tangan papa nya. Kayla terlihat malu karena papa nya bertanya seperti itu dan di dengar oleh Damar.


Damar pasti tau kalau aku suka curhat tentangnya sama papa, aduh jadi malu. Kayla tidak berani menatap ke arah Damar.


"Kenapa? Apa papa salah? Orangnya bukan dia?" tanya Leon


"Oh jadi image ku di mata kamu selalu seperti itu ya Kay?" Damar melirik ke arah Kayla, dia terlihat kesal tapi tetap menunjukkan senyumannya.


"Ah...bukan gitu" Kayla menyangkal.


SRET


Leon menggeser kursi, dia duduk bersama Kayla dan Damar. Membuat ketegangan di hati Damar, mau apa Leon duduk disana bersama mereka berdua?


"Jadi, kamu pria yang sudah mencuri hati putri saya?" tanya Leon dengan tatapan tajam nya pada Damar.


Aku? Mencuri hati Kayla? Apa maksudnya?


Leon jarang bicara, tapi sekali bertanya langsung membuat orang skak mat. Damar terpaku disana, dia senang dan bingung mendengar pertanyaan Leon.


"Papa! Papa apa apaan sih? Papa bikin malu.." Kayla menepuk lengan papa nya, dia semakin malu dengan pertanyaan yang dilontarkan Leon pada Damar.


"Habisnya kamu selalu membicarakan dia, kamu juga bilang dia tampan dan dia adalah tipe kamu" Leon menggoda putrinya itu, dia tersenyum santai saat mengatakan nya.


"Papa!" Kayla menatap Leon dengan tajam


Ugh, rasanya aku ingin menghilang sekarang juga!. Batin Kayla malu


Disisi lain Damar terdiam dengan wajah nya memerah,tanpa sadar wajah tampan Damar itu tersipu malu. Bibirnya menyunggingkan sedikit senyuman.


Kayla menyukai ku juga? Aku pikir sikap juteknya padaku karena dia tidak suka padaku, ternyata dia suka?. Seperti di beri lampu hijau, saat itu juga Damar langsung mengatakan perasaan nya.


"Om, saya menyukai Kayla!" Damar memegang dadanya, kali ini dia mengangkat kepalanya dengan percaya diri di depan Leon.


"Damar.. kamu??!" Kayla tercengang mendengar pengakuan Damar pada papa nya.


Leon tersenyum, "Bagus, saya suka pria yang tidak bertele-tele. Tapi saya masih menilai kamu"


"Iya om saya tau" Damar tersenyum.


"Tidak mudah untuk menjadi menantu laki-laki di keluarga Maxton, maka saya akan memantau kamu" Leon tersenyum puas dengan keberanian Damar yang mengatakan cinta pada Kayla di depan dirinya.


"Menantu? Tung-tunggu, kenapa pembahasan nya jadi seperti ini?" tanya Kayla kebingungan dengan kedua pria yang sedang membicarakan dirinya.


"Oh ya om ada yang lupa, saya belum mengatakan perasaan saya pada Kayla" Damar melirik ke arah Kayla.


"Damar?"


"Kay, aku suka kamu..ayo kita pacaran?" ajak Damar sambil tersenyum, dia menatap serius pada wanita itu dengan percaya diri.


"Hah?"


Leon hanya tersenyum melihat kedua orang yang sedang kasmaran itu. Damar dan Kayla pun akhirnya jadian, mereka menjalin hubungan pacaran yang direstui oleh Leon.


Ketika semua orang sedang sibuk dengan tamu-tamu, Keira terlihat muntah-muntah. Kelvin sedang menemani nya.


"Aku gak makan apa-apa kok, kamu kan tau sendiri aku makan apa aja? Kenapa kamu malah marah-marah?" protes Keira emosi pada suaminya.


"Maaf sayang, aku gak marah-marah.. aku cuma tanya" jelas Kelvin sabar.


"Vin.. aku mau.."Keira mendongakkan kepalanya.


"Mau apa?" tanya Kelvin perhatian.


"Tiba-tiba aku mau lihat kamu push up" jawab Keira, seraya meminta pada suaminya.


"Apa? Kamu jangan aneh-aneh deh Kei" Kelvin tercengang mendengar permintaan istrinya


"Aku mau kamu push up di tengah-tengah sana, sayang" Keira tersenyum cerah, dia meminta suaminya untuk push up di depan semua tamu undangan yang hadir.


Kelvin tercengang, dia tidak mengerti lagi dengan permintaan aneh-aneh istrinya yang sedang hamil itu. Bahkan Keira pernah meminta dibelikan nasi kuning malam-malam, saat itu Alma membantunya membuat nasi kuning nya.


"Vin, turutin aja. Istri kamu sedang ngidam tuh" bisik Theo pada Kelvin, dia mendengar permintaan Keira.


"Kalau gak dituruti, nanti bayinya ngiler" tambah Nisha sambil tersenyum tipis.


"Kalau keinginan istri ngidam dituruti, nanti mual sama muntah nya bisa berkurang loh" saran Theo pada calon ayah itu


"Harus ya aku melakukan ini sayang? Kamu gak mau yang lain?" tanya Kelvin sambil melirik pada istrinya.


"Ah ya! Setelah dipikir-pikir lagi, daripada kamu push up, mending kamu salto aja di tengah-tengah saja" Keira menatap suaminya dengan tatapan penuh harapan.


Kelvin menghela napas panjang, dia luluh pada permintaan Keira, "Arghhh..baiklah"


Pria itu memulai aksinya, salto di depan orang- banyak, ditengah-tengah tamu yang hadir. Hingga tamu disana tertawa melihat tingkah Kelvin.


"Ma, lihat itu ada orang gila?" seorang anak laki-laki menunjuk ke arah Kelvin dengan tawa kecil.


"Hehe" ibunya hanya tersenyum nyengir melihat Kelvin, dia tidak bisa berkomentar apa-apa.


Keira tersenyum, dia dan bayinya terlihat senang dengan apa yang dilakukan Kelvin. Pria itu sudah sangat malu, apalagi saat Nando dan beberapa teman-teman nya mengabadikan momen Kelvin salto di depan semua tamu.


"Kei, udah ya?" Kelvin menatap Keira dengan berkaca-kaca. Dia sangat malu.


"Baiklah, anak kita bilang itu sudah cukup. Makasih papa Kelvin" Keira tersenyum lebar, dia mengelus perutnya dengan lembut.


"Alhamdulillah.. akhirnya berakhir juga" Kelvin memegang perut istrinya, sambil mengucap syukur.


"Tapi Vin.. aku mau.."


"Apa lagi?!" tanya Kelvin menyambar kata-kata istrinya.


"Aku mau eskrim" jawab Keira dengan bibir monyong nya.


"Haa.. eskrim, ada kok. Aku ambilkan ya" jawab Kelvin lega, dia mengira Keira akan meminta yang macam-macam lagi.


"Hehe" Keira nyengir, mual dan muntah nya sudah menghilang.


Semua orang terlihat bahagia di hari resepsi pernikahan Naina dan Juna. Setelah Naina bangun tidur, Juna kembali membawanya ke pelaminan.


Teman-teman Naina mengajaknya untuk berfoto bersama, disana Juna ada Mike dan Darren yang baru datang.


"Naina, selamat ya atas pernikahan kamu" kata Mike sambil berjabatan tangan dengan Naina.


"Makasih ya Om Mike, udah datang" Naina tersenyum bahagia.


"Kak Naina selamat ya, aku bawa kado buat kak Naina" Darren memberikan sebuah kotak besar pada Naina. Juna langsung mengambil kotak itu dan menyimpan nya.


"Makasih ya kadonya, silahkan jalan lurus aja!" Juna menatap tajam ke arah Darren, tatapan yang menyiratkan rasa cemburu.


Anak ini, kenapa dia menatap Naina seperti itu?


"Iya Om" jawab Darren dengan senyuman canggung. Dia menatap Juna dengan sinis.


Suami nya kak Naina pencemburu sekali.


"Om?" Juna terperangah, dia kesal menerima tatapan sinis dari anak yang baru berusia 17 tahun itu.


Dia memanggil Naina dengan sebutan kakak, tapi memanggilku dengan panggilan om? Apa dia mengejekku? Juna geram.


"Juna.. kamu kenapa sih?" bisik Naina sambil memegang tangan Juna


"Aku gak apa-apa sayang" Juna menoleh ke arah Naina dan melemparkan senyuman pada istrinya.


Darren dan Mike turun dari atas pelaminan dan menikmati makanan yang ada disana. Sementara Juna terlihat kesal, wajahnya masih cemberut tanpa kejelasan. "Juna kamu kenapa sih? Kamu capek? Atau kamu marah?" tanya Naina cemas.


"Aku gak apa-apa" jawab Juna sambil mendengus kesal.


"Juna, aku tau kamu.. kamu lagi kesal akan sesuatu? Ayo dong bicara, kenapa kamu marah?" Naina tersenyum, dia meminta Juna untuk bicara padanya.


"Kamu.. apa kamu suka dia?" Juna menoleh ke arah Naina.


Naina terperangah, "Apa?"


"Kamu suka anak itu?" tanya Juna menuduh.


Naina tersenyum lembut, dia mengerti mengapa Juna marah. Pria itu sedang cemburu pada Darren. Naina menjelaskan bahwa Darren adalah adik barunya yang dia dapatkan di sekolah lama mereka. Juna pun mengerti setelah Naina menjelaskan nya.


Acara pernikahan pun selesai, berakhir dengan sesi foto-foto keluarga. Sore itu, Juna langsung membawa Naina ke salah satu kamar di hotel untuk langsung beristirahat.


"Juna, mama titip Naina ya" Alma memegang tangan Juna, seraya meminta menantunya untuk menjaga putri nya.


"Malam ini jangan terlalu liar ya!" Bryan tersenyum pada Juna.


"Aku tidak akan bermain kasar, pa.. papa jangan cemas," jawab Juna sambil nyengir.


"Apa yang mereka bicarakan?" Alma dan Naina tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh Juna dan Bryan.


"Nai, kakak pergi dulu ya. Kamu istirahat dan jangan lupa minum obat. Jun, titip Naina" Kelvin menepuk bahu adik iparnya.


"Siap kakak ipar" Juna tersenyum penuh percaya diri.


Keluarga besar Naina kembali pulang ke rumah mereka masing-masing. Setelah itu hati Naina berdebar-debar karena dia dan Juna hanya berdua saja di depan pintu kamar mereka.


"Ja-jadi..kita masuk ke dalam yuk, aku mau mandi.." Naina menjadi gugup dengan tatapan Juna kepadanya.


GREP!


"KYAA!! Juna!" Naina terkejut karena Juna tiba-tiba menggendong Naina.


"Ayo, kita ke kamar bersama" ajaknya.


"Juna, aku bisa jalan sendiri" Naina menatap suaminya.


"Please, biarkan aku melakukan apa yang aku mau hari ini saja Nai" Juna menatap wanita itu dengan tatapan nanar.


"Ya udah, aku cuma takut kamu keberatan" Naina bergumam pelan.


"Kamu ringan Nai, aku kaya gendong balon" canda Juna pada istrinya.


"Balon?" Naina nyengir.


KLAK


Pintu kamar itu dibuka oleh Juna, terlihat hiasan di kamar nya. Banyak bunga bertebaran di ranjang, disana juga dipasang kelambu layaknya kamar pengantin.


Dengan hati-hati, Juna merebahkan tubuh Naina ke ranjang. "Mau mandi dulu? Atau..."


...---***---...