
8 tahun yang lalu..
Pagi itu adalah pagi yang sibuk untuk semua orang di rumah Bryan-Alma. Apalagi untuk Naina yang akan pergi di hari pertama nya berganti seragam putih biru menjadi putih abu. Sementara Kelvin sudah akan menginjak kelas 2 SMA. Sedangkan Albry, ia baru saja naik ke kelas 2 sekolah dasar.
"Aduh aduh, kok aku bisa telat sih" gerutu Naina sambil memakan roti sambil mengikat rambutnya secara bersamaan, tangannya sangat sibuk
"Kakak pasti telat karena nonton drama lagi kan, jadi bangun nya kesiangan" kata Albry, adik bungsunya yang baru berusia 8 tahun itu.
"Itu benar Albry, kakak perempuan mu ini pasti tidak mandi saking buru-buru nya." Kelvin tersenyum mengejek, pria tampan itu terlihat mempesona dengan wajah dinginnya.
"Seingat ku aku sudah pasang alarm kok. Dan aku juga sudah mandi! jangan bicara sembarangan ya ! huh " gumam Naina sambil mengikat rambutnya yang satu lagi. Bibirnya mengerucut, sebal pada kakak dan adik bungsunya yang mengejeknya.
Alma, ibu nya berinisiatif untuk membantu Naina mengikat rambutnya dengan ikat rambut. " Biar Mama yang bantu ikatkan, kamu fokus makan saja sarapan mu pelan-pelan " kata Alma perhatian
"Makasih Ma. Di ikatnya harus delapan ya mah " kata Naina mengingatkan
" delapan? banyak sekali, kenapa harus delapan, sayang?" tanya Alma sambil menyisir dan mengikat rambut anaknya yang panjang itu.
"Kakak senior yang bilang kalau ikatan nya harus sesuai dengan bulan kelahiran. Aku kan lahir bulan Agustus, jadi delapan ikatan" jawab Naina sambil memakan rotinya.
"Oh gitu? baiklah sayang, mama akan ikatkan dua belas " Alma tersenyum hangat pada putrinya itu.
" Delapan mah, bukan dua belas "
"ets, salah.. delapan, maksudnya.." Alma tersenyum
Alma tersenyum senang melihat anak-anak nya yang sudah dewasa sedang duduk di meja makan bersama. Ditambah pemandangan sang suami yang duduk ditengah-tengah mereka, menambah kehangatan keluarga itu.
"Sayang, ayo sarapan bareng" ucap Bryan pada istrinya, umurnya sudah mulai menua tapi ia tetap saja tampan
Alma duduk di samping suaminya sambil menikmati sarapan roti dan segelas susu yang hangat. Sebelum anak-anak dan suaminya memulai aktivitas mereka di hari yang baru, Alma menyiapkan bekal makanan untuk suami dan ketiga anak nya itu.
"Ma, kami sudah besar. Masa masih dikasih bekal makanan? " gerutu Kelvin
"Kalau kakak tidak mau, ya sudah buatku saja makanan nya " kata Naina sambil melirik kotak bekal berwarna merah yang ada di tangan kakak nya itu.
"Naina, kamu tidak boleh mengambil makanan bekal kakak mu lagi! dia tidak bisa makan jajanan sembarangan di luar, kalau dia salah makan makanan pedas lagi, bisa gawat urusannya kan" kata Alma mengingatkan
"PFut.. iya mah, aku jadi ingat saat kakak mencret mencret di sekolah karena gak sengaja makan pedas. " Naina tertawa mengejek kakak nya.
Kelvin cemberut melihat adiknya tertawa, ia memang tidak bisa makan pedas sama seperti Bryan. Bahkan ayah dan anak ini memiliki persamaan dalam penyakit, yaitu penyakit maag.
" Sudah sudah, ayo berangkat. Sudah jam 7 loh"
"Apa?! jam 7?!" Naina, Kelvin dan Albry tercengang kaget. Dengan kompak dan gerakan buru-buru, mereka masuk ke dalam mobil. Pak Jeffry sudah bersiap mengantarkan mereka ke sekolah.
"Kalian hati-hati ya " kata Bryan dan Alma mengingatkan
"Dah Mama!" kata ketiga anaknya dari dalam mobil sambil melambaikan tangan nya pada Mama dan papa mereka.
Mobil yang ditumpangi si kembar dan Albry pun melaju dengan kecepatan yang tidak biasa.
***
Sementara Alma dan Bryan tersenyum melihat ketiga anak mereka yang tampak rukun itu. Kebahagiaan seperti ini lah yang selalu Bryan dan Alma lihat, juga rasakan setiap harinya.
"Bry, kamu juga harus segera berangkat nanti telat rapatnya"
"Memangnya kenapa kalau telat? aku bos nya ini " Bryan memeluk istrinya dan mencium kening istrinya dengan lembut.
MUACH
"Aku berangkat sayang, Assalamualaikum " Bryan tersenyum
"Ya sayang, waalaikum salam.. hati-hati ya" jawab Alma sambil mencium tangan suaminya
Alangkah bahagianya hati Alma melihat kebahagiaan yang bisa ia genggam di tangannya. Kebersamaan bersama suami tercinta dan anak-anak tersayang nya, adalah kebahagiaan, juga kedamaian di dalam hatinya.
...🍂🍂🍂...
Mereka sampai lebih dulu di sekolah Albry. " Dah kak Kelvin dan kak Naina " ucap anak kecil itu dengan senyuman ceria di wajahnya
"Dah Albry, belajar yang rajin ya " kata Naina sambil mengusap kepala adik kecilnya itu.
"Iya kak Naina tenang saja, aku tidak akan begadang banyak nonton drama seperti kakak." Albry tersenyum, lalu berjalan masuk ke dalam sekolahnya.
"Apa? Ish..anak itu. Dia pasti belajar mengejekku darimu kan? huuhh " gerutu Naina sebal
"PFut.. " Kelvin menahan tawanya
"Apa? kakak juga mau membully ku? kalian senang sekali ya membully ku. Hmph.. kalian memang kakak dan adik " Naina menyilangkan tangannya di dada
"Haha, pak Jeffry ayo jalan pak. " ucap Kelvin pada pak Jeffry
"Siap! tuan muda" Pak Jeffry tersenyum dan langsung tancap gas menuju ke sekolah Kelvin dan Naina.
Hampir setiap hari pria yang sudah mulai menua itu, melihat Naina, Kelvin dan Albry sering bercanda bersama. Kadang bertengkar dan saling mengejek satu sama lain, sesama saudara itu adalah hal yang wajar selama tidak melewati batas. Pria tua yang telah lama menjadi supir keluarga Bryan, merasa terhibur oleh tingkah si kembar dan Albry setiap harinya. Pak Jeffry sendiri tidak menyangka bahwa ia akan langgeng bekerja pada keluarga Aditama ( Bryan ), melihat sendiri dengan matanya, ketiga anak itu tumbuh.
Terutama Kelvin dan Naina yang sudah menginjak usia remaja. Kelvin masih saja cuek, dan dingin seperti bongkahan es, walaupun begitu Kelvin sangat sayang pada kedua adiknya, hanya saja sedikit jahil. Sedangkan Naina adiknya, dia masih sama ceroboh nya seperti waktu kecil, sifatnya ceria, polos dan selalu berfikir positif, membuat Naina memiliki kemampuan untuk menarik perhatian orang di sekitar nya.
Saat akan sampai ke area gedung sekolah yang mewah dan megah itu, Naina minta diberhentikan sebelum memasuki area sekolah nya.
"Loh kenapa non? kan sekolah nya masih jauh" tanya Pak Jeffry heran
"Aku gak mau barengan sama kakak ku, udah pak turunin aja aku di dekat halte bus itu!" ujar Naina sambil menunjuk ke arah halte bus yang tak jauh dari sekolah nya.
Kenapa aku gak mau barengan? kepopuleran nya cukup menganggu ku! aku tidak mau kejadian seperti waktu SD, dan waktu SMP terulang lagi. Huu.. memikirkan nya saja sangat menyeramkan. Aku ingin memiliki kehidupan sekolah yang damai.
"Udah, aku aja yang turun di halte. Kamu sama pak Jeffry aja" ucap Kelvin
"Gak usah kak, mereka udah tau kalau kamu sering naik mobil ini..Kalau mereka tau aku naik mobil ini sama pak Jeffry, mereka bakal curiga kalau aku adalah adik kakak " jelas Naina
"Apa kamu yakin mau menyembunyikan hubungan kita dari semua orang? kamu pikir itu akan berhasil?" tanya Kelvin tak yakin
"Ya, pokoknya aku mau kehidupan sekolah yang menyenangkan. Jadi, kalau kakak melihatku disekolah. Pura-pura tidak kenal saja ya, aku turun dulu kak" jelas Naina sambil membuka pintu mobil nya dan pergi begitu saja.
Kelvin hanya menggelengkan kepala dan tersenyum melihat adiknya berlari masuk ke dalam area sekolah. Kelvin bisa mengerti alasan adiknya tidak mau berjalan bersamanya, karena ia terlalu di kenali banyak orang dalam sekali lihat. Dari wajahnya, aura, dan semua orang tau siapa itu genius Kelvin Aldara Aditama yang pernah memenangkan kejuaraan olimpiade matematika sedunia.
Kelvin juga mendapatkan tawaran dari berbagai universitas ternama di Indonesia, bahkan universitas terbaik di negara asing, padahal ia saja belum lulus SMA. Di negara ini, terutama kota Jakarta, tidak ada yang tidak tau namanya. Dari wajahnya saja Kelvin sudah mencolok, elegan, tampan, semua wanita dari yang muda hingga tua mengidolakan nya. Mungkin inilah sebabnya Kelvin sering di sebut sebagai definisi dari kesempurnaan.
Karena kepopuleran saudara kembarnya itu, Naina seringkali mendapatkan kesulitan dari para gadis yang mengejar-ngejar kakak nya. Dari mulai mengirimkan surat, hadiah hadiah, bahkan banyak yang bertanya tanya pada nya tentang Kelvin.
Naina tidak mau hal yang sama terulang lagi, membayangkan nya saja ia sudah takut. Akhirnya ia dan Kelvin sepakat untuk saling tidak mengenal satu sama lain saat berada di lingkungan sekolah. Bahkan tidak untuk berangkat dan pulang bersama ke rumah.
Gadis dengan kunciran delapan itu masuk ke dalam gerbang sekolah yang hampir ditutup oleh si penjaga sekolah berseragam satpam itu.
"Untung dek gak telat, bentar lagi mau ditutup " ucap pak satpam itu
"Makasih ya pak.. pak satpam.." Naina tersenyum lalu melihat name tag yang ada di baju si pak satpam berkumis tipis itu. " Pak Anwar, mulai sekarang kita temenan ya. Makasih ya pak " Naina tersenyum ceria, ia berlari menuju ke lapangan sekolah. Tak lupa ia melambaikan tangannya pada pak Anwar.
Terlihat di lapangan sekolah banyak calon murid baru yang akan mengikuti MOS. Dengan ikatan rambut di kepala mereka, dan yang siswa memakai topi badut di kepala mereka.
"Semuanya! calon murid baru kumpul di lapangan!" teriak seorang siswi dengan menggunakan mikropon nya, sehingga suaranya terdengar kencang.
Naina merasa lega karena ia tidak terlambat dan datang tepat waktu. Namun, terjadi masalah lain saat itu. Naina tidak ingat dimana ia meletakan name tag nya, ia pun mencari cari name tag nya ke sepanjang jalan.
"Apa aku menjatuhkan nya ya? duh gimana ini! aku bisa dihukum kakak senior, bukan hanya terlambat saja tapi aku tidak memakai atribut MOS, gawat! " gumam Naina kebingungan, sambil mencari-cari name tag nya di sekitar gerbang.
BRUM
BRUM
BRAK
Gerbang sekolah hancur, dihantam seorang pria bermotor. Pak Anwar kaget melihatnya dan langsung mengejar si pengendara bermotor itu masuk ke dalam sekolah. Ia memakai seragam putih abu.
Saat sedang mencari name tag nya, tiba-tiba saja seorang pria mengendarai motor sports melaju kencang ke arahnya.
" Woy! awas! cari mati ya loh!" teriak pria bermotor itu pada Naina yang berdiri di tengah jalan.
"Nai, awas" seorang pria bertubuh tinggi berkulit putih dan berkacamata menarik tubuh Naina kepinggir agar tidak tertabrak motor. Untunglah pria itu cukup cepat.
Mereka berduaan jatuh bersama ke jalan, tubuh Naina menindih tubuh pria tampan di depannya itu. Kacamata pria itu jatuh ke aspal.
"Nai, kamu gak papa kan? ada yang luka gak?" tanya Theo sambil melihat-lihat ke arah Naina dengan pandangan cemas.
"Aku gak papa kak Theo, tapi kakak ganteng juga ya tanpa kacamata " Naina tersenyum ceria
"Serius kamu gak papa? kepalamu gak ke bentur kan?" tanya Theo sambil mengambil kacamatanya, dan meletakkan nya kembali ke tempat nya.
"Loh kok nanya nya gitu? berkat kak Theo, aku baik-baik aja " jawab Naina sambil mengulurkan tangannya dan membantu Theo berdiri.
"Yah.. habisnya ini pertama kalinya kamu bilang aku ganteng. Aku pikir kepala mu terbentur " jawab Theo sambil tersenyum
"Aku baik-baik saja kak. Sebaliknya, apa kakak terluka?" tanya Naina cemas
"Aku gak apa-apa " jawab Theo santai, ia merasa senang karena Naina mencemaskan nya.
Naina melihat ke arah pengendara motor yang hampir menabraknya, ia marah dan menghampiri pengendara motor yang menghancurkan gerbang sekolah. Bersama dengan pak Anwar dan Theo, Naina menegur si pengendara motor yang memberhentikan motornya di lapangan secara sembarangan.
"Hey! kamu kalau jalan lihat-lihat dong, aku sama kak Theo sampai ketabrak tau ga?!" omel Naina pada si pengendara motor itu
"Nai, sabar Nai.." ucap Theo pada Naina
"Gak bisa kak! dia ini harus dikasih pelajaran"
Pria itu membuka helmnya, terlihat lah wajah tampan dan tampak garang diluar. Setelah diperhatikan lebih dekat, celana bahkan baju nya sobek-sobek. Ia terlihat seperti preman, dengan bajunya yang di lipat.
"Kalian berisik banget sih" kata pria itu sambil merapikan rambutnya, ia juga berkaca di spion motornya
"Juna, kamu lagi?" tanya Theo sambil melihat pria itu.
"Ah, si wakil ketua OSIS rupanya " sapa nya pada Theo. " Dan juga si gadis nenek "
"A-Apa kamu bilang? A-ku si gadis nenek?" Naina terlihat kesal pada pria yang dipanggil Juna ini.
"Aduh.. ternyata kamu lagi Arjuna!" ujar Pak Anwar sambil tepuk jidat
"Hey, pak Anwar. Apa kabar pak? " sapa Juna dengan santai nya ia tersenyum
Pak Anwar langsung mengomeli Juna yang sudah ngebut ngebut dan menghancurkan gerbang sekolah. Penjaga sekolah itu juga akan melaporkan Juna pada kepala sekolah, agar ia dihukum.
"Lihat! gerbangnya sampai hancur tuh! " gerutu pak Anwar gemas dengan pria bernama Juna ini
"Ya ampun pak, itu bukan salah saya. Gerbangnya aja kurang kuat, gak papa pak. Bapak bisa ganti gerbangnya sama yang baru dan lebih kuat " kata Juna tidak tau malu
"Dasar cowok gak tau malu!"
"Lo ngomong sama gue?" tanya Juna sambil turun dari motornya dan menatap Naina dengan tajam.
"Ya, emang sama siapa lagi? kamu gak tau malu, bukannya minta maaf sama pak Anwar dan sama orang-orang yang hampir kamu celakai, kamu malah tersenyum seperti orang bodoh. Gak tau malu"
"Hey! siapa Lo? beraninya Lo ngatain gue gak tau malu?" Juna menunjuk-nunjuk kening Naina dengan jarinya.
"Selain gak tau malu, kamu gak sopan ya " Naina tersenyum tipis, ia seperti sedang mengambil ancang-ancang.
BRUGH
Naina menendang kaki Juna dengan kesal, tendangan yang cukup kuat hingga membuat Juna sampai kesakitan.
"Hey ! Lo nyebelin ya! dasar gadis nenek " Juna memegang kaki nya yang baru saja ditendang oleh Naina.
"Apa? mau di tendang lagi?bagian mana?" tanya Naina mengancam
"Nai udah Nai. Jun, minta maaf lo sama pak Anwar dan temen gue " kata Theo tegas
"Kenapa gue harus minta maaf? gue gak salah"
"Minta maaf gak Lo!" Theo menatap tajam Juna.
" Cih!"
Kenapa si Theo ngebelain nih cewek? si Theo kan selalu dingin sama cewek lain, kenapa cewek ini beda? apa jangan-jangan mereka pacaran?. Juna melihat ke arah Theo dan Naina, memperhatikan dua orang itu.
Wah, ternyata kak Theo akrab sama cowok gak sopan ini. ucap Naina
Keributan itu pun terhenti saat seorang guru datang dan membawa Juna ke kantor guru untuk diadili. Bahkan kupingnya sampai di jewer oleh guru perempuan yang wajahnya tampak galak itu.
Naina tersenyum mengejek Juna yang dibawa pergi oleh guru. Juna melirik Naina dengan kesal. Gerak bibirnya mengancam Naina, berkata " Awas Lo cewek gila!"
"Apaan kamu cowok preman!" begitulah gerak bibir Naina pada Juna.
Setelah itu Theo mengantar Naina ke lapangan untuk bergabung dengan calon murid baru lainnya. Disana ada Keira dan Nisha dua sahabat baiknya yang juga masuk ke sekolah yang sama dengannya. Rambut mereka juga diikat sama seperti Naina, Keira di kuncir 2, sedangkan Nisha di kuncir 5. Sesuai dengan bulan kelahiran mereka.
"Nai, dimana name tag kamu?" bisik Keira pada Naina
"Celaka! aku belum menemukan nya, name tag ku ilang" Naina kalang kabut, ia baru ingat kalau ia belum menemukan name tag nya.
"Gimana dong? kamu taruh dimana Nai name tag nya?" tanya Nisha yang ikut ikutan panik
Seorang senior perempuan, anggota OSIS menghampiri Naina yang berada di barisan paling belakang. Wajah Naina langsung pucat dan tegang, saat ditanyakan name tag nya.
"Bagus banget ya, gak tau malu! udah datangnya telat, name tag juga gak di pake, kamu mau jadi apa di hari pertama kamu masuk sekolah ini?" tanya senior wanita itu dengan gayanya yang angkuh, tangannya menyilang di dada. Matanya menatap Naina dengan sinis
...---****---...