Stuck In Love CEO

Stuck In Love CEO
Bab 99. Menguji cinta (1)



🍀🍀🍀


"Ayo duduk dulu disini" ucap Ken pada Juna yang baru saja datang ke dunia bawah nya. Dunia yang tidak pernah diketahui oleh orang banyak.


"Iya om, tapi dimana yang lainnya? papa mertua, mama mertua, Naina dan kakak ipar ku dimana?" Juna tak melihat siapapun diantara nama-nama yang dia sebutkan barusan ada disana. Ditempat yang serba gelap itu.


Apa pertandingan catur akan diadakan disini?. Juna terlihat kebingungan


"Mereka tidak ada disini, aku mengundang mu secara khusus atas perintah kakak ku" Ken menepuk bahu Juna dengan senyuman yang terlihat menyeramkan.


"Oh gitu ya om, terus pertandingan catur nya gimana?" tanya Juna dengan polosnya.


Kenapa aku deg deg an ya?.


"Apa menurut kamu tempat ini adalah tempat bermain catur? kamu polos sekali.. haha" tanya Ken dengan tawa sinis nya


"Haha..lalu saya mau ngapain disini, om?" tanya Juna dengan polosnya


"Tunggu disini dulu sebentar ya, om mau pergi dulu. Jangan kemana-mana! kalau kamu pergi dari sini, kamu bisa di delete sama kakak ku jadi menantunya. Jangan pergi, sebelum aku kemari kemari!" ancam nya pada Juna


"Iya om" jawab Juna patuh, dia terlihat bingung.


Ken dan anak anak buahnya pergi meninggalkan Juna di sebuah ruangan kosong. Tak lama kemudian beberapa wanita berpakaian seksi masuk ke dalam ruangan itu, dada mereka tampak menyembul seperti sengaja ingin menggoda Juna.


Kelima wanita itu menutup dan mengunci pintu ruangan tempat Juna berada. Juna terkejut, karena kelima wanita cantik itu berjalan mendekati nya.


"Kenapa kalian mengunci pintunya? siapa kalian?" tanya Juna sambil beranjak dari kursinya dengan wajah panik.


"Hai tampan, kita main yuk?" ajak seorang wanita dengan genitnya memegang tangan Juna


"Lepaskan aku! kalian ini mau apa??!" Juna menepis tangan wanita genit itu, dia bergidik ngeri dan tidak terangsang sama sekali.


Apa ini rencana om Ken? apa maksudnya? tanganku sudah ternodai..


Kelima wanita itu terus menggoda Juna tanpa henti, dengan tubuh mereka dan rayuan maut. Juna merasa jijik dengan kelima wanita itu, dia berusaha membuka pintu itu. Namun salah satu wanita disana memegang kuncinya.


"Sayang, kamu nyari ini ya?" tanya seorang wanita sambil memegang kunci ditangannya


"Kemari kan padaku kuncinya! jangan paksa aku untuk kasar pada wanita!" seru Juna menatap ke lima wanita genit dengan marah.


"Sayang, jangan marah dong. Nanti gantengnya ilang loh"


"Gimana kalau kita main dulu terus aku balikin kuncinya"


"Main? main apa hah?!" teriak Juna marah-marah, tangannya masih memegang gagang pintu.


Niat hati ingin mendobrak pintu itu, tapi dia takut kena marah Ken. Ken berpesan padanya agar tetap berada di dalam sana sebelum Ken kembali.


"Nama permainan nya, menyenangkan lawan" jawab salah seorang wanita dengan genitnya membelai dagu Juna.


Juna memalingkan wajahnya dengan jijik, kemudian ke lima wanita itu mengikat tangan Juna dengan borgol secara paksa. Mengunci borgol itu, dan melempar kuncinya kemana saja.


"Hey! kalian sudah keterlaluan! aku kan sudah bilang, aku tidak mau kasar pada wanita!" teriak Juna dengan tangan terikat borgol


Juna tidak mau kasar pada wanita jadi dia diam saja dan tetap dalam prinsip nya. Namun amarahnya sudah mencapai puncak sampai ke ubun-ubun nya.


"Hahaha.. kamu bisa lepas kalau kita main dulu" ucap seorang wanita sambil membelai lembut pipi Juna.


"Benar, jika kamu menyenangkan kami..kami akan melepaskan kamu"


Wanita wanita itu dengan berani membuka kancing baju Juna satu persatu. Juna mulai panik dan kali ini dia melawan, Juna menghindar dari kelima wanita yang menakutkan itu.


"Kalian! sungguh kalian sudah menguji kesabaran ku!" teriak Juna sangat marah, dirinya kini sudah bertelanjang dada. Para wanita itu malah tertawa cekikikan melihat Juna marah.


"Sayang, aku pikir ini sudah keterlaluan" ucap Alma yang kasihan melihat Juna di kerjain seperti itu.


"Sebentar lagi sayang, aku ingin menguji kesetiaan calon menantu kita" ucap Bryan pada suaminya.


"Seperti nya dia tahan godaan kak" ucap Ken sambil melihat reaksi Juna dari balik layar monitor. Bibirnya tersenyum menyeringai.


"Dia tipe setia" Bryan yakin


Tidak membiarkan dirinya disentuh oleh orang lain, dia menganggap Juna adalah pria setia.


"Kalian benar-benar keterlaluan ya! sudah cukup kan menguji Juna nya? sekarang mana kuncinya!" seru Naina setengah berteriak pada papa dan om nya


"Ini belum cukup Nai, maaf tapi masih ada ujian yang lain" Ken menjentikkan jarinya sampai berbunyi lalu ada beberapa orang anak buahnya yang mendekat.


"Om!! om, sama papa benar-benar deh" Naina tidak habis pikir dengan om dan papa nya itu.


Ken berbisik-bisik kepada anak buahnya, entah apa yang dia bisikkan. Anak buahnya itu hanya mengangguk-angguk saja.


"Om mau ngapain lagi?" tanya Naina gusar, entah apa lagi yang akan di lakukan oleh om nya itu.


"Tes kesetiaan sudah, sekarang tes kekuatan, kejujuran dan pengetahuan" Ken tersenyum menyeringai


"Tes kekuatan? tes pengetahuan??" si kembar dan Alma terpana mendengar nya. Mereka saling melirik satu sama lain.


"Kaya ujian nasional aja" gumam Naina


"Kali ini kak Bryan juga harus berpartisipasi" ucap Ken pada kakak nya


"Aku juga?" tanya Bryan sambil menunjuk dirinya sendiri.


Benar-benar deh, anggota mafia memang beda. batin Kelvin sambil tersenyum tipis, dia menggeleng-geleng dengan kelakuan om nya.


Ujian kesetiaan cinta Juna sudah di uji, para wanita itu keluar dari ruangan tempat Juna berada. Ken dan Bryan datang bersamaan ke dalam ruangan itu.


Juna segera mengancingkan bajunya, dan berdiri tegap di depan calon mertua dan om Naina.


"Kamu sudah bersenang-senang dengan wanita itu? tidak aku sangka, ternyata kamu pria yang seperti ini ya, Arjuna" sindir Ken pada Juna


"Enggak om, aku gak ngapa-ngapain sama mereka. Justru aku mau tanya sama om, siapa mereka dan kenapa mereka menggodaku?" tanya Juna kebingungan, dia mengatakan yang sejujurnya.


"Ehem.. kamu tidak memakai pakaian mu dengan benar, kamu pasti habis ngapa-ngapa sama mereka kan?" tanya Bryan dengan tatapan curiga


"Sumpah papa mertua! saya gak gitu, wanita wanita itu yang menggoda saya" Juna ingin dipercaya oleh Bryan dan Ken.


Ujian kesetiaan, kejujuran, lulus. batin Bryan


"Papa mertua..percaya lah pada saya.. saya tidak melakukan apa-apa. Saya hanya mencintai Naina seorang"Juna memegang tangan Bryan seraya memohon pada pria itu untuk percaya padanya.


"Baiklah, aku akan percaya. Sudahlah jangan memohon seperti ini lagi" ucap Bryan ingin menyudahi semuanya.


"Ujian untuk kamu sekarang adalah kekuatan" ujar Ken pada Juna


"Kekuatan??"


Beberapa pria bertubuh besar berjejer di belakang Ken. Berbaris rapi seperti menunggu antrian.


"Lawan lah lima pria ini" Ken tersenyum menyeringai


"Lawan??!" Juna terperangah melihat pria pria bertubuh besar itu. Dan dia harus melawannya? lawan apa??


...---***----...